The King Demon Mate

The King Demon Mate
Chapter 09. Si Rubah Betina



"Kau sangat cantik, benar-benar sangat cantik!" Puji Alena ketika ia membantu Saviona untuk berhias.


Tidak akan secantik yang orang katakan kalau pengantin wanita nya sangat tidak menyetujui pernikahan ini. Bantin Saviona.


Saviona pun hanya tersenyum kepada Alena atas pujian Alena barusan.


"Mari kita keluar, mungkin calon suami mu sudah menunggu di altar," ujar Alena seraya membantu Saviona berdiri karena gaun yang dipakai Saviona sangat panjang dan elegan, Saviona sendirilah yang memilih gaun itu.


Alena menggiring Saviona dengan anggun dan lamban, Ayah Saviona—Raja Asloth pun sudah berdiri dan akan bersedia membawa putrinya itu ke altar untuk menyerahkan nya kepada Aybar.


Janji demi janji telah diucap kan oleh kedua mempelai, mereka dinyatakan resmi menjadi pasangan dan di momen ini lah saat nya sang pengantin pria mencium lembut bibir istrinya.


Ketika kedua pengantin saling berciuman seisi istana bertepuk tangan dengan meriah.


"Alena," panggil Dighan. Alena menoleh tetapi tidak berucap.


"Aku mencintai mu." Dighan pun mencium lembut bibir istrinya cukup lama membuat Alena terdiam membeku. Sungguh sosok Raja iblis didepan nya ini benar-benar membuat nya bungkam tanpa berkata apa-apa lagi Alena benar-benar mencintai Dighan.


...****************...


Pernikahan Aybar pun berjalan dengan lancar, para tamu yang datang pun sudah pergi hanya tinggal Max dan Arabella yang akan tinggal di istana beberapa hari untuk melepas rindunya kepada putri mereka—Alena.


Dighan berendam di air hangat untuk menetralkan pikirannya, setelah selesai berendam Dighan pun langsung beranjak untuk pergi ke kamar nya mungkin saja istrinya sedang menunggunya dikamar.


Dan benar saja dugaan Dighan, ia melihat istrinya yang sedang duduk mengenakan gaun malam nya ditepi ranjang dengan memunggunginya.


Tidak berpikir panjang lagi, Dighan pun ikut duduk disamping istrinya dan langsung memeluk erat istrinya itu.


Ia mencium aroma wangi tubuh wanita nya tetapi ada yang aneh dengan aroma tubuh wanitanya itu. Tetapi Dighan tidak memperdulikannya dan ia semakin dalam menghirup aroma itu.


"Kau menggoda ku, sayang," bisik Dighan tepat ditelinga istrinya itu.


Dighan pun tidak sabar, ia ingin sekali mencium istri nya itu dan membawanya ketitik paling tinggi kenikmatan.


Dighan membalikkan tubuh istrinya itu perlahan dan sudah bersedia untuk mencium bibir nya tetapi tiba-tiba rahang Dighan mengeras.


"Pergi kau dari kamar ku!" Bentak Dighan.


Wanita itu tidak bergeming, ia masih duduk dan tersenyum lembut kepada Dighan.


"Maaf kan aku, aku kira ini kamar Aybar," ucap wanita itu lembut.


"Pergi sekarang juga, Saviona!" Bentak Dighan sekali lagi.


Saviona hanya tersenyum menatap Dighan setelah itu ia pergi dari kamar Raja.


Alena bingung setelah melihat Saviona keluar dari kamarnya, ia melihat gadis itu sangat murung.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alena bingung kepada Dighan setelah ia memasuki kamarnya.


Dighan menoleh kearah Alena dan memeluk erat istrinya itu. Alena membalas nya sebentar dan setelah itu melepaskannya.


"Aku melihat Viona keluar dari kamar kita dengan wajah murung, apa yang terjadi?" Tanya Alena lagi.


"Tidak ada apa-apa, dia hanya meminta izin kepada ku untuk menemui Ayah nya tetapi aku melarangnya." Bohong Dighan. Ia tidak ingin istrinya ini berpikiran macam-macam nantinya.


"Kenapa kau melarangnya?" Tanya Alena.


"Karena ini sudah malam," balas Dighan. Alena pun hanya mengangguk paham.


"Ayo kamu tidur." Ajak Dighan dan Alena pun menuruti nya dengan berbaring berbantalkan lengan Dighan dan tidak lupa wanita itu juga memeluk suami nya dengan erat.


Cup


Dighan pun mendaratkan ciumannya di kening Alena.


...****************...


Sekarang Dighan sedang berada di ruangan pribadi nya. Ia sedang berbicara dengan Aybar tentang masalah pembagian wilayah, didalam ruangan hanya ada mereka berdua dan itu pun diluar ruangan ada dua pengawal yang menjaga ruangan tersebut.


