The Irregular Lifeforms

The Irregular Lifeforms
Chapter 35 - Orang yang Tak Diharapkan



Usai menangani masalah perjanjian kerja sama. Kagami dan Schana segera melanjutkan urusan berikutnya. Mendatangi mansion Baron Azla untuk meminta izin resmi. Sejak awal, seharusnya dia mengutamakan hal ini terlebih dahulu. Tetapi, dia merasa telah yakin dan akhirnya mengutamakan perjanjian antara dirinya dan para blacksmith.


"Hmm, ini juga pertemuan pertamamu dengan Baron Azla, 'kan? Aku tidak tahu apa yang harus kuceritakan. Tetapi, seperti yang kamu tahu, aku memiliki sedikit hubungan dengannya setelah menyelamatkan istri dan anaknya."


"Um? Kamu tidak harus menceritakannya, Darling."


"Benarkah? Baiklah."


"Yah, tentang anak yang kamu selamatkan ... apakah dia cantik?"


"Heh?"


Schana tiba-tiba menyasar pada pertanyaan rumit tersebut. Dia mungkin sedikit cemburu setelah tahu bahwa Kagami menolong banyal gadis cantik seperti Sakura dan Airi. Dirinya pun diselamatkan oleh Kagami saat masih berada di labirin. Apakah itu takdir? Atau hanya kebetulan?


"K-Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu, Schana?"


"Bukan apa-apa. Lupakan saja."


"Haa ...."


Pertikaian ringan antara suami-istri yang ada di jalanan kota Parriot, menjadi pengisi kesunyian mereka sendiri sebelum sampai di mansion.


Tidak lama, sebuah bangunan besar dan mewah dapat terliihat jelas. Itu adalah rumah seorang bangsawan yang memerintah kota ini, Baron Azla Lorience. Ada dua pernjaga gerbang mansion, Kagami menemui salah satu penjaga gerbang dan mengatakan ingin membuat pertemuan dengan Baron Azla.


"Permisi, apakah aku bisa bertemu dengan Baron Azla?"


"Eh? Ah, apa urusanmu datang kemari?"


"Aku ingin mendapat izin pendirian perusahaan baruku."


Pria berusia sekitar 20 tahun itu awalnya terkejut melihat kecantikan Schana yang muncul bersama sosok Kagami. Meski wanita itu hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah kata, tetapi dengan memandangnya saja dapat membuat seorang pria menjadi gugup.


"A-Aku akan menanyakannya dahulu kepada beliau. Apakah beliau ingin bertemu dengan Anda atau tidak."


"Um, terima kasih, juga tolong sertakan namaku saat kau ingin bertanya kepadanya."


"Nama?"


"Ya, namaku adalah Kagami Kiriyama."


"Baiklah."


Orang itu segera masuk ke dalam mansion, meninggalkan Kagami dan Schana bersama seorang penjaga lainnya di pos penjagaan. Setelah menunggu beberapa menit, penjaga sebelumnya keluar dan menemui Kagami.


"Ah, maaf telah membuat Anda menunggu. Silakan, Baron Azla telah menanti kedatangan kalian."


"Um, terima kasih atas kerja bagusmu."


"I-Iya."


Mendapat pujian dari Schana membuat penjaga tadi kembali gugup dan langsung memberi mereka jalan menuju pintu masuk mansion. Kedua meneruskan perjalanan menuju mansion.


DI depan pintu masuk, mereka disambut oleh senyuman dua pelayan cantik dan dipersilakan masuk seperti tamu kehormatan.


Kagami mengikuti kedua pelayan yang menyambutnya. Setelah memasuki mansion, dia disambut oleh seorang pria paruh baya dan wanita cantik berambut merah. Orang itu adalah Baron Azla dan istrinya.


"Wah, lama tidak berjumpa, Kagami."


"Ya, sudah cukup lama, Baron Azla."


"Mari, duduk dahulu."


"Terima kasih."


Kagami dan Schana dijamu layaknya tamu istimewa. Di sisi lain, Baron Azla belum pernah bertemu dengan Kagami setelah kejadian penculikan istrinya. Awalnya dia cukup terkejut saat Kagami menceritakan tentang hubungannya dengan Schana.


