
"Eh! Apa?! Mustahil!"
Shirotaka melompat dari kursi dengan wajah bermasalah. Itu karena dia baru saja mendengar pangkat Kagami yang begitu tinggi di usianya yang masih sangat muda. Dia mengerutkan alisnya seakan apa yang di dengarnya tadi adalah sebuah candaan. Dan, ya, dia memang berharap tadi adalah candaan.
"Kau pasti bercanda 'kan? Iya 'kan?"
"Sayang, tenangkan dirimu."
"Tenanglah, Ayah."
Kagami tersenyum kecut ketika dia mendapati ekspresi Shirotaka sesuai dengan dugaannya. Itulah kenapa sebelumnya dia mengatakan dengan santai. Dia mencoba tenang sebelum akhirnya lawan bicaranya menjadi terkejut hingga melompat dari tempat duduknya.
"Itu mustahil! Itu sangat tidak mungkin! Bahkan karierku tidak sebaik itu meski aku berusaha sangat keras. Katakan! Apa yang kau lakukan sampai berada di peringkat setinggi itu?"
"Mudah saja, aku membunuh banyak Astal bersama rekan-rekanku dan mendapat kepercayaan penuh dari negaraku. Hari-hariku dipenuhi dengan permintaan pemusnahan Astal."
"Oh ... ah, jadi ... begitu."
Shirotaka menurukan bahunya yang sejak tadi menegang. Dia kembali duduk dengan sikap tenang. Mengatur napas dan pikiran, lalu kembali pada dirinya yang sebelumnya.
"Tunggu, kau bilang tadi memusnahkan Astal? Apakah keberadaan mereka itu sudah seperti hal lumrah? Di masaku dahulu, Astal dikurung dan dirahasiakan sebaik mungkin."
"Ya, mereka ada di mana-mana. Bukan hanya mayat hidup seperti yang sudah aku ceritakan, tetapi Astal juga telah menjadi ancaman nyata yang lebih tinggi."
Kagami mengoperasikan Device-nya dan mencari sebuah video dokumenter di mana itu menjadi salah satu perburuan Astal besar-besaran di setiap negara dan juga tergabung dari berbagai pasukan khusus yang telah dibentuk oleh berbagai negara besar.
Dia memerlihatkan hal tersebut kepada tiga orang yang sedang berjajar di depannya. Menonton tayangan yang muncul di udara seperti film layar lebar. Mereka terkesiap melihat makhluk seperti Astal sudah menjadi lawan sehari-hari bagi kelompok khusus pemusnah Astal.
"Tu-Tunggu dulu Tuan Kagami! Jangan-jangan Astal yang sejak tadi kau bicarakan adalah Dewa Kematian?"
Sakura menjadi penanya pertama setelah mengetahui ciri fisik antara Astal dan Dewa Kematian memiliki kesamaan. Di situ, Kagami hanya mengangguk untuk menjawabnya. Tentu saja, Sakura tidak henti-hentinya terperangah akan kenyataan tersebut.
Makhluk yang begitu ditakuti dan dihindari oleh semua orang di dunia ini. Menjadi benih kehancuran yang harus dibersihkan oleh penghuni Bumi. Sebagai salah satu dari pemusnah tersebut, Kagami memiliki andil cukup besar dan menjadi tumpuan utama.
Hanya dengan melihat video dokumenter tersebut. Mereka semua bisa tahu, sekuat apa Kagami dalam pertempuran individu maupun kelompok di saat bersama dengan rekan-rekannya. Mengetahui fakta pahit dari Bumi, Shirotaka menutupi wajahnya dengan tangan dan menghela napas berat.
"Hah ... pantas pangkatmu sangat tinggi, perjuanganmu berada di atas akal normal manusia. Jika aku menjadi bagian dari pemerintah, aku sudah mempromosikanmu menjadi Jenderal mungkin. Sekarang aku sudah tidak kaget lagi setelah mengetahui alasannya."
Dia membuat wajah bermasalah lagi, dia sempat memikirkan bagaimana nasib orang tua dan sanak saudaranya yang tinggal di Bumi. Tetapi tidak ada kemungkinan juga mereka masih hidup. Karena, wilayah di mana mereka tinggal, telah hancur dan dijadikan tempat berkumpul mayat hidup.
"Namun aku masih tidak habis pikir, untuk apa manusia itu harus melakukan percobaan menggabungkan DNA Astal dan manusia. Apakah mereka sudah benar-benar kehilangan rasa kemanusiaan mereka? Apakah mungkin ini hukuman dari tuhan? Ah ... akhir dunia dah ...."
