The King Demon Mate

The King Demon Mate
Chapter 08. Pembagian Kekuasaan



Jangan lupa vote dan komen nya, ya.


Happy Reading!!!


____________________________


Saviona memasang wajah datar nya selama diperjalanan, ia tidak sama sekali menyukai Aybar. Aybar memang memiliki wajah tampan juga mata yang indah tapi Dighan lebih berkuasa, entah apa yang ia pikirkan tetapi memang itulah kenyataan nya.


"Putri istirahat saja terlebih dahulu perjalanan kita masih jauh." Saviona menoleh ia mendapati Rasy—pelayan nya yang sedang menganyam rambut Saviona.


Saviona tidak bergeming tetapi ia mulai menyandarkan kepala nya disisi kereta kuda yang ia tumpangi dan mulai memejamkan matanya.


Malam pun tiba, tidak terasa kereta kuda Saviona pun berhenti, salah satu pengawal yang menemani Saviona pun memberitahu Rasy kalau mereka sudah sampai di kerajaan Asdirst.


Dia sangat cantik ya.


Jelas, putri dari Raja Asloth kan memang cantik-cantik.


Pantas saja Raja Dighan memilih putri Saviona untuk dinikahkan dengan adiknya.


Tentu kan putri Viona mate nya itu sudah jadi pilihan.


Seperti itulah pembicaraan para pelayan juga pengawal kerajaan Asdirst ketika Saviona sudah turun dari kereta kuda.


Mereka semua memberi hormat kepada Saviona dan menyambutnya dengan senang hati.


"Calon adik ipar ku sangat menawan ya," goda Dighan kepada Alena yang sudah berdiri disamping nya sambil memeluk erat lengan Dighan.


"Tentu, maka nya kau juga terpesona kan dengan Putri Saviona," balas Alena. Dighan hanya terkekeh mendengar perkataan tak terduga dari istrinya itu seperti nya Alena sedang cemburu.


"Jangan memikirkan hal yang aneh, aku hanya memuji yang mana itu kenyataan nya tetapi istri ku lebih dari kata menawan," ucap Dighan mengelus tangan Alena lembut yang sedang memeluk erat lengan nya itu.


Pipi Alena seketika memanas, sekarang harus bagaimana dia, mungkin kini pipi nya sedang merona seperti tomat.


...****************...


"Setelah adikku menikah aku akan membagi dua wilayah kekuasaan." Dighan membuka pembicaraan setelah ia mengumpulkan pelayan, pengawal, prajurit, hingga para immortal lainnya.


"Wilayah Arsha sangat luas! Aku akan tetap memimpin kerajaan Arsha dan Aybar akan memimpin di kerajaan baru kerajaan Saju yang berada di arah barat," lanjutnya lagi.


Saviona yang mendengar itu pun langsung tersenyum, betapa tidak sabar nya ia menikah dengan Aybar.


Sudah tampan punya kekuasaan pula. Kenapa tidak dari dulu saja Aybar menjadi pemimpin. Batin Saviona.


"Jadi ada dua Raja yang memimpin kaum immortal?" Tanya James, Raja bangsa Serigala.


"Aku membagi kekuasaan ku dan menjadi kan Aybar Raja sama seperti bangsa immortal lainnya. Aku akan tetap menjadi pemimpin utama bangsa immortal, kenapa aku tidak membagi kepemimpinan ku dengan Aybar itu karena aku ingin tahu bagaimana cara adikku memimpin dan melindungi rakyat nya setelah aku tiada aku berjanji akan menyerahkan seluruh kekuasaan ku kepada adik ku," jelas Dighan dengan diiringi sorakan demi sorakan dari berbagai kerajaan immortal.


Seketika itu pun wajah Saviona langsung berubah menjadi datar dan langsung menghapus pikirannya tentang menikah dengan Aybar.


Saviona bangkit dari tempat duduk nya ia pun segera keluar dari tempat itu dan mencari udara sejuk diluar aula.


"Kenapa putri tiba-tiba keluar?" Tanya Rasy heran.


"Aku ingin menjadi Ratu, aku ingin menguasai seisi Arsha!". Ucap saviona sembari melipat kedua tangannya didepan dada.


"Tenang putri, apa putri tidak dengar apa yang dikatakan Raja Dighan?" Tanya Rasy untuk menarik simpati Saviona.


"Ya aku dengar, Aybar hanya akan menjadi Raja di satu kawasan tidak di seluruh penjuru Arsha," ucap Saviona.


Asdirst adalah nama kerajaan yang sedang dipimpin dan ditempati Dighan saat ini.


Dan sedang kan Arsha adalah nama tempat para immortal tinggal/nama dunia mereka.


"Bukan yang itu putri." Rasy menjeda ucapannya, Saviona pun tampak menaikkan satu alis nya karena penasaran.