Baron Azla dan istrinya terkejut karena mereka tidak berpikir terlalu jauh mengenai Kagami yang mampu menyelamatkan Schana dari labirin tingkat sulit.


"Sayang sekali, ya ... Airi kedahuluan."


"Kenapa Sayang? Bukankah dia bisa menjadi istri keduanya Kagami?"


"Eh?! Apa yang kalian bicarakan?!"


Wanita itu terlihat menyesali keterlambatan mereka untuk mengajukan lamaran pernikahan. Meski seharusnya pihak Kagami lah yang mengajukannya. Tetapi, keadaannya dahulu pun tidak begitu mendukung dikarenakan mereka masih saling tidak mengenal. Bahkan sampai sekarang pun mereka tidak cukup mengenal.


Kagami dengan segera menyela dan menghentikan pemikiran seperti itu. Kenyataannya, setelah dinikahkan dengan Schana, dia sendiri belum cukup yakin dengan perasaannya sendiri. Meski Schana begitu mencintainya tanpa alasan jelas, tetapi Kagami sedikit ragu dengan hatinya sendiri.


Dengan alasan itu, Kagami berusaha untuk menambah jumlah istrinya. Jika satu istri pun dia masih belum begitu sanggup, dia akan kesulitan ketika diharuskan menerima ajuan lamaran dari pihak lain.


"Baron Azla, kedatanganku di sini adalah untuk meminta izin mendirikan perusahaan, bukan membicarakan tentang pernikahan ...."


"Hahaha ... iya, iya, maaf. Sebagai ayah, aku khawatir dengan putriku sendiri."


"Yah, itu wajar sih."


Protesnya ditanggapi, syukurlah, dia tidak harus membicarakan tentang pernikahan lagi. Kagami menuju ke topik utamanya. Dia membicarakan mengenai perusahaannya.


Namun, tidak hanya itu saja. Dia mengatakan ingin menambahkan banyak hal lagi yang menurutnya bisa menambah popularitas perusahaannya. Kagami juga membicarakan tentang perekrutan banyak blacksmith terkenal untuk ikut bersamanya.


Saat mendengarnya, Baron Azla terlihat mengeluarkan ekspresi kaget. Dia tidak menyangka Kagami mampu bertindak sejauh itu. Karena tawaran yang dia berikan juga menggiurkan, tidak ada umpan yang tidak disambar.


Bahkan target tak diharapkan pun ikut menyambar. Contohnya seperti orang yang bekerja hanya untuk mengetahui rahasia perusahaan, kemudian pergi begitu saja dan tiba-tiba muncul sebagai rival bisnis.


"Baiklah, aku akan memberimu izin tersebut."


"Benarkah?"


"Ya, aku mengganggap ini sebagai balas budi waktu itu."


"Eh? Tetapi, waktu itu Anda telah memberi saya hadiah."


"Itu masih belum cukup. Kehidupan istri dan putriku sangat berharga, karena itulah aku tidak bisa berhenti bersyukur kepadamu setelah menyelamatkan keluargaku."


"Y-Ya ... terima kasih, Baron Azla."


Kagami tersenyum lembut setelah berhasil menyelesaikan masalah perizinan tersebut. Sekarang dia hanya harus kembali dan mempersiapkan beberapa hal kecil untuk memulainya.


"Omong-omong, di mana Airi? Aku tidak mendengar suaranya sejak tadi. Apakah dia sedang pergi?"


"Ara, baru sekarang kamu mencarinya."


"Eh? Eh!?"


"B-Bukan berarti aku merindukan Airi, aku hanya penasaran saja ...."


Kagami melirik Schana saat dia tengah bebincang dengan istri Baron Azla. Wajah wanita cantik itu dipenuhi dengan aura aneh dan mencekam. Apakah ini yang dinamakan dengan cemburu? Kagami terlihat tersenyum pahit dan mengelus punggung Schana untuk menenangkannya.


Namun wanita itu diam saja dan menoleh ke arah lain. Wuahh ... dia ngambek.


