
Hari telah berlalu, di pagi hari yang dingin ini aku terbangun dari tidurku yang lelap. Aku tak dapat mengucapkan sepatah katapun saat percakapan kemarin malam, tapi aku bersyukur Ia dapat melepaskan pikirannya kepadaku hingga Ia dapat tertidur dengan lelap di kamarku sekarang ini.
Kuregangkan tubuhku hingga mendesah kecil dengan selimut kecil yang menutupi sebagian kakiku, kemudian berdiri untuk mengambil minuman dari dalam kulkas yang berada di dapur.
Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku melamun sejenak memikirkan hal tersebut sambil meminum susu dingin.
Aku mungkin akan mengantarkannya pulang ke rumah setelah Ia bangun. Ini akan menjadi sedikit merepotkan kalau dia tetap berada di sini dalam waktu yang lama. Jika aku adalah dia, sudah pasti aku akan memanggil polisi untuk meminta bantuan dari mereka.
Dan satu hal lagi, ternyata Ia tidak memiliki ponsel, pantas saja jika Ia selalu pergi ke perpustakaan sendirian setiap hari. Akan kesulitan untuk menghubungi orang tuanya, dan aku putuskan untuk mengantarkannya hingga tiba ke rumahnya.
Aku membuatkan secangkir teh hangat untuknya, lalu pergi mengantarkannya ke kamar. Saat kubuka pintu kamarku, aku melihat Ia masih tertidur dengan posisi menghadap ke kanan. Ia sangat lucu saat sedang tertidur, apalagi tidak mengenakan kacamatanya.
Kutaruh teh yang kubawa lalu mendekat ke arahnya. Dari dulu aku selalu ingin memiliki adik perempuan, dan bermimpi bisa bermain bersama dengannya.
Mungkin aku akan menuntut Ibu untuk membuat anak lagi ketika mendapatkan ayah baru suatu saat nanti. Sambil tersenyum manis.
Sambil menunggu Ia bangun, aku menyalakan komputer yang sudah tidak dinyalakan sejak kemarin. Karena hari ini libur dan Ibu sudah tidak ada saat aku bangun, aku akan mencoba menghabiskan waktuku dengan bermain game sepanjang hari.
Entah berapa lama Ia akan tidur, tapi ini sudah lewat dari tiga jam, bahkan teh yang kuseduhkan sedari tadi sudah mulai dingin. Seorang kutu buku lebih suka menghabiskan waktunya untuk tidur hingga siang, bukankah itu aneh?
Dan tak lama setelah aku membicarakannya, Ia mulai membuka kedua matanya secara perlahan.
"Pagi, tukang tidur," ejekku.
Ia menguap. "Pagi. Maaf merepotkanmu."
Rambutnya acak-acakan saat Ia duduk, yang kemudian meraih kacamatanya yang berada di atas meja.
"Aku dari tadi menunggumu bangun, loh. Apa kamu tidak punya kata-kata untuk itu?"
Terdiam sejenak. "Ini memang kebiasaanku, jadi jangan khawatir."
"Khawatir? Tentu saja aku khawatir! Aku pikir kamu mati karena posisi tidurmu tidak berubah!"
"Sudah kubilang ini kebiasaanku, berhentilah berteriak seperti itu." Dia sangat aneh, aku benar-benar sangat ketakutan karenanya.
Sekarang waktu menunjukkan pukul 10 pagi, sudah saatnya aku mengantarkannya pulang ke rumah. Aku memberikannya teh yang kubuat tadi lalu meminumnya.
"Kau akan pulang ke rumah, 'kan?"
"Iya, aku akan pulang ke rumah. Terima kasih sudah mengizinkanku untuk menginap di sini."
Akhirnya dia berencana untuk pergi. Meski aku merasa kasihan kepadanya, tetap saja aku tak ingin terseret ke dalam masalahnya. Saat berbincang panjang lebar kemarin, ternyata jarak menuju ke rumahnya tidaklah terlalu jauh.
Kalau begini, aku bisa mengantarkannya dengan jalan kaki. Bukan berarti aku miskin karena tidak memiliki sepeda motor, hanya saja kami tidak memilikinya karena Ibu tidak bisa mengendarainya. Bagaimana kalau ingin pergi keluar? Tentu saja dengan jalan kaki.
Kami berdua bersiap-siap untuk turun menuju ke bawah. Sebelum itu, aku menyuruhnya untuk cuci muka terlebih dahulu dan sarapan di dapur. Setelah semuanya selesai, kami berdua keluar dan mengunci pintu rumah.
"Apa perasaanmu baik-baik saja?" tanyaku.
"Jangan tanya."
Mungkin saat ini perasaannya sedang tidak bagus, jadi lebih baik aku berhati-hati saat mengobrol dengannya nanti di sepanjang jalan. Meski begitu, aku tidak tahu apa yang ingin kubicarakan dengannya, bahkan hampir tidak ada obrolan sama sekali sedari tadi.
"Emma..." panggilnya.
Aku melirik ke arahnya dan hanya diam. Sekarang, kami saling berkontak mata.
"Maaf kalau aku membuatmu dalam masalah. Saat nanti sampai, tolong jangan pernah berbicara denganku lagi."
Apa yang dia bicarakan? Apa kita tidak akan pernah bertemu lagi? Yah, apapun itu, aku berdoa supaya Zahra baik-baik saja setelah pulang nanti.
