
Hari Rabu, harusnya begitu jika aku masih berada di bumi. Dunia ini tidak ada bedanya dengan Bumi, yaitu satu bulannya 30 hari dan satu tahunnya 12 bulan.
Sudah satu hari semenjak kami meninggalkan rumah. Awalnya kami menyerah karena aku tidak pernah menguasai medan seperti ini, seperti contohnya menaiki jurang yang penuh dengan bebatuan hingga lumpur yang sangat licin.
Tapi berkat perjuangan itulah kami bisa sampai di jalan yang biasa digunakan untuk kereta dan mendapatkan sebuah tumpangan berupa kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda.
"Apakah nona-nona sekalian ingin melakukan perjalanan jauh?" tanya seorang paman yang merupakan seorang kusir.
"Kami akan menuju ke kota Nevákoda sekarang, apa paman akan pergi ke sana juga?" jawab Nora.
"Tidak, tidak. Setelah tiba di desa nanti, kita akan pergi di jalur yang berbeda. Kalian bisa mencari tumpangan lainnya, kok."
"Sayang sekali, ya." Nora sedikit kecewa.
Sungguh baik hati sekali paman kusir ini, Ia tidak menarik biaya sepeserpun dari kami karena paman tahu kalau kami akan melakukan perjalanan jauh. Aku akan menarik ucapanku yang sebelumnya karena menganggap semua ini enteng.
Setelah mengetahui seperti apa tempat ini, aku mengakui bahwa membawa bekal sebanyak mungkin adalah pilihan yang tepat. Walaupun jaraknya tidaklah jauh, tetap saja jalan yang sering dilalui kereta kuda hanya beralaskan tanah. Hingga terkadang jika waktunya musim hujan tiba, semuanya akan menjadi lumpur.
Kenapa aku selalu berpikir begitu? Pikirku.
Apa yang dilakukan Zahra? Tidak ada selain diam membaca buku di sisi belakang kereta. Mengetahui aku menatapnya, Ia melirik dengan kacamata hitamnya dan mengucapkan kata-kata yang tidak sopan kepadaku.
"Lebih baik kalau kalian berbaikan. Kalau seperti ini terus nanti kalian tidak bisa tidur bareng, loh."
"Biarkan saja dia sendirian, Paling kalau ada masalah juga dia bakalan minta tolong ke kita."
Lagi-lagi perasaanku dilahap oleh emosi yang membuatku memalingkan wajah darinya. Nora sedikit khawatir dengan hubungan kami yang semakin hari kian memburuk.
Nora juga hanya bisa saling menatap kami dengan rasa kecewanya, Ia berpikir kalau saja Ia bisa memahami isi hati seseorang mungkin ini tidak akan terjadi.
Aku tidak akan menyalahkannya karena memang pada awalnya ini adalah masalah kami berdua. Mau kami bertengkar hingga saling membunuh, hanya kami berdua lah yang akan menyelesaikannya.
Hingga beberapa saat kemudian, paman itu menepi dan menghentikan keretanya. Aku bertanya kepadanya apakah ada masalah? Ya, ada salah satu kereta yang menjadi prioritas di semua jalanan, yaitu kereta bangsawan.
"Hei! Tundukkan kepala kalian!" Nora berteriak kecil ke arah kami.
Dengan sigap kami menundukkan kepala. Itu membuatku sedikit ketakutan ketika Ia meneriaki kami, tapi untungnya kami tidak terlambat melakukannya.
"Keluarga bangsawan mana itu paman?" tanya Nora kepada paman.
"Kalau dilihat dari lambang di keretanya, itu pasti dari keluarga Brantley."
Aku juga melihat lambang tersebut di atas pintu kereta karena penasaran. Lambang pedang dengan api yang membara, itulah yang kulihat secara sekilas. Setelah kereta tersebut mulai menjauh, kami berhenti menundukkan kepala dan mulai melakukan perjalanannya kembali.
Jadi seperti ini, ya, ketika bertemu dengan kereta bangsawan? Aku akan mengingatnya di dalam otakku agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika bertemu dengan salah satu dari mereka.
"Ingat, kalau kalian bertemu bangsawan dimanapun kalian berada, kalian harus menundukkan kepala kalian. Itu adalah hukum yang sudah ada sejak perjanjian lama."