Alasan Dighan menempatkan penjagaan di ruangan pribadinya karena ia tidak ingin disaat ia sedang sibuk ada yang menganggu nya juga ia tidak ingin ada orang yang tidak berkepentingan masuk begitu saja ke ruangannya.


"Baiklah Kak, aku akan menjalan kan apa saja yang kakak perintahkan nantinya," ucap Aybar seraya tersenyum kepada sang Kakak.


Setelah mengatakan itu, Aybar pun izin keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Dighan yang berada sendirian didalam.


"Sekarang wanita itu sedang apa ya?" Pikir Dighan. Baru saja ia meninggalkan istrinya itu yang sedang tertidur dikamar nya untuk berbicara dengan Aybar, Dighan pun sangat merindukan istrinya itu.


Sebuah senyum terukir dibibir Dighan, ia memikirkan bagaimana cara nya untuk membuat istrinya itu bahagia bersamanya. Pastinya ia akan melakukan segala macam cara apa pun untuk selalu membuat Alena nya tersenyum.


"Maaf, aku masuk tidak permisi dulu!"


Dighan mengangkat kepala nya dan ia menjumpai seseorang yang tengah berdiri dan tersenyum ke arah nya.


Dighan langsung mengalihkan pandangannya secara spontan.


"Ah aku kira Aybar masih berada didalam jadi aku langsung masuk saja," ucap nya.


"Bisakah kau menjalankan tatakrama mu itu? Kau seorang putri seharusnya kau tahu masuk keruangan seseorang tanpa mengetuk pintu, apa kah pengawal diluar tidak mengusir mu? Karena aku tidak suka diganggu," ujar Dighan dingin ia menatap tajam seseorang didepannya itu.


"Maaf kan aku! Mereka membiarkan ku masuk karena aku sedang membawakan minum untuk mu dan Aybar" ucap nya sambil tersenyum.


"Tidak bisakah kau berhenti tersenyum!" Tanya Dighan ketus.


"Apa salah nya jika aku tersenyum kepada kakak ipar ku, aku hanya ingin terlihat ramah saja," ucap Saviona lembut.


"Maafkan aku tentang kejadian malam itu, aku benar-benar salah ku kira itu kamar Aybar," lanjutnya lagi.


"Terserah kau saja, taruh itu disitu dan aku akan meminumnya." Titah Dighan dan Saviona pun menurutinya.


"Kenapa kau masih berdiri disitu?" Tanya Dighan dingin.


"Salahkah? Aku hanya melihat kakak ipar ku meminum nya hingga habis," balas Saviona tersenyum.


Saviona mendekat, ia dapat memandang laki-laki didepannya ini sedang menghabiskan minuman yang ia buat. Wanita itu meraih tangan Dighan dan menaruhnya ke pinggang wanita itu.


Wajah mereka sangat dekat seakan-akan Dighan sedang memeluknya.


"Aku tidak akan bahagia jika aku tidak menikah dengan mu," bisik Saviona sembari tersenyum.


"Apa yang kau lakukan ini, Saviona!" Tegas Dighan. Laki-laki itu mendorong tubuh Saviona hingga tubuh wanita itu terbentur dinding.


"Aku..aku hanya ingin memiliki mu," lirih Saviona.


"Itu tidak akan pernah terjadi, aku hanya mencintai istri ku dan kau, kau adalah istri adikku." Rahang Dighan mengeras, ia menatap tajam ke arah Saviona yang sudah menciut.


Dighan menghampiri Saviona dan langsung menarik rambut gadis itu.


"Dighan," lirih Alena. Tubuh wanita itu bergetar, ini pertama kali nya ia melihat Dighan memperlakukan seorang wanita seperti itu.


Sial. Batin Dighan.


Alena membantu Saviona berdiri, kini wanita itu sangat lemah wajah nya lebam karena benturan keras dilantai. Alena menatap nyalang ke arah suaminya itu rasa benci seakan bergejolak didalam hatinya. Tega sekali suami nya memperlakukan seorang wanita seperti itu.


...****************...


Saviona meringis kesakitan setelah Alena membantu mengobati luka nya.


Alena sangat iba melihat kondisi Saviona sekarang, ia tidak akan memaafkan suaminya itu karena sudah berbuat seperti ini.


Dasar keji. Pikir Alena.


"Maaf kan aku!" Ucap Saviona disela-sela Alena sedang mengobati luka nya.


"Ini obat yang baru saja saya racik, Ratu," ujar Azura sembari memberi hormat.


"Hm," gumam Alena sebagai balasan.


"Apa kau tetap mencintai Dighan setelah kau melihat kejadian tadi?" Tanya Saviona.


Gerakan tangan Alena berhenti, ia menatap Saviona dingin.


"Sampai kapan pun ia adalah suami ku dan aku akan selalu mencintai nya walau pun perlakuannya terhadap seorang wanita-"


"Sudah selesai, bagaimana sudah mendingan?" Alena tidak ingin membahas dan mengingat kejadian itu, ia sungguh tidak menyangka jika suami nya seperti itu.