Dan lada saat kami menuruni sebuah tangga, di sana terdapat bangunan kosong yang sebagian temboknya telah roboh dan tak beratap. Ini memang sedikit menakutkan, tapi setahuku ada beberapa rumah warga yang ada di depan sana.
"Aku tidak tahu kamu seberani itu melewati tempat ini sendirian saat malam hari."
"Tidak, sebenarnya aku takut." Lalu menghentikan langkahnya.
"Itu adalah rumahku, dan keluarga sedang keluar saat ini."
Memang benar, ini sudah sangat dekat dengan rumahnya. Kalau begitu, aku harus pergi meninggalkannya sendirian di sini. Namun, sesuatu terjadi kepadaku.
Seseorang datang dari belakang seseorang merangkulku dengan sebuah pisau yang mengarah ke leherku. Sontak aku berusaha melepaskan diri namun usahaku sia-sia.
"Jangan bergerak, atau aku akan melukaimu, Emma."
Zahra? kenapa Dia punya pisau di tangannya? Apa yang terjadi kepadanya?
Dan kemudian muncullah seorang perempuan yang sama seperti kemarin bersama dengan seorang pria dewasa yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ia muncul dari belakang dengan menepukkan tangannya dan berdiri tepat di depanku.
"Bagaimana kabarmu? Apa kamu menikmati pertunjukkan ini?" ucapnya.
"Siapa kamu!? Apa maksudnya ini!?" Hingga keluar keringat di sekujur tubuhku.
"Kamu tidak perlu tahu apa yang terjadi di sini. Yang jelas, kamu akan ikut denganku untuk datang ke diamanku. Jadi, lebih baik kamu menurut saja dengan apa yang kukatakan. Paham?"
Jadi selama ini Zahra hanyalah umpan dan menjebakku untuk datang kemari? Bodohnya diriku mempercayainya. Perempuan tersebut kemudian mengambil sebuah suntik dari pria tersebut dan membuka penutup jarumnya.
Aku berusaha memberontak dan kabur karena aku tahu suntik itu pasti akan merusak tubuhku. Namun, apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada, Zahra terus menahanku hingga Ia berdecak tepat di telingaku.
"Owh, jangan takut begitu. Ini hanya vitamin C biasa, kok. Jadi, jangan melawan begitu, ya!" Lalu ia menyuntikkannya ke paha kiriku dengan rasa sakit yang menyertainya.
"Lepaskan aku!"
Entah seberapa banyak mililiter yang Ia suntikkan, ini sudah terlambat bagiku untuk dapat selamat. Semua obat yang ada di suntik masuk ke dalan tubuhku.
"Sesuai janji, kamu akan melepaskan Ibuku, kan?" sela Zahra.
"Apakah begitu? Bukankah perjanjiannya itu saat salah satu dari kalian datang ke kediamanku?" jawabnya.
"Tunggu, bukankah kemarin kamu bilang kalau aku hanya perlu membawa satu orang perempuan ke sini?"
"Apa iya? Aku tak pernah bilang seperti itu kamarin."
"Pembohong!" Mengarahkan pisaunya ke perempuan tersebut
Kesempatanku!
Dengan kemampuanku yang ada, aku mendorong lengannya ke atas dengan sangat keras hingga Ia terjatuh dan melarikan diri dari sini.
"Hei! Jangan kabur kamu!"
Setelah aku lari dari genggaman Zahra, pria yang ada di sampingnya datang untuk mengejarku dan disusul oleh Zahra dari belakang. Apa yang disuntikkan kepadaku barusan? Kuharap itu bukanlah obat yang dapat melumpuhkanku.
Aku sangat khawatir jika aku lumpuh dan dibawa ke kediamannya, aku pasti akan dibuat mainan oleh mereka semua. Aku berlari dengan sekuat tenaga melewati pohon-pohon besar.
Entah kemana aku akan pergi, aku akan berusaha untuk tidak terkejar oleh mereka. Dan apa yang membuatku terkejut? Ternyata Zahra dapat berlari dengan sangat cepat dan hampir menangkapku.
Seriusan? batinku.
Di saat sedang berusaha kabur dari kejarannya, aku melihat beberapa rumah gubuk di depan sana. Aku hampir menyerah saat itu, memohon agar mendapatkan sebuah pertolongan dari seseorang.
Tapi, hal yang mengejutkan terjadi. Tepat di depan pintu salah satu rumah tersebut, ada sesosok bayangan yang sama persis dengan apa yang kulihat kemarin malam.
Sesosok gadis dengan rok selutut dan pita kelincinya, menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Masuk ke dalam sana? bukankah itu hanya rumah kosong dan jalan buntu?
Tapi entah mengapa perasaanku bilang bahwa aku harus masuk ke sana. Apa boleh buat, karena pikiraku buntu di saat seperti ini, akhirnya aku mendobrak pintu tersebut dan terjatuh dengan sangat keras.
Berat sekali, aku tak dapat berdiri dan menggerakkan seluruh tubuhku. Pandanganku kabur, hingga tak dapat bernafas dengan benar. Jadi begitu, efek dari suntikan itu melumpuhkan seluruh tubuh, ya? Jadi ini adalah akhir bagiku.
Sebelum itu, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal kepada Ibuku. Aku takut jika dia kesepian tanpa adanya diriku. Aku meneteskan air mata, dan kesadaranku mulai hilang.