
Pagi ini diriku hanya terduduk diam di belakang meja kasir
sembari membawa buku cerita anak-anak. Jika di duniaku sebelumnya, mungkin
lebih mirip dongeng, tetapi untuk dongeng dari dunia ini, aku sedikit bingung bagaimana
menyikapinya.
Karena akhir-akhir ini tidak banyak pelanggan yang datang
untuk menginap, kebanyakan hanya sarapan dan makan malam, kugunakan waktu luang
tersebut untuk menikmati sedikit kesunyian di sini. Syukurlah aku mulai dapat
membaca dengan lancar, meski ada beberapa istilah yang masih sulit dipahami.
Suara pintu yang sedikit berdecit menyita sekian persen
konsentrasiku, tetapi setelah tahu bahwa Luna yang datang dari halaman
belakang, aku kembali mengalihkan perhatianku. Ia menghampiriku dari depan
kasir sambil berpose seolah hendak menggodaku.
“Kau ini sudah menjadi petualang, tapi kenapa masih bekerja
di sini?”
“Apakah kau bermaksud mengusirku?”
“Bukannya begitu, tapi ya, setidaknya pergilah ke guild dan
mencari anggota untuk party-mu! Dengan lencana yang kau miliki, pasti tidak
akan sulit mencari petualang hebat.”
Tidak lagi. Dia menyarankan hal itu sudah empat kali
semenjak pulang dari perburuan kemarin. Kenapa dia begitu ingin melihatku
memiliki party sih?
Party merupakan sekelompok petualang yang menjalin kerja
sama untuk menyelesaikan permintaan atau melakukan pekerjaan berkelompok
lainnya. Tidak apa sih jika aku harus mengumpulkan kekuatan untuk menyelesaikan
permintaan yang sulit.
Tapi apakah mereka percaya jika aku memiliki lencana bintang
tujuh? Sebagian dari mereka pasti akan menganggap diriku curang dalam tes.
Terlebih aku tidak tahu petualang macam apa yang akan kutemui. Apakah petualang
rendah hati yang bercita-cita mengalahkan Raja Iblis seperti di dalam film?
Atau petualang pemula sepertiku yang tidak tahu apa-apa?
Ah... tidak tahu apa-apa hanya dalam artian belum mengetahui
sepenuhnya tentang dunia ini. Mungkin akan menyenangkan jika mengajak para prajurit
kebanggaanku kemari. Tapi itu jelas akan merepotkan.
Yah... gara-gara gadis itu, aku jadi bosan di sini. Terlebih
mood-ku membaca juga telah hilang.
“Master? Kenapa Anda tidak mengumpulkan kekuatan? Aku yakin
dengan kemampuan dan pengalaman yang telah terasah, Anda dapat menggenggam
sebuah negara di benua ini.”
“Itu tidak bisa, Alvis. Aku tidak mungkin menyerang sebuah
negara dan mendeklarasikan diriku sendiri menjadi kepala negara yang baru.”
“Itu sangat disayangkan.”
Hoi! Hoi! Kau pasti akan menulis memo khusus dalam laporanku
‘kan? Lalu ketika kembali ke duniaku, kau akan menyerahkannya ke ayah. Benar
‘kan? Itu bisa membuatku mendapat masalah, dasar bodoh!
Hanya untuk menundukkan kota yang seukuran dengan kota
Jakarta ini dan menjadi pemimpin secara paksa, aku yakin lebih dari mampu. Tapi
untuk mendapat kepercayaan dan dukungan masyarakatnyalah yang paling sulit.
Jika aku hanya memperlihatkan kekuatanku, tentunya mereka akan takut dan kabur
dari kota ini.
Yah, setidaknya aku akan memilih bermain-main dahulu di
dunia ini sembari menunggu bantuan yang datang untuk menyelamatkanku. Aku
beranjak dari tempat duduk setelah melamun sekian lama, kemudian berjalan
menuju pintu keluar.
“Mau ke mana?”
Pertanyaan gadis itu sedikit mencurigakan. Dilihat dari
caranya berdiri penuh semangat sambil menggebrak meja kasir, ia bersiap
mengikutiku yang hendak pergi.
“Cari masalah.”
Aku hanya menjawab singkat. Tapi kurasa dia dibingungkan
oleh kalimatku barusan. Luna mengerutkan keningnya, dengan ekspresi kecewa yang
mendalam, dia kembali duduk. Beruntunglah dia tidak mengerti maksudku, jika dia
tahu aku akan mencari masalah dengan para monster, dia pasti akan mengikutiku
dan meninggalkan tugas jaga paginya.
***
Aku berada di hutan menuju reruntuhan kota di sebelah barat kota
Parriot. Secara teknis, saat ini aku berada di luar kota sih. Kenapa aku menuju
ke reruntuhan kota? Semua tindakan itu memiliki alasan, bukan?
