
Di kerajaan vampire sekarang juga sama seperti di Asdirst, Arabella mengurung diri nya di dalam kamar sedangkan Max, ia mencari Alena ke penjuru Arsha.
Bagi Arabella ia sudah berpisah dengan putrinya selama 17 tahun dan sekarang ia kembali di pisahkan untuk selama nya padahal ia baru sebentar bertemu dan memeluk putri nya itu.
"Yang mulia, bolehkah anda membuka pintu nya?" Kata seorang maid dari luar.
"Kalau kau ingin masuk hanya karena perintah dari Max, aku tidak mau!"
"Yang mulia belum makan apa-apa, tolong buka pintu nya, ini perintah dari Raja Max."
"Sudah ku bilang, aku tidak ingin membuka kan pintu apalagi perintah dari suami ku."
Maid itu menghela nafas pelan, ia pasrah kalau harus di marahi Raja Max karena tidak bisa memberikan makanan kepada Ratu Arabella.
Ia masih setia menunggu di luar siapa tahu Ratunya berubah pikiran dan bersedia membukakan pintu.
"Bilang kepada suami ku, aku akan keluar kalau putri ku bisa hidup kembali." Suara Arabella kembali terdengar.
"Apa Kakak ipar ku masih tidak mau keluar?" Tanya pangeran Justin dan menghampiri maid itu.
Maid itu menunduk seraya mengangguk, Justin dan istri nya—putri Lea saling melemparkan pandangan.
"Kau boleh pergi," ujar Justin. Maid itu membungkuk lalu menjauh dari sana.
Justin memandangi pintu besar itu ia mendekat dan menaruh telapak tangan nya di pintu lalu menyuruh Lea untuk menyingkir. Sekali dorongan yang terlihat amat pelan pintu itu pun terbuka bahkan langsung terbelah menjadi dua.
Justin dan Lea masuk ke dalam, mereka mendapati Arabella yang tengah meringkuk di lantai sembari memeluk kedua kaki nya.
"Kak." Lea menyentuh pundak Arabella dan wanita itu mendongak untuk melihat Justin dan Lea.
Lea tersenyum hangat kemudian ia membawa Arabella ke pelukan nya dan mengusap punggung wanita itu.
"Tidak hanya Kak Arabella yang merasa kehilangan bahkan satu Arsha pun turut berduka atas kepergian nya Ratu Alena."
"Kakak ipar lebih baik makan, istri ku sudah memasak hidangan yang lezat," ujar Justin.
Arabella menggeleng.
"Raja sudah kembali, Kak. Apa Kak Arabella tidak ingin menemui menantu mu?" Ucap Lea.
Wanita itu mengangkat wajah nya dan Lea melepaskan pelukan nya lalu tersenyum karena sepertinya Kakak ipar nya itu sedikit merespon.
"Apa Dighan tahu kalau istri nya sudah tiada?" Tanya Arabella.
"Lebih baik Kakak ipar langsung bertemu saja dengan Raja, aku dan Lea tidak tahu soal itu."
"Suami ku dimana?" Tanya nya lagi.
"Kakak tidak ada di istana, mungkin saja ada urusan yang penting," jawab Justin.
...****************...
"Rasy!" Teriak Saviona.
"Iya, putri?"
"Ambilkan aku daging dan sebotol wine," ujar Saviona.
"Putri sudah banyak meminum wine, sebaiknya aku ambilkan segelas air lemon saja, ya?"
"Siapa kau mengatur-atur ku? Aku sedang puas karena Alena sudah tiada dan jasad nya hilang entah kemana. Kehancuran Dighan akan ku nanti sebentar lagi," ujar Saviona dengan tatapan elang membunuhnya.
Brakkkhh
"Kau ini apa-apaan?" Teriak Saviona murka.
"Kau yang apa-apaan hah? Kau kemanakan wanita itu?" Ujar nya nyalang.
"Siapa yang kau maksud? Alena? Aku tidak tahu, kemana pun wanita itu aku tidak perduli." Acuh Saviona.
"Kita tidak pernah merencanakan ini semua, kenapa kau membawa jasad wanita itu tanpa sepengetahuan ku?"
"Bukan nya kau yang seperti itu? Kau kan yang menculik Alena?" Tanya Saviona menyelidik.
"Cih, walau pun aku licik tetapi aku tidak akan merusak permainan ku sendiri, seharusnya kau tahu kalau Alena menghilang itu akan menjadi boomerang untuk kita berdua!"
"Aku tidak perduli, kita bisa nikmati kehancuran Dighan karena hilang nya Alena."
"Terserah kau, jadi apa rencana mu berikut nya?" Tanya orang itu.
"Menyaksikan drama," jawab Saviona santai.
"Berhenti bermain-main, Viona. Maksud ku apa yang kita lakukan untuk kehancuran Raja setelah kepergian Alena?"
"Melenyapkan satu persatu orang terdekat Raja, salah satu nya Ibu Dighan mungkin."
