The King Demon Mate

The King Demon Mate
Chapter 03. Hilangnya Ratu Alena



Qelsa kecewa dengan perlakuan Dighan terhadap nya, dia ingin menjadi Ratu Ardirst di Arsha walau apapun yang harus ia lakukan asal kan semua itu terpenuhi.


Dia memasuki hutan, hutan yang dihuni oleh para penyihir jahat. Qelsa Pathulla, dia adalah putri dari pemimpin klan penyihir, Nattha Pathulla dan Jack Pathulla.


Semua klan penyihir menunduk ketika Qelsa melewati mereka dengan gaya angkuh nya.


"Putri ku, apa kau sedang ada masalah?" Tanya Nattha sembari mengelus rambut Qelsa.


"Aku menginginkan Raja iblis, Ibu," ucap Qelsa.


"Kau sendiri yang sudah menghianati nya, Qelsa." Jack ikut menyela pembicaraan istri dan anak nya itu.


"Dia juga sudah memiliki mate dan dia juga telah menikah dengan mate nya itu," lanjut Jack.


"Dighan menghina ku Ayah, dia menghina ku didepan semua para maid nya, dia telah mematahkan hati ku. Apa Ayah tidak mau kalau aku memiliki Dighan dan menguasai **Asdirst**? Ayah dan Ibu tahu kalau apa yang aku inginkan pasti akan ku dapatkan." Qelsa melotot kepada Ayah nya karena memang apa yang selalu ia inginkan pasti selalu ia dapatkan.


"Ya, aku tahu itu." Nattha memutar mata nya malas karena tingkah putri bungsu nya itu.


"Sudahlah, kau lihat kakak mu dia tidak pernah mengeluh seperti mu ini, dia selalu mendapatkan apa yang dia mau dengan cara nya sendiri," ucap Jack.


"Ya, putra ku itu adalah penerus ayah mu," timpal Nattha yang membuat Qelsa semakin kesal.


Alexander Pathulla, adalah putra sulung dari Nattha dan Jack, kakak kandung Qelsa. Alex sangat lah jauh berbeda dari Qelsa, Alex seorang laki-laki tampan yang pandai menahan amarah nya dan ia juga adalah penerus klan penyihir.


"Bukan nya kamu akan menikah dengan Aybar?" Tanya Jack yang mengangkat satu alis nya.


"Tidak, aku tidak akan menikah dengan pria bodoh itu," ucap Qelsa.


"Kau yang bodoh! Kau harus memanfaatkan Aybar untuk menaklukan Raja seperti Dighan." Jack melempar seringaian kepada Qelsa tetapi Qelsa tidak mengerti dengan maksud Ayahnya itu.


"Maksud ayah?" Tanya Qelsa.


"Kamu harus menikah dengan Aybar, sebagai istri dari adik nya sang Raja, Raja harus menempatkan kalian di kerajaan. Dan setelah itu jatuhkan lah Dighan sebagai penguasa Asdirst dan seluruh Arsha, suami mu lah yang akan menjadi penguasa setelah Dighan mengemis kepada mu dan dititik itulah kamu bisa menaklukan Raja." Jack menepuk pelan kepala Qelsa dan sepertinya Qelsa pun mengerti dengan apa yang dipikirkan Jack, Qelsa pun ikut tersenyum licik di wajah cantik nya itu.


"Itu terserah kalian berdua saja, aku tidak mau ikut campur, tetapi kalau putri kita dalam masalah aku pun tak perduli karena ini semua adalah rencana mu dan aku hanya ingin putra ku akan menjadi penerus klan penyihir," ucap Nattha.


Nattha adalah seorang ibu yang menginginkan kebaikan pada anak nya tetapi Nattha lebih menyayangi Alex ketimbang Qelsa. Dia tak menginginkan setiap keputusan suami dan putri nya itu karena suami nya sangat tergila-gila dengan kekuasaan tetapi dia selalu menyetujui keinginan putra nya walau pun keinginan putra nya itu salah baginya.


...****************...


"Bisakah kita tinggal di bumi untuk sementara waktu? Aku merindukan orang tua angkat ku dan aku juga merindukan sahabat ku, Aresa." Alena memeluk kaki Dighan saat itu Dighan sedang duduk ditepi ranjang.


"Boleh." Singkat Dighan.


"Benarkah?" Tanya Alena tak menyangka.


