
Alena termenung di kamarnya ditemani oleh Azura dan Laquel yang sedang menghias dan mendandani Alena karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan sang penguasa, Dighan.
Arabella tersenyum melihat putri nya dari luar kamar, dia tak menyangka akan secepat ini putri nya dewasa dan akan menikah. Arabella memasuki kamar Alena dan menyuruh Azura juga Laquel meninggalkan mereka berdua dikamar.
"Apa kamu bahagia, putri ku?" Arabella menyadarkan lamunan Alena, dia melihat wajah Alena yang murung tanpa kebahagiaan di sana. Perasaan seorang Ibu sangat lah kuat dengan anaknya karena mereka memiliki ikatan batin yang sangat luar biasa.
"Ah ibu, aku sangat bahagia Bu. Aku bisa bertemu dengan Ibu dan Ayah, kalian bisa tinggal bersama." Alena tersenyum melihat Ibunya namun tak berani menatap mata nya langsung.
Arabella yang tahu dengan yang dirasakan Alena pun memaklumi nya, dia tak ingin putri nya tidak bahagia dengan pernikahan ini.
"Kamu tidak mencintai Raja Dighan kan? Aku tahu kalian berdua sudah ditakdirkan untuk bersama karena kamu adalah mate-nya, ibu yakin kamu bisa mencintai nya dengan tulus, Alena. Kamu tidak bisa menolak pernikahan ini dan Ibu juga tidak bisa membatalkannya, ini sudak takdir kalian berdua untuk bersatu." Arabella tersenyum kepada Alena dan mencium kening putrinya itu.
Alena yang mendengar perkataan ibunya pun sudah merasa lega, karena bagaimana pun Dighan tidak mungkin menyakitinya karena dia adalah mate-nya.
Alena berjalan perlahan menuju altar bersama Max dan Arabella yang menemaninya disamping, Arabella berhenti mengantarkan putri nya dan Max yang akan mengantar putrinya ke altar dan menyerahkannya kepada Dighan yang akan menjadi suami nya.
Dighan terpukau melihat Alena yang begitu menawannya dibalut gaun pengantin berwarna putih dan belahan dada rendah.
Dighan dan Alena pun saling mengucapkan janji suci sehidup semati dan inilah waktu yang mendebarkan bagi Alena, dimana mempelai laki-laki akan mencium bibir mempelai perempuan.
Dighan menatap wajah Alena yang begitu cantik didepannya, jari nya memegang dagu Alena lembut wajah mereka sudah dekat sekarang dan..
Cup
Kecupan lembut mendarat dibibir Alena, Alena tak membalas ciuman itu tapi itu adalah first kiss nya Alena dan ketika itu jantung nya berdegup kencang dan pipi Alena memanas.
...****************...
Malam ini adalah malam yang indah bagi para pengantin baru, tetapi tidak bagi Alena. Gadis itu duduk diatas ranjang yang akan ia tiduri dengan Dighan, dia menunduk dan memeluk kedua kaki nya.
"Alena," lirih Dighan.
Alena menatap sayu Dighan yang sekarang sudah duduk disamping nya.
"Kita sudah menikah," ucap Dighan.
"Ya, tapi aku tidak mencintai mu," balas Alena.
"Cinta akan tumbuh sendiri nya setelah kita menikah dan aku akan membuat mu jatuh cinta dengan ku," ujar Dighan sambil memegang dagu Alena dan langsung pergi dari kamar nya.
...****************...
Dighan POV
Aku seorang penguasa, aku sudah menikah dan kenapa ada seorang gadis dia adalah mate ku sendiri tapi mengapa ia tidak mencintai ku bahkan mencoba untuk mencintai ku. Aku akan membuat dia mencintai ku dengan sendiri nya, tidak akan ku biarkan lelaki manapun yang akan menyentuh nya ataupun memiliki nya.
"Yang mulia," ujar Samier saudara kandung Orion, mereka berdua adalah pengawal pribadi ku sekaligus prajurit Asdirst yang sudah ku anggap seperti adik-adikku.
"Ada apa?" Tanya ku.
"Putri Qelsa ingin bertemu dengan anda, yang mulia," jawab Samier.
"Kenapa wanita itu datang kemari?" Tanya ku pelan.
Aku sudah tak sudi lagi melihat wanita itu, karena dia adalah mantan kekasih ku. Dulu aku pernah tergila-gila dengan sosok wanita yang bernama Qelsa itu dan sekarang aku tidak sudi lagi mengatakan kalau aku pernah mencintai nya.
