The Sole Heir

The Sole Heir
Part 32



Lay sedang menunggu Zea yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke weeding anniversarynya Mr & Mrs Rawlinson sambil memainkan smartphonenya untuk menyingkirkan rasa bosannya ketika sedang menunggu Zea yang sedang bersiap pergi ke party dengan mengecek fortopolio progres saham perusahaan international yang berada di California, Paris, & German, yang dimilikinya.


"Lay,.. gue sudah ready nih! kuylah kita pergi ke party. Gue sudah lelah banget nih dari pagi hari sampai dengan matahari telah tenggelam masih keluyuran aja gue, kangen kasur nyaman gue. Kalau lo lama di party gue tinggalin aja ntar lo nya, terus gue balik sendiri aja ke resort." dumel Zea kepada Lay sambil berjalan mendekati posisi lay yang sedang menunggu.


"Lay yang sedang fokus dengan smartphonenya spontan mengalihkan pandangannya kedepan ketika mendengar dumelan suara yang belakangan ini selalu terdengar di telinga lay.


Lay sadar betul jika ada yang sedang mengajaknya berdebat saat ini, siapa lagi kalau bukan Zea Laurenz Gilbert yang tak lain & tak bukan istrinya sendiri. Ketika lay ingin membalas ucapan Zea dengan mengalihkan pandangannya ke Zea yang berada dihadapannya. Lay mendadak bungkam seribu bahasa terpesona atas kecantikan sang istri sambil memperhatikan penampilan Zea dengan detail dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lay baru menyadari jika Zea memiliki paras yang sangat cantik.


"Lay lo kenapa ngeliati gue gitu banget! Ada yang aneh ya sama penampilan gue? kesambet apaan lo tiba-tiba bungkam seribu bahasa, tumben banget lo nggak ngebales argumen gue biasanya juga lo nggak pernah mau kalah debat sama gue! Lo sehatkan lay?, lo buat gue takut." Sambil memegang dahi lay untuk memastikan jika Lay sedang tidak sakit saat ini."


"Apaan sih lo gue baik-baik aja!, gue nggak sedang sakit. Btw tumben lo cantik khusus malam ini doang loh ya. ucap lay dengan muka coolnya sambil berdiri disamping Zea dan menggandeng tangan Zea menuju mobilnya yang telah menunggu di parkiran loby"


"Apaan sih lo lay!, gue selalu terlihat cantik setiap hari. Lo nya aja nggak sadar kalau gue sudah cantik dari lahir." jawab Zea penuh percaya diri sambil masuk ke dalam mobil di kursi penumpang yang bersebelahan dengan lay di sampingnya."


"Lo yang apaan Mrs Atteza, I'm just kidding. Lo nya aja yang terlalu kebawa perasaan. Lo tenang aja, kita ke party nggak akan lama. Setelah memberikan kado & ucapan selamat, kita langsung balik ke Jakarta. Jelas Lay sedikit melembut kapada Zea sambil mempertahankan eye contact nya"


"Apaan sih lo, jangan panggil gue gitu! merinding gue setiap kali denger lo panggil gue dengan embel - embel Mrs Atteza. Janji lo ya nggak akan lama?"


Ketika Lay & Zea menghadiri weeding anniversary Mr & Mrs Rowlinson, semua mata & perhatian para undangan termasuk Mr & Mrs Rawlinson tertuju pada Lay & Zea. Mereka terlihat sangat sarasi & romantis. Sesuai dengan janji lay sebelumnya jika mereka hanya akan menghadiri pesta sebentar saja. Setelah memberikan hadiah & ucapan selamat kepada Mr & Mrs Rawlinson, Lay & Zea berpamitan pulang dengan Mr & Mrs Rawlinson.


Lay & Zea sedang dalam perjalanan ke airport untuk pulang ke Jakarta menggunakan pesawat pribadinya sendiri.


"Udah ngomelnya? Lo komplain mulu dari tadi, Nggak ada! kita langsung ke airport. Nggak ada waktu lagi, 4 jam lagi gue ada meeting. Schedule gue sudah full buat hari ini, nggak bisa di reschedule. Lo tenang aja ntar lo ganti itu dress di dalam pesawat aja, baju ganti lo ada di pesawat. Anak buah gue sudah mengambil perlengkapan liburan lo dari Resort." sambil melihat jam tangannya untuk mengecek pukul berapakah sekarang.


"Lo nyebelin banget sih, nggak tepat janji lo sama gue. Kan yang sibuk lo bukan gue, gue pulangnya nyusul aja deh. Lusa gue balik please, janji deh gue langsung balik nggak kelayapan kemana-mana lagi." Dengan muka yang dibuat-buat agar terlihat memelas untuk mendapatkan simpati lay.


"Lo tahu betul bukan? jawaban apa yang akan gue kasih ke lo, please untuk kali ini jangan berusaha mendebat gue." Dengan nada suara yang dingin yang tak ingin dibantah sambil menarik napasnya dalam.


"Kalau lay sudah gini nada bicaranya, mana berani gue ngebantah ucapannya, tu muka nyeremin banget nggak suka gue lihatnya. Yaudahlah apa salahnya juga gue ikutin aja apa maunya. Mendumel pada dirinya sendiri tanpa suara."


€€€


Lay & Zea telah sampai di airport yang di sambut oleh para bodyguard lay, dan langsung menuju ke pintu masuk bandara dengan rute khusus menuju ke dalam pesawat pribadinya yang dikawal dengan ketat oleh para bodyguardnya. Setelah masuk kedalam pesawat, Zea langsung pergi ke kamar pribadi yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap dan mewah yang ada di dalam pesawat.


Kemudian Zea mencari kopernya yang berisi kebutuhan perlengkapannya selama berlibur dibali, setelah mendapatkan apa yang ia cari Zea masuk ke dalam toilet yang berada di dalam kamar pribadi dalam pesawat untuk membersihkan tubuhnya & mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Zea tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mandi & mengganti pakaiannya. Ia hanya menghabiskan waktu 15 menit saja untuk bersiap, dan langsung keluar kamar mencari keberadaan lay di dalam pesawat untuk menanyakan hal sepenting apa yang akan lay sampaikan.


"Lay gue penasaran banget dari tadi, lo mau membicarakan hal sepenting apa sama gue? Sepertinya ada hal yang penting yang ingin lo sampaikan. Sambil menggambil posisi duduk bersebelahan dengan lay di living room dalam pesawat"


"Waw, tumben banget lo pinter. Gue langsung to the point aja, nggak ada banyak waktu lagi. Ada beberapa point yang ingin gue bahas sama lo dan gue mohon sama lo jangan mengajak gue untuk mulai berdebat. Lo cukup dengan mendengarkan apa yang akan gue katakan ke lo dan kasih respon yang baik atas pernyataan gue bukan mendebat gue!. Waktu kita untuk berdiskusi hanya 1 jam 45 menit, gue sudah bilang ke lo bukan kalau schedule gue full hari ini sebelumnya."


€€€