Pada saat itu, tiba-tiba pintu depan terbuka dan salah satu dari penjaga gerbang yang tadi bertemu Kagami masuk dengan tergesa-gesa. Laki-laki itu segera menghadap Baron Azla dengan wajah penuh kepanikan.


"Ada apa?"


"Tuan Azla, gawat! Putra dari Viscount Barre datang kemari, dan dia menerobos masuk tanpa izin!"


"Apa?! Apa yang dia inginkan?"


"Maaf, tetapi kami kurang tahu."


Baru saja dibicarakan. Sosok itu datang dengan wajah angkuh. Dia adalah laki-laki berusia sekitar 20 tahun. Tampangnya dipenuhi arogansi, dengan perut buncit dan tubuh berlemak.


Dia memiliki wajah gemuk seperti **** dan rambut pirang sebahu. Pakaian terlihat mewah sebagaimana halnya yang dicerminkan dari seorang putra bangsawan.


Orang itu berjalan santai didampingi seseorang berpakaian serba hitam. Kemungkinan dia adalah bodyguard keperecayaannya. Karena mereka berani datang ke wilayah Baron Azla hanya berdua saja. Dapat dikatakan bahwa bodyguard itu memiliki kekuatan yang cukup mumpuni.


"Wah, senang bertemu denganmu, Baron Azla."


"Apa maumu?"


"Haha, kau bertanya seolah mampu memberikannya. Yah, kau pasti mampu. Aku datang ke sini untuk mengantar pesan dari ayahku, Viscount Barre Gustavio."


"Pesan?"


Laki-laki itu lantas melemparkan sebuah gulungan kertas yang tidak lain adalah pesan itu ke kaki Baron Azla. Setelah mengambil dan membacanya dengan baik, Baron Azla mempunyai wajah bermasalah.


"I-Ini?!"


"Seperti yang tertera di sana. Kau harus menyerahkan jabatanmu kepadaku, cepat atau lambat. Ah, sebagai tambahan, aku tidak sengaja menemukan seorang gadis cantik dan menarik. Jika tidak salah, namanya adalah Airi."


"K-Kau! ********!"


"Aku akan menggunakannya sebagai sandera. Jika kau ingin mendapatkannya kembali, kau bisa menemuiku di hutan timur. Aku akan menunggu penyerahan kekuasaanmu di sana. Kalau tidak, mungkin aku akan menelanjangi anakmu dan bermain-main dengannya sampai puas. Hahahaha!"


"Tolong jangan lakukan itu!"


"Maka dari itu, cepat turuti saja."


Dia segera pergi setelah mengatakan semua hal yang perlu disampaikan. Tetapi, dia berhenti sejenak ketika pandangannya bertemu dengan Schana. Laki-laki itu mengamati lekuk tubuh Schana mulai dari atas hingga bawah, dia begitu fokus ketika melihat dada bulat dan menggiurkan itu.


"Hmm, siapa wanita ini?"


Bertanya kepada bodyguardnya dan seketika itu langsung mendapatkan jawabannya.


"Oh, jadi begitu, ternyata dia adalah wanita cantik yang dirumorkan berada di labirin itu. Tidak kusangka dia memang benar-benar menawan dan menggoda."


Laki-laki itu berjalan ke arah Schana dan meraih tangan kanannya.


"Perkenalkan, namaku adalah Alphonse Gustavio. Seperti yang tadi kau dengar, aku adalah putra Viscount Barre yang akan menduduki kota ini ...."


Dia hendak mencium punggung tangan Schana. Kagami yang melihatnya terlihat akan segera bertindak, tetapi sebelum itu terjadi, Schana dengan gesit menarik tangannya dan memeganginya seolah-olah merasa jijik.


Laki-laki yang diketahui bernama Alphonse itu sedikit mengerutkan keningnya dan menatap tajam Schana. Tetapi, Schana membalas tatapan itu dengan kalimat cukup meyakinkan.


"Maaf, tetapi satu-satunya pria yang boleh menyentuh dan menciumku hanya suamiku saja."