"Maksud mu Ratu Mallery? Bukankah d-"
"Dia masih hidup! Tetapi keberadaan nya tidak diketahui, kita bisa mencari Ratu Mallery kalau sudah berada digenggaman kita hanya itu kelemahan Dighan setelah istri nya." Potong Saviona sebelum orang itu menyelesaikan perkataan nya.
"Aku tidak mengerti," ujar orang itu.
"Ck tidak usah dimengerti! Lebih baik kita mencari keberadaan Mallery. Turuti saja perintah ku." Saviona benar-benar jengah dengan orang ini, kenapa ia harus bekerja sama dengan nya ya hanya karena satu tujuan yang sama ia harus sabar menghadapi orang didepan nya tapi lihat saja nanti, setelah Dighan hancur ia akan melenyapkan orang ini.
...****************...
Arabella membungkukkan badan nya ketika berhadapan dengan Dighan. Terlihat aneh memang jika yang diketahui kalau seorang mertua membungkuk kepada menantu tetapi disini kedudukan pangkat dan tahta adalah prioritas utama.
"Yang mulia!" Seru Arabella.
"Dimana istri ku?" Tanya Dighan dengan mengabaikan panggilan dari ibu mertua nya. Ia mengedarkan pandangan nya berharap Ratu nya mendatangi dan menyabut kedatangan nya.
Arabella mengerti, Dighan belum mengetahui berita duka tersebut dan ia berpikir mungkin tidak ada yang berani mengatakan nya karena mungkin amukan dari sang Raja sangat lah berbahaya.
"Alena sedang ada kepentingan, dia bersama suami ku, yang mulia."
"Kenapa tidak ada yang memberitahu ku?" Dighan menatap Arabella dengan tatapan intimidasi, sungguh jika ditatap seperti ini dirinya merasa seperti dikuliti hidup-hidup.
"Karena tidak ada yang ingin mengganggu urusan penting yang mulia," ujar Arabella beralasan. Tapi sia-sia saja karena ia tahu kalau Arabella sedang berbohong.
"Andai kau bukan ibu dari istriku, maka hidup mu habis ditangan ku karena omong kosong mu itu."
Dighan menjauhkan badan nya. Ia meninggalkan kediaman Dawner dengan wajah angkuh.
...****************...
Di Istananya Dighan menikmati jamuan yang sudah disiapkan oleh para maid. Beberapa waktu yang lalu ia ditemani oleh Alena di meja makan ini tapi sekarang rasanya kembali lagi seperti beberapa tahun yang lalu.
Dighan memperhatikan Azura karena tidak biasanya wajah wanita itu terlalu suram dan ia juga sendiri tidak bersama saudari nya, Laquel.
"Dimana Laquel?" Tanya Dighan mengintruksi.
Laquel terkejut dengan pertanyaan itu, ia pun menghentikan pekerjaan nya dan menjawab pertanyaan sang Raja dengan menunduk.
"Saudari ku sekarang menjadi tahanan di Asdirst, yang mulia."
"Tidak ada yang memberitahu ku, lagi?"
Azura menggelengkan kepala nya
"Panggilkan Samier dan Orion kemari," perintah Dighan. Dan Azura hanya menurut, ia memberikan hormat sebelum meninggalkan tempat itu.
Tidak lama, Orion dan Samier datang seraya membungkuk kan badan mereka. Mereka berdua sudah bisa menebak untuk apa yang mulia nya memanggil mereka berdua.
"Kenapa kepergian nya Alena dari Istana juga terpenjara nya Laquel tidak ada yang memberitahu ku?" Tanya Dighan dengan tatapan nya yang membunuh.
"Yang mulia, Ratu Alena-" perkataan Samier terhenti ketika Orion menyuruhnya untuk diam dan tidak memberitahukan yang sebenarnya.
"Biarkan Samier mengatakan itu, Orion!" Ujar Dighan tanpa menatap Orion.
"Lanjutkan perkataan mu," lanjutnya.
"Ratu Alena sudah tiada, yang mulia. Dan Laquel tertuduh karena sudah membunuh Ratu." Samier tidak ragu mengatakan hal itu, walau ia takut akan amukan sang Raja tetapi Raja juga perlu tahu atas berita duka ini.
Dighan menatap Samier, ia tahu kalau pria ini tidak sama sekali berbohong dan artinya istri nya itu benar-benar sudah tiada.
Mata Dighan berubah menjadi hitam pekat yang mengerikan, sekejap saja yang tadi nya dia masih berwujud seorang Raja sekarang berubah menjadi seorang iblis yang menyeramkan. Orion dan Samier mundur, mereka takut kalau-kalau Dighan mencelakakan mereka berdua.
"Dimana istri ku? Aku ingin menemui nya."
"Yang mulia, ja-sad Ratu menghilang. Semua pengawal Arsha sudah di perintahkan untuk mencari Ratu," ujar Orion.
