The King Demon Mate

The King Demon Mate
Chapter 12. Rencana Alena



Happy Reading!!!


_________________


Alena mengepalkan tangannya erat-erat, sedari tadi ia hanya berdiam diri didalam kamar. Hari ini adalah hari pernikahan Aybar dan Qelsa, selama tiga hari Alena sama sekali tidak menegur Dighan bahkan sampai sekarang. Dighan membujuk istrinya untuk menghadiri pernikahan Aybar sebagai restu dari Kakak perempuannya tetapi wanita itu menolak dan mengancam Dighan kalau laki-laki itu terus membujuk nya.


Andai saja Aybar menikah dengan wanita baik-baik pasti ia akan senang hati menyambut pernikahan adik iparnya itu, tetapi Aybar harus menikah dengan wanita yang berbahaya yang akan mempengaruhi kekuasaan Dighan.


Alena berpikir, antara Saviona dan Qelsa sudah terlihat jika Qelsa lah yang lebih berbahaya. Karena Saviona hanya menyukai suami nya saja dan tidak akan menghancurkan Dighan tetapi Qelsa, wanita itu adalah cinta pertama Dighan dan juga wanita itu sangat haus dengan kekuasaan.


"Ratu, Raja Dighan ingin Ratu segera ke aula, penyambutan kedua mempelai pengantin akan dilakukan," ujar Laquel dari balik pintu kamar Alena.


"Aku tidak mau!" Balas Alena dari dalam kamar.


"Tapi Ratu, penyambutan harus dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah! Siapa yang akan menggantikan Ratu?" Ucap Laquel.


"Biar Ibu ku saja dengan Ayah ku yang menyambut," balas Alena.


Laquel terdiam setelah mendengar perkataan Ratu nya, setelah nya Dighan pun datang dan menyuruh Laquel pergi dari sana dan ia pun mengangguk patuh.


"Laquel?" Panggil Alena dari dalam.


"Kau ini seperti anak kecil!" Balas Dighan dari luar.


Alena terdiam setelah mendengar suara itu, mengapa Dighan berada diluar kamar nya.


"Aku lelah mengalah! Aku akan menghancurkan pintu nya sekarang juga dan menyeret mu ke aula," ujar Dighan terdengar sangat dingin.


Alena tidak bergeming, wanita itu hanya mengabaikan perkataan suaminya.


Brakkhh


Alena terkejut, Dighan benar-benar menghancurkan pintu kamar nya dan sekarang laki-laki itu berdiri tegap menatap Alena.


Dighan meraih pergelangan tangan istrinya, setelah itu ia benar-benar menyeret Alena untuk keluar dari kamar nya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alena datar.


"Tidak usah bertingkah seperti anak kecil! Apa yang kau pikirkan tentang Qelsa itu memang benar dan apa yang kau lihat dari Saviona..itu salah!" Ucap Dighan kemudian setelah ia tidak menggubris pertanyaan Alena.


"Apa maksud mu?" Tanya Alena.


"Jangan bertanya dulu, kita harus menyambut Aybar dan istri nya setelah itu aku akan memberitahu mu, agar kau tidak bodoh," ucap Dighan.


...****************...


Setelah menyambut Aybar dan Qelsa, Alena langsung pergi ke kamar Dighan dan meninggalkan tempat itu. Itu pun selama penyambutan Alena tidak ingin menatap wajah Qelsa yang selalu menatapnya sinis.


Setelah lama nya ia menunggu Dighan, Dighan pun akhirnya datang dan langsung menghempas kan tubuh nya ditempat tidur yang berukuran king size.


"Ayo apa yang ingin kau beritahu kepada ku." Tagih Alena setelah ia duduk ditepi tempat tidur.


Dighan pun langsung mendekati Alena dan meraih tangan wanita itu lalu dicium nya dalam-dalam punggung tangan istrinya itu.


"Jangan seperti itu lagi ya." Pinta Dighan.


"Cepat beritahu aku!" Ujar Alena tidak sabar.


