The King Demon Mate

The King Demon Mate
Chapter 14. Ratu Sudah Tiada



Hallo gaes jangan lupa vote komen nyaa..


_____________________________


"Apakah kau sudah meracik obat untuk Ratu?" Tanya Samier.


"Sudah, setidak nya sakit pada tubuh Ratu berkurang," balas Azura.


"Dimana saudari mu?" Tanya Samier lagi.


"Kenapa? Kau merindukannya? Aku tidak akan membiarkan kau menikahinya."


"Aku hanya menanyakan saudari mu itu bukan artinya aku menyukainya kan, kau selalu menyimpulkan sesuatu yang tidak berguna."


"Aku ingin memetik dedaunan dulu, kau jaga Ratu Alena jangan sampai ada seseorang pun yang masuk kedalam kamar Ratu".


"Baiklah, aku akan menjaga di luar kamar Ratu dengan bermain catur bersama William."


Samier membuat William mengakui kekalahannya, William tidak pandai dengan permainan catur tetapi Samier memaksa nya supaya mereka berdua tidak bosan hanya berdiri di depan kamar Ratu.


"Apa kau sudah menemukan penawar untuk Ratu?" Tanya William.


"Penawar itu hanya dimiliki oleh orang yang membuat racun itu sendiri."


"Maksud mu?"


"Putri Qelsa, dia menawarkan ramuan penawar racun.'


"Lalu kenapa kau tidak meminta nya?"


"Kau seperti tidak tahu bagaimana putri licik itu, dia bisa saja bermain-main dengan kondisi seperti ini.'


"Tidak ada salah nya jika ia meminta imbalan atau pertukaran."


"Hm."


"Aku haus, aku akan ke dapur mengambil air, apa kau juga ingin ku ambilkan air?" Tawar Samier.


"Ya, sepertinya aku perlu minum. Tolong ambilkan anggur untuk ku," pinta William.


Setelah kepergian Samier, William melihat seorang maid muda yang menghampiri nya, ia membawa obat-obatan yang William pikir itu obat yang baru Azura racik tapi kenapa tidak Azura sendiri yang membawakannya.


"Aku disuruh saudari Azura untuk memberikan Ratu obat," ucap nya.


William menelusuri seluruh penampilan maid perempuan itu, ia memang maid yang sudah lama berkerja di istana dan William tidak perlu mencurigai nya.


"Silahkan." William mempersilahkan dan membukakan pintu kamar Ratu.


...****************...


Azura memeluk saudari nya, Laquel dengan isak tangis. Ia gagal untuk menjaga Ratu nya, apa yang terjadi dengan Alena membuat para makhluk immortal turut berduka. Bahkan Raja Dighan pun tidak tahu apa yang telah terjadi di Arsha.


Ratu Alena telah tiada.


Mereka tidak tahu entah apa yang terjadi nanti nya setelah Raja Dighan kembali.


"Aku tidak menduga jika Ratu Alena pergi dengan cepat dia sudah seperti saudari ku sendiri." Saviona memeluk tubuh Aybar dengan tangisan tersedu-sedu.


Qelsa yang melihat itu hanya menatap malas, ia tahu kalau Saviona sedang bersandiwara.


"Aku akan menyusul Kak Dighan ke bumi," ucap Aybar.


"Tapi, yang mulia," ucapan Orion terpotong.


"Aku akan melewati portal, aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku melewati portal tapi aku harus menemui Kak Dighan dan memberitahukan nya," tukas Aybar.


...****************...


Max dan Arabella sudah tiba di Asdirst, mereka tidak menduga jika putri satu-satunya mereka telah pergi dengan cepat.


Max bahkan sudah bersedia akan menyerang Dighan karena kematian Alena. Ia tidak akan tinggal diam kalau ada yang menyakiti putri nya, sekarang Alena telah menikah dengan Dighan dan tanggung jawab Alena ada pada Dighan tetapi laki-laki itu telah meninggalkan istrinya sendiri di Arsha bahkan ia tahu kalau banyak sekali yang mengincar Alena.


Arabella memeluk suami nya dengan isakan kecil didepan peti mati nya Alena. Setelah lama nya ia berpisah dengan Alena dan sekarang putri nya harus kembali meninggalkannya.


"Seharusnya Alena tidak berjodoh dengan Dighan. Ia akan baik-baik saja jika harus tinggal di bumi," ucap Max.


"Yang mulia!"


