
Happy Reading!!!
___________________
Senyum Alena mengambang setelah ia mendapatkan informasi dari William jika Qelsa sedang berada di wilayah para klan penyihir. Itu semua akan mempermudah dirinya untuk menghancurkan Qelsa setelah wanita itu kembali ke Asdirst.
Dalam urusan seperti ini, ia tidak sendiri. William dan Saviona membantu nya tetapi dirinya lah yang akan menghancurkan Qelsa.
"Putri Saviona memberikan benda ini untuk anda," ucap William seraya menyerahkan sebuah kotak yang terbuat dari kayu berukuran sedang.
"Baiklah, sekarang kau pergi dari sini nanti aku akan memanggil mu jika perlu." Titah Alena dan William pun menurutinya.
Setelah kepergian William, Alena perlahan membuka kotak tersebut. Ia mengambil sebuah belati juga sebotol ramuan yang terdapat didalam kotak tersebut.
Alena bertanya-tanya dengan pikirannya untuk apa semua ini. Ia akan menanyakan nya secara langsung saja dengan Saviona nantinya.
"Yang mulia!" Seru William. Alena menatap bingung ke arah William, mengapa laki-laki ini datang tanpa ia perintahkan.
"Ada apa?" Tanya Alena datar.
"Putri Qelsa sudah kembali!" Balas William.
Alena mengepalkan kedua tangannya begitu erat. Ia tidak menyangka jika wanita ular itu kembali dengan sangat cepat.
Rencana ku akan berantakan. Pikir Alena.
"Baiklah, kau tetap awasi wanita itu. Jika gerak geriknya mencurigakan beritahu aku." Titah Alena dan setelah nya William pun pergi meninggalkan Ratu nya sendiri.
Saviona mendengar percakapan Alena dan William, wanita itu meremas ujung baju nya dengan sangat erat.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Saviona tiba-tiba dan menghampiri Alena setelah William benar-benar pergi.
"Apa yang aku lakukan?" Tanya Alena balik.
"Kenapa kau menyuruh William untuk memata-matai wanita itu? Kenapa kau tidak langsung bergerak saja. Aku sudah memberikan belati juga racun untuk mu," ujar Saviona dengan sedikit emosi.
"Aku akan melakukannya tetapi dengan cara ku sendiri, aku akan bermain-main terlebih dahulu. Jika kau ingin wanita itu langsung mati, kenapa tidak kau saja yang membunuhnya?" Alena menatap sinis ke arah Saviona yang sedang menahan emosinya.
"Karena kau seorang Ratu dan kau juga istri Dighan, Dighan tidak akan menghukum mu jika kau yang menghabisinya," ucap Saviona.
"Kalau begitu aku ingin bermain-main dulu," ujar Alena dengan senyum sinis nya ke arah Saviona.
Alena meninggalkan Saviona sendirian, ia tidak ingin rencana nya diatur-atur oleh siapa pun termasuk Saviona.
Lihat saja! Aku akan menghabisi mu setelah wanita ular itu. Batin Saviona setelah melihat punggung Alena yang sudah menghilang.
...****************...
"Para bangsa Serigala sudah mulai terpengaruh dengan para guardian, yang mulia," ucap Samier.
Dighan mengepalkan tangannya, ia tidak akan membiarkan kaum guardian terus-terusan menghasut makhluk immortal. Ia akan menangani nya sendiri sekarang dan menyeret para penghianat itu biar dia sendiri yang akan menghukum mereka.
"Beritahu Aybar, aku akan menunda penobatannya menjadi Raja dibagian utara dan untuk sekarang aku akan menyerahkan Asdirst kepada adik ku selama aku tidak ada disini." Perintah Dighan. Samier menatap Dighan dengan penuh tanda tanya, apa yang akan dilakukan Raja nya itu.
"Maaf Tuan, memang nya apa yang akan anda lakukan?" Tanya Samier hati-hati.
"Aku akan pergi ke bumi dan aku akan menutup semua dimensi waktu yang menghubungkan bumi dan Arsha," balas Dighan.
"Ratu Alena?" Tanya Samier. Dighan paham apa yang dimaksud Samier. Ia tidak mungkin mengajak istrinya itu untuk mengurus ini semua.
"Aku pergi sendiri! Aku menitipkan istriku kepada mu dan juga Orion. Jaga istri ku selama aku tidak ada." Samier pun mengangguk patuh kepada perintah Tuan nya.
