
Sebelum membaca aku ingetin dulu ya,buat vote terlebih dahulu.
Typo bertebaran.
Salam hangat!
Happy Reading!!!
17++
_________________________________
Arsha, Asdirst**. Kingdom's Demon.
Alena tertidur pulas dengan berbantalkan lengan Dighan. Melihat istri nya itu Dighan pun merasa bersalah, ia tahu wanitanya ini masih tidak terima dengan apa yang sudah menjadi takdir nya walau pun seperti itu ia pun sangat mencintai Alena.
Dighan memang egois, Raja yang paling egois tetapi semua itu ia sadari karena apa pun yang terjadi Alena hanya lah miliknya.
Dimata musuh, rakyat dan Alena nya ia adalah sosok Raja yang kejam juga bengis tidak berperikemanusiaan tetapi seorang Dighan berbeda dimata orang terdekat nya. Dighan sebenarnya adalah Raja yang penuh kasih sayang, Raja yang lembut.
"Dighan!" Alena membuka mata nya dan mendapati suami nya itu yang sedang menatap nya lekat.
"Ya?" Balasnya.
Cup
Dighan mengerjapkan mata nya berkali-kali, apakah ini mimpi? Sepertinya tidak, masa seorang Raja bermimpi apa lagi berhalusinasi.
Ini nyata, sangat nyata dan benar-benar nyata. Dighan menatap lekat kearah Alena, gadis itu mencium bibirnya? Itu mustahil, Dighan masih berdebat dengan pemikirannya mungkin saja istri nya sedang mengigau tetapi salah. Alena sedang tersenyum menatap kearah nya.
"Kenapa?" Tanya Alena heran.
"Kamu Alena?" Konyol, Alena pun langsung tertawa mendengar pertanyaan dari suaminya itu. Ada-ada saja.
"Bukan, aku seorang fairy juga vampire," jawab Alena sembari tersenyum.
"Kenapa? Kamu terkejut aku mencium mu?" Tanya Alena. Tentu Dighan yang mendengar itu pun seketika sadar, kenapa ia sangat bodoh jika dihadapkan dengan gadis ini.
"Tidak, kenapa kamu mencium ku?" Tanya Dighan polos.
"Aku kan istri mu," jawab Alena santai.
"Oh, jadi artinya kamu harus lakukan kewajiban kamu," ujar Dighan santai, Alena yang mendengar itu pun hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?" Tanya Alena heran.
Dighan mendekatkan wajah nya dengan wajah Alena, Alena hanya diam membeku tanpa perlawan pun Dighan berhasil mencium bibir mungil milik gadis itu. Alena masih tidak bergeming, mungkin gadis itu syok dengan perlakuan suaminya itu.
Dighan merasa kecanduan dengan bibir milik Alena, ia tidak akan melepasnya biarkan gadis itu menjadi miliknya seutuhnya.
Alena yang terbuai dengan permainan Dighan pun perlahan membuka mulut nya dan mengizinkan suami nya untuk lebih dalam lagi.
Ciuman lembut penuh kasih sayang pun kini berubah menjadi ******* demi ******* penuh nafsu.
Dan malam ini pun menjadi malam panjang yang akan menjadi saksi atas rasa cinta mereka berdua, sesuatu yang indah bagi Alena juga Dighan.
...****************...
"Ada yang ingin menemui anda, yang mulia," ujar Samier membungkuk kepada Dighan.
"Siapa?" Tanya Dighan.
Samier saling melempar pandangan kepada Orion, Samier tidak bisa memberitahukan Raja nya siapa yang akan menemuinya karena permintaan dari sang tamu.
Seolah mengerti, Dighan pun tersenyum miring kearah kedua pengawal nya itu.
"Kalian bisa pergi dan bawa tamu tak diundang ku itu kemari." Perintahnya.
