
Suasana menjadi sangat serius setelah kami kembali di bumi. Sebelumnya aku membawa mereka ke dapur untuk memakan kue buatanku dan kelihatannya mereka berdua tampak senang dengannya.
Supaya tidak cepat tua, aku ingin setidaknya Zahra lebih merilekskan tubuhnya supaya pikirannya tidak terlalu berat.
"Emma! Kue buatan Emma enak banget~"
Sepertinya Lana sangat menyukainya hingga Ia meminta tambah beberapa kali namun aku menolaknya karena itu akan membuatnya gemuk. Ia terlihat cemberut hingga menggembungkan pipinya dan bilang kepadaku bahwa ras elf tidak akan pernah gemuk hanya karena manisan.
Bukankah itu hanya Ia ingin mempertahankan keinginannya untuk memakan kue? Yah, aku tidak akan melarangnya karena kue itu juga sisa dari buatan kemarin. Dan tak lama kemudian, seseorang masuk dari pintu belakang yang tak lain adalah Ibuku sendiri.
Kami semua mematung dan saling menatap, dan hingga pada akhirnya Lana menyapa Ibu seperti seorang anak.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Ibu.
Sudah pasti aku bakalan kena marah olehnya. Mau bagaimanapun, ini juga kesalahanku karena membawa mereka masuk ke dalam rumah dan membiarkan mereka memakan kuenya.
"Apa kalian sedang ingin lomba kostum?" Ibu bertanya kembali.
"Bu- bukan, Bu. Kami hanya..."
"Kami datang ke sini karena ingin mencoba kue buatan Emma!" Sambil mengangkat kedua tangannya dengan sendok yang Ia pegangnya.
Kami sangat terkejut dan langsung membungkam mulutnya karena terlalu berisik. Sekilas Ibu melihat gelang yang dikenakan oleh Lana dan menatap telinga panjangnya yang sangat tidak biasa.
Melihat hal itu, Ibu langsung bertanya kenapa Lana bisa mendapatkan gelang yang sama dengan milikku, dan kami memilih diam karena susah untuk menjelaskannya. Ibu meletakkan tas yang Ia bawa ke atas meja dapur lalu memegang gelang Lana dan menatap ke arah gelang tersebut.
Kami hanya mengatakan bahwa gelang tersebut kebetulan mempunyai model yang sama dengan punyaku. Namun Ibu tak percaya sehingga Ia memegang telinga Lana dengan sangat agresif hingga Ia merasa geli. Telinganya nampak asli, bahkan tidak disambung menggunakan alat apapun.
Melihat itu aku juga ingin memegangnya, namun bukankah telinga merupakan anggota tubuh yang berharga bagi ras elf? Setelah beberapa saat, Ibu menatapku dengan tatapan yang serius.
"Bisa kau jelaskan semua ini kepadaku?"
Sudah kuduga, ujung-ujungnya pasti akan dimintai keterangan olehnya. Tapi, Ibu pernah diceritakan oleh mendiang kakek buyut bahwa gelang ini memang ajaib, namun Ibu tidak tahu dimana letak ajaibnya. Oleh karena itu setiap keturunannya ketika melihat gelang tersebut berwarna silver, maka sudah tidak dapat menggunakannya.
Zahra juga baru tahu ternyata gelang yang kukenakan ini memiliki warna emas, tapi Nora masih bisa melihatnya dengan normal. Dengan kata lain, orang dari dunia lain lah yang hanya dapat melihat warna asli dari gelang ini.
Kesampingkan hal tersebut, kami menceritakan semua yang terjadi selama ini. Mulai dari saat aku hampir diculik hingga aku kembali ke bumi. Ibu kebingungan kenapa satu minggu yang kuhabiskan selama ini terasa tidak sejalan dengan waktu yang ada di sini.
Aku juga mempertanyakan hal tersebut, namun sepertinya ada alasan di balik itu. Mungkin ketika aku tinggal di salah satu di antara dua dunia tersebut, mungkin akan menghentikan waktu dunia yang tidak kutinggali. Itu sama sekali tidak masuk akal, mungkin ini yang menjadi alasan mengapa gelang ini mempunyai sebutan 'dapat mengubah waktu dan dimensi'.
Kemudian, apakah usia kami akan terus bertambah ketika berpindah ke dunia lain? Aku tidak tahu sebelum mencobanya, berharap dengan ini usiaku menjadi panjang.
Akhirnya Ibu menerima semua penjelasannya. Setelah itu, mereka berdua memperkenalkan nama mereka masing-masing. Saat Eleonora menyebutkan namanya, Ibu terdiam karena teringat sesuatu yang pernah Ia dengar dari kakeknya.
"Eleonora? Aku pernah dengar nama itu dari kakek buyutmu, kalau tidak salah Eleonora si gadis awan hitam."
Kami semua terdiam menatapnya karena itu masuk akal dengan kondisinya.
"Apa?" tanya Ibu kebingungan.
Kami menjelaskan kepada Ibu maksud dari si gadis awan hitam. Itu merujuk ke salah satu kiasan yang tidak lain adalah miasma. Jadi, Eleonora si gadis miasma.
Eleonora menatap ke arah mata Ibu dan memohon apakah itu ada kaitannya dengan orang itu. Namun, ibu tidak tahu siapa orang yang Ia maksud. Jika itu memang ada kaitannya dengan leluhur kami, maka Ia akan mencari tahu tentang itu dari sepupunya nanti.
Kami tidak bisa menemukan apa yang dimaksud dengan Ibu, oleh karena itu, akan lebih baik jika Ia menuju ke sana untuk mencari tahunya sendiri. Itu menjadi tugas yang sangat berat kali ini, karena Zahra juga saat ini meminta tolong kepada kami di waktu yang sama.
Mereka berdua nampak kebingungan, antara Nora atau Zahra terlebih dahulu yang akan kami bantu terlebih dahulu. Kalau menurutku sendiri, aku akan membantu Nora terlebih dahulu karena kami bisa kembali kemari dengan kekuatan gelang ini.
Namun Ibu menolak karena kami tidak memiliki kendaraan untuk pergi ke sana dengan banyak orang. Tapi Nora tidak mempermasalahkannya karena bisa jalan kaki. Tapi, ini dunia berbeda, kami menghela nafas yang panjang karena tidak tahu seperti apa bumi yang sedang Ia kunjungi.
Dengan perasaan yang berat hati, Nora menunda untuk mencari keberadaannya dan beralih ke masalah Zahra. Zahra bercerita panjang dengan kami terkait masalah yang sedang terjadi pada dia dan Ibunya.
Saat ini ibunya berada di rumah dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Entah bagaimana perasaan ibunya saat ini mengingat Zahra sebelumnya menginap tanpa memberitahu kabar kepadanya. Namun Zahra enggan untuk pulang karena pasti ada perempuan itu lagi yang sedang berkunjung ke rumahnya.
Zahra