"Kamu jangan terlalu mempercayai wanita itu," ucap Dighan.


"Saviona?" Tebak Alena dan Dighan pun mengangguk.


"Wanita itu juga berbahaya, Alena," ucap Dighan.


"Kenapa aku harus tidak mempercayai nya? Apa aku juga tidak harus mempercayai perkataan nya tentang kau pernah mempunyai hubungan dengan Qelsa," ucap Alena dengan menekankan nama Qelsa diakhir kalimatnya.


"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Dighan bingung.


"Kau masih mencintai wanita itu?" Tanya Alena.


"Apa yang kau katakan, aku tidak mencintainya lagi aku sudah memiliki mu, jangan bahas itu," ujar Dighan.


"Jadi benar kan? Dulu kau pernah mencintai wanita itu dan berakhir karena penghianatan nya dengan Aybar itu pun ia lakukan untuk menjatuhkan mu?" Alena pun berdiri dan melipat kedua tangan nya didepan dada.


"Iya! Tapi aku tidak mempunyai perasaan lagi kepada nya! Berhenti membahas itu, Alena. Sekarang aku akan membahas perlakuan mu yang bodoh itu," ucap Dighan, Alena hanya bungkam.


"Qelsa memang berbahaya! Kau harus menjauhi nya dan wanita yang kau percayai itu sangat licik! Kau jangan tertipu dengan apa yang ia ucapkan," lanjut Dighan.


Dighan meraih tangan Alena laki-laki itu membelai lembut punggung istri nya dan tersenyum.


"Aku sudah memikirkan apa yang akan terjadi nanti nya, jika Qelsa berani menyentuh mu atau ia mulai bersikap seenak nya dengan kekuasaan ku, aku tidak akan segan untuk membunuhnya bahkan didepan mata mu sekali pun," ujar Dighan lalu mencium hangat punggung tangan istrinya. Alena pun langsung menarik tangan nya dari Dighan dan laki-laki itu pun menatap Alena bingung.


"Tidak perlu, biar aku saja yang akan membunuh nya dengan tangan ku sendiri!" Balas Alena sembari tersenyum miring.


"Baiklah! Aku juga ingin kau berhati-hati dengan Saviona." Pinta Dighan.


"Kenapa? Apa yang kau sembunyikan dari ku? Dan mengapa kau menyakiti Saviona waktu itu?" Tanya Alena penuh selidik.


"Wanita itu menggoda ku!" Balas Dighan.


"Aku tahu! Saviona tertarik dengan mu tetapi ia tidak mungkin menggoda mu dia sangat baik, dia tidak akan merebut mu dari ku," ucap Alena.


"Sudahlah Alena! Kau jangan terus-terusan membela wanita itu. Jauhi Qelsa dan Saviona, itu yang ku mau!" Ucap Dighan dengan meninggikan nada bicara nya di akhir kalimat, Alena menatap tajam kearah suami nya.


Aku tidak akan mendengarkan mu, suami ku. Aku akan bertindak dengan cara ku. Bantin Alena.


Dighan menatap Alena lekat, Alena tidak seperti Alena yang ia kenal. Istri nya yang tegas namun penurut.


Laki-laki itu mengepalkan tangan nya untuk menetralkan amarah dan ia pun beranjak dari tempat itu dan meninggalkan Alena sendiri dikamar.


...****************...


"Ada apa kau memanggil ku, Ratu?" Alena menoleh ke sumber suara dan ia pun tersenyum.


"Jangan formal kepada ku, panggil saja aku Alena," ucap wanita itu.


"Aku mempunyai tugas untuk mu," lanjut nya.


"Kau seorang Ratu, pantas dipanggil dengan sebutan itu."


"Tentu! Apa pun itu."


"Kamu awasi wanita yang bernama Qelsa itu, William," ujar Alena.


"Jadi kau meminta Ayah mu untuk mengirim ku kesini hanya untuk mengawasi istri kedua adik ipar mu?" Tanya laki-laki yang bernama William itu.


