
Di sebuah hutan yang berada di gunung, terdapat sebuah kuil tua yang masih berdiri kokoh. Hiasan cantik dan megah berupa lampion terpampang rapi di depan kuil tersebut. Sepasang patung berbentuk rubah menjadi gerbang masuknya, menyambut semua orang yang hendak memasukinya untuk berdoa kepada dewa atau memberi persembahan.
Seorang gadis bertelinga rubah dengan rambut panjang keemasan tengah duduk anggun, menemani seorang pria tua. Dengan pelan, pria tua itu meneguk secangkir teh hangat yang disiapkan oleh gadis rubah tersebut.
“Haa ... nikmat sekali. Kau sangat pintar membuat teh, Schana.”
“Terima kasih atas pujian Anda, Dewa.”
Pria tua dengan rambut beruban itu menaruh gelasnya. Dia lalu menatap gadis rubah itu dengan wajah bersimpati.
“Apa kau yakin, tidak ingin menikah di usia yang telah matang ini?”
“Tidak. Dunia ini masih dalam kekacauan besar sejak adanya makhluk misterius dari dunia lain itu. Apakah Anda tidak dapat melakukan sesuatu?”
“Maaf, meski begitu. Aku tidak dapat memihak kepada satu ras saja. Walaupun mereka adalah ras iblis, mereka masih memiliki hak untuk tinggal di dunia ini.”
Gadis itu menggertakkan giginya. Dia memendam amarahnya di saat tidak dapat melakukan banyak hal untuk menjaga keseimbangan dunia ini, meski hal itu bukan kewajibannya.
“Lalu, apa yang kau inginkan sampai harus memanggilku kemari?”
“Aku ingin melakukan pengorbanan.”
“Apa kau yakin? Kau masih terlalu muda untuk melakukan hal itu, Schana.”
“Tidak apa. Ini adalah keinginanku sendiri.”
Pria tua itu menghela napas berat. Sorot matanya terlihat begitu sedih mendengar pernyataan gadis tersebut.
“Untuk menjaga keseimbangan dunia ini. Aku akan mengorbankan jiwa dan ragaku dalam dimensi waktu dan menyegel para makhluk misterius itu dari dunia ini.”
“Itu terlalu nekat. Tetapi apa yang kau inginkan sebagai gantinya?”
“Aku ingin suatu saat ada seorang pria yang menyelamatkanku dan akan menjadi pahlawan dunia ini untuk mengalahkan makhluk-makhluk itu.”
“Tidak perlu memiliki ras yang sama denganku. Siapa pun dia, aku ingin dia membuktikan dirinya pantas sebagai pahlawan dunia ini. Dan Anda akan menjadi saksi atas penyerahan diriku kepadanya.”
“Dan kau akan benar-benar menerimanya sebagai suamimu suatu saat nanti?”
“Ya.”
Pria tua itu menaruh tangan kanannya di dagu dan berpikir sejenak. Dia berusaha memikirkan keputusan gadis tersebut. Apakah akan berhasil dalam waktu dekat, atau hanya perlu menunggu hingga waktunya tiba, kapan pun itu.
“Baiklah, itu hal yang mudah. Aku akan menjadi saksi atas bukti pernikahan kalian nanti. Tetapi selama pria yang pantas itu belum datang, kau akan tetap tersegel di dalam kuil ini, Schana. Aku akan memindahkan kuil ini ke tempat lain juga sebagai tempat ujian bagi pria itu nantinya.”
“Terima kasih, Dewa.”
“Ah, dan juga satu lagi. Aku yakin, pria itu nantinya akan sangat menarik bagimu dan akan sangat berbeda dari pria di seluruh dunia ini.”
Wajah gadis itu berubah memerah. Dia tersipu hingga memalingkan wajahnya saat pria tua itu memberi tahukannya sedikit bocoran masa depannya.
Saat ini, wajah gadis rubah itu tidak terlalu berubah meski 20 tahun semenjak penyegelan itu dilakukan. Sosoknya yang dewasa membuatnya terlihat sebagai wanita muda yang penuh gairah dan memiliki tatapan menenangkan hati semua orang yang melihatnya.
Dengan mata yang terbuka lebar dan dipenuhi kejutan yang belum pernah dia temui. Wanita itu tak henti-hentinya menatap pertarungan antara Kagami dan ular naga tersebut. Bahkan Lily yang di sampingnya pun seakan tidak dipedulikannya.
Kagami melesat ke berbagai arah secara acak dan membingungkan penglihatan ular naga tersebut. Tatapannya yang tajam tak pernah beralih dari tubuh sang lawan, seakan dia adalah pemangsa di atas buruannya. Ular naga itu mengibaskan ekor dengan kekuatan penuh. Tetapi kerusakannya ditahan oleh perisai sihir milik Kagami.
Bagaimana pun, serangan seperti itu tidak akan mempan kepadanya yang telah ratusan kali mendapat serangan dari Astal yang memiliki pola serangan lebih agresif dan mematikan. Seakan Astal tidak memiliki tandingan dalam membuat kehancuran, Kagami dengan mudah menembak ekor ular naga itu hingga putus.
“Ghaaa ...!”
Makhluk itu berteriak keras, membuat suara yang terdengar seperti menangis pilu. Sisiknya yang keras seperti tidak berguna saat melawan peluru plasma milik Kagami.
Laki-laki itu bahkan tidak ragu mengganti pistolnya dengan senapan mesin yang telah diisi peluru plasma, sehingga memiliki daya penghancur lebih besar.
LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com