Orion dan Samier pun menuruti perintah sang Raja, mereka pun kembali ke pintu utama istana dan membawa tamu Dighan ke hadapan sang Raja.
Setelah membawa tamu nya ke sang Raja Orion dan Samier pun pamit pergi tidak lupa untuk memberikan hormat kepada Rajanya.
"Ada apa tamu tidak di undang ku? Kurasa urusan kita sudah selesai," ujar Dighan dingin.
"Apakah tidak ada kesempatan lagi untuk ku."
"Tidak," singkat Dighan.
"Kau tahu? Kamu itu sudah tidak lagi ku butuhkan, Qelsa." Rahang Dighan mengeras, apa tidak cukup penghinaan yang sudah ia berikan kepada ****** ini.
"Aku sudah memberikan semua nya kepada mu bahkan aku bisa melayani mu dari pada istri sialan mu itu." Qelsa tidak henti-hentinya membujuk Dighan agar pria itu kembali lagi kepadanya.
"Haha memang nya apa yang kamu berikan kepada ku ******? Tubuh mu itu? Cih dasar ******," ujar Dighan penuh emosi diikuti dengan tawa meremehkan.
"Dan jangan bawa-bawa istri ku, dia lebih terhormat dari pada kamu, dia bahkan melayani ku dengan baik," lanjutnya.
"Sebelum wanita itu ada aku yang kamu puja, betapa tergila-gilanya kamu, yang mulia Dighan Louis Mallexander," ucap Qelsa berapi-api.
"Pengawal!!!" Hanya satu panggilan saja, tiga orang pengawal pun datang dan langsung membungkuk kepada Dighan.
"Bawa wanita ini keluar dari istana ku dan jangan biarkan wanita ini kembali lagi, kalau sampai wanita ini kembali lagi kemari akan ku bunuh kalian karena lengah." Perintah Dighan tak terbantahkan. Ketiga pengawal itu pun langsung menyeret Qelsa keluar dari kediaman sang Raja.
...****************...
"Aku ingin melihat-lihat Arsha apa boleh?" Tanya Alena
"Tidak, kamu hanya bisa melihat Asdirst saja," jawab Dighan datar.
"Kenapa?" Tanya Alena heran.
"Banyak musuh juga penghianat. Berbahaya!" Tegas Dighan dan seperti biasa Alena pun tidak bisa membantahnya.
"Ajak aku keluar istana, aku kan seorang Ratu jadi aku juga harus tahu kan apa yang terjadi dengan rakyat ku," pinta Alena. Dighan setuju, lagian istrinya itu keluar juga bersama nya jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan menurutnya.
"Baiklah, tapi kamu harus nurut dengan apa yang aku perintahkan, jangan membantah." Final nya dan diiringi dengan anggukkan antusias Alena.
...****************...
Semua nya tampak senang dan ikut merasa bahagia setelah pemimpin mereka sedang menikmati jajaran pasar di Asdirst bersama Ratu mereka.
Hanya sedikit yang tidak suka dengan kehadiran sang Ratu, mereka terus-terusan mengumpat dan membicarakan hal buruk tentang Ratu.
Dighan yang mengetahui itu pun hanya mengabaikan nya saja jika mereka sudah mulai kurang ajar dengan istri nya Dighan tidak segan-segan untuk menghabisi mereka.
Alena menunjuk salah satu penjual gelang perak, wanita itu terlihat sangat menginginkan benda itu terlihat dari wajah nya yang sangat sumringah.
Dighan pun mengajak Alena untuk menghampiri penjual itu dan Alena dengan senang hati memilih gelang perak yang sederhana namun ada ukiran bunga lily yang bertaut dengan diamond. Sangat sederhana namun elegan. Pikir Dighan.
"Aku ingin membeli nya lebih, untuk Laquel dan Azura," ucap Alena girang.
"Hm," gumam Dighan tanda ia menyetujuinya.
"Mereka pasti akan senang! Ini adalah hadiah sederhana untuk mereka," ucap Alena lagi.