Kalau begitu, bagaimana kita bisa mengetahui rupa dari bangsawan itu kalau kita diperintahkan untuk menunduk?
Sedikit aneh, tapi tidak masalah. Mungkin suatu hari aku bisa melihat wajahnya di lukisan, atau mungkin tidak ada karena tidak ada yang tahu wajahnya?
Itu terlihat sedikit lucu ketika membayangkan seorang bangsawan pergi keluar dengan pakaian biasa dan pergi ke sebuah tempat makan lalu mengucapkan, "Makanannya sampah! Kenapa rakyat jelata seperti kalian makan makanan seperti ini!?" Kemudian Ia dikerubungi oleh orang sekitar.
Lupakan masalah itu, kembali ke cerita dimana aku sedang duduk diam di sini. Sebentar lagi kami akan sampai di perbatasan hutan dan keluar dari sini. Aku tidak sabar seperti apakah dunia luar itu.
Setelah keluar dari hutan, aku menutup kedua mataku dengan tanganku akibat silau dari cahaya matahari. Saat mataku mulai beradaptasi, aku dapat melihat sebuah desa yang dimaksud oleh Nora sebelumnya. Lihatlah itu, desa dengan sungai kecil yang mengalir memasuki desa tersebut dengan ladang gandum yang sangat luas terlihat dari sini.
"Kita akan segera sampai, bersiaplah untuk turun dari kereta, nona," perintah pak kusir.
Kami langsung menuju ke sisi belakang gerbang dengan tas kami di punggung dan duduk. Ini akan menjadi pengalaman yang tak dapat aku lupakan dalam hidupku, apalagi aku adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di sini.
Melewati ladang dengan senyum, mengayunkan kedua kakiku hingga menggelengkan kepalaku terus menerus. Aku merasa sangat bahagia sekarang.
"Sepertinya kamu sangat senang hari ini." Tiba-tiba Nora bersandar pada tasku.
"Tentu saja! Karena ini pertama kalinya aku keluar dari hutan itu!"
"Dasar bocah," celetuk Zahra.
"Apa kau bilang!?"
...****************...
Akhirnya kami tiba di lokasi, dan sekarang kami berada di salah satu tempat makan dengan sup sayur yang ada di depanku.
"Apakah kalian sudah puas?" Nora terlihat marah kepada kami.
"Maafkan aku," ucap kami berdua secara bersamaan.
Ini sangat memalukan karena terjatuh saat kereta masih berjalan. Alhasil, kami mendapatkan luka di beberapa jari tangan dan wajah, hingga rambut kami yang kotor dan berantakan. Aku sadar bahwa aku masihlah anak-anak saat ini, jadi aku akan berusaha untuk menjadi dewasa sebelum mendapatkan momen memalukan sama seperti sebelumnya.
"Aku akan memafkan kalian. Lain kali, bersikaplah dewasa dan jangan mudah terbawa emosi hanya karena lawan bicaramu mengejekmu. Paham?"
"Paham, bu."
Baru saja aku memikirkan hal tersebut, disusul lagi dengan perkataan miliknya. Lukanya sedikit menyakitkan, ini membuatku kesusahan saat mengunyah makanan.
Selain itu, suasana tempat makan di dunia ini berasa seperti restoran desa, ya? Sedikit bau alkohol karena ada seorang pria yang tertidur akibat mabuk di siang bolong. Yah, bukan berarti aku ingin menegurnya, lagipula pemilik tokonya sendiri memang menjual bir di sini.
Setelah selesai makan, Nora memberi tahu kami tentang nilai mata uang yang ada di sini. Mata uang di sini adalah koin perunggu, perak, dan emas. Rakyat jelata seperti kami hanya bisa menggunakan koin perunggu dan perak, sementara bangsawan dapat menggunakan 3 jenis koin tersebut.
Untuk 1 koin emas sama dengan 10000 koin perak, 1 koin perak sama dengan 1000 koin perunggu. Dengan 1 koin perunggu kami bisa membeli satu buah apel, jadi sekitar 14 hingga 17 ribu. Kalau aku punya koin emas berarti sama dengan sekitar 140 hingga 170 miliar.
Ia mengeluarkannya dari dalam saku. Dan saat tiga koin keluar, semua orang yang ada di sini terkejut karena kehadiran koin emas. Sontak pemilik tempat makan menuju kemari dengan rasa yang gelisah.