Perburuan goblin, itulah tujuan kenapa aku sampai berada di
tempat ini. Melihat rindangnya pepohonan dan lebatnya semak-semak, itu
mengingatkanku pada latihanku dulu. Dapat dibilang aku sedikit bernostalgia.
Ketika berada di guild beberapa saat lalu, aku menjumpai
seorang pria tua yang tengah terduduk dengan wajah penuh masalah. Jika dia
berada di tempat itu, pastinya dia memiliki hubungan dengan para petualang. Aku
bertanya kepada Zaza tentang pria tua tersebut. Tetapi yang aku dengar cukup
mengejutkan.
Guild menolak permintaan pria tua yang tidak lain adalah
kepala desa Aztro yang terletak di barat kota Parriot. Mereka mengeluhkan
adanya beberapa goblin yang minggu-minggu ini mengganggu pertanian penduduk
desa tersebut.
Si mbak resepsionis menolak permintaan pria tua itu
dikarenakan jumlah hadiah yang ditawarkan tidak sesuai dengan tingkat kesulitan.
Karena aku melihat pak tua itu begitu kesusahan, terlebih akan terjadi dampak
buruk pula jika para goblin itu dibiarkan berkeliaran dengan bebas. Aku mencoba
menghiburnya dengan menawarkan diri sebagai satu-satunya petualang yang mau
menerima permintaan tersebut.
Karena mengetahui bahwa akulah yang menerima misi tersebut
dengan suka rela, si mbak resepsionis itu langsung menerima permintaan dari
pria tua tersebut. Meski awalnya harus melalui perdebatan kecil dengan si mbak
resepsionis. Yah, tidak apalah jika sesekali melakukan kebaikan di dunia ini.
Setelah sampai di dekat gerbang reruntuhan kota, aku hanya menemukan
beberapa goblin yang berada di gerbang masuk. Aku memperluas area peta pada
Device dan menemukan sekitar 21 titik hijau dari seluruh wilayah di reruntuhan
kota.
Kota hantu ini benar-benar telah terbengkalai. Dilihat dari
gerbang yang dipenuhi sulur dan tanaman merambat lainnya, sudah dapat
dipastikan di dalamnya pasti lebih parah.
Aku bergerak mendekat melalui semak-semak yang lebih lebat
dan bersembunyi untuk menghindari kontak langsung dengan para goblin penjaga. Mereka
berwarna hijau lumut dengan tinggi kurang dari satu meter dengan perlengkapan
membawa tombak dan anak panah dari kayu.
“Alvis, siapkan CheyTac M200 Garuda!”
“Ya, Master. Memindai data, mentransfer CheyTac M200 Garuda.
Transfer selesai.”
Sebuah Sniper Rifle berwarna merah dengan stiker kepala
garuda muncul di samping kananku seperti di teleportasi. Setelah mengambilnya
dari Inventory dan mengisi energinya dengan Mana, aku mulai membidik salah satu
dari goblin penjaga. Di sana terdapat empat goblin, dua berada di pintu gerbang
dan sisanya berada di masing-masing menara pengawas.
“Wind Bullet.”
Pengaktifan suara pada Device terhubung langsung kepada CheyTac,
sehingga untuk mengganti pelurunya harus melalui Device, berbeda dengan
Charlotte yang memiliki inti pengaktifan manual tanpa harus menggunakan Device.
Senapan jitu tersebut mengeluarkan suara gerigi yang berputar
pada sirkuit, kemudian berhenti, seperti pergantian gerigi pada kendaraan.
Target pertama mencapai jarak 150 meter, tidak ada
tanda-tanda atau pergerakan aneh dari mereka berempat selain hanya
mondar-mandir dalam gerakan menyilang. Jika aku berhasil, mereka dapat kubunuh
dengan satu peluru saja.
Goblin yang berada di sebelah kanan dan kiri mulai berjalan
saling mendekat, berhadapan dan berada di titik tengah. Aku menekan pelatuknya.
Sebuah peluru sihir beratribut angin menembus tubuh mereka bersamaan.
“Yeah! Piercing Shot!”
Aku memuji diriku sendiri. Kini tinggal dua lagi. Aku
terpaksa menembak mereka secara bergantian, tapi itu akan membuatku ketahuan,
setelah salah satu goblin melihat teman mereka mati.
Kutandai salah satu goblin tersebut dalam koordinat peta,
kemudian melancarkan sihir Paralyze dari Device. Dia terdiam membeku dan yang
satunya tidak sadar dengan hal tersebut. Lantas aku menembak goblin yang masih
berada dalam kondisi normal, lalu menembak goblin yang masih tidak bergerak
tadi.