"Ya, dengan satu syarat," ucap Dighan.


"Apa?" Alena penasaran.


"Kamu harus melayani ku malam ini." Dighan tersenyum simpul, Alena yang mendengar itu pun refleks memeluk dirinya sendiri.


"Tidak akan pernah." Alena pun berlari keluar kamar menghindari Dighan.


"Arghh." Erangan dighan saat Alena keluar dari kamar nya.


...****************...


Arabella berada di ruangan privasi nya, saat itu dia meminta Laquel untuk memanggil Alena ke ruangannya tersebut dan tak lama Alena pun datang dan memasuki ruangan Ibu nya itu.


"Ada apa ibu?" Tanya Alena, mata nya tak henti memandangi ruangan tersebut.


"Mallery masih hidup," ucap Arabella.


"Mallery? Siapa dia, Ibu?" Tanya Alena.


"Ibu dari suami mu." Mata Arabella berkaca-kaca ia tidak menyangka kalau Ibu sahabat nya itu masih hidup tetapi dia tidak tahu dimana sekarang Mallery berada.


"Dighan tidak pernah menceritakan tentang keluarga nya kepada ku, kata Orion kedua orang tuanya sudah meninggal saat Dighan masih remaja dan dia hanya memiliki satu adik yang masih berada di Arsha tetapi tidak berada di Atas," ucap Alena sembari menggaruk tengkuk nya yang gatal.


"Mallery diculik, dia masih hidup. Kamu harus mencarinya aku tidak tahu dimana ia berada sekarang." Arabella memegang kedua pundak Alena.


"Aku akan membuat Dighan bahagia seperti dulu lagi, Ibu, aku akan mengembalikan senyum nya itu, aku janji." Alena tersenyum, ia pun pergi dari ruangan Arabella dan juga meninggalkan Asdirst.


...****************...


Sudah cukup jauh Alena meninggalkan Asdirst, ia tidak tahu harus kemana dan apa yang akan ia lakukan.


"Alena." Panggil Arabella.


"Ibu?" Bingung Alena, bukankah Ibunya masih berada di Asdirst, kenapa Ibu nya langsung berada di hadapannya, ah mungkin Ibu menggunakan telepati. Batin nya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Arabella.


"Kenapa ibu bertanya? Bukan kah Ibu yang menyuruh ku untuk mencari dimana Ibu nya Dighan berada." Heran Alena.


'Ini kesempatan ku.' Batin Arabella.


"Ibu?" Panggil Alena melambaikan tangannya didepan wajah Arabella.


"Ah tidak apa, maksud ku kamu mau mencari nya kemana? Aku kan tidak tahu keberadaan Mallery aku hanya tahu kalau dia masih hidup," ucap Arabella.


"Kamu masih baru di dunia Arsha, Ibu akan menemani mu," lanjutnya.


"Tidak, Bu," tolak Alena tetapi Arabella masih bersikeras.


"Aku ibu mu, jangan bantah aku," ucap Arabella dan Alena pun hanya diam mengangguk karena sedikit takut dengan nada bicara Ibu nya itu sedikit meninggi.


...****************...


"Iya." Singkat Arabella.


"Dimana istri ku?" Tanya Dighan.


"Yang mulia, seperti nya saya sudah meninggalkan suami saya terlalu lama jadi saya harus pergi dari sini," ucap Arabella sembari membungkuk tetapi sebelum Arabella melangkah Dighan langsung menghentikan Arabella.


"Tunggu!" Ucap dighan terkesan dingin, Arabella pun seketika berhenti.


"Seperti ada yang kamu sembunyi kan dari ku, Arabella," lanjutnya.


"Tidak ada, yang mulia. Saya kesini ingin bertemu dengan putri ku tetapi sedari tadi aku tidak melihat nya." Bohong Arabella, entah Dighan percaya atau tidak kepada nya tapi dia tahu benar kalau sahabat kecil nya ini selalu percaya dengan apa yang ia katakan dan ia pun tak perduli hukuman apa yang dia dapatkan setelah Raja tahu kalau ia sedang berbohong.


"Tidak melihat Alena? Kemana dia?" Panik Dighan.


"Pengawal!!!" Teriak Dighan dan para pengawal pun langsung datang dan membungkuk kepada Rajanya.


"Ada apa yang mulia?" Tanya salah satu pengawal.


