
Pertarungan adalah suatu hiburan sejati bagi mereka yang
menikmatinya. Banyak film-film yang menampilkan tokoh utama bertarung dengan musuh
utama, mereka terkadang akan saling terhibur dengan serangan masing-masing.
Namun, sehebat apa pun pertarungan yang terjadi, sesuatu
yang selalu dinantikan tetaplah sebuah kemenangan dari masing-masing pihak. Di
sinilah masa mudaku berada. Jika aku diberi kesempatan untuk bertarung, aku
lebih memilih menikmatinya terlebih dahulu dari pada langsung mengalahkannya.
Tetapi pada suatu keadaan, kemenangan lebih penting dari pada kesenangan
pribadi.
Setelah menyelamatkan ibu Airi dari tempat penyekapan, kami
bergegas keluar dari bangunan tua ini. Hal paling mengejutkan yang aku tahu
saat berkenalan dengan wanita itu adalah ketika dia memperkenalkan dirinya
sebagai satu-satunya istri dari pemimpin kota Parriot, Baron Azla. Dengan
begitu, Airi adalah anak dari Baron, dan berpotensi meneruskan kepemimpinan
ayahnya.
Setelah keluar dari bangunan itu, langkah kami terhenti saat
itu juga setelah melihat tiga orang laki-laki berdiri di hadapan kami. Aku rasa
umur mereka sekitar 25 tahun atau lebih. Ketiganya menatap ke sini dengan wajah
penuh keangkuhan, seakan Dewi Fortuna telah bersandar di bahu mereka.
“Nyonya Azla, Airi, berlindunglah di belakangku!”
“Baiklah.”
“I-iya.”
Salah satu dari mereka maju beberapa langkah sembari
mengulurkan tangan kanannya.
“Berikan wanita dan gadis itu, dan kau bebas pergi tanpa
terluka!”
“Aku menolak!”
“Kuhh!!”
Laki-laki itu lantas memejamkan matanya, setelah itu
lingkaran formasi sihir berwarna merah muncul di depan tangannya yang telah
terbuka ke arahku. Jika dia berniat menyerangku, pastinya dia akan berpikir
dengan keselamatan dua orang di belakangku ini.
“Maaf jika kami harus melenyapkanmu dan merebut kembali dua
orang itu dengan kasar.”
Begitu, ya? Dia bukan tipe laki-laki yang banyak bicara dan
langsung menuju pada intinya.
“Menangislah dalam kobaran hukum yang membara. Flame Burst!”
Meskipun begitu, dia terlalu lama dalam merapal mantra. Jika
dia berada di duniaku, dalam waktu kurang dari dua detik, dia akan berada di
dalam perut Astal.
Kobaran api yang membentuk tornado bergerak secara horizontal
ke arahku. Tapi dalam kecepatan merapal mantra, itu akan kalah telak dengan
“Over Shield!”
Dinding pelindung transparan besar dengan sedikit warna
hijau yang samar terlihat muncul tepat di hadapanku. Dengan mudah serangan
laki-laki itu aku tahan, kurasa dia tidak benar-benar berniat menyerang.
“Hehe, ke mana matamu mengarah?”
Seorang laki-laki bergerak secara mengejutkan, dia berada di
sisi kiriku dengan cepat sambil bersiap mengayunkan tangan kanannya yang telah
terlapisi sarung tangan batu. Lebih mirip seperti tangan Golem.
Aku mengangkat tangan kiri ke arahnya dan menggunakan Shield
sebagai pelindung. Kemudian aku mengaktifkan sihir Over Boost dan menghantamnya
sekuat mungkin. Seketika itu juga tubuhnya menabrak dinding sebuah rumah hingga
berlubang.
Ya, aku harus minta maaf atas kerusakan yang sedikit
berlebihan.
Sihir api yang menyerangku telah berhenti, saat itu juga aku
dapat menonaktifkan Over Shield. Pola serangan itu dapat mudah kubaca. Orang
pertama menyerang dalam skala besar dan orang kedua menyerang setelahnya, bisa
dibilang, serangan pertama hanya umpan saja.
“Kau hebat juga ternyata. Kenapa orang seperti tidak
direkrut ke dalam kelompok kami saja? Huh....”
Orang ketiga yang berada di samping laki-laki itu hanya diam
dan mengamati. Ah, ayolah, apakah tidak bisa lebih seru dari ini? Jika tidak,
aku akan mengakhirinya saja.
“Apakah sudah selesai? Bagaimana kelanjutan pertarungan
ini?”
“Bagaimana ya? Sebenarnya aku langsung malas bertarung jika
rencana pertama kami langsung gagal. Tapi, ya, Vir, laporkan situasi pada bos!”
“Aku mengerti.”
Orang ketiga itu mencoba lari. Jika aku harus mengejarnya,
bisa-bisa kedua orang ini akan mendapatkan Airi dan ibunya. Ya, memang harus
selesai di sini, ya? Menyebalkan. Mereka lebih lemah dari para remaja di
negaraku.
“Maaf, aku mulai bosan bermain denganmu.”
“Kalau begitu, tunjukkan saja semua kemampuanmu!”
Kami berdua saling mengangkat tangan ke depan. Lingkaran
formasi sihir merah muncul bersamaan. Hanya saja, milikku lebih besar dengan
simbol kepala naga di tengahnya.
“Menarilah dalam lingkaran api neraka, hukum para manusia
yang tidak taat pada perintahku. Hell Flame!”
“Meister, aktif.”
LANJUTKAN DI RikuKagami.blogspot.com