"Hm sudah," balas Saviona tersenyum kepada Alena.


"Apa kamu suka membaca?" Saviona menatap Alena dan ia pun mengangguk kan kepalanya. Alena tersenyum, ia akan menghibur Saviona dan melupakan kejadian itu.


Alena bahkan sangat muda dari pada Saviona yang sudah berusia ratusan tahun tapi sikap Alena sangatlah dewasa dari pada Saviona.


"Sebentar," ucap Alena. Alena berjalan menuju lemari, ia pun perlahan membuka lemari tersebut dan mengambil beberapa buku yang tebal dan ada juga yang tipis.


Alena kembali duduk disamping Saviona dan menyerah kan buku-buku tersebut.


"Kamu juga suka membaca?" Tanya Saviona.


Alena menggeleng kan kepalanya.


"Aku tidak sengaja mendapatkan buku ini di bumi, aku tertarik," ujar Alena menunjuk buku yang sangat tebal.


"Dan yang lainnya ini adalah buku pelajaran ku disekolah," lanjutnya.


"Sekolah?" Tanya Saviona.


Alena tertawa setelah mendengar pertanyaan Saviona.


"Memang nya kenapa? Kamu baru saja mendengar kata itu?" Tanya Alena setelah tawa nya mereda.


"Tidak, di Arsha juga ada tetapi sekolah Academy," balas Saviona.


"Sama seperti sekolah yang ada di bumi tetapi beda nya di bumi tidak ada pelajaran sihir nya kan dan sedangkan sekolah disini tidak ada pelajaran bahasa asing nya," lanjut Saviona.


"Bahasa asing?" Tanya Alena heran.


Saviona hanya tertawa pelan dan menggeleng kan kepala nya karena pertanyaan Alena.


"Jangan kamu kira kami makhluk immortal tidak seperti manusia bumi, kami juga diam-diam belajar bahasa asing sendiri dan kami juga diam-diam memiliki benda yang ada di bumi yang sering manusia pakai", ucap Saviona antusias.


"Kapan-kapan ajak aku ke bumi dan bertemu dengan manusia bumi ya, Alena." Pinta Saviona.


Alena mengangguk dan tersenyum, akhirnya ia bisa dekat dengan Saviona.


...****************...


"Azura, dimana istri ku?" Tanya Dighan setelah ia sadar jika Alena tidak berada di meja makan bersama nya.


"Saviona juga tidak terlihat, dimana dia?" Tanya Aybar.


"Mereka sedang berada dikamar Ratu Alena, yang mulia," jawab Azura menunduk.


"Tidak biasa sekali," ujar Aybar tersenyum.


"Baiklah, bawakan saja kekamar makanan untuk mereka," ucap Dighan, Azura pun mengangguk dan izin berlalu.


"Apa yang terjadi, Ka?" Tanya Aybar.


"Tidak ada masalah, makan makanan mu setelah itu bersiap lah keruangan ku," ucap Dighan dan Aybar pun mengangguk.


...****************...


"Masuk!" Ucap Alena dari dalam kamar setelah mendengar suara ketukkan.


Azura berjalan kea rah Alena dan Saviona, ia membawa satu nampan dan nampan yang lain nya dibawakan oleh pelayan yang lain yang berada dibelakang Azura.


"Yang mulia menyuruh saya membawakan makanan untuk Ratu Alena dan putri Saviona," ujar Azura setelah itu ia menaruh dan menyusun makanan di atas meja.


"Dimana Laquel?" Tanya Alena.


"Dia sedang sakit, Ratu," jawab Azura.


"Hm baiklah, kamu dan yang lainnya juga harus makan ya, nanti aku akan menghampiri Laquel," ujar Alena tersenyum kepada Azura. Azura pun meninggalkan kamar Alena diikuti dengan dua pelayan dibelakangnya.


"Bagaimana rasa nya menjadi seorang Ratu?" Tanya Saviona tiba-tiba.


Alena hanya mengangkat bahunya dan tidak lama menjawab pertanyaan Saviona.


"Aku hanya menjalaninya saja." Alena menjeda ucapannya.


"Semua wanita pasti sangat mengharapkan jabatan itu tapi aku..aku tidak cukup berpengalaman untuk menjadi seorang Ratu dan aku tidak menyukainya tapi aku hanya menjalani takdir ku saja sebagai seorang mate dari Raja iblis," ucap Alena.


"Kau beruntung!" Gumam Saviona dan Alena pun masih mendengarnya.


"Tentu saja aku beruntung, aku telah menemukan kebahagiaan ku yaitu Dighan," ucap Alena tersenyum hangat kepada Saviona.


"Eh?"


"Ayo dimakan tidak enak loh ini sudah keburu dingin," ujar Alena.


...----------------...


Bersambung....