
Dua hari, sudah dua hari. Ya, dua hari ini aku mengalami stres yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak, aku di sini hanya bisa duduk melamun memandangi sungai yang mengalir di belakang belakang rumah.
Aku sangat rindu dengan keberadaan ponsel genggamku yang berada di rumah. Kalau saja aku membawanya waktu itu, mungkin aku akan menghabiskan waktuku di kamar sepanjang hari. Tapi tanpa ada charger juga bagaimana bisa bertahan selama dua hari?
"Emma! Apa kau tidak mau merendamkan kaki di sungai?" Datanglah Eleonora dari belakang lalu menepuk pundakku.
"Tidak, aku hanya lagi tidak semangat karena aku rindu dengan rumahku."
"Bukannya lebih baik daripada hanya diam saja seperti itu?"
"Yah, kau benar juga." Sama saja kalau aku merendam kaki ke sungai, yang kulakukan mungkin melamun kembali memikirkan hal lain.
Sebelumnya, kami telah melakukan banyak sekali persiapan untuk perjalanan besok. Kami berencana untuk berangkat dan mempersiapkan secepat mungkin karena semuanya dalam kondisi yang sangat prima. Ada satu hal yang menggangguku saat ini, yaitu masalah waktu kita selama perjalanan.
Aku tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang dimaksudnya, karena itu satu-satunya kunci untuk menemukan jawaban dari misteri ini. Ia sebenarnya tidak tahu kekuatan seperti apa dari gelang ini, karena memang pengguna sebelumnya sudah memiliki janji kalau Ia dilarang untuk memberitahunya.
Kenapa tidak memberitahunya saja? Padahal kalau Ia cerita, mungkin kami tak perlu repot melakukan perjalanan jauh hanya untuk itu. Aku juga tidak terlalu mempersalahkannya karena aku sendiri memang suka tinggal di tempat seperti ini.
"Apa kamu benar-benar akan ikut dengan kami?" Seketika aku melontarkan pertanyaan kepadanya.
Ia terdiam sejenak sambil memandang ke arah sungai tersebut, lalu berucap, "Apapun itu aku tidak masalah selama itu juga tujuanku."
Tujuan, ya? Berkatnya, aku sangat berterima kasaih karena sudah menolongku selama ini. Hingga malam hari tiba, Aku dan Zahra datang untuk menemui Eleonora ke ruangannya dengan peta yang ada di atas meja.
Kami mendiskusikan tentang jalan yang akan kita lalui nanti. Pertama, kami akan berjalan menuju ke arah utara dimana ada jalan yang biasa dilewati oleh kereta kuda. Lalu, setelah mengikuti jalan tersebut, kami akan bertemu sebuah desa yang berbatasan langsung dengan hutan ini.
Desa tersebut membutuhkan waktu sekitar satu hari perjalanan jika berjalan kaki, dan kurang dari sehari dengan kereta kuda. Akan lebih cepat kalau kami mendapatkan tumpangan.
Selain desa, ada 1 kota dan 1 desa lagi yang harus kita lewati sebelum tiba di kota Nevákoda. Kalau hanya itu bukankah lebih baik membawa bekal seminim mungkin? Aku kira jaraknya akan sangat jauh, ternyata skala petanya saja yang kecil.
Tapi usulan tersebut ditolak oleh Eleanora, karena saat ini Ia tak punya pengalaman lagi di dunia luar semenjak kepergian orang itu. Jadi kami harus menghemat uang, karena jika uang kami habis sebelum tiba tujuan, kami tidak akan bisa bermalam di desa atau kota.
Apa yang Ia ucapkan memang benar, aku tak ingin tidur di luar saat malam hari. Aku tak ingin kedinginan di luar dan barang kami di curi oleh seseorang. Aku harus mengubah cara pikirku mengingat ini bukanlah bumi, semua bisa terjadi karena abad pertengahan adalah masa yang sangat minim hukum.
"Baiklah, istirahatlah yang cukup, kita akan berangkat besok pagi." Ia menggulung peta tersebut.
"Ternyata seribet ini untuk bisa pulang ke rumah. Kenapa juga aku keseret ke dalam masalahmu." Zahra kesal.
"Salahmu juga ikut-ikutan," balasku.
Itu malah membuatnya semakin emosi yang kemudian keluar dengan langkah yang cepat lalu menutup pintunya dengan sangat keras.
"Sepertinya perempuan muda di tempatmu terlalu mudah emosi, ya?"
Sebelum aku pergi keluar ruangan, Eleonora menghentikanku dan mengatakan hal yang sangat penting sebelum perjalanan besok. Ia menyuruhku untuk memanggilnya dengan nama Nora karena Eleonora merupakan nama yang sakral di sini.
