The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 9



Di tengah hutan nan lebat, bersama dengan suara berisik dari berbagai serangga di siang hari membuat perjalanannya terganggu. Di waktu yang sama, Nora bersama dengan kenalannya tersebut berjalan menyusuri semak-semak dengan pakaiannya yang mulai kusut dan berkeringat.


"Apakah benar tempatnya di sini, Theodore?" Nora bertanya kepada Theodore namun tidak ada jawaban darinya.


Perasaan Nora buruk terhadapnya dan langsung memasang tatapan curiga kepadanya. Hingga pada akhirnya, mereka tiba di suatu tempat dengan rumah terbengkalai di tengah hutan. Langkah mereka terhenti setelah melihat kondisi rumah kosong yang sebagian telah roboh.


"Nona, apakah anda mengetahui bahwa rumah ini merupakan bekas peninggalan mendiang ayahanda?"


"Ayah?"


Nora terkejut ketika Theodore mulai membahas mengenai masalah keluarganya. Hingga saat Theodore mendekat ke rumah tersebut, Nora langsung dibuat kaget setelah melihat makhluk aneh dan menarik pedangnya dengan perasaan kesal.


...****************...


Hari telah berganti, aku dan Zahra berada di tempat pemberhentian kuda untuk menunggu seseorang yang akan memandu kita menuju ke hutan bagian timur. Kami menitipkan semua tas ke penginapan, dan pemilik tersebut meminta menagih bayaran untuk memperpanjang sewa kami hingga 3 hari ke depan.


Aku tidak tahu apa yang dilakukan Nora saat ini hingga Ia belum juga kembali. Aku hanya berharap Ia baik-baik saja hingga kami tiba menjemputnya.


Entah apa yang Ia pikirkan, perjalanan menuju ke hutan memerlukan waktu yang cukup lama dengan jalan kaki. Oleh karena itu, kami berencana untuk menyewa kereta kuda yang ditarik oleh pak kusir yang saat itu melihat Nora di hutan


"Maaf, apakah kau yang namanya Emma?" Seorang remaja laki-laki memanggilku dari belakang.


"Benar, saya Emma. Apakah kau yang akan memandu kami di hutan?"


"Benar!"


"Perkenalkan, Ia Zahra, teman perjalananku. Semoga kita bisa akrab selama perjalanan."


Zahra memasang wajah jijik saat mendengar saat aku menyebut dia sebagai temanku. Tolong bersabarlah sedikit! Ini semua demi kebaikanmu juga!


"Salam kenal, namaku Hartmut. Semoga kita bisa saling bekerja sama."


Ia terlihat seperti seumuran dengan kami dengan pakaian seperti seorang petualang dan pedang yang Ia bawa di pinggangnya. Kami telah memperkenalkan diri kita masing-masing kemudian langsung menuju ke kereta kuda yang sudah kami sewa.


Semuanya telah siap, kami berangkat bersama dengan penumpang yang lainnya. Paman itu menceritakan kepada kami tentang seorang perempuan berambut putih pergi menuju ke dalam hutan kemarin saat siang hari.


Siang hari, itu artinya Ia sudah melakukan perjalanan saat malam pertama kami menginap di sini, 'kan? Tidak kusangka Ia kuat menahan rasa kantuk selama itu.


Kami asyik mengobrol selama perjalanan, dan apa yang membuatnya ikut dengan kami yaitu karena satu arah. Ia berencana menuju ke desa yang ada di seberang hutan sana, jadi Ia pikir tak masalah jika sekalian mendapatkan teman mengobrol.


Ia hebat karena melakukannya tanpa membawa perbekalan apapun, bahkan tidak dengan makanan juga. Ia merasa dirinya akan baik-baik saja selama Ia memiliki uang di dalam kantongnya, padahal Nora sendiri memiliki koin emas yang artinya cukup untuk membeli makanan untuk kami bertiga selama beberapa bulan.


Akhirnya kami memasuki hutan kembali. Tidak perlu waktu yang lama, kami tiba di tempat dimana pak kusir tersebut melihat Nora terakhir kali. Aku berterima kasih kepadanya karena telah mengantarkan kami kemari.


"Tunggu, kenapa kamu juga ikut dengan kami, Hartmut?" Zahra menatapnya.


"Kan sudah kubilang kalau aku akan memandu kalian. Kata Ibu yang kemarin kalau kalian baru saja tiba di negeri ini, jadi mungkin aku akan berguna di sini."


"Apa kamu melakukannya karena uang?"


Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya senyumannya lah yang membuatku semakin curiga kalau dia membantu kami hanya karena uang.


"Jadi berita tentang koin emas itu sudah tersebar secara diam-diam, ya?" keluh Zahra.


Kami menyusuri semak-semak dengan banyak sekali serangga yang loncat kesana kemari hingga salah satu dari mereka masuk ke dalam pakaianku. Aku sempat berteriak karena aku sendiri benci dengan serangga.


Untungnya ada Hartmut yang mana Ia mempunyai pengalaman dalam hal ini. Hingga pada akhirnya, kami menemukan sebuah rumah kosong yang berada di tengah hutan.