Schana mundur beberapa langkah, berdiri sejajar dengan Kagami dan merangkul lengan kanannya sambil menempelkan dadanya.


"Oh, begitu, ya? Baiklah, kuharap suatu hari aku dapat mengundangmu secara pribadi ke mansionku, Nona. Dan akan kupastikan kau menjadi lebih bahagia dibandingkan dengan orang rendahan sepertinya."


"Itu takkan pernah kubiarkan!"


Melihat kesombongan Alphonse yang semakin menjadi-jadi, Kagami membalasnya dengan penuh tekanan. Bahkan orang tenang seperti Kagami terlihat tidak ragu untuk melemparkan aura membunuhnya kepada orang sekelas bangsawan.


Melihatnya tuannya sedikit diancam, bodyguard tadi bersiaga dan berusaha melindungi Alphonse. Tetapi, beruntunglah tindakan berlebihan tidak harus terjadi. Kagami bisa saja menyerangnya, tetapi tampaknya Schana menahan keinginan tersebut.


"Hmph! Dasar rakyat jelata. Suatu saat kalian akan menyesalinya! Dan juga, Baron Azla! Ingatlah! Aku menunggumu tiga hari lagi di hutan timur."


Alphonse bergegas pergi bersama bodyguard-nya. Setelah itu, ruangan kembali tenang dan dapat menghilangkan ketegangan yang sedari tadi sempat menumpuk.


Kemudian, terdengar samar-samar suara isak tangis wanita. Saat Kagami menoleh, pemilik suara itu tidak lain adalah istri Baron Azla.


"Sayang, bagaimana ini? Bagaimana dengan anak kita?"


"Tenanglah, meski harus begitu, aku akan membawa kembali putri kita ...."


"Tunggu, Tuan! Anda tidak bisa membiarkan kota ini dikuasai oleh putra Viscount Barre. Akan ada banyak rakyat yang menderita seperti di kota Rifflet."


"Tetapi aku tidak bisa membiarkan anakku menjadi mainan bangsawan ******* sepertinya!"


Sesaat menenangkan istrinya, bawahannya ikut menyuarakan pendapatnya. Mengapa begitu? Ada rumor mengatakan bahwa penduduk kota Rifflet hidup dengan tidak nyaman dan merasa dikekang. Itulah yang ingin dihindari oleh bawahannya.


Dia tidak ingin kota ini menjadi buruk saat dipimpin Viscount Barre, tetapi dia juga tidak ingin anaknya dilukai dan dipermainkan selayaknya wanita tak berguna oleh Alphonse.


Di saat pilihan sulit itu secara bersamaan menerobos masuk ke kepalanya, Baron Azla menoleh ke Kagami. Tatapan mata keduanya saling bertemu.


"Kagami, tolong aku ... tolong lakukan sesuatu ...."


Baron Azla mendekati Kagami dan berusaha berlutut kepadanya untuk mendapatkan bantuan. Tetapi, Kagami langsung menolak hal tersebut.


"Tanpa Anda minta, Baron Azla. Saya akan berusaha menyelamatkan putri Anda dan mengamankan jabatan Anda."


"Benarkah? Benarkah kamu mau melakukannya?"


"Un, tetapi, untuk saat ini, kita harus mengikuti arus di mana sungai mengalir. Jika, waktunya telah tiba, sebelum sungai melebar, aku akan membendungnya dan menghentikan orang itu."


Mendengar kalimat penuh makna dari Kagami, Baron Azla langsung mengerti maksudnya dan mengangguk penuh kebahagiaan.


"Baiklah, kami akan kembali dahulu, Baron Azla."


"Um, sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu, Kagami. Jika kamu berhasil nanti, aku akan menyiapkan pernikahan mewah, ok?"


"Anda masih membicarakan hal itu?!"


Kagami dan Schana segera kembali ke penginapan setelah semua masalah usai. Sayangnya, masalah baru kembali muncul di saat yang tidak tepat. Bagaimana rencana Kagami untuk mengatasi orang-orang licik itu? Haruskan dia berbuat curang juga? Ya, jika itu memang diperlukan.