...****************...
"Dimana suami ku?" Tanya Alena kepada Samier setelah melihat laki-laki itu sedang berjaga-jaga.
"Yang mulia Raja sedang ada urusan dan akan kembali lebih lama, Ratu," beritahu Samier seraya menunduk. Tentunya, sesuai perintah sang Raja, Samier tidak akan memberitahu kemana Rajanya pergi juga dengan urusan apa kepada sang Ratu.
"Urusan apa? Kenapa dia tidak bilang kepada ku?" Tanya Alena.
"Urusan kerajaan, saya tidak tahu banyak tentang urusan Raja, yang mulia," balas Samier seraya menunduk.
"Yasudah, kalau aku ingin minta bantuan mu maka aku akan memanggil mu nanti," ujar Alena dan diangguki oleh Samier.
Alena merasa malam ini sangat aneh bagi nya, apa kah ia akan berubah wujud. Tetapi kenapa rasa panas pada diri nya sangat berbeda pada malam-malam biasanya. Bahkan ia merasa aneh didalam tubuhnya yang begitu memberontak, biasanya ia berubah tidak secepat ini bahkan disaat semua orang sedang tidur kecuali Dighan.
"Arghh!" Erang Alena saat ia merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Apa ini? Tidak seperti biasa. Pikir Alena.
"Rasakan itu, itu akibat karena sudah berani dengan ku," gumam seorang wanita yang tak jauh dari Alena. Wanita itu tersenyum penuh menang karena melihat racun yang sudah bereaksi didalam tubuh Alena.
"A..aku tidak t..tahan lagi!" Ucap Alena tersendat. Lehernya seperti tercekik bahkan bernafas pun ia sangat kesusahan.
Dasar Ratu bodoh. Pikir wanita itu yang masih bersembunyi memperhatikan betapa menderitanya Alena.
...****************...
"Bagaimana ini? Raja sedang pergi dan Ratu sangat kesakitan seperti ini," ucap Laquel begitu sedih melihat Ratunya yang kesakitan.
"Obat yang ku buat juga tidak ada reaksinya untuk Ratu," ucap Azura sama seperti saudari nya ia begitu sedih melihat kondisi Ratunya seperti itu.
"Tenang lah Nona Nona!" Timpal Orion yang sedang sibuk dengan buku tebal ditangannya.
Malam itu tidak sengaja Azura menemukan Ratunya yang sudah terbaring dilantai dengan kedua tangan yang memegang lehernya sendiri. Azura sangat ketakutan, panik juga khawatir ia pun langsung memanggil Orion juga Samier untuk membantunya membawa Alena ke kamar untuk diobati.
Dan sekarang mereka berempat telah berkumpul dikamar Ratu dengan berbagai cara obat, ramuan bahkan sihir untuk menyembuhkan Alena tetapi hasilnya nihil.
...****************...
"Apa itu? Raja akan memberikan apa yang kau pinta jika kau memberikan penawar itu untuk Ratu Alena." Samier membungkukkan tubuh nya, ia sudah berjanji kepada Raja nya untuk selalu menjaga sang Ratu dan dari itu ia akan menyembuhkan Ratu nya walau pun itu nyawanya sendiri.
"Benar kah? Apa Raja bodoh mu itu akan memberikan yang ku mau?"
"Apa pun demi mate-nya," ucap Samier.
"Baiklah, aku aku memberi tahu keinginan ku ketika Raja Dighan sudah berada di Asdirst."
Samier menganggukkan kepalanya dan ia meninggalkan kamar Qelsa.
Qelsa tertawa puas, ia menang. Ia akan meminta Asdirst untuk tukaran penawar itu. Tidak sia-sia dirinya dilahirkan dari klan penyihir ia akan membuat ramuan apa pun bahkan ramuan kematian sekali pun.
"Kau akan hancur, Dighan. Aku akan merebut semua nya," ucap nya. Tanpa Qelsa sadari ada sepasang telinga yang mendengarkan perkataan nya.
Kau kira kau akan menang? Hah tidak semudah itu, putri Qelsa. Pikir orang itu.
...****************...
"Apa Raja sudah memberitahu mu kalau ia akan kembali?" Tanya Azura kepada Orion.
"Tidak ada, mungkin saja Raja Dighan sedang menghukum para penghianat itu," balas Orion.