Setelah mengajak Alena keluar, Dighan pun merebahkan tubuhnya. Ia disuguhkan pemandang indah kali ini. Alena duduk di kursi meja rias dengan gerakan lambat wanita itu memasang gelang yang ia beli bersama Dighan siang tadi. Alena bangun dari duduk nya dan menghampiri Dighan yang sedang rebahan. Pria itu merubah posisi menjadi duduk bersila diatas ranjang berukuran kingsize.
Sebuah seringai terbit di wajah tampan Dighan. Pria itu menarik Alena kedalam dekapan nya. Sangat erat, Alena pun merasa hangat, wanita itu mengadahkan wajah nya mata mereka bertemu dengan jarak dekat seperti ini Dighan langsung mengecup lembut bibir istrinya itu.
"Menggoda!" Dighan mengulas senyum itu bukan senyum tetapi smirk yang menggoda bagi Alena.
"Lepas, aku ingin tidur," ucap Alena sangat lembut.
"Tidak akan ku biarkan kau tidur nyenyak malam ini, Sayang," balas Dighan lalu membaringkan tubuh Alena ketempat tidur.
...****************...
"Yang mulia," ujar Orion membungkuk.
Dighan mendengarkan nya ia menunggu Orion untuk melanjutkan ucapannya.
"Tuan Aybar menunggu anda di aula gazebo," ucap nya.
"Baiklah, kamu boleh pergi." Orion pun menurut dan ia pergi dari sana.
Pria tampan itu tersenyum setelah menyadari kedatangan sang kakak. Pria beriris mata zamrud itu pun menyambut kakak nya dengan sangat hormat.
"Aku merindukan mu." Dighan tersenyum ia merentangkan tangan nya, Aybar yang paham itu pun langsung memeluknya.
"Maaf!" Cicit Aybar pelan sembari melepaskan pelukkannya.
"Bukan salah mu," ucap Dighan.
"Kau hanya terpengaruh dengan rubah liar itu," lanjut nya.
"Aku salah, dia orang yang kau cintai tapi ak-" Dighan langsung memotong perkataan adiknya itu.
"Jangan omong kosong sudah ku bilang, dia wanita licik," ucap Dighan.
"Aku dengar kau sudah menikah?" Tanya Aybar. Entah kapan kini berdua nya sudah duduk disebuah potongan kayu ditepi danau dekat dengan gazebo.
Dighan melirik sekilas Aybar.
"Jangan salah paham, aku tidak akan merebut istri mu dia kakak ipar ku sudah seperti Ibu bagi ku," lanjut nya sambil tersenyum.
"Dia mate ku benar saja kata tertua, seorang mate memang sangat dekat dengan diri kita sebelum kita mengenal nya lebih dalam. Rasa seperti ini tidak pernah ku rasa kan kepada Qelsa. Hm wanita itu," ujar Dighan. Pandangannya terkunci hanya menatap danau berwarna biru seperti laut itu.
"Aku turut bahagia dengan pernikahan mu, Kakak," ujar Aybar tulus sembari tersenyum.
"Aku mengundang Asloth malam ini," ucap Dighan memberitahu.
"Untuk apa? Tidak biasa nya," balas Aybar heran.
"Untuk menjamu nya juga akan meminang putri nya," ujar Dighan tenang.
"Bagaimana dengan kakak ipar? Kalian baru saja menikah, kau ini Kak tidak pernah berubah kau-" ucapan Aybar terpotong. Melihat tingkah adiknya laki-laki itu tersenyum dan memotong perkataannya.
"Meminang putri nya untuk ku nikahkan dengan adik ku." Aybar terbelalak mendengar itu, ah kakak nya ini sangat baik kepada nya.
...****************...
"Kau tampan!" Aybar menoleh, ia menemukan Dighan yang sedang berdiri diambang pintu kamarnya.