"Sebagai manusia setengah Astal, aku sendiri juga ingin bertanya tentang hal tersebut. Pada kenyataannya, prioritas kami diciptakan dengan gabungan kedua DNA berlainan itu adalah untuk menjadi senjata umat manusia demi melawan para Astal."
"Tetapi itu sama saja mengorbankan daun muda yang seharus tumbuh normal! Jika mereka berniat merusak generasi muda, kenapa tidak sekalian saja mereka hancurkan diri mereka sendiri?!"
Shirotaka menaikkan nada suaranya, memprotes hal-hal bodoh yang telah manusia itu lakukan. Memang mereka telah semakin merusak dunia tersebut, tetapi pada akhirnya ....
"... dunia itu sudah rusak sejak lama."
Kagami dengan enteng menjawab. Ekspresinya menjadi datar, nada dingin yang muncul dari mulutnya seperti es yang disiramkan ke tubuh secara tiba-tiba. Dia membuat ruangan kembali senyap. Luciana dan Sakura pun tidak berani ikut campur pada urusan kedua pria tersebut.
Mereka berempat tertunduk tanpa ada yang membuat suara. Kemudian, Kagami mengangkat wajahnya dan memberikan pernyataan.
"Meski begitu, itulah alasan kami diciptakan, dan kami akan tetap bertempur apapun yang terjadi."
"Tetapi bukankah itu keterlaluan, Nak Kagami? Kau telah diperlakukan seperti sebuah benda oleh pemerintah ...."
"Ya, tetapi aku juga mendapatkan alasan baru kenapa aku harus bertarung."
"Alasan baru? Apa itu?"
"Untuk melindungi istri dan anakku."
Itu alasan barunya setelah setidaknya dia tinggal bersama Schana dan Lily. Dia ingin melindungi keduanya dengan kekuatannya. Dia ingin memiliki kenangan yang indah bersama mereka. Tidak peduli kesulitan macam apa yang akan dia temui, dia hanya ingin keluarga kecilnya bahagia.
Shirotaka tertegun mendengar pemikiran anak muda tersebut. Pria itu juga berpikiran sama, tetapi, entah apa yang dia lakukan saat ini salah atau tidak. Keuangannya sedang terpuruk dan dia berusaha bangkit dengan segala cara. Hanya saja, pemikiran orang di dunia ini dengan orang di Bumi itu berbeda jauh.
Dia menceritakan bagaimana mereka harus berhemat sebanyak mungkin. Menjual sesuatu yang pantas untuk dihargai meski sedikit. Bahkan putri tunggalnya terpaksa menjadi seorang petualang demi membantu kedua orang tuanya memenuhi kebutuhan.
Di saat itu, Kagami melihat sekeliling ruangan. Dia ingat bahwa Shirotaka adalah seorang pandai besi, tetapi tokonya jarang laku karena senjata yang dia jual kebanyakan memiliki bahan yang buruk. Logam yang mahal membuat para pandai besi harus pintar-pintar dalam melangkah, jika mereka tidak ingin usaha tersebut bangkrut.
"Benar, ada apa?"
"Aku punya ide bagus."
"Apa itu?"
"Aku akan menjadi distributor logam. Bagaimana? Aku sanggup menyuplai logam adamantium, mithril, orichalcum dan masih banyak lagi. Bukankah dengan itu, Anda bisa membuat senjata yang bagus?"
"Ka-Kau yakin dengan ucapanmu? Logam-logam itu tidak mudah didapat."
"Aku yakin! Aku memiliki koneksi rahasia yang bisa sangat membantu. Bagaimana? Kita bisa bekerja sama."
Shirotaka memegang dagunya dan berpikir ulang. Setidaknya pedang yang terbuat dari adamantium dapat memiliki harga sekitar 40 koin emas, itu sangat tinggi dan mendapat suplai logam seperti itu bisa menjadi sebuah mimpi indah. Hanya saja, cara membuatnya juga akan menguras pikiran dan tenaga.
Ya, koneksi rahasia yang dimaksud Kagami itu ... adalah dirinya sendiri. Membuat logam hanya seperti membalik telapak tangan, mengingat bahwa dirinya adalah ahli sihir alkimia, menciptakan logam emas, perak, dan lainnya hanya hal yang kelewat mudah. Memang itu akan menguras Mana, tetapi di dunia ini Mana-nya bisa beregenerasi beberapa kali lebih cepat.
