The Irregular Lifeforms

The Irregular Lifeforms
Chapter 36 - Pertemuan Tak Sengaja dengan Putri Vanilla



Di malam yang begitu sepi dan gelap, suasana hening menyelimuti kamar Kagami. Dia menatap cahaya kerlip dari bintang di angkasa. Bak hatinya yang kadang gelap dan terang, dirinya selalu merenung di kala malam tiba.


Kagami khawatir dengan dunianya; bagaimana keadaan teman-temannya, atasannya, anak buahnya, dan penduduk bumi yang lain. Dia terkadang tidak dapat menerima kenyataan bahwa dirinya berada di dunia lain sampai selamanya.


Dia terpaksa menikah dengan seseorang yang baru dikenal dan tidak dicintainya. Meski begitu, Kagami selalu berakting sebagai sosok suami yang ideal. Tindakannya kerap kali berbeda arah dengan isi hatinya.


Namun apa daya, dirinya dinikahkan dengan Schana agar mau tinggal di dunia ini dan membantu menolong orang lain. Dia telanjur berjanji dengan pria tua itu, tetapi dia juga tidak bisa sembarangan menolaknya.


DI saat semua keramaian kota menghilang di malam hari, hanya ada suara tawa dari para pemabuk di bar. Di waktu semua orang bahagia, hanya Kagami yang diam-diam menangis dalam hati.


Bukan berarti dia tidak akan mencintai Schana, sebagaimana yang wanita itu lakukan kepada Kagami. Dia hanya belum siap untuk keadaan ini.


Dia belum menetapkan pilihan pribadinya. Kagami masihlah seorang remaja yang canggung dengan orang lain, tetapi entah kenapa hal itu sulit dilakukan kepada Schana. Tak peduli bagaimana cara dirinya untuk sedikit menghindar, wanita itu akan selalu dengan mudah menemukannya. Apakah itu karena penciuman rubahnya yang tajam?


Pintu kamar berderik saat bergesekan dengan lantai kayu. Seorang wanita cantik memasuki ruangan gelap tersebut. Dia melihat ke arah jendela, di mana Kagami mengistirahatkan batinnya saat ini.


"Kagami ...."


"Eh, Schana?"


Wanita tersebut memeluk Kagami dari belakang. Melingkarkan tangannya yang putih poselen ke leher Kagami. Dia begitu mesra saat berhadapan dengan laki-laki itu.


"Tumben kamu memanggil dengan namaku?"


"Apakah tidak boleh?"


"Tentu saja boleh."


"Kalau begitu tidak masalah. Oh, iya. Ayo kita makan bersama, aku sudah membuatkan makanan enak untukmu."


"I-Iya ...."


Schana dengan segera menarik lengan kanan Kagami dan mengajaknya makan malam.


Di suasana yang tidak terlalu ramai, hanya diisi oleh beberapa pelanggan yang setengah mabuk dan masih terlihat sopan. Jika mereka tidak bisa sopan sedikit saja. Paman pemilik penginapan ini akan langsung menendangnya keluar.


"Papa, Mama! Ke sini!"


Mereka bertiga berkumpul bersama di satu meja selayaknya sebuah keluarga sederhana dengan satu atau dua anak.


Kagami duduk di salah satu kursi dan menghadap ke meja yang berbentuk persegi. DI samping kanannya adalah Lily, sedangkan di sisi kiri adalah tempat Schana.


Hidang berupa sup daging, nasi, daging panggang dan roti menghiasi meja tersebut. Lily menatap semua makanan dengan mata berbinar dan air liur yang keluar dari mulutnya.


"Wuaah ... sepertinya enak sekali ...."


"Kalau begitu lebih baik segera kamu makan, Lily."


"Iya, Papa!"


Lily dengan sigap mengambil sendok yang terbuat dari kayu dan segera menyantap hidangan di depannya. Diawali oleh Lily, kemudian Kagami dan Schana juga ikut menikmati makanan mereka.


Pada saat setelah beberapa suapan, Schana menahan mulutnya, seakan ada sesuatu yang ingin keluar begitu saja.


"Ugh! Umm ...."


"Schana? Ada apa? Kamu tersedak?"


"Bukan itu ... entah mengapa, aku tiba-tiba merasa mual. Umm ...."


"Eh? Apa kamu sakit?"


Kagami memeriksanya dengan menaruh telapak tangan ke dahi Schana. Tetapi, dia berpikir bahwa wanita itu tidak terjangkit penyakit apapun. Dengan wajah khawatir, Kagami berusaha meyakinkan Schana.


"Kamu baik-baik saja, Schana?"


"Aku baik-baik saja, Kagami."


"Apakah Mama sakit?"


"Mungkin Mama hanya kelelahan, Lily."


LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com