"Iya! Dan kau sekarang tinggal disini sebagai pengawal ku," ucap Alena datar.


"Tugas ku di kerajaan vampire bagaimana, Alena?" Tanya William.


"Aku sudah memberitahu Ayah ku kalau kau ingin menjaga ku disini dan ia menyetujui nya, sekarang kau tidak perlu memikirkan kerajaan Ayah ku sekarang aku adalah Ratu mu," ucap Alena sembari tersenyum miring.


William menatap Alena jengah, ia lebih baik menjadi penasehat Max dari pada menjadi mata-mata putri Raja nya ini.


"Sekarang pergi dari hadapan ku dan panggilkan Saviona kemari." Perintah Alena dan William pun mengangguk lalu pergi.


...****************...


"Masuk!" Teriak Saviona dari dalam kamar nya.


Saviona mengernyitkan dahi nya bingung, ia menatap laki-laki didepan nya dari atas sampai bawah ia tidak mengenali laki-laki itu tetapi untuk apa laki-laki itu kemari.


"Siapa kau?" Tanya Saviona datar.


"Aku William! Pengawal Ratu Alena, aku dikirim Raja Max kemari," balas William sembari memberi hormat kepada Saviona.


"Lalu?" Tanya Saviona lagi.


"Ratu memerintahkan saya untuk memanggil anda dan menemui nya," balas William.


Alena memintaku untuk menemui nya? Hm. Pikir Saviona.


"Baiklah dan silahkan kau pergi," usir Saviona.


Setelah William pergi, Saviona pun beranjak pergi dari kamar nya dan menemui Alena.


Setelah menanyakan keberadaan Alena kepada Azura dan Laquel, Saviona pun segera menemui Alena di perpustakaan kerajaan.


Senyum Saviona mengambang, ia menghampiri Ratu nya dengan langkah gontai nya.


"Ada apa?" Tanya Saviona to the point.


"Bisakah kau menemui istri kedua Aybar malam ini?" Tanya Alena dengan menekan kan kata istri kedua pada kalimatnya.


"Untuk apa?" Tanya Saviona.


"Ingin menjadikan mu umpan!" Seru Alena. Saviona terdiam mencerna perkataan Alena tetapi setelah nya wanita itu tertawa karena melihat wajah bingung Saviona.


"Tidak, aku hanya bercanda," ucap Alena kemudian.


"Aku ingin kau mencari tahu kelemahan wanita itu," lanjutnya.


"Maksud mu?" Bingung Saviona.


"Kenapa aku? Perintahkan saja pengawal baru mu itu, aku tidak ingin mencari masalah dengan wanita itu," balas Saviona dengan melipat kedua tangannya didepan dada.


"Terserah kau! Sia-sia aku memanggil mu," gerutu Alena.


"Untuk apa mencari kelemahan nya, lebih baik kau singkirkan saja wanita itu," balas Saviona.


"Aku tidak bisa ilmu sihir! Dan yang menjadi lawan ku adalah seorang putri dari klan penyihir, bagaimana bisa aku membunuhnya," ucap Alena.


"Racuni saja dia," ujar Saviona.


"Kau harus bertindak lebih maju dari pada wanita itu! Apa kau ingin suami mu direbut nya?" Ujar Saviona serius.


"Dighan tidak akan kembali kepelukannya, aku yakin itu," balas Alena.


"Bagaimana dengan kekuasaan suami mu? Ia bisa saja menghancurkan mu dan Raja," ucap Saviona.


"Aku tidak akan membiarkan itu, jika ia ingin kekuasaan suami ku silahkan ambil tetapi jangan sampai ia menghancurkan ku juga Dighan," ucap Alena dingin ia menatap tajam kearah Saviona yang tersenyum meremehkan kearahnya.


"Kalau begitu, hancurkan wanita itu terlebih dahulu supaya ia tidak mengganggu!" Ucap Saviona tajam.


...----------------...


Tbc.


like dan komentar nya jangan lupaaa!