"Apa memang banyak rumah seperti ini di tengah hutan?" tanyaku.


"Ada, sudah banyak tempat kosong yang dijadikan sebagai tempat tinggal para bandit. Tapi sepertinya ini benar-benar kosong dan terbengkalai."


"Sebaiknya kau keluar saja daripada sesak nafas."


"Terima kasih, tapi aku masih baik-baik saja kalau hanya segini."


"Dasar lemah." Zahra mulai memanasiku kembali.


Itu membuatku ingin memukulinya, tapi aku harus menahannya hingga kami menemukan Nora.


"Aku tebak rumah ini sudah sangat lama sekali ditinggalkan oleh pemiliknya." Mengambil salah satu buku yang tergeletak di lantai. "Apakah yang dikatakan paman tadi jujur? Padahal aku tidak merasakan adanya jejak seseorang di sini."


Aku juga meragukan ucapan dari paman kusir barusan, bisa saja orang yang dia maksud bukanlah Nora, melainkan orang lain. Terserah, apapun itu kami akan tetap berusaha mencarinya.


Aku berdiri lalu menuju ke ruangan lain untuk mengeceknya. Namun tiba-tiba saat hendak menengok, seseorang datang mengejutkanku dengan kulit pucatnya. Aku berteriak dan langsung meninggalkan ruangan tersebut hingga pinggangku menabrak meja dan merintih kesakitan.


Melihat seseorang, Hartmut mengeluarkan pedangnya dan memotong kepalanya hingga menggelinding menuju ke kaki Zahra. Ia diam membeku melihat kepala tersebut dengan keringat dingin, dan apa yang menyerangku barusan merupakan mayat hidup dengan kulitnya yang berwarna hijau pucat.


"Tenanglah, itu cuman mayat hidup. Hanya saja jangan pernah menyentuh giginya karena di situ banyak kuman yang akan merubahmu seperti dia." Dengan santainya Ia mengatakan hal itu.


Orang berpengalaman memang sangat berbeda. Ini pertama kali bagiku melihat makhluk seperti itu, karena di bumi hanyalah mitos yang seperti ini. Zahra menendang kepala tersebut hingga menuju ke pojok ruangan dengan perasaan yang takut.


"Aku akan mengeceknya, kalian tetaplah di belakangku."


Dengan begitu kami mendapatkan perlindungan darinya. Bau di dalam rungan begitu menyengat hingga membuat hidungku gatal. Sepertinya tidak ada yang menarik di sini kecuali sebuah lukisan bundar dengan beberapa huruf yang tidak dapat kubaca di dinding.


Lukisan ini sepertinya digambar menggunakan kuas dengan sangat rapi sehingga tidak ada satupun tinta yang yang menetes ke bawah.


"Aku baru tahu ada formula sihir terlukis di sini." Hartmut menyentuh lukisan tersebut.


"Jadi, apakah ini dilukis untuk memanggil makhluk dari alam lain?" Zahra menatap ke arah Hartmut.


"Antara iya dan tidak, karena aku tidak terlalu familiar dengan sihir. Mungkin kita harus melaporkan ini ke kerajaan untuk melakukan observasi."


"Lebih baik kalau kita segera meninggalkan tempat ini." Aku langsung berbalik arah.


"Apa kalian hendak kembali secepat ini?" Seorang pria tua berdiri menghalangi pintu.


Nampaknya Ia yang dimaksud oleh pak kusir, seorang pria tua dengan pakaian pelayan. Hartmut yang melihatnya langsung mengarahkan pedang kepadanya sambil melindungi kami berdua di belakang.


"Siapa kau?" Tanya Hartmut.


"Bukankah engkau tiada sopan santun terhadap orang tua? Aku kemari untuk menyambut kalian di kediamanku. Dan sepertinya..." Pria itu melirik ke arah kami. "Ah, bukankah kalian adalah teman dari nona Eleonora?"


"Eleonora!?" Teriak Hartmut.


"Benar, nona Eleonora. Bukankah nama itu tidak asing di telinga kalian, wahai, pemuda nan pemberani?"


Suasana menjadi menegangkan, semua percakapan terjeda setelah Ia mendengar nama Nora. Apakah memang sesakral itu namanya?


"Aku tidak peduli dengan namanya. Katakan dengan jelas apa urusanmu dengan kami?"


"Urusanku? Oh, pemuda. Bukankah sudah saya bilang bahwa saya hendak menyambut kalian di kediamanku? Tempat dimana seseorang akan tidur nyenyak hingga cahaya mentari padam dilahap oleh kegelapan." Mengulurkan tangannya ke arah kami. "Di sanalah kalian akan menemukan mimpimu untuk menemukan cahaya yang telah lama menghilang."


Kami terpental jauh ke belakang hingga terjatuh di lantai dengan sangat keras. Sebuah mansion yang begitu besar dan megah hingga membuat kepalaku pusing saat melihatnya. Dengan begitu, kami bertiga akan terjebak selamanya di sini. Entah kemana kami akan pergi, hanya ada ruangan ini dimanapun kami berada.


...****************...



...(Ilustrasi untuk Hartmut)...