
Lily dan Schana segera menghampiri Kagami yang juga berjalan ke arah mereka. Lily segera melompat dan memeluknya.
“Selamat, Master! Master memang yang terbaik!”
Gadis kecil itu memujinya dengan penuh kebanggaan. Sedangkan Schana hanya dapat melihat Kagami dengan wajahnya yang merah padam. Pada awalnya dia tidak mengira Kagami akan mampu mengalahkan monster itu. Hal tersebut terjadi tidak terlepas dari pengalamannya yang telah melihat banyak laki-laki tewas akibat melawan monster tersebut.
Kini setelah semua terbukti tepat di depan matanya, cara Schana memandang Kagami pun mulai berubah. Dia yang sebelumnya memandang laki-laki itu dengan tatapan rendah, sekarang terlihat begitu tertarik.
“Apakah kau terluka, Lily?”
“Tidak, Master! Semua berkat nona Schana yang telah melindungiku.”
“Syukurlah ....”
Kagami mengelus kepala gadis kecil itu, sesaat kemudian dia melirik Schana.
“Baiklah, lebih baik kita kembali saja. Sudah tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan di sini.”
“Baiklah, Master!”
Mereka lalu saling bergandengan tangan dan berbalik arah, mengabaikan Schana yang tengah tersenyum kecut. Dia seakan hendak meledakkan amarahnya, tetapi tak mampu.
“Tu-tunggu dulu! Kenapa kalian meninggalkanku?”
“Heh? ‘Kenapa’? Bukankah sekarang segelnya harusnya telah hilang? Kau bisa pergi ke mana pun kau suka.”
“Itu tidak bisa! Kau telah mengalahkan monster tadi! Seharusnya kau membawaku! Itu sebagai bukti bahwa aku menepati janji dalam pengorbananku!”
“Tidak mau! Aku tidak memiliki alasan untuk membawamu pulang bersamaku.”
“Hah ...?”
Mereka memulai perdebatan. Lily yang masih polos hanya dapat terdiam dengan memiringkan kepala.
Tiba-tiba sebuah gelombang resonansi berwarna ungu meledak di antara Kagami dan Schana. Kagami yang terkejut hanya bersiaga dengan menyentuh Device-nya, sedangkan Schana terdiam seakan telah mengetahui hal tersebut akan terjadi.
“Apa itu tadi?”
“Yah, sebuah pertanda bahwa kau harus bertanggung jawab!”
“Untuk hal apa?”
Ruangan di sekitar mereka berubah warna sedikit keunguan. Kagami mulai mengamati hal di sekitarnya dan mendapati Lily yang tidak bergerak sedikit pun.
“Ini ... tidak salah lagi, mirip seperti Time Fracture milikku.”
“Yup! Itu benar, anak muda. Kau memang cepat tanggap, ya? Hahaha ....”
Suara asing itu langsung menembus telinga Kagami. Dia segera menoleh ke belakang untuk memastikan siapa pelakunya. Saat itulah, dia melihat pria tua dengan rambut penuh uban dan jenggot putih yang panjang.
Kagami mengerutkan keningnya dan menatap tajam pria tua tersebut.
“Siapa kau?”
“Aku? Ya, kau bisa memanggilku sebagai utusan.”
“Utusan?”
“Um! Sebelumnya, aku berterima kasih karena kau telah mau datang ke dunia ini, dan kemudian membebaskan Schana dari segel yang kupasang selama ini.”
Pria tua itu memakai pakaian putih polos yang menjuntai dari bahu hingga ujung kakinya. Di tangan kirinya terdapat benda bulat yang cukup banyak, mungkin seperti tasbih. Sorot matanya yang halus dengan senyuman yang seakan dapat menghilangkan beban dunia terlihat begitu menakjubkan.
“Ah! Dewa, terima kasih Anda telah mau datang ke tempat ini!”
“Um! Tentu saja. Aku ingin segera melihat calon suamimu yang telah jauh-jauh kupersiapkan.”
“Apa maksudmu?”
Kagami tiba-tiba menyela ke dalam percakapan.
“Yah, kau tahu ... untuk membuatmu datang ke dunia ini memerlukan persiapan yang matang, Kagami.”
“Persiapan?”
“Kau ingat, beberapa bulan lalu saat salah satu pasukan dari sebuah negara di duniamu memerlukan bantuan karena telah dijadikan umpan? Lalu kelompokmulah yang telah menyelamatkan mereka. Setelah itu kau bertemu dari pimpinan kelompok itu yang kemudian menceritakan tentang salah satu faksi pengkhianat.”
“Itu ... pasti Murazawa yang kau maksud?”
“Itu benar, dia adalah awal dari semua rencanaku sebelum akhirnya kau berhasil masuk ke dunia ini.”
LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com