"Jika bisa, aku juga ingin mendapat kerja sama dengan semua pandai besi dan kita bersama-sama menciptakan perusahan besar dalam pembuatan senjata. Kita juga bisa mendistribusikan senjata ke pemerintah kerajaan, sehingga keuntungan kita akan lebih besar daripada hanya menjualnya kepada para petualang. Bagaimana? Ideku hebat 'kan?"
"Hahaha! Seperti yang diharapkan dari Letjen muda, otakmu ternyata juga sangat encer."
Kagami memalingkan wajahnya sembari tersenyum kecut. Itu karena aku seorang alkemis, bodoh. Sebagai penyuplai logam aku akan menjadi pemiliki keuntungan terbesar meski hanya mendapat bagian 30 persen dari total penjualan.
"Jadi, itu bisa diterima 'kan?"
"Ya! Aku tertarik dengan idemu itu. Aku akan berusaha mengajak teman-temanku yang lain untuk bergabung."
"Um. Juga tambahkan ke dalam perkataanmu bahwa ini akan disponsori langsung oleh Kagami Kiriyama. Aku yakin mereka akan langsung setuju."
"Baiklah, akan kucoba."
Dengan memasukkan nama Kagami yang telah terkenal sebagai petualang bintang tujuh, tidak akan ada yang mencoba menghindar dari situasi menguntungkan ini. Mereka akan segera mendapat ketenaran hanya berada dalam rangkulan Kagami. Pedagang besar pun juga akan menjadi mangsa Kagami dalam penjualannya.
"Baiklah, ini sebagai awal kerja sama dan untuk penambah semangat. Aku akan memberimu 40 koin emas untuk biaya hidup keluargamu."
"Heh?"
"Ha?"
"Mustahil! Tuan Kagami, Anda serius?"
Shirotaka, Luciana, dan Sakura langsung terkejut ketika Kagami menaruh sebuah kantong di atas meja. Shirotaka segera mengecek, Luciana dan Sakura mengintip dari samping. Ketiganya terkejut ketika mendapati banyak kepingan koin emas dengan simbol kepala singa di bagian tengahnya.
Bagi Kagami, menyalin bentuk koin logam menggunakan Device begitu mudah, sehingga dia bisa menciptakan koinnya sendiri. Sejak awal, dia telah menyiapkan uang koin tersebut untuk menarik minat Shirotaka akan kerja sama. Tetapi dia tidak menduga pria itu akan segera setuju dengan idenya. Maka dari itu, dia tetap memberi uang tersebut untuk sumbangan.
Yah, di dunia ini, uang bukan masalah bagi Kagami. Tidak ada uang logam yang tidak bisa dia tiru. Dan karena memiliki sihir alkimia, dia pun bisa menciptakan logam murni. Sungguh keberuntungan yang keterlaluan.
"Kalian bisa menghitungnya terlebih dahulu jika merasa tidak yakin."
"Tidak! Kami sangat yakin!"
Shirotaka langsung menyambar pembicaraan. Ya, dia memakan umpan Kagami. Pemuda itu hanya dapat tersenyum kecut melihatnya.
"Baiklah, aku akan datang lagi untuk beberapa hari ke depan. Jadi tolong siapkan sisanya ya, Tuan Shirotaka. Aku harus segera pulang, jika tidak istriku akan marah dan mungkin akan melarangku keluar."
"I-Iya ...."
"Tu-Tuan Kagami, izinkan aku mengantarkanmu sampai depan."
"Baiklah."
Di saat Shirotaka dan Luciana masih terpana dengan jumlah koin di dalam kantong itu, Sakura pergi untuk mengantar Kagami. Sesampainya di depan rumah, Sakura menarik lengan baju Kagami. Pria itu berbalik dan menatap Sakura.
"Tu-Tuan Kagami, terima kasih banyak atas bantuanmu. Anda tidak hanya menolong saya keluar dari gua misterius itu, tetapi Anda juga menolong keuangan keluarga saya sampai sejauh itu. Anda adalah orang yang sangat baik."
"Um, tidak apa, aku juga senang bisa membantu keluargamu, Sakura."
Garis pandangan mereka saling bertemu, mereka menatap satu sama lain. Setelah beberapa saat, Kagami tersenyum tipis dan mulai berpamitan dengan Sakura. Berjalan semakin jauh menuju penginapan, Kagami diam-diam menyeringai karena salah satu rencananya telah berjalan lancar dan bergumam ringan, "Lucky ...."