
Unit 1 Divisi Pemusnahan Massal yang sementara dikomandoi oleh Ardi, kini menuju ke lokasi bersama dengan Albert. Demi mengungkap hilangnya komandan mereka, Unit 1 akan melakukan investigasi lebih lanjut.
Setelah turun dari mobil, mereka mengamati sebuah bangunan biasa yang menjadi awal hilangnya Kagami. "Jadi ini lokasinya ...," gumam Ardi. Mereka lalu memasuki tempat itu dan memulai investigasi.
"Ketika sampai di lantai bawah nanti tolong jangan kaget, ya."
"Memangnya kenapa, Albert-san?"
Tempat itu rusak parah dan dipenuhi bekas kebakaran hebat. Sebelum gerbang tertutup, Kagami sempat menyerang Bloater dengan sihir tingkat tiga.
Sesampainya di tempat, mereka keluar dari lift dan menjumpai lorong berdarah. Itu adalah lorong yang dilewati Kagami dan Albert sebelumnya sambil melawan beberapa mayat hidup. Bercak darah membekas di dinding dan akan sulit dihilangkan.
"Kak Ardi, aneh jika para peneliti bisa terbunuh dengan adanya Horde secara tiba-tiba," kata Bagas. "Itu benar, mereka pasti dipindah dari suatu tempat secara tiba-tiba menggunakan sihir ruang seperti milikmu," kata Sita menambahi."
"Kita juga belum tahu, maka dari itu tugas kita untuk menyelidiki," jelas Ardi.
"Baiklah, Kak," ucap Bagas dan Sita bersamaan.
Semakin melangkah jauh ke dalam lorong, mereka semakin menjumpai banyak bercak darah di dinding. Albert yang menjadi pemandu hanya terdiam dan tak memberi penjelasan apapun.
Tidak lama berjalan, terdapat sebuah pintu besi raksasa yang telah rusak dengan posisi terbuka. Mereka tidak perlu repot-repot lagi untuk masuk. Dan setelah memasuki ruangan terakhir, yang ada di hadapan mereka adalah sebuah kecelakaan.
"Inilah maksudku."
"Ini ...."
Ardi, Bagas, dan Sita melihat ke sekeliling. Banyak benda dan peralatan peneliti yang hangus terbakar dan meleleh. Mereka tahu betul bahwa ruangan yang setengah hangus ini baru saja menjadi arena pertempuran.
"Tidak salah lagi, ini pasti sihir kuno Grand Inferno milik Kak Leon."
"Kamu benar, Kak. Sihir Grand tingkat menengah atribut api mampu menghanguskan sebuah ruangan besar dengan mudah."
"Dan dilihat dari bekas kebakaran ini, arah sihir itu berasal dari itu."
"Aku akan melihat ke masa lalu untuk menyelidiki sedikit kerusuhan di sini, tidak apa 'kan, Albert-san?"
"Tentu, tidak masalah."
Sebagai seorang manusia Astal. Wajar jika Ardi memiliki indera keenam dan mampu melihat ke masa lalu. Sembari membiarkan Ardi fokus pada penglihatan masa lalunya. Sita maju mendekati portal dimensi.
"Aku akan memperbaiki peralatan yang rusak dengan sihir penyembuhanku. Tetapi, aku tidak bisa memperbaiki peralatan yang hancur karena terkena sihir Grand Inferno Kak Leon."
"Kenapa begitu?"
"Karena ... sihir Grand milik Kak Leon itu mengandung kutukan Astal yang kuat. Tidak ada manusia yang bisa hidup setelah sedikit saja tergores efek dari sihir Grand miliknya."
"Yah, wajar ... dia adalah manusia Astal yang diistimewakan oleh militer kalian."
Sita menutup matanya dan berkonsentrasi. Kemudian, rambutnya berubah putih keperakan. Cahaya emas kecil beterbangan di udara dan menyatu membentuk sepasang sayap yang menempel di punggungnya.
Gadis tersebut membuka kelopak matanya dan memperlihatkan pupil merah yang tajam seperti Kagami. Dia mengangkat kedua tangannya lebar-lebar disertai lingkaran sihir hijau yang muncul dari bawah kakinya.
"Back Up."
Sita menyebutkan nama sihir modern miliknya. Lingkaran sihir itu menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Peralatan yang hancur karena hantaman fisik langsung kembali pulih seperti semula seakan tidak mengalami kerusakan apapun.
Lantai yang retak dan hancur menjadi rata lagi seperti baru. Noda darah yang ada pun menghilang seketika. Tetapi seperti yang dia bilang sebelumnya, bagian yang hangus akibat Grand Inferno tidak bisa kembali pulih. Sita membatalkan mode Meister-nya dan kembali ke samping Bagas.
"Lu-Luar biasa ... inikah kekuatan sihir milik Malaikat Penyembuh yang terkenal itu?"
Albert terkagum melihat sihir Sita yang bahkan mampu memperbaiki mesin dan fondasi rusak yang lainnya. "Terima kasih," jawabnya lembut disertai senyuman manis.
Ardi membuka matanya setelah sejak tadi berkonsentrasi melihat masa lalu. Dia berjalan ke salah satu mesin yang dulunya sempat dihancurkan Bloater.
LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com