"Ny- Nyonya! Kenapa nyonya berada di restoran kotor seperti ini!?" Sembari menundukkan kepalanya.
"Angkatlah kepala kalian. Aku di sini karena liburan, tak usah memperdulikan kami bertiga."
Aku tidak tahu kalau Nora ternyata seorang bangsawan, lagipula Ia tidak pernah mengatakannya sebelumnya. Apa aku harus menundukkan kepalaku juga agar aku tidak kena masalah dengannya.
"Kalian tidak perlu melakukannya, nanti aku jadi kena masalah kalau kalian seperti mereka." Tangannya terangkat karena kebingungan.
Kalau memang dia yang bilang sendiri, maka aku akan bersikap santai dengannya.Tapi aku merasa tidak enak dengan orang-orang di sini karena melihat perbedaan status mereka.
Nora menjelaskan panjang lebar kepada semuanya kalau tidak ada yang perlu mereka khawatirkan selama Ia di sini dan selalu bersikap santai. Itu benar-benar membutuhkan waktu yang begitu lama hingga semua orang memahaminya. Mungkin aku akan meminta penjelasannya di penginapan nanti.
Setelah malam tiba, kami langsung masuk ke dalam penginapan yang kami sewa untuk bermalam. Di sana, kami berkumpul dan meminta penjelasan kenapa Ia tidak memberitahunya hal yang sepenting ini.
Aku menyuruh Nora untuk duduk di atas kasur sementara kami berdiri menghadap ke arahnya seolah tengah memarahinya.
"Jadi, apakah ada penjelasan?" Entah kenapa Nora terlihat sedang sedih saat dimintai keterangan. "Bukannya aku sedang memarahimu, tapi aku khawatir kalau ada orang lain yang mendengar kalau bangsawan berteman baik dengan rakyat jelata akan tersebar rumor yang aneh mengenai citra mereka."
"Kamu benar, aku minta maaf." Lalu diam sejenak.
Aku menghela nafas yang begitu panjang, untungnya orang-orang yang ada di sana dapat diajak untuk bekerja sama supaya tidak menyebarkankannya.
"Kalau kamu tidak mau bilang, aku tak masalah, tapi setidaknya tahanlah dirimu ketik di tempat umum," ucap Zahra yang menyilangkan kedua tangannya.
Akan aku anggap ini sebagai kecelakaan karena kurangnya pengawasan kami. Entah kenapa peran kami menjadi terbalik, jadi aku akan merasa bersalah jika terus memarahinya.
"Lupakan saja, aku tidak terlalu peduli siapa kau. Lain kali jangan pernah melakukannya lagi."
Kenapa, ya? Aku merasa karakternya sedikit membuatku kebingungan. Bisa dibilang Ia adalah orang yang polos, tapi di lain sisi juga Ia seorang yang dapat melakukan bela diri dan ilmu pedang. Ini membuatku tertarik dengannya.
Kami bertiga melupakannya dan lebih baik tidur daripada membuat masalah ini menjadi panjang lebar. Untuk berjaga-jaga, kami semua tidur di kamar yang sama meski kami harus berdempetan dengan posisi Nora di tengah.
Di tengah malam, saat cahaya rembulan bersinar dengan terang di malam hari, Nora terbangun dari tidurnya dan langsung meraih pedangnya dengan posisi kuda-kudanya. Waktu itu kami berdua sedang tertidur pulas karena kelelahan, hingga seseorang datang dari luar dengan suara yang berat.
"Apakah itu anda, Nona Eleonora?"
Suara ini?!
"Theodore, apa itu kamu?"
"Benar, Nona. Senang berjumpa dengan anda kembali setelah bertahun-tahun anda meninggalkan rumah. Saat ini, ada yang harus kita bicarakan hanya berdua saja."
Nora melihat ke arah kami dengan perasaan yang khawatir. Mendengar bahwa yang berada di luar adalah orang yang Ia kenal, Nora membukakan pintu lalu melihat ada seorang pria yang wajahnya tertutup oleh bayangan dengan pakaian pelayannya.
Saat pria tersebut menjelaskan tentang apa yang terjadi, Nora begitu tampak terkejut lalu menutup pintu kamar dan pergi meninggalkan kami berdua. Kami yang tidak tahu apa-apa saat itu ditinggal begitu saja olehnya, dan apa yang harus kami lakukan setelah ini?