Jika seseorang mengetahui adanya keberadaan seseorang dengan nama tersebut, maka Ia akan ditarik paksa oleh seorang utusan Raja dan dijadikan sebagai orang suci di tempat ibadahnya. Itu akan merepotkannya karena Ia tak ingin berurusan dengan mereka.
Baiklah, jika hanya itu mungkin aku bisa merahasiakannya karena itu juga akan mempermudahkanku untuk memanggil namanya. Akhirnya aku diperbolehkan untuk kembali ke kamar dan tidur.
Aku tak bisa tidur begitu saja karena selalu terpikirkan oleh sesuatu. Jika saja aku benar-benar dapat kembali ke bumi, apakah aku akan kembali tepat di waktu aku terakhir kali di sana? Karena Nora bilang Ia kehilangan seseorang begitu lama sekali, sementara gelang ini sudah ada berada di tangan kakekku.
Bukannya aku berpikir yang tidak-tidak tentangnya, kalau saja waktu di antara dua dunia ini memang sama, apakah itu artinya Nora sudah berumur panjang hingga ratusan tahun? Tidak, itu tidak sopan jika aku menanyakan langsung tentang usianya.
Dan keesokan paginya, kami semua bangun dan memindahkan peralatan kami ke depan rumah yang mana sudah ada Nora di sana sejak subuh tadi. Kenapa dia terburu-buru seperti itu? Padahal aku sendiri belum apa-apa dan masih mengenakan pakaian tidur miliknya.
"Tenang saja, ini sudah menjadi kebiasaanku dari dulu."
Aku hanya menatapnya dengan kedua mataku yang masih setengah tertutup karena rasa kantukku. Terima kasih, berkatnya, aku terpaksa harus terburu-buru hingga jari kelingking kakiku tertabrak oleh kaki meja yang membuat jalanku sedikit pincang.
"Kenapa harus begini?" Mencoba untuk berteriak namun aku tahan.
Aku tak mau Ia menungguku lebih lama lagi, aku segera mandi lalu memakan apapun itu yang ada di dapur lalu berganti pakaian. Jujur saja ini sedikit tidak biasa bagiku, karena selama aku berada di sini, aku hanya mengenakan kemeja dan pakaian santai lainnya. Lalu kemudian aku akan mengenakan pakaian yang mirip seperti adventurer pada dunia fantasi.
Mau bagaimanapun, ini memang dunia fantasi, bisa saja nanti ada naga di luar sana yang tak kuketahui seperti apa wujudnya. Aku sedikit kesusahan mengenakannya karena ada banyak sabuk yang harus dipakai mulai dari pinggang hingga kaki.
Semua telah dipersiapkan olehnya, jadi aku tidak bisa komplain masalah pakaian. Pisau yang disarungkan dan tersambung langsung pada ikat pinggang adalah senjataku untuk pertahanan diri. Tapi aku tidak punya pengalaman bertarung sama sekali, apa yang akan aku lawan nanti?
Seketika perasaanku menjadi takut setelah memikirkannya. Kalau hanya untuk menguliti hewan buruan mungkin aku masih bisa melakukannya, lain cerita jika itu digunakan untuk membunuh manusia.
Baiklah, aku akan berusaha semaksimal mungkin supaya tidak menjadi beban di sini. Setelah semuanya siap, aku pergi keluar dan bertemu Zahra saat hendak membuka pintu depan.
"Apakah semuanya sudah siap?" Entah kenapa Nora yang paling bersemangat di antara kami bertiga.
"Tolong jaga kami berdua selama perjalanan, Nora."
Akhirnya hari ini telah tiba. Sebelum berangkat, Nora mengunci pintu dan berdoa menghadap ke rumahnya dengan berlutut di tanah.
"Oh, berikan hambamu perlindungan dan jauhkan kami dari mara bahaya yang ada." Menggenggam kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya.
Itu membuatku juga ikut berdoa namun dengan caraku sendiri, yaitu tetap berdiri dan menundukkan kepala. Setelah selesai, Nora berdiri dan menatap sedikit lebih lama rumah yang akan kami tinggal pergi.
Angin sepoi-sepoi yang berhembus di sekitar membuat suasana menjadi sangat canggung. Dengan sedikit cahaya yang masuk melalui pepohonan dan menyinari rumah, itu membuat Ia mendapatkan momen bagus sebelum kepergiannya meninggalkan rumah tersebut.
"Sudah waktunya, ya?" lirih Nora dengan senyuman. "Kalau begitu, mari berangkat."