
Dua hari yang lalu semenjak penyelamatan para anggota
bangsawan kota ini. Kedai semakin diramaikan oleh para petualang. Banyak dari
mereka adalah para laki-laki yang ingin berteman denganku. Tetapi siapa yang tidak
tahu siasat licik itu.
Mendekati orang lain dan berusaha akrab secara tiba-tiba,
kemudian memanfaatkannya dengan tanpa belas kasih. Hal itu sudah sering terjadi
di duniaku sebelumnya. Bahkan terlalu sering hingga aku muak melihat wajah
orang yang sama itu. Terlebih kalau mereka adalah bagian dari pemerintah. Aku
seperti ingin menghancurkan mereka hingga ke akar-akarnya.
Lambat laun, aku mulai merasa nyaman tinggal di dunia ini.
Menjadi satu-satunya orang yang berasal dari dunia lain bukan berarti aku harus
mencurigai mereka semua dan menghindari masalah sosial. Kini pun aku memiliki
dua orang teman yang cantik yang pastinya dapat kupercayai.
Aku melihat Luna tengah menyiapkan sesuatu di meja kasir.
Sedangkan Lily, gadis kecil itu membersihkan meja kedai, seperti yang kulakukan
sekarang.
“Lily, jika di situ sudah selesai, tolong bersihkan juga
meja di pojok sana!”
“Baiklah, Master.”
Dia bergerak lincah melewati meja-meja dan segera menuju ke
tempat yang aku tunjuk. Dia begitu senang sambil mengibaskan ekornya walau
hanya sedikit membantu di kedai ini. Itu pun ketika tidak ada pelanggan. Karena
jika pelanggan tahu, mungkin mereka akan jijik untuk kembali ke tempat ini
lagi.
Kling! Bunyi lonceng terdengar tiba-tiba. Ini masih belum
waktunya buka, tetapi siapa yang masuk sekarang?
“Selamat pagi, apakah ada orang?”
Suara merdu tersebut segera menggema di ruangan ini. Gadis dengan
rambut panjang yang mengenakan blus putih dan rok hitam pendek selutut itu
terlihat anggun ketika memasuki kedai.
“Eh? Nona Airi? Kenapa Anda bisa datang ke sini? Kagami, apa
kau yang menyuruh nona Airi datang kemari?”
“Tentu saja tidak mungkin!”
Luna begitu terkejut dengan kehadiran Airi, begitu pun
diriku. Lagi pula untuk apa gadis itu datang kemari?
“Kagami! Aku mencarimu! Ikutlah bersamaku! Aku ingin
memperkenalkanmu pada ayahku!”
ayahnya? Aku tidak memiliki urusan politik dengan beliau.
“Ta-tapi ....”
“Sudahlah ikut saja!”
Gadis itu mendadak meraih tangan kananku dan menariknya
menuju ke luar.
“Master!”
Aku menoleh ke Lily saat kudengar panggilannya yang sedikit
lemah. Gadis itu membuat wajah sedih. Ekornya menggantung lemas bersamaan
dengan kedua telinganya yang menutup. Ah, lagi-lagi tatapan itu.
“Kau mau ikut, Lily?”
“Hn!”
“Eh, tetapi, Kagami?”
“Jika Lily tidak boleh ikut, aku juga tidak akan ikut!”
Aku sedikit mengancam Airi. Yah, aku orang bodoh yang dengan
berani mengancam anak seorang bangsawan. Kuharap tidak ada hukuman mati hanya
untuk hal sepele itu.
“Baiklah-baiklah. Kau boleh mengajak gadis kecil itu.”
Kami kemudian keluar dari Nouvo Inn dan menuju ke kereta kuda.
Di sana terdapat seorang perempuan berpakaian seperti ksatria penjaga. Apakah
di dunia ini juga ada ksatria wanita juga?
“Nona Airi? Siapa laki-laki yang Anda bawa?”
“Oh! Dia adalah Kagami. Dia yang menyelamatkan aku dan ibu.”
“Apakah tidak apa membawa laki-laki mencurigakan seperti
dia? Bisa saja dia memanfaatkan para penculik itu untuk mendekati Anda.”
“Eh?”
Kalimat perempuan itu sedikit nyelekit. Jika saja bukan
karena dia lawan jenis, aku pasti akan mengarahkan pukulanku ke wajahnya.
“Jika kau tidak suka kepadaku, tinggalkan aku dan biarkan
aku kembali bekerja!”
Aku sedikit menggertak agar Airi segera memberi jawabannya.
Jika dia hanya terdiam setelah mendengar perkataan perempuan itu, maka tidak
ada gunanya aku menerimanya.
“Tenanglah, Kagami! Tee-hee. Aku tidak akan mencurigaimu kok.
Dan juga untukmu, Miuna, jangan berkata terlalu kasar begitu, kau ‘kan seorang
gadis!”
LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com