
Seorang gadis cantik bernama Airi datang entah dari mana.
Dia bukan salah satu warga dari desa Aztro, tetapi berada di tempat seperti ini
dengan bebas. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis ini? Terlebih dia hampir
terkejar oleh Goblin tadi, sungguh ceroboh.
Kami saling berkenalan satu sama lain. Ya, kurasa tak ada
alasan bagiku untuk mencurigainya setelah kejadian tadi. Airi mengatakan padaku
tentang kedatangan Goblin itu secara tiba-tiba, awalnya ia sempat menyusup ke
markas mereka, tapi ketahuan oleh salah satu dari mereka sehingga menyebabkan
ia berkejar-kejaran tidak karuan.
“Ne, Kagami. Mau membantuku mengambil harta itu? Nanti kita
bagi menjadi dua, bagaimana?”
“Uh, harta ya? Seperti harta karun, kah? Yah, terserahlah.
Kurasa cukup menyenangkan juga.”
Dia sempat menyinggung sesuatu seperti harta. Yup, Airi
bilang Goblin itu tengah menjaga harta dalam jumlah banyak, entah dari mana
datangnya. Karena sesuatu tentang harta itu cukup menarik perhatianku,
sebenarnya alasanku hanya agar mendapat uang lebih sih.
“Baiklah, tapi dengan syarat akan dibagi sama rata.
Bagaimana?”
“Tidak apa, jika kau mampu menunjukkan kekuatanmu untuk
mendapatkan harta itu, aku akan dengan senang hati membaginya.”
Dia mengeluarkan wajah penuh percaya diri. Seberapa tinggi
kah bagi seorang petualang yang lari dari kejaran Goblin?
Setelah menyepakati perjanjian, Airi menunjukkan lokasi di
mana harta karun tersebut disimpan melalui peta hologram di Device-ku. Awalnya dia
terkejut ketika muncul peta tersebut, terlebih dia bisa melihat seluruh kota
dan bahkan ketika aku memperbesarnya, kami bisa melihat diri kami sendiri. Yah,
kurasa teknologi ini terlalu canggih untuk dunia ini. Tapi beruntunglah peta
tersebut tidak dapat melihat ke dalam bangunan, karena jika bisa maka aku akan
dengan mudah mengintip gadis-gadis yang tengah mandi.
Kami segera menuju lokasinya, setidaknya itu berada beberapa
ratus meter ke pusat kota. Kami melewati jalan utama karena di dalam peta tidak
terdeteksi adanya tanda kehidupan. Aku melihat banyak sekali bangunan tua dan
setengah hancur. Benar-benar mirip seperti kota hantu.
Sembari mengamati peta, aku dan Airi terus berlari ke menuju
sebuah bangunan besar dan luas yang terlihat masih utuh, tapi terlihat tidak
Jumlah titik hijau pada peta berjumlah 11 tanpa menghitung
aku dan Airi, yang berarti para Goblin itu berkurang cukup banyak. Kami
terhenti di depan bangunan yang sepertinya dahulu digunakan sebagai gedung
pemerintahan.
“Tidak ada tanda-tanda Goblin di sekitar sini. Kemungkinan
mereka semua masih berada di dalam dan tak menyadari kedatangan kita.”
“Huh! Begitukah? Syukurlah jika mereka tidak menyadarinya.”
“Kita masuk sekarang, Airi?”
“Ya! Kurasa lebih cepat lebih baik.”
Kami memasuki bangunan berlantai dua tersebut, aku
mengendap-endap agar tidak bersuara, lantai yang terbuat dari batu marmer
cantik itu terlihat setengah hancur dan berserakan, ada juga beberapa pecahan
benda seperti vas bunga dan bingkai lukisan. Kini di hadapanku terdapat ruangan
besar dengan tiga pintu yang berada di sebelah kiri, depan, dan kanan. Aku
harus memilih yang mana?
“Kau bilang sudah pernah masuk kemari? Jadi ke mana
selanjutnya?”
“Lewat sini, Kagami!”
Dia mendahuluiku dan menarik tangan kananku menuju ke pintu
sebelah kiri. Airi mendorong pintu tersebut, lalu masuk begitu saja seperti
tidak takut akan adanya jebakan yang mungkin saja telah menunggu kami. Ruangan
selanjutnya berbentuk lorong dengan tiga pintu, satu berada di sisi kanan dan
dua berada di sisi kiri.
Lagi. Airi menarik tanganku menuju pintu di sebelah kanan,
tapi langkah kami berhenti setelah sampai di depan pintu tersebut. Dia menatap
ke arahku dengan wajah aneh. Terlihat begitu sedih dan gelisah, seakan hendak
menangis, tapi tak mampu.
“Apa menurutmu yang kulakukan ini benar, Kagami?”
“Entahlah, tapi kita sudah sejauh ini. Mau bagaimana lagi?”
“Ji-jika ini adalah pilihan yang salah, apa kau mau
melindungiku?”
“Tentu saja!”
“Janji? Kau berjanji akan melindungiku, ‘kan?”
“Um, aku janji.”
LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com