The Irregular Lifeforms

The Irregular Lifeforms
Chapter 33 - Sebuah Panti Asuhan



Suara nyanyian burung di pagi hari membangunkan semua orang, menjadi tanda bahwa sang mentari akan mengintip dari ufuk timur. Cahaya terangnya menembus tirai yang menutupi jendela, sedikit demi sedikit semakin terang dan terus semakin cerah.


Suara embusan napas ringan menggelitik leher Kagami, pria tersebut lantas membuka matanya. Dia mengangkat tangan kirinya dan memeriksa Device yang menunjukkan waktu pukul enam pagi. Dia membanting lengannya seakan tidak peduli dengan waktu. Setelah itu memiringkan dirinya ke kanan dan memeluk tubuh elok yang mendekap erat seperti dilapisi lem.


Kagami dan Schana saling tidur berpelukan. Keduanya telanjang dan hanya tertutupi oleh selimut putih. Dia mencium kening istrinya, lalu mengangkat tubuh untuk bergegas pergi. Tetapi sebelum itu terjadi, Schana menahannya dan menindih tubuh Kagami dengan manja. Seolah tidak menginginkan Kagami untuk kabur.


"Ini sudah pagi, Sayang. Sampai kapan kau akan tidur terus?"


"Hmm ... lima menit lagi. Temani aku tidur lima menit lagi ...."


"Hei, aku sudah menemanimu tidur setiap hari."


"Masih belum cukup ...."


Hah ... mau bagaimana lagi, wanita ini paling senang memanjakan tubuhnya bersamaku. Dasar manja ....


Kagami mencium bibir istrinya dan mendiamkannya beberapa saat. Dia memandangi wajah Schana dengan penuh kasih sayang. Melihat setiap lekuk tubuhnya dengan bebas. Tidak lama setelah menerima tatapan mesum suaminya, Schana akhirnya terbangun.


"Darling sangat mesum. Kamu masih belum puas dan terus melihat tubuhku."


"Hahaha, mau bagaimana lagi? Ada panorama indah yang membentang di depan mataku."


"Um ...."


Schana menutupi dadanya dengan selimut dan mulai bangkit dari tempat tidurnya. Keduanya lalu menggunakan pakaian masing-masing dan segera menuju ke lantai bawah.


"Aku akan mandi dahulu."


"Eng, jangan! Aku ingin mandi bersamamu nanti, jadi ayo kita sarapan dahulu. Aku akan menyiapkan makanan dan kamu sebaiknya membangunkan Lily."


"Hmm, Lily selalu bangun lebih pagi darimu, tahu. Lebih baik jika kita memasak bersama."


"Baiklah, aku tidak bisa menolaknya."


***


Sebuah meja di kedai telah dipenuhi dengan makanan enak yang dimasak oleh Schana dan Kagami, tidak lupa pula bantuan dari si kecil Lily. Mereka bertiga sedang duduk dan menunggu kedatangan satu orang, Luna. Tidak lama, gadis tersebut keluar dari dapur dan ikut duduk bersama mereka bertiga.


Selama belum melewati jam buka kedai tersebut, mereka memang biasa sarapan bersama. Tetapi tiga hari ini, ayah Luna tidak ikut. Alasannya adalah pria itu pergi ke ibu kota untuk membeli peralatan lainnya yang sudah rusak.


Sarapan pagi ini segera dimulai dan dihabiskan, karena akan ada pekerjaan selanjutnya, jadi tidak ada waktu untuk mereka bersantai-santai. Kagami memerhatikan tiga wajah di hadapannya. Semuanya memiliki ekspresi bahagia. Entah apa yang membuat mereka seperti itu, mungkin Kagami hanya kurang bergaul saja.


"Lily, papa nanti akan pergi ke Guild Petualang. Kamu mau ikut?"


"Un, tidak ada alasan untuk menolak ajakan papa."


Gadis kecil itu menjawab penuh semangat. Melihat anak kecil seperti itu, membuat orang di sekitar ikut bahagia dengan senyum tulusnya. Setelah itu, mereka segera menghabiskan sarapan dan membersihkan mejanya. Kagami dan Lily pun segera berangkat ke Guild Petualang.


Sesampainya di sana, Kagami menjumpai resepsionis dan mengatakan bahwa dirinya memiliki janji temu dengan Guild Master. Resepsionis segera menyetujui jadwal tersebut dan mengantar Kagami beserta Lily ke ruangan Guild Master.


Setelah pintu ruangan diketuk, sang resepsionis meminta izin untuk masuk, lalu mempersilakan Kagami dan Lily untuk memasuki ruangan tersebut. Kemudian dia di sambut oleh seorang pria yang berusia pertengahan 30 tahun. Dia memiliki rambut coklat pendek, dengan otot kekar, di belakangnya ada sebuah Great Sword bersandar di dinding.


"Ya, selamat datang, Tuan Kagami. Aku yakin ini pertama kalinya kita bertemu."


"Um, aku rasa juga begitu, Guild Master."


"Silakan duduk terlebih dahulu."


Pria tersebuh mempersilakan tamunya terlebih dahulu. Mereka duduk di sebuah sofa yang membentul huruf U. Dua sofa panjang dan sebuah sofa pendek. Di depan mereka ada sebuah meja persegi panjang. Setelah ketiganya duduk, resepsionis tadi mengundurkan diri untuk menyeduh teh.


"Perkenalkan, namaku Valtos Burigin, aku adalah Guild Master di kota ini. Aku sudah mendengar banyak rumor tentangmu, Tuan Kagami."


"Ya, namaku, Kagami Kiriyama, mari lupakan formalitas masing-masing."


"Ah, aku tidak bisa melakukannya. Kau adalah petualang bintang tujuh. Kau setara dengan rangking Hero dan bahkan mungkin lebih. Mana mungkin aku akan bersikap tidak sopan kepadamu."


"Benarkah? Aku tidak peduli tentang itu, jadi jangan memaksakan dirimu."


"Hmm, baiklah jika anda menginginkannya. Terima kasih atas sebelumnya."


Valtos melirik ke arah Lily yang sejak tadi memeluk lengan kanan Kagami sembari menoleh ke segala arah untuk melihat isi ruangan tersebut. Kagami menyadari arah tatapan mata itu dan segera memperkenalkan Lily.


"Oya, aku lupa, ini adalah Lily. Dia adalah anak angkatku."


"Uh, sa-salam kenal, namaku Lily."


"Um, anak yang manis, kau sangat pintar memilih barang, Tuan Kagami."


Mendengar pujian sedikit kasar tersebut, Kagami hanya tersenyum dingin dan melupakannya begitu saja. Tidak lama, resepsionis tadi datang dan menaruh cangkir berisi teh di meja. Kemudian dia pergi ke belakang Valtos dengan sikap seorang pelayan profesional.


"Pertama, selamat atas pernikahanmu dengan Nona Schana. Aku tidak menduga akan ada orang yang berhasil menaklukkan labirin itu."


"Terima kasih."


"Lalu yang kedua, aku sangat berterima kasih kepadamu atas aksi heroikmu dalam menyelamatkan para petualang di gua itu. Yah, meski jumlah mereka berkurang drastis dibanding awal keberangkatan saat itu. Tanggung jawab itu sepenuhnya berada di tanganku, jadi untuk masalah itu, izinkan aku yang menyelesaikannya."


Resepsionis di belakangnya lantas mengambil sesuatu di meja kerja dan memberikannya kepada Valtos. Kemudian, pria itu menempatkannya sebuah kantong pada meja di depannya.


"Ini adalah hadiah yang diberikan atas penyelesaian misi itu. Yah, karena kemunculan Dewa Kematian, tingkat kesulitannya naik hingga ke level paling atas. Karena itulah, atas jasa besarmu, kami pihak Guild telah menyiapkan 10 koin platina."


Omong-omong masalah koin. 10 koin tembaga kecil setara 1 koin tembaga besar, 10 koin tembaga besar setara 1 koin perak, 10 koin perak setara 1 koin emas, 10 koin emas setara 1 koin platina, 100 koin platina setara 1 koin mistik. Sedangkan menurut konversi Kagami, 1 koin tembaga kecil setara seribu rupiah, 1 koin emas setara 1 juta rupiah, dengan begitu 10 koin platina akan menjadi 100 juta rupiah. Untuk nilai 1 koin mistik, akan setara dengan 1 miliar rupiah.


Begitu ya, nyawaku dan para petualang yang melawan Astal waktu itu dihargai 100 juta rupiah. Entah kenapa aku merasa sedikit tidak nyaman.


Kagami menatap ke arah Valtos, lalu kembali melihat kantong berisi koin platina.


"Lalu, bagaimana dengan para petualang yang dipimpin Kreon?"


"Oh, mereka telah mendapatkan kompensasi masing-masing. Dan juga, mereka telah mendapatkan keringan berupa perawatan gratis selama satu tahun. Itu salah satu hadiah yang diberikan Guild karena mereka berhasil bertahan dari kejaran Dewa Kematian. Meski begitu, mereka hendak menolaknya."


"Kenapa?"


"Mereka merasa tidak berhak mendapatkannya. Mereka serentak percaya bahwa nyawa mereka sendiri telah dilindungi oleh Anda, jadi mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk Anda, Tuan Kagami."


Kagami mendesah berat seakan berpikir bahwa itu adalah hal merepotkan. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa dan memerhatikan langit-langit. Tidak lama, dia lalu bergegas bangkit dari lamunannya.


"Oya, kira-kira di mana aku bisa mendaftarkan sebuah perusahaan baru?"


"Perusahaan baru?"


"Ya, contohnya seperti perusahaan dagang atau semacamnya."


"Oh, jika itu, Anda bisa membicarakannya dengan Baron Alza dan Guild Pedagang."


"Um, begitu ya ...."


Merasa penasaran dengan pertanyaan yang baru saja diajukan Kagami. Valtos mengerutkan keningnya dengan rasa ingin tahu seperti anak kecil.


"Omong-omong, apakah Anda akan mendirikan sebuah perusahaan dagang?"


"Yup, begitulah."


"Perusahaan apa itu nanti?"


"Hmm, hanya perusahaan senjata dan perlengkapan tempur, untuk saat ini. Yah, mungkin bisa berkembang lebih besar lagi suatu saat."


"Whoa, aku menantikan kabar baiknya di masa depan."


"Um, tunggu saja. Itu tidak akan lama kok."


***


Setelah menyelesaikan beberapa masalah kecil dan mendapat informasi ringan untuk mendirikan perusahaannya, Kagami dan Lily bergegas kembali ke penginapan. Di tengah jalan, mereka tiba-tiba bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang dipukuli orang dewasa. Entah apa maksudnya itu, Kagami dan Lily langsung melerainya.


"Hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan kepadanya?"


Tiga orang menoleh dengan wajah beringas. Wajah ketiga pria itu seakan menantang Kagami yang hanya membawa anak kecil. Mereka menjauh dari bocah yang telah dipukuli dan berjalan ke arah Kagami dengan ekspresi angkuh.


"Oi, oi, ada yang mengganggu kesenangan kita nih."


"Ya, ya, tidak disangka, kita malah mendapat mangsa baru."


"Baiklah, sekarang akan menjadi giliranku."


Melihat mereka lebih suka berbuat kasar, Kagami segera berbisik kepada Lily untuk memanggil beberapa prajurit penjaga. Gadis kecil itu dengan cepat melesat kabur dengan lincah. Salah satu dari tiga pria itu hendak mengejarnya.


"Oi, gadis itu mau kabur!"


"Kejar dia!"


Suara ambruk kemudian terdengar sangat jelas. Ketika salah satu dari mereka hendak mengejar Lily, Kagami lebih dahulu menembaknya dengan peluru pelumpuh. Dua di antaranya terperangah dengan kecepatan serangan itu, sayang sekali, mereka tidak tahu siapa itu Kagami. Yang mereka tahu, lawannya saat ini membawa senjata sihir tipe jarak jauh yang aneh.


"Si-Sialan kau!"


"Kita serang bersama!"


"Ou!"


Keduanya langsung berlari gesit ke arah Kagami, tetapi lelaki itu terlalu sulit dikalahkan oleh dua pria tersebut. Kagami meluncur bak kilat dan memukul perut pria yang berdiri di sebelah kiri, lalu memukul tengkuk pria yang berada di sebelah kanan.


Mereka ambruk begitu saja menghadapi lawan tak dikenal. Setelah itu, Lily kembali bersama empat orang penjaga. Dan merekalah yang akan mengurusi ketiga pria itu dengan tuduhan penganiayaan.


"Terima kasih atas kerja sama Anda, Tuan Kagami."


"Um, terima kasih juga atas kerja keras Anda."


Mereka berpisah. Lalu, Kagami dan Lily mendekati bocah laki-laki yang meringkuk kesakitan sembari memegangi perutnya. Dia melihat beberapa luka lebam di kaki dan wajah. Tentu Kagami tahu, itu hanya luka yang terlihat, pastinya ada luka lain yang saat ini belum dia periksa.


"Hei, Nak? Di mana rumahmu?"


"Uuu ...."


Dia meringis menahan rasa sakit dan tidak menjawab pertanyaan Kagami, hingga akhirnya anak itu pingsan sembari menunjuk jauh ke sebuah ujung gang. Walau hanya melihat dengan tatapan dingin, Kagami memiliki rasa simpati tinggi kepada anak itu.


"Kau masih beruntung hanya dipukuli, Nak. Di duniaku, kau akan menjadi mangsa para peneliti sialan ...," gumamnya pelan tanpa memberi kesempatan Lily untuk mendengarnya.


"Rico! Rico! Di mana kamu, Rico?"


Sebuah suara lantang terdengar dari ujung gang. Di sana terdapat siluet asing yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kagami. Tidak lama, sosoknya kian terlihat jelas. Dia adalah seorang wanita dengan rambut hitam panjang.


Wanita itu memakai pakaian biasa selayaknya warga sekitar. Melihat ada anak kecil yang terbaring lemas di hadapannya, dia segera mendekat dengan kepanikan yang tak tertahankan.


"Tidak, bukan begitu. Tadi ada beberapa preman yang mengeroyoknya. Tetapi tenang saja, pelakunya sudah ditangkap oleh para prajurit."


"Be-Begitu, kah? Ah, maaf. Saya telah salah paham kepada Anda."


"Tidak apa. Apakah kau tahu rumahnya?"


"Um, dia tinggal di panti asuhan kami. Mari kita bawa dia terlebih dahulu."


"Baiklah."


Kagami menggendong bocah bernama Rico dan membawanya pergi ke sisi lain dari gang tersebut. Dengan dipandu seorang wanita, dia telah sampai di sebuah rumah tua, tetapi terlihat bersih dan rapi.


Kondisi tersebut langsung membuat jantung Kagami berdegup kencang. Dia berhenti berjalan dan mengamati wilayah sekitar dari panti asuhan tersebut.


Bukankah tempat ini terlalu buruk untuk disebut sebagai panti asuhan?


Dia pikir rumah itu terlalu berbahaya untuk di huni. Tidak, bahkan rumah seperti itu harus direkontruksi.


"Apa yang Anda tunggu? Cepat, kita harus segera menyembuhkan luka-lukanya."


"I-Iya."


Kagami segera tersadar dari lamunannya. Pria itu melangkahkan kakinya ke teras rumah yang terbuat dari papan kayu. Saat dia memberi beban pada kakinya, papan kayu tersebut berbunyi. Dia sesaat menghentikan langkahnya, sebelum akhirnya melanjutkan ke dalam.


Setelah masuk ke dalam, wanita itu menyuruh Kagami menaruh tubuh Rico di ranjang tua dengan kasur kapuk yang lusuh. Kemudian dia keluar ke ruang tamu.


Beberapa wanita lain segera mengobati luka memar di tubuh Rico dengan obat tradisional. Tidak lama, wanita yang sebelumnya menjumpai Kagami sembari membawa minuman berupa teh hangat.


"Anda tidak perlu repot-repot."


"Tidak apa. Kenyataannya Anda telah menyelamatkan nyawa anak itu."


Begitu tahu bahwa Kagami bukan orang yang melukai Rico, melainkan orang yang menyelamatkannya, sikap wanita berubah menjadi lebih formal.


"Maaf atas sebelumnya. Perkenalkan, nama saya Erika. Saya adalah cucu dari pemiliki panti asuhan ini."


"Namaku Kagami, petualang biasa. Salam kenal."


Wanita yang berada di usia yang sama dengan Kagami itu tersentak kaget. Dia meyadarkan diri sebelum lamunan menyambangi kepalanya dan segera menunduk untuk memberi sedikit rasa hormat.


"Terima kasih telah menolong anak asuh kami. Sebenarnya tadi dia bermain-main terlalu jauh, sehingga saya dengan panik segera mencarinya."


"Tidak perlu berterima kasih, aku tadi hanya tidak sengaja lewat."


"Tetap saja, itu menjadi bantuan besar. Saya sendiri tidak tahu harus melakukan apa jika melihat para preman itu."


Kagami meminum tehnya untuk memberi jeda dalam pembicaraan. Tidak lama seorang wanita yang berada di usia sekitar 70 tahun muncul dari suatu ruangan. Dia melihat Kagami yang tengah berbincang dengan Erika, lalu mendatangi keduanya.


Wanita itu dipenuhi uban dan keriput, memakai daster biasa berwarna jingga yang sederhana. Dia lantas menyapa Kagami.


"Apakah anak muda ini yang telah menyelamatkan Rico, Erika?"


"Ah, nenek? Iya, dialah yang telah menyelamatkan Rico."


"Hmm, kau terlihat masih muda. Mungkin seumuran dengan Erika."


Gadis yang disindir itu sedikit menunduk dengan wajah memerah.


"Haha, senang bertemu dengan Anda, nama saya Kagami, saya petualang biasa."


"Oh, cukup sopan untuk seorang petualang, ya. Aku rasa kau orang yang baik, bukankah begitu, Erika?"


"Eh? Ah, iya, Nek."


Wanita tua itu duduk di kursi dan melihat gadis kecil yang berada di balik jubah Kagami. Lily bersembunyi dan hanya mengintip karena memiliki rasa malu saat pertama kali berkunjung di rumah orang lain.


"Perkenalkan, namaku Yuika Habane, aku pemiliki panti asuhan ini."


Kagami terkejut mendengar nama yang seakan tidak asing itu. Dia melihat wanita itu dengan mata setajam pedang. Bahkan tatapannya terlalu berlebihan untuk ditunjukkan kepada seorang wanita tua.


"Ah! Saya lupa sesuatu. Perkenalkan, ini Lily, dia adalah anak angkat saya."


Kagami memperlihatkan Lily yang bersembunyi di balik jubah hitamnya. Dia menepuk kepala Lily agar lebih tenang dan terbiasa dengan suasana baru tersebut.


"Oh, anak angkat kah? Apakah kau juga sudah memiliki istri?"


Erika terkejut dengan ucapan neneknya, dan segera melihat Kagami, tetapi pada akhirnya gadis itu kembali menurunkan pandangannya. Kagami tersenyum tipis sembari masih menatap tajam wanita itu.


"Haha, kau tidak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu jawabannya."


"Tunggu! Nenek tidak boleh mempermainkan seseorang seperti itu!"


Erika melancarkan protes. Justru dialah yang merasa dipermainkan dalam percakapan tadi. Karena itulah dia belum sempat mendengar jawaban Kagami dan langsung dipotong neneknya.


"Jadi, Nak Kagami, apakah basismu sebagai petualang berada di kota ini?"


"Ya. Ups! Maaf atas kelancangan saya sebelumnya. Saya akan memperkenalkan diri lebih jelas. Nama saya adalah Kagami Kiriyama, saya berasal dari Bumi."


"Kau! Apa?!"


Wanita itu langsung terkejut seakan hendak melompat dari tempat duduknya. Dia melebarkan matanya saat melihat anak muda di depannya. Dia memperhatikan dengan teliti dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Di sisi lain, Kagami menyeringai seakan menjatuhkan bom di pembicaraan tersebut. Dia tahu, nama dari wanita itu sedikit familier ditelinganya. Setelah memberikan kalimat yang seharusnya diketahui orang tertentu, dia langsung mendapat keyakinan penuh.


"Jika umurmu semuda ini, kau pasti tidak datang dari masa yang sama denganku, 'kan?"


"Itu benar, Nek. Aku datang beberapa bulan lalu."


"Apa maksudnya ini?"


"Tidak apa, sementara lupakan saja kata-kataku tadi."


"Eh? Ada apa sebenarnya ini?"


Erika yang tidak tahu apa-apa menjadi penasaran dan bertanya, sayangnya tidak ada yang merespon.


Lelaki itu melihat sekelilingnya. Rumah yang menjadi panti asuhan itu memang bersih, tetapi dari segi lain, itu terasa mengkhawatirkan. Beberapa bagian dindingnya telah retak, warna catnya memudar. Sedikit bagian di langit-langit berlubang.


"Kenapa Anda tidak merenovasi bangunan ini?"


"Ini hanya bangunan tua peninggalan suamiku. Kami tidak punya banyak uang untuk melakukannya."


"Oh, masuk akal juga ...."


"Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan, Nak? Apa kau datang ke dunia—maksudku kemari hanya untuk mendapatkan informasi? Jika itu yang kau inginkan, maaf, aku tidak terlalu ingat banyak informasi."


"Jangan kaku begitu, Nek. Aku datang karena tidak sengaja menyelamatkan anak asuh Anda."


"Benarkah?"


Tatapan wanita tua itu menjadi tajam setelah tahu bahwa Kagami berasal dari Bumi. Kagami mengangkat tubuh Lily di balik jubahnya dan memindahkannya di pangkuannya, tetapi gadis itu langsung memberontkan dan memeluk Kagami dari depan.


"Papa! Jangan begitu!"


"Haha, maaf, Lily. Kau tidak perlu sampai takut begitu."


"Tetapi aku benar-benar takut!"


Kagami merasa aneh. Jika hanya malu, dia tidak seharusnya sampai ketakutan. Bahkan tubuhnya mengigil dan bergetar kuat. Lily mengeluarkan seringai kecil dan menggeram seperti melihat sesuatu yang jahat.


Merasakan keanehan dari anaknya, Kagami mengikuti arah di mana Lily memandang sejak tadi. Dia selama ini bukan memandang pada dua sosok manusia di hadapannya, tetapi sesuatu di belakangnya.


"Tenanglah, Lily. Biarkan papa yang mengurusnya."


Kagami melihat ke belakang dua orang itu dan mengambil pistolnya.


"A-Ada apa, Tuan Kagami?"


Erika bertanya dan tidak mendapat tanggapan. Sedangkan Yuika hanya mengerutkan dahi dan memandang ke arah belakangnya. Kagami berdiri dan mengarahkan pistolnya ke dinding. Suara angin tertiup bersamaan dengan kilatan cahaya yang melesat.


Kemudian terdengaran suara benda jatuh. Kedua orang lainnya menoleh ke sumber suara. Di sana, terdapat sebuah makhluk dengan kulit hitam dengan corak merah tua. Bentuknya menyerupai ngengat raksasa.


Namun yang lebih mengejutkannya lagi, makhluk itu tadi awalnya tidak terlihat. Setelah terjatuh akibat tembakan Kagami, makhluk itu terkapar di lantai.


"Astal Stage 1?! Nak, bagaimana kau bisa tahu?"


"Nenek! Makhluk apa itu?!"


Erika menjadi panik dan merangkul neneknya, sedangkan wanita tua itu hanya memandang biasa Astal tersebut. Yuika menoleh dan menatap Kagami yang tengah memasukkan pistolnya ke holster.


"Karena Lily ketakutan, itu menjadi sedikit aneh. Dia tidak terlalu takut dengan manusia, tetapi setelah melihat reaksinya dan mengamati keadaan di sekitar ruangan, aku mendapati makhluk itu."


Kagami lantas mendekati Astal tersebut. Dia mengangkat tubuh makhluk itu dan memasukkannya ke dalam penyimpanan Device.


"Wow, makhluknya itu menghilang," ungkap Erika, dipenuhi kekaguman.


Karena hanya Astal Stage 1, hawa keberadaannya hampir tidak terdeteksi olehku. Benar-benar membuatku terkejut saja.


"Yah, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Hari akan segera menjelang sore. Oh iya, ada sedikit hadiah untuk kalian. Terima ini dan gunakan sebijak mungkin."


Dia mengambil kantong uang dari Device dan melemparkannya kepada Erika. Gadis itu menangkapnya dan sedikit merasa keberatan dengan beban yang tiba-tiba memenuhi tangannya.


"Hanya ada beberapa koin saja, jadi berhematlah. Sampai jumpa, Nenek."


"Dadah, Nek!"


Kagami dan Lily keluar dari rumah itu sembari melambaikan tangan. Yuika hanya menatap heran kepada pemuda itu dan melihat apa isi dari kantong yang baru saja dia berikan.


"Nenek! Lihat ini, Nek!"


"Ada apa?"


Yuika memandang ke kantong yang telah dibuka oleh cucunya. Karena kehebohan itu, beberapa wanita yang menjadi pengasuh pun keluar untuk bergabung dengan mereka.


"I-Ini ... 100 koin emas asli. Nek! Koin emas, Nek!"


"Eh, dari mana datangnya semua koin ini?"


Kehebohan terjadi pada tempat itu, membuat beberapa anak kecil yang tengah tidur siang menjadi bangun dan keluar dari beberapa kamar. Mereka berkumpul mengerubungi Yuika dan Erika seperti semut yang menemukan gula.