"Kau ini," ujar Aybar malu-malu.
"Jangan bertingkah seperti anak perempuan, Aybar. Mari kita sambut calon mertua juga calon istri mu," ucap Dighan terkekeh dan diangguki oleh Aybar.
Dighan berjalan mendahului Aybar, semua pengawal dan pelayan pun menunduk dan memberikan hormat kepada sang pemimpin mereka.
Di Aula tempat perjamuan di sana Alena sudah terlebih dahulu menyambut tamu mereka. Seperti nya Alena mulai terbiasa dengan status dirinya sekarang.
"Alena, ini Aybar," ucap Dighan memperkenal kan.
Alena tersenyum kepada Aybar. Aybar yang diperlakukan seperti itu pun tergelak. Ia salah tingkah, memang pesona Kakak ipar nya sangat kuat bagi kaum pria yang melihat nya.
Dua kata yang Aybar lukisan untuk Kakak ipar nya itu 'Sangat cantik'.
Mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing dan mulai menikmati jamuan yang dihidangkan.
"Ini putri kami, Saviona," ujar Asloth mengelus pucuk kepala gadis itu.
Istri Asloth pun—Selina menyenggol lengan putrinya.
"Eh? Salam yang mulia, saya Saviona," ucap gadis itu lembut dan sedikit malu karena tingkah nya yang asik dengan buku nya.
"Saya menerima undangan penjamuan ini dan saya juga telah menerima lamaran anda," ujar Asloth.
Alena terkejut mendengarnya, hati nya sesak mendengar itu. Apa semua pemimpin harus mempunyai istri lebih satu dan mengapa tiba-tiba.
Saviona tersenyum kearah Dighan dan menatap Dighan lembut.
Dighan tahu situasi ini, ia tersenyum dan meluruskan kesalahpahaman yang ada dipikiran Asloth juga putrinya ini.
"Saya melamar putri anda untuk adik saya, Aybar!" Dighan menjeda ucapannya.
"Saya mempunyai komitmen untuk menikah hanya sekali dan mencintai nya dengan sepenuh hati," lanjutnya.
Alena bernafas lega, dugaan nya salah. Jika benar Dighan akan menikah lagi sudah dipastikan ia sekarang juga akan kabur dari penjamuan ini dan menangis tersedu-sedu didalam kamar.
Ada raut kecewa di wajah Asloth, istri juga putrinya. Tetapi Asloth tetap tenang dan tidak tersulut emosi.
Lain hal nya dengan Selina dan Saviona. Ibu dan anak itu menampilkan wajah sedih juga kecewa dengan pernyataan Dighan.
"Saya tidak akan menikahi mate adik saya. Kalian salah paham dengan lamarannya. Saya minta maaf, kalau anda akan menerima atau tidak itu keputusan anda," ucap Dighan memecah kecanggungan.
"Baiklah, saya menerima lamaran anda untuk Aybar. Saya akan memberitahu bangsa saya. My lord," ucap nya tenang.
Acara pun berjalan dengan sedikit kesalahpahaman. Dighan lega bisa menikahkan adik nya itu dan dia akan membagi dua wilayah kekuasaan nya nanti dengan adiknya itu.
"Sepertinya putri Viona menyukaimu dari pada aku calon suami nya," ujar Aybar sedikit sedih.
"Aku tahu itu, tapi aku masih setia dengan istri ku," balas Dighan.
...****************...
"Haruskah aku menikah dengan Aybar, Ibu?" Tanya Saviona.
"Ya harus," balas Selina.
"Kau mate nya," lanjutnya.
"Aku menyukai Dighan," ujar Saviona cemberut.
"Terima suami mu, kau mau kerajaan kita kena masalah?" Tanya Selina dan Saviona pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Pernikahan mu tinggal tiga hari lagi, besok aku akan mengirim mu ke Asdirst dan juga satu pelayan," sambung Asloth.
_______________________
Bersambung....