"Apa kau tidak menyusul Raja ke bumi saja? Dan beritahu Raja kalau Ratu Alena sedang sakit."
"Tidak bisa, dimensi waktu menuju bumi bahkan sebaliknya sudah ditutup oleh Raja, aku tidak bisa kesana."
"Aku akan ke bumi dan menembus portal tanpa menggunakan dimensi." Orion dan Azura menoleh ke sumber suara. Ia menemukan Samier yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Aku menemukan penawar untuk Ratu dan sebelum nya aku akan membawa Raja Dighan kembali," lanjut nya.
"Jangan, jangan sembarangan menggunakan portal itu, kau kan tau apa yang terjadi nanti nya," seru Orion.
"Ini satu-satunya agar Ratu Alena bisa sembuh."
"Kau tahu penawar itu dari mana?" Tanya Azura.
"Putri Qelsa, ia akan memberikan penawar untuk Ratu asalkan Raja Dighan bisa memberikan keinginan nya."
"Hmm, aku yakin sekali putri Qelsa yang telah membuat Ratu Alena seperti itu," ujar Azura.
"Aku memikirkan hal yang sama, tapi bukan waktunya kita menuduh putri Qelsa. Yang kita pikirkan sekarang kita harus mengambil penawar itu dari putri Qelsa." Samier menimpali.
"Untuk apa kalian berkumpul disini? Azura, aku ingin mandi cepat kau siap kan air hangat untuk ku berendam." Pinta Saviona.
"Bukan kah anda memiliki pelayan sendiri, yang mulia?" Tanya Azura.
"Sejak kapan kau berani membalas perkataan ku? Sekarang aku Ratu mu karena Ratu Alena sedang sakit aku yang akan berkuasa."
"Baiklah, putri," ujar Azura dengan malas.
"Ratu, panggil aku Ratu Saviona".
Azura, Orion, dan Samier hanya memasang wajah jengah. Tetapi tetap saja mereka hanya babu di sini dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Senang sekali bisa menjadi Ratu pengganti, sebentar lagi Ratu bodoh itu akan mati dan aku yang akan menjadi Ratu sesungguhnya. Pikir Saviona.
"Bagus ya, kau berlagak seperti Ratu padahal kau hanya seorang istri dari adik nya Raja." Saviona menolehkan pandangannya, ia berdecih ketika melihat siapa yang telah berani mengganggu acara berendam nya.
"Kau bahkan terlihat sangat buruk, hanya seorang selir dari adik seorang Raja," balas Saviona seraya tersenyum meremehkan.
"Jaga cara bicara mu, putri Saviona. Aku yang akan menjadi Ratu setelah Alena mati."
"Jangan bermimpi, cih!"
"Kau lupa? Raja Dighan mencintai ku ia akan menjadi milik ku nantinya."
"Aku tidak lupa, dan aku tahu kalau kau hanya seorang ****** dimata nya, mana pantas seorang ****** bersanding dengan seorang Raja seperti Dighan."
Setelah Alena mati kau yang aku ku hancurkan putri sombong.
Mereka berdua sama-sama melemparkan senyuman meremehkan.
Qelsa meninggalkan Saviona yang sedang berendam, ia akan memikirkan rencana supaya Dighan kembali lagi kepelukannya atau menyingkirkan Dighan supaya kekuasaan Dighan beralih ke tangan Aybar.
Qelsa harus menyingkirkan Saviona terlebih dahulu baru rencana nya akan berjalan lancar, karena sekarang hanya Saviona lah yang saingannya mengingat Alena sedang sekarat sekarang.
Rencana Qelsa tinggal selangkah lagi, setelah Dighan kembali dan melihat istri tercinta nya menderita, Qelsa akan memberi tawaran kepada Dighan. Sangat mudah bagi Qelsa ia akan bersabar menunggu waktu dimana ia akan menjadi Ratu.
"Bagus lah kau benar-benar menemui ku," ucap Qelsa.
"Saya baru saja dari kamar Ratu Alena, anda akan mendapatkan kabar duka nanti malam, yang mulia putri Qelsa".
"Bagus, kau pastikan tidak ada yang curiga dengan penyamaran mu," ujar Qelsa seraya tersenyum miring.
"Sekarang kau boleh pergi." Usir wanita itu.
Alena, Dighan, Saviona dan Aybar. Kalian memang bodoh, aku akan menyingkirkan kalian berempat. Batin Qelsa.
...----------------...
Tbc.