Dia seorang ******, dia sudah tidur bersama ku dua kali dan setelah itu dia pergi meninggalkan ku karena dia sudah tergila-gila dengan Aybar. Aybar adalah adik kandung ku, dia sudah mengkhianati cinta ku dia mencintai adikku bukan diri ku dan setelah itu aku hampir membunuh adik kandung ku sendiri karena benar dia adik ku aku pun hanya mengusir nya dari Asdirst.
"Beritahu kan kepada dia, tunggu aku di aula dan jangan sampai istri ku keluar dari kamar nya!" Perintah ku kepada Samier dan dia pun meninggalkan ruangan ku.
...****************...
Qelsa memeluk erat Dighan seakan-akan ia tak mau lepas dari Raja iblis itu, Dighan berhasil melepaskan pelukan Qelsa dari tubuhnya.
"Menyingkirlah!" Teriak Dighan.
"Kenapa? Aku kekasih mu, aku sangat merindukan mu," ucap Qelsa yang sedikit mendekat ke tubuh Dighan.
"Kau sudah mengkhianati ku untuk apa kau mengaku-ngaku sebagai kekasih ku." Langkah Dighan kian menjauh seketika Qelsa mendekat.
"Aku mencintai mu, Dighan," lirih Qelsa.
"Cihh..aku tidak sudi dicintai ****** seperti mu itu." Dighan meludah dihadapan Qelsa yang saat itu hanya menatapnya tak percaya.
"Pergilah lah dari Asdirst dan jangan pernah lagi kamu menampakkan wajah mu karena aku tidak sudi." Suara Dighan mulai meninggi dan membuat Qelsa bergidik ngeri. Wanita itu pun membalikkan tubunya dengan perasaan kecewa, dia melangkah jauh dari tempat Dighan berdiri.
"Aku tidak akan terima dengan sikap mu ini kepada ku, Dighan. Akan ku pastikan semua nya akan terbayar dengan penghinaan mu terhadap ku," ucap Qelsa pelan sehingga Dighan pun tak mendengar nya karena Qelsa sudah lumayan jauh dari pandangan Dighan.
...****************...
"Apa dia ada di kamarnya dari tadi?" Tanya Dighan kepada Azura maid kerajaan sekaligus pelayan pribadi Alena.
"Ratu ada dikamar yang mulia, Ratu sudah tertidur sedari tadi, yang mulia," jawab Azura yang tertunduk.
"Syukurlah dan dimana Laquel?" Tanya Dighan lagi.
"Laquel sedang ada di taman untuk memetik bunga lily untuk yang mulia Ratu, yang mulia," jawab Azura, Dighan pun mengibaskan tangannya itu seperti perintah tidak langsung untuk menyuruh maid nya segera pergi dan Azura pun membungkuk kepada Dighan lalu dia pergi.
Dighan memasuki kamarnya dan mendudukkan bokong nya ditepi tempat tidur yang saat ini ditiduri oleh Alena.
"Umm." Erangan Alena membuat Dighan terkejut, dia takut Alena bangun karena ulah nya dan menggagalkan aksinya untuk selalu memandangi wajah manis Alena.
Ternyata Alena hanya melenguh dan Dighan pun menghela nafas leganya.
...****************...
"Sepertinya air hangat bunga mawar bisa membuat ku segar," ujar alena dengan senyum manisnya.
"Jika yang mulia ingin mandi menggunakan bunga mawar, aku dan Azura akan menyediakanya untuk yang mulia Ratu," ucap Laquel membalas senyuman Alena begitu juga Azura.
"Dimana Dighan? Ah maksud ku Raja kalian," ucap Alena.
Azura dan Laquel saling melemparkan tatapan meraka berdua ketika mendengar ucapan Ratu mereka tadi.
"Yang mulia Raja sedang berpatroli disekitar Arsha, yang mulia," ucap Azura.
"Yang mulia Raja berkeliling Arsha untuk melihat keamanan Arsha dan memberi bantuan kepada rakyat Arsha yang kesusahan," sambung Laquel.
"Wah, seorang iblis seperti Raja kalian itu bijaksana juga ya." Alena tertawa pelan dan perkataan nya itu membuat kedua pelayan nya itu kebingungan.
"Seperti itulah seorang Raja, dia selalu bertanggung jawab terhadap rakyat-rakyat nya, dibalik sorot mata yang mematikan sifatnya yang dingin dan yang sangar selalu membunuh seseorang, yang mulia adalah seorang pria yang lemah lembut kepada seorang yang dia cintai dan itu termasuk Ayah, Ibunya dan juga Ratu." Alena mencari arah sumber suara tersebut dan Alena menemukannya, Orion!.