"Putri harus tetap menikah dengan pangeran Aybar, Raja mengatakan kalau ia sudah tiada ia berjanji akan mengalihkan semua kekuasaan nya ke tangan pangeran Aybar." Jelas Rasy. Saviona pun tertawa puas memikirkan hal itu akan ia tunggu kapan tumbang nya Raja Dighan.


...****************...


Alena duduk ditepi danau, ia sangat fokus dengan buku yang sedang ia baca.


Wanita itu sudah merasakan nyaman berada didekat Dighan, ia akan menjadi istri dan Ratu yang baik untuk Dighan juga kaum nya. Alena sekarang bisa jujur dengan perasaan nya bahwa ia sudah mencintai Dighan nya, mencintai suami nya, mencintai Raja nya, mencintai Raja iblis.


Alena terkejut setelah ada tangan seseorang yang menepuk pelan pundak nya. Ia pun menoleh kebelakang dan menemui seorang gadis yang tepat berdiri dibelakangnya dengan tersenyum.


"Apa aku mengganggu mu?" Tanya nya.


"Ah kau membuat ku terkejut," ujar Alena.


"Bolehkah aku duduk disini?" Tanya nya lagi.


"Tentu saja, Saviona," balas Alena lembut sembari tersenyum kepada Saviona.


"Panggil saja aku Viona," ucap Saviona setelah gadis itu duduk disamping Alena.


"Wah kau juga menyukai buku ini?" Tanya Saviona yang terfokus kepada benda yang berada ditangan Alena.


"Aku hanya tertarik membaca nya," balas Alena tersenyum.


"Bolehkah aku meminjam nya nanti?" Tanya Saviona sembari tersenyum.


"Tentu, sekarang pun boleh," jawab Alena.


"Besok hari pernikahan mu, kau harus memanjakan tubuhmu," ucap Alena lagi.


"Sebenarnya aku tidak menyetujui pernikahan ini tetapi Ibu dan Ayah yang memaksa ku." Saviona menundukkan kepala nya.


"Karena kau menyukai suami ku kan?"


Deg.


Pertanyaan itu membuat Saviona diam, kenapa Alena bisa mengatakan hal itu.


"Hahaha aku hanya bercanda," lanjut Alena tertawa.


Kau menyukai nya, aku melihat itu dari tatapan mu waktu perjamuan aku menyadari itu, Viona. Batin Alena.


Saviona pun tersenyum kikuk entah rasa canggung apa ini. Menurut Saviona, Alena adalah wanita yang mudah sekali mencairkan suasana yang canggung.


"Oh iya, kenapa kamu bisa menyukai buku seperti ini?" Tanya Alena.


"Buku ini punya banyak sekali motivasi, juga pengetahuan-pengetahuan tentang bagaimana cara nya memimpin." Alena tersenyum melihat Saviona memberitahu tentang buku itu.


Dia seperti nya gadis baik. Pikir Alena.


...****************...


Hari yang ditunggu pun telah tiba bagi Aybar, Dighan juga Alena. Hari ini adalah hari pernikahan adik Raja—Aybar. Senyum pun tidak pernah pudar dari wajah laki-laki tampan berkulit putih dan bermata zamrud itu.


Para tamu pernikahan pun sudah datang lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Kali ini, Dighan benar-benar bahagia untuk yang kedua kali nya setelah pernikahannya dengan Alena.


Selain Aybar sang pengantin pria yang tampil sangat menawan, tidak kalah juga Dighan dan Alena. Pasangan suami istri itu sangat serasi dengan balutan pakaian khas bangsawan.


"Jangan biarkan ada penyusup atau pun rubah licik itu datang kemari dan berhasil masuk kedalam istana, kalau sampai kalian lengah tidak segan-segan aku menghabisi kalian semua." Perintah Dighan kepada pengawal penjaga istana. Para pengawal itu pun bergidik ngeri ketika membayangkan bagaimana tulang-tulang mereka dipatahkan, kulit mereka dicabik dan isi perut mereka dikeluarkan begitu saja.


Kejadian dimana Dighan menghukum para penghianat juga musuh nya sudah sering disaksikan seisi istana. Jadi, mana mungkin ada yang berani membantah atau pun tidak menjalankan perintah sang Raja dengan benar.


Semua pengawal itu pun mengangguk patuh kepada sang Raja.


"Tuan, Raja Asloth dan kaum nya sudah sampai, yang mulia!" Ucap Samier sembari membungkuk.


Walaupun Samier dan Orion sudah dianggap Dighan seperti keluarga nya sendiri dan diberi kedudukan menjadi penasehat kerajaan. Tetapi, mereka berdua tidak lupa dengan kedudukan nya yang berada dibawah kaki sang Raja.


"Baiklah, aku akan menemui mereka. Kau boleh pergi, Samier," ucap Dighan.


...----------------...


Bersambung....


___________________


Kira-kira apakah Saviona itu benar-benar baik atau karena ada motif tertentu?.


Yuk baca kelanjutannya.