"Ku perintahkan kalian semua untuk mencari Ratu kalian, di seluruh penjuru Arsha Sekarang juga!!!" Teriak Dighan diakhir kalimatnya, pengawal kerajaan pun langsung pergi dan begitu pula Dighan.


'Perasaan ku tidak enak' Batin Arabella.


...****************...


"Ibu," lirik Alena.


"Ya?" Arabella menoleh.


"Aku lelah, Ibu," ucap Alena dan Arabella pun mendengus kesal.


"Kamu belum terbiasa dengan Arsha, sudah diam saja jangan mengeluh," ucap Arabella ketus dan ia pun membalikkan tubuhnya ke depan.


"Aku belum memberitahukan suami ku kalau aku sedang berada diluar kerajaan, dia pasti mencari ku, Ibu." Alena mensejajarkan jalannya dengan Arabella.


"Tidak perlu, sebelum aku mendapati mu diluar istana aku sudah bilang kepada Raja kalau kau sedang menginap di rumah orang tua mu," ucap Arabella diselingi dengan seringaian.


Arabella pergi meninggalkan Alena sendirian didalam hutan jauh dari Asdirst. Ia pergi dengan menggunakan telepati nya.


Alena melihat sekeliling hutan yang lebat, dia sangat takut. Seketika dia melihat kearah Ibunya, Ibu nya pun juga tidak ada disekitarnya.


Takut.


Rasa itu lah yang saat ini dirasakan oleh Alena, dia hanya sendiri sekarang.


"Ibu..Ibu..Ibu dimana?" Teriak Alena.


Dia mencoba memberanikan diri nya untuk menyusuri hutan dengan sendiri tanpa senjata atau pun sihir karena Alena belum mengetahui kekuatannya.


...****************...


Sudah 3 hari sang Ratu menghilang dari istana, hal itu membuat para musuh sang Raja berbahagia dan dapat memanfaatkan kehilangan sang Ratu untuk kelemahan nya.


Qelsa berjalan dengan sangat anggun dan terlihat begitu cantik menghampiri Dighan yang sudah terpengaruh dengan alkohol.


"Sayang," panggil Qelsa manja kepada Dighan dan duduk dipangkuan sang Raja.


"Bagaimana nasib Ratu mu itu?" Tanya Qelsa dengan manja seraya memainkan dada bidang Dighan.


Dighan tidak bergeming ia hanya diam menatap lurus ke depan.


"Aku akan menggantikan posisi wanita itu untuk menjadi Ratu mu," ujar Qelsa beralih membelai rahang Dighan.


"Ah.." Desah Qelsa ketika Dighan mulai mengelus paha nya.


Qelsa tersenyum miring setelah melihat Dighan seperti itu pada nya, dasar Raja bodoh, frustasi karena wanita lemah itu dan mengabaikan segalanya. Pikir Qelsa dalam hati.


Dighan mendaratkan bibirnya kepada Qelsa dan Qelsa pun membalas ciuman Dighan sehingga menjadi *******.


Brukkhh


"Dasar Raja bodoh!" Max masuk dengan menghancurkan pintu ruang pribadi Dighan setelah ia mendengar suara *******. Qelsa dan Dighan pun sontak melepaskan pagutannya karena terkejut.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Dighan dingin.


"Aku ingin membunuh mu, putriku menghilang dan kau..sedang asik menikmati santapan mu," ujar Max sembari melirik tajam kearah Qelsa.


"Dasar vampire menjijikan". Gumam Qelsa yang masih terdengar oleh Dighan dan Max.


"Aku memang menjijikan menyantap darah manusia yang ada di bumi dan membunuh binatang yang tidak berdosa tetapi kau? Kau klan penyihir yang munafik, kau berlagak baik dikalangan kaum mu bahkan di semua bangsa immortal tetapi apa yang aku lihat? Kau menggoda seorang Raja yang sudah beristri bahkan sedang meminum alkohol," ujar Max melototkan matanya kearah Qelsa.


"Kau pergilah." Usir Dighan datar kepada Qelsa.


"Dig-".


"PERGILAH!!!" Teriak Dighan, tubuh Qelsa pun bergetar ia sangat ketakutan dengan Dighan saat ini dan ia pun langsung keluar dari ruangan Dighan.


"Aku ingin bicara berdua dengan mu," ujar Max tenang.


...----------------...


See you bye bye.