Arabella dan Max menoleh, ia mendapati William yang tengah berdiri di belakang mereka dengan bunga lily putih ditangannya.


"Ada apa?" Tanya Max datar.


William membungkuk memberikan hormat kepada Max dan Arabella.


"Apa kau tahu tugas mu? Aku mengirim mu ke Asdirst untuk menjaga putri ku tetapi kau lengah dengan tugas mu itu." Air muka Max sudah memerah ingin sekali ia membunuh William tetapi Ia tahan demi Alena, ia tidak mau tidur putri nya terganggu.


William menundukkan kepala nya kemudian ia berlutut di depan kaki Max untuk meminta ampun.


"Yang mulia, aku tahu siapa telah membuat Ratu Alena tiada. Di istana ini ada satu maid yang mencurigakan sebelum Ratu meninggal," ujar William yang masih menunduk dan berlutut didepan kaki Max.


Arabella mengalihkan pandangannya kearah William, ia ingin jawaban dari pria itu siapa yang sudah membunuh putri nya.


"Siapa dia? Siapa penghianat itu?" Tanya Max dengan tatapan berapi-api.


"Nona Laquel," jawab William yakin.


Semua orang yang berada di sana sangat terkejut termasuk Azura. Ia masih tidak percaya jika saudari nya bisa selicik itu, tapi ia tidak akan mudah percaya selagi itu hanya omongan belum ada bukti untuk menyalahkan Laquel atas kematian Alena.


"Aku tidak suka jika kau menuduh orang lain tanpa adanya bukti," ucap Max.


"Sebelum Ratu tiada, aku sempat menanyai nya saat dia ingin menemui Ratu dengan alasan ingin memberikan Ratu obat," balas William.


"Tidak, saudari ku tidak mungkin seperti itu. Dia sangat menyayangi Ratu Alena bahkan dia juga membantuku untuk mencari kan ramuan yang terbaik untuk kesembuhan Ratu." Azura yang diam saja sedari tadi pun tidak bisa menahan nya lagi, ia tidak terima kalau saudari nya itu disalahkan oleh William.


"Kau tidak tahu, Nona Azura. Kau jangan membela penghianat itu," ucap William.


"Apa yang dikatakan William itu benar, aku melihat Laquel sedang berbicara dengan seseorang dan aku yakin seseorang itu lah yang menyebab kan Ratu sakit."


"Kamu jangan ikut campur," bisik Aybar kepada istrinya itu.


"Aku hanya mengatakan apa yang aku dengar dan yang aku lihat."


"Bawa penghianat itu kehadapan ku!" Perintah Max.


Dengan sigap para pengawal melaksanakan perintah Max dan akan membawa Laquel.


...****************...


"Senang nya aku, Alena tiada dan orang lain yang kena imbas nya."


"Apa kau tidak keterlaluan? Gadis itu akan dihukum mati karena suatu yang bukan kesalahannya."


"Menurutku itu bukan suatu yang keterlaluan, aku senang memainkan mereka dan menghancurkan mereka satu persatu."


Wanita itu menghela nafasnya pasrah, ia tidak tahu lagi harus bagaimana agar sahabat nya itu tidak buta akan kekuasaan dengan cara yang licik.


"Kamu jangan selalu menyalahkan ku, kamu lupa? Kamu juga bagian dari kehancurannya mereka," ucap nya.


"Tidak, aku hanya membantu mu untuk merebut kekuasaan yang dipimpin Dighan bukan untuk menghancurkan mereka, cara mu itu salah kamu tidak pernah mendengarkan saran ku kamu bertindak dengan akal licik mu saja dan kamu mengatakan kalau aku juga bagian dari kehancuran mereka? Seharusnya aku tidak setuju dengan rencana mu," balas wanita itu.


"Kamu berpihak kepada mereka? Silahkan dan kamu juga akan ikut hancur."


Wanita itu kesal dengan sahabat nya sendiri, tidak seharusnya sahabat nya itu melakukan hal licik seperti itu. Ia juga merasa bodoh, kenapa ia harus mau membantu nya.


Ia pergi meninggalkan sahabat nya, ia akan pergi ke penjara bawah tanah dan mengeluarkan gadis tidak bersalah itu dan setelah nya ia akan mengungkapkan kebenaran walaupun ia harus menjadi seorang penghianat bagi sahabat nya sendiri.


Maafkan aku. Batin nya.


...----------------...


Bersambung....


Gak jelas ya cerita nya? Yang penting aku up hhe:v.