"Bisakah kamu menceritakan semua tentang Raja kalian itu kepada ku?" Pinta Alena dan Orion pun tersenyum simpul.
"Dengan senang hati, yang mulia."
***
Dighan melamun sendiri diruang pribadinya tanpa siapa pun yang mengganggunya.
Flashback On
"Ibu, bisakan aku seperti ayah kelak aku dewasa?" Tanya seorang anak kecil yang usia nya berkisar 7 tahun.
"Tentu, my son. Kamu akan menjadi seorang Raja yang bijaksana," ucap Mallery kepada putra nya itu.
Dighan kecil sangat lah menyayangi kedua orang tua nya itu tetapi ketika dia beranjak dewasa, dia pun kehilangan semua yang dia sayangi.
"Kamu akan menjadi seperti ayah, Nak". Caries mengelus lembut pipi putra kecil nya itu.
Ketika usia Dighan menginjak 17 tahun, Asdirst sedang mengalami pertempuran hebat akibat penghianat kerajaan. Dighan yang waktu itu pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik Ibunya pun hanya bisa memeluk Aybar, adiknya Dighan yang baru berusia 10 tahun.
"Dighan," lirih Mallery.
"Bawa adik mu pergi dari sini, setelah selesai pertempuran ini kembalilah, Nak. Ibu pastikan Ayah mu dan prajurit kerajaan berhasil memusnah kan penghianat itu dan pasukannya," ucap Mallery yang seketika menghapus air matanya.
"Ibu ikut?" Tanya Dighan dan Mallery pun hanya menggeleng.
"Ibu tetap disini, Ibu akan bersama ayah mu. Jika ibu dan ayah mu tiada karena pertempuran ini setidaknya kamu dan Aybar selamat." Mallery tersenyum tipis kepada kedua putra nya dan sesekali menyeka air mata nya yang jatuh.
Dighan menggandeng Aybar keluar dari istana melalui teleportasi, Dighan melewati dimensi waktu dan ia pun tiba di bumi bersama Aybar.
Pertempuran di Asdirst sudah mereda, pihak Caries pun menang tetapi Caries sudah tiada. Caries tumbang di pertempuran ini dan Mallery, Mallery yang saat itu ketahuan bersembunyi pun dibawa pergi dari Asdirst. Berita duka dan bahagia itu pun terdengar oleh Dighan, Dighan hanya mengetahui kalau kedua orang tua nya sudah tiada tidak tidak tahu kalau Ibunya masih hidup dan telah dibawa oleh pemberontak.
Amarah Dighan meningkat, dia pun tak terima jikalau kedua orang yang dia sayangi telah terbunuh akibat pertempuran itu. Di ubuk hatinya, ia tak menginginkan kekuasaan tetapi kebahagiaan, kalau saja Ayahnya mengalah dan memberikan kekuasaan nya kepada pemberontak itu pasti dia akan hidup bahagia bersama keluarga nya tapi apalah kekuasaan dan dia pun kehilangan orang yang ia sayangi.
Flashback Off
Dighan mengepalkan tangannya, dia bersumpah tidak akan pernah membiarkan penghianat itu hidup. Dia akan mencari siapa yang sudah membunuh Ayahnya itu.
...****************...
"Dighan." Alena duduk dibibir ranjang ketika Dighan masuk ke kamarnya Alena tersentak dan langsung berdiri.
"Tidak tidur? Hari sudah gelap," ucap Dighan.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu kepada mu?" Tanya Alena yang mendekati Dighan. Dighan duduk ditepi ranjang diiringi Alena.
"Apa?" Tanya Dighan.
"Di..dimana adik mu?" Tanya Alena.
Dighan sontak menatap Alena cukup lama dan menghempaskan pandangannya dari wajah Alena.
"Kenapa?" Dighan balik bertanya dan memalingkan wajah nya dari Alena.
"Hey hey, ada apa? Kenapa kau balik bertanya pada ku?" Tanya Alena ia memegangi dagu Dighan dengan gemes nya.
"Iya, dia sedang berada diluar kerajaan," balas Dighan berbohong.
Memang benar, adik nya Dighan berada di luar kerajaan tapi lebih tepatnya diasingkan. Walau pun Dighan mencintai Alena dan gadis itu adalah mate nya, tapi tetap saja ia tidak ingin menceritakan semua nya kepada Alena, ia tak ingin membahas masalah adik nya yang sudah mengkhianati nya itu.
...----------------...
Tbc.