"Beritahukan kepada Aybar, jaga Asdirst selama aku pergi mencari istri ku." Setalah mengucapkan itu, Dighan pergi meninggalkan Orion dan Samier dengan wujudnya yang masih menjadi seorang iblis.
...****************...
"Raja tidak memerintahkan kita untuk memberikan hukuman kepada maid itu," ucap Orion kepada William.
"Kenapa?"
"Aku tahu, Raja sangat percaya kepada Laquel. Ia mungkin sudah tahu siapa yang membunuh Ratu dan sekarang akan mencari jasad nya untuk memastikan Ratu aman dari pembunuh itu."
"Apa kita harus membuat rencana juga, Orion?" Tawar William.
Orion tertawa mendengar tawaran itu, "apa kau cukup untuk di percaya?"
"Aku pengawal setia Raja Max, ayah dari Ratu Alena. Tidak mungkin aku berkhianat, aku sama seperti mu dan Samier."
Orion tidak percaya sepenuh nya dengan William mengingat pria itu yang telah memasukkan Laquel ke penjara bawah tanah, tetapi ia juga harus bisa memanfaatkan William dalam situasi seperti ini.
"Akan ku atur dimana kita harus membicarakan rencana itu," ujar Orion lalu ia pergi meninggalkan William yang tengah menyunggingkan senyuman.
"Apa yang telah kau bicarakan dengan Orion?" Tanya Azura yang baru saja berada disana.
"Tidak ada," balas William.
Azura memicingkan mata nya, ia selalu menaruh rasa curiga kepada laki-laki di sebelah nya ini, bagaimana tidak? Ratu Alena sakit dan tiada juga setelah kehadiran William apalagi ia sudah menuduh Laquel yang melakukan itu semua.
William merendahkan badannya agar tinggi nya setara dengan Azura, lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.
"Hati-hati, Nona Azura. Jangan sampai kau bernasib sama dengan saudari mu, Nona Laquel." William menjauhkan kepala nya, iya kembali menegakkan badannya seraya menatap Azura dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mungkinkah William berkhianat dan ia telah berpihak kepada orang yang telah membunuh Ratu Alena?
Azura hanya diam saja, ia terlalu larut dengan perkataan William barusan. Setelah nya Azura pun meninggalkan William tanpa sepatah kata pun.
Laki-laki itu hanya menggeleng kan kepalanya saat melihat kepergian Azura, niat nya hanya ingin bermain-main dengan maid manis itu.
...****************...
Aybar berada dikamar nya, hanya sendirian. Baru saja ia mendapatkan kabar dari Samier kalau Dighan pergi dari istana untuk mencari Alena, Aybar akui ia memang merasakan kehilangan Alena dan ia tidak ingin kakak nya seperti dulu lagi.
Walau Dighan pernah memberinya hukuman tetapi Aybar tidak bisa membencinya. Selama ini Dighan lah yang sudah menjaga nya setelah kedua orang tua mereka tiada, Dighan bukanlah sosok kakak yang buruk, dibalik sifat kejam nya ada sisi terbaik dari laki-laki itu.
Aybar berjanji, ia akan membantu Dighan mencari keberadaan Alena walau sekarang ia memiliki tanggung jawab besar disini.
Laki-laki itu menghela nafas pelan, andai dia tidak kembali kesini pasti semua nya akan baik-baik saja terutama kakak iparnya tidak akan pergi.
Terdengar suara pintu terbuka, mata tajam Aybar menatap siapa yang berani masuk ke kamar nya tanpa mengucapkan sesuatu.
"Aku membawakan ini, emm.." Aybar menaikan satu alis nya, sepertinya wanita itu akan mengatakan sesuatu, ia menunggunya.
Tangan Aybar menerima sesuatu yang dibawa wanita itu, ia bisa melihat jika wanita itu tengah tersenyum tapi ia tidak peduli.
"Kau tidak ikut mencari Ratu Alena?" tanya nya.
"Tidak, ku rasa matamu tidak buta kan, Saviona mengapa aku masih disini dan tidak keluar dari istana."
"Maafkan aku." Saviona menunduk, walaupun dia menyukai Dighan tetapi dia tidak bisa menolak pesona suaminya ini, mungkin saja ia akan bertekad menyingkirkan Qelsa. Dia bisa saja menarik perhatian Dighan karena Alena sudah tiada namun ia terlalu takut kepada pria itu dengan perlahan pun ia akan membawa Aybar ke pihak nya untuk melawan Dighan maupun Qelsa.
"Kau mau diam disini saja? Aku ingin sendiri dan ya jangan berharap aku akan bersikap adil kepada mu maupun Qelsa, tidak akan." Aybar menekankan setiap perkataan nya sembari menatap wanita itu tajam, ia tahu jika Saviona dan Qelsa itu sama saja tetapi bodohnya ia menikahi mereka berdua, Aybar melakukan itu hanya saja menghargai Dighan, ia memiliki rencana nya sendiri untuk dua tikus kecil itu, iya Aybar akan menyingkirkan istri-istrinya.
...______________...
...Tbc. tipis tipis dulu....