
Lagi, lagi, lagi ... hanya membunuh 100 atau 200 Astal tidak akan menyelamatkan dunia ini. Kami harus melakukannya lagi. Lebih banyak, lebih banyak lagi. Apakah ini hukuman dari tuhan? Kenapa kami harus menderita seperti ini? Apakah tuhan benar-benar melihat perjuangan kami?
Entah berapa banyak nyawa yang telah melayang. Berapa banyak orang yang masih bertahan? Yang masih berjuang keras mengangkat bendera kemerdekaan melawan para iblis mematikan itu. Aku sendiri tidak tahu, apakah diriku masih dapat berharap akan kebebasan umat manusia dari segala upaya yang telah dilakukan ini.
"Kakak, di sebelah sini sudah selesai. Apakah kita harus berpindah ke tempat lain?"
"Tidak, kita berhenti sampai di sini dulu. Kak Leon bisa memarahiku jika melihat kalian berdua terluka akibat kelalaianku."
"Siap!"
"Siap!"
Namaku adalah Ardi Pamungkas, komandan sementara Divisi Pemusnahan Massal. Hari ini awan begitu merah seperti darah. Langit hitam tak kunjung menghilang. Yah, mau bagaimana lagi? Namanya juga malam hari. Tetapi fenomena awan merah itu adalah hal baru sejak kemunculan Astal. Apakah atmosfer juga terinfeksi oleh virus Regan?
Kami bertiga menyelesaikan misi pemusnahan di Makassar. Kembali setelah bekerja selama empat hari penuh benar-benar membuat tubuhku lelah. Aku ingin segera sampai dan mandi dengan air hangat.
"Ah ... kapan kak Leon akan kembali? Kita di sini sangat kesulitan jika tidak ada dia!"
"Tenangkan dirimu, Sita! Kita tidak dapat berkembang jika selamanya mengandalkan kak Leonhart."
"Tetapi aku tidak mau berpisah terlalu lama dengannya! Hua! Hya!"
Gadis itu menangis lagi. Sudah ke sekian kalinya dia menangisi hilangnya komandan kami, Leonhart Tjandra Kiriyama. Manusia setengah Astal terkuat yang pernah ada di dunia ini. Dia di kenal sebagai Iblis Nusantara setelah menyelesaikan misi pertamanya di Nusa Tenggara Barat.
Banyak orang bilang, dia adalah harapan dunia untuk mengembalikan masa kedamaian manusia. Ya, para politisilah yang mengatakan hal tersebut. Tetapi mereka tidak tahu siapa kak Leon sebenarnya.
Angin mulai berembus kencang, terdengar suara bising yang menyebar dari langit. Sebuah helikopter, mereka menjemput kami tepat waktu. Yup, sekarang waktunya pulang.
***
Dia adalah wanita berusia sekitar 25 tahunan. Perawakannya yang tinggi dan langsing, membuat banyak pria berusaha mendekatinya. Tetapi setelah pernyataannya yang mengerikan, nyali para pria mulai menciut.
"Aku tidak akan menikahi pria yang tidak mampu mengalahkan seekor Astal Stage 8 sendirian!"
Begitulah yang dia ucapkan, meski keterlaluan, tetapi itu hanya alasan agar dia tidak menikah dengan pria sembarangan. Bagaimana pun, hanya kak Leon yang saat ini memegang rekor sebagai pembunuh Astal Stage 9 sendirian dalam waktu 16 jam.
"Selamat datang kembali, Letkol Ardi, apakah di sana baik-baik saja?"
"Huft, kepalamu sudah rusak jika masih bertanya keadaan di sana baik-baik saja."
"Pasti di sana sangat kacau. Lalu bagaimana misinya?"
"Kami berhasil memusnahkan 428 ekor Astal dari Stage 1 hingga Stage 5."
"Hanya itu?"
Aku mengabaikannya. Apanya yang 'hanya itu'? Mereka datang bersamaan dan kabur bersamaan. Bagaimana aku bisa mendapat jumlah lebih? Jika saja kak Leon ada di sini, kami mungkin bisa membunuh lebih dari seribu Astal dalam waktu lebih singkat.
Wanita itu bernama Regina Crushart, direktur di markas ini. Dia juga salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam pembuatan senjata khusus untuk melawan Astal. Tanpa dia, mungkin dunia ini akan lebih hancur lagi. Kami segera memasuki gedung tersebut dan mengganti pakaian kami. Setelah itu, aku menemui wanita itu sekali secara pribadi di ruangannya.
"Meski bekerja sama dengan TNI, tetapi hanya kau yang mengerti kemampuan penuh kami, Direktur."
"Itu tidak sepenuhnya benar, aku bisa memperkirakan kekuatan kalian karena adanya data statistik yang lebih detail."
"Lalu apa yang Anda ingin saya lakukan untuk ke depannya?"
LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com