Gerbang depan kini telah aman, aku memasuki kota mati itu
dan menuju ke tempat perkumpulan mereka yang terletak di sebuah bangunan besar
di tengah kota. Di sekelilingku penuh dengan bangunan yang porak-poranda dan
barang-barang keseharian para penduduk yang ditinggalkan. Jika dugaanku benar,
mungkin kota ini pernah tertimpa bencana, sehingga para penduduknya pergi.
Kondisi bangunan yang telah setengah hancur menjadi
pemandangan absolut, tidak ragu jika tempat ini menjadi markas para goblin.
Mataku kembali menatap pada peta saat Alvis memberitahuku
tentang adanya tanda kehidupan yang mendekat. Terdapat enam titik hijau
bergerak dari sisi barat laut. Satu titik hijau berada di depan dan lima
lainnya berada cukup jauh di belakang. Mungkinkah mereka regu pengawas yang
tengah berpatroli?
Mereka bergerak ke arah selatan di jalanan yang berada satu
blok denganku. Kemudian mereka berbelok ke kiri di sebuah jalan kecil. Pemimpin
kelompoknya berlari semakin cepat dan menjauhi kawanannya. Mereka semua akan
terlihat olehku jika keluar dari jalan kecil tersebut dan dengan begitu aku
dapat membunuh mereka sekaligus dengan peluru plasma.
Mataku tidak terlepas dari titik hijau di dalam peta. Ketika
titik hijau terdepan hampir keluar, aku menarik Charlotte dan langsung berbalik
untuk membidik kepalanya. Tepat sebelum dia keluar, aku menembakkan peluru
plasma dan mengandalkan titik temu antara target dan peluruku.
“Kyaa!!”
Meleset! Ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,
dia berhasil menghindari tembakkanku dengan sedikit menggeser kepalanya.
“Check Up!”
“Meleset. Target bergerak sejauh 3 cm dari titik X. Laporan
selesai.”
Mustahil, belum pernah ada makhluk yang meleset dari tembakkan
Charlotte. Entah karena dia benar-benar cepat atau hanya sekadar keberuntungan
semata. Tapi, apa-apaan itu?
“Hoi! Tolong! Tolong aku...!”
Ha? Apa? Tidak! Siapa dia? Seorang gadis berlari ke arahku
sembari mengulurkan kedua tangannya seperti hendak memelukku. Tapi aku bergeser
ke kanan ketika telah sangat dengan. Walhasil dia tersungkur ke belakangku.
Karena jika aku menerima pelukannya, bisa menjadi bahaya.
Lima makhluk hijau itu telah keluar dari jalan kecil tadi. Mereka memakai
perlengkapan yang serupa dengan goblin pengawas di gerbang, lengkap dengan
tombaknya juga. Kelimanya berlari kemari dengan suara berisik yang tidak lebih
merdu dari tong kosong yang dipukul. Tanpa ragu aku menembak mereka satu
persatu tepat di kepala dan dalam sekejap tersungkur ke jalanan tanah.
“Yup! Chain Head Shot, tidak buruk juga!”
Aku kembali memuji diriku sendiri. Bukan karena tidak pernah
dipuji, tapi hanya untuk meningkatkan mood-ku secara pribadi.
“Eh, Master? Jumlah transfer Mana kepada Charlotte
memengaruhi tingkat akurasi, tidak heran jika Anda bisa mengenai mereka semua,
‘kan?”
“Aku tahu itu! Tetap saja, aku butuh pujian! Hehehe.”
“Hmmm.”
Aku berbalik dan menemui gadis tadi masih terduduk di atas
jalanan tanah dengan wajah kaku dan tubuh gemetar. Selain itu, napasnya yang
memburu memperlihatkan tubuhnya yang kelelahan akibat dikejar kawanan Goblin.
Dia memiliki rambut merah panjang yang indah dan mata hijau
yang cantik. Dia memakai pakaian biasa yang dibalut armor kulit berwarna
coklat, serta membawa dua senjata berjenis Dagger.
“Jadi, bisa kau jelaskan padaku, kenapa kau berada di
reruntuhan kota ini? Kau tahu, jika bukan karena refleks menghindarmu yang
baik, kau sudah mati beberapa menit lalu.”
Kedua matanya berkaca-kaca, dia hendak menangis, tapi
sepertinya ditahan dengan baik. Seharusnya kau tidak menahan rasa gembiramu karena
berhasil lolos dari kematian!
“Namaku, Airi. Petualang Beginner bintang dua. Maaf telah
membuatmu ikut masuk ke dalam masalahku.”
“Hah? Masalahmu?”
Yah, aku menemui gadis yang menawan kali ini, dia cukup
sopan dibanding gadis yang kini tengah berada di kedai. Kurasa jika aku
melatihnya sedikit, dia bisa menjadi kuat dan cocok untuk kujadikan anggota
Party pertamaku. Ya! Aku harus mendapatkannya!