The Irregular Lifeforms

The Irregular Lifeforms
Chapter 11 - Pakaian Baru Lily



Kami berdua berpisah dengan Airi dan ibunya setelah sampai


di gerbang kota Parriot. Kini mereka dapat kembali tenang, masalah penculikan


itu telah teratasi, dan aku pun sekarang dapat menikmati waktu beristirahat.


Aku membawa Lily ke Nouvo inn. Begitu memasuki ruangan


kedai, semua mata tertuju kepadaku. Tidak, itu tertuju pada seseorang yang kini


bersembunyi di belakangku. Para pelanggan yang melihat kami seakan menampakkan


wajah tak nyaman.


Lily bersembunyi di balik pakaianku, tangan dan tubuhnya


gemetar penuh ketakutan dengan banyak pasang mata mengarah kemari. Luna yang


awalnya berada di meja kasir pun segera menghampiriku dan menarik tanganku.


“Tunggu dulu, Kagami! Siapa gadis kecil itu? Jangan bilang


dia adalah budak? Terlebih rupa itu... kenapa kau membawanya ke dalam sini?”


“He? Kau tidak mengatakan larangan tentang budak kepadaku?”


“Benarkah? Yah, pokoknya cepat ikut aku ke belakang! Bawa


juga gadis itu!”


Dia berbisik dengan nada marah. Lantas aku mengajak Lily ke


belakang. Saat kuperhatikan baik-baik. Luna berdiri tegak dengan kedua


tangannya yang berada di pinggangnya. Dia pasti meminta penjelasan dariku.


“Jadi, siapa gadis kucing ini? Jelaskan apa yang sebenarnya


telah terjadi!”


Cih, sudah kuduga.


“Namanya Lily, dia adalah budak yang kubeli sewaktu berada


dalam perjalanan kemari.”


“Ha? Kenapa kau harus membeli budak? A-apakah aku masih


tidak cukup bagimu?”


“Tunggu—apa maksudmu?”


“Eh? Lupakan! J-jangan dipikirkan!”


Wajah Luna mendadak menjadi merah padam. Apa yang baru saja


terjadi padanya? Apakah dia sedang demam?


Karena kurasa perdebatannya akan semakin panjang, aku kemudian


menceritakan kejadian yang telah kulalui hari ini. Yah, sedikit melelahkan dan


keterlaluan sih. Kuharap dia tidak menertawakanku ketika mendengar cerita di


mana aku telah ditipu oleh Airi.


Penjelasan selesai sedikit lebih lama dari dugaanku. Dia terkejut.


Dengan tubuh membeku dan mulut terbuka. Luna tidak mengira bahwa aku akan


bertemu dengan keluarga bangsawan. Di pikirannya, aku pasti akan segera


mendapat kabar bagus, seperti hadiah prestasi kepahlawanan.


Yah, aku meninggalkan Luna yang masih membeku. Karena Lily


terlihat kotor dengan hanya menggunakan sepotong kain lusuh, aku membawanya ke


kamar mandi dan memandikannya.


Karena peraturan tak tertulis mengatakan bahwa budak


dilarang memasuki kedai, terutama budak ras binatang. Hal itu karena mereka


dianggap kotor dan memperburuk pemandangan di sekitarnya.


Tapi kini Lily telah bersih dan wangi selayaknya gadis lainnya.


dan memakaikannya. Terlihat sangat kebesaran, tapi dia menjadi terlihat lucu


dan imut, terlebih kedua tangannya yang tak terlihat akibat lengan panjang


tersebut.


Aku meminta jubah seadanya kepada Luna, dan dia memberi satu


yang cukup hangat. Kemudian aku memberikannya kepada Lily. Budak jenis manusia


masih diperbolehkan tidur di penginapan, tapi untuk budak binatang, mereka


harus tidur di kandang kuda, tempat para pelanggan kami memarkirkan kereta


kudanya.


Namun, sangat jelas aku menolak sikap buruk itu. Terlebih


Lily begitu imut, mana mungkin aku akan membiarkannya tidur di tempat seperti itu.


Karena itulah, aku menyuruhnya tidur di kamarku saja. Karena tidak mungkin


untuk menyewa kamar lain.


Lily memasuki kamarku, dia terlihat ragu-ragu. Tapi karena


aku bersikeras memaksanya, dia akhirnya menurut.


“Ya, ini hanya tempat kecil. Tapi gunakanlah sesukamu.”


“Tidak mungkin! Bukankah ini berlebihan? Apakah aku akan


tidur bersama Master?”


“Memangnya kenapa? Itu lebih aman dan nyaman dari pada


kandang kuda ‘kan?”


“Ta-tapi aku ini budak.”


Lily menundukkan wajahnya. Tidak masalah bagiku. Sejak awal


aku tidak suka membeda-bedakan orang lain.


Malam yang dingin itu. Kami pun segera tidur. Dia awalnya


dipenuhi keraguan, tapi karena tak dapat menahan rasa kantuknya, dia tertidur


di sampingku.


***


Pagi ini, aku terbangun dengan tenang. Ah, aku bersyukur


sekali dapat menikmati pagi yang tenang dan nyaman tanpa suara trompet yang


bising di setiap pagi.


“Selamat pagi, Master. Cuaca hari ini berawan. Suhu mencapai


16 derajat Celsius.”


“Uah, pagi juga, Alvis.”


Mataku kembali melihat atap yang sudah tak asing. Suhu di


tempat ini begitu dingin, tapi aku masih dapat merasa hangat, bukan hanya


karena ada selimut tebal ini. Tapi....


Aku membuka selimut yang terlihat mengembang pada sisi


kiriku. Di situ, Lily meringkuk seperti bola sambil memeluk ekornya. Sepasang


telinganya menutup, tak beberapa lama itu terbuka dan bergerak-gerak seakan


mendengar suara. Punggungnya menempel di tubuhku, bahkan dia mendesakku seakan


menginginkan seluruh ranjang ini.


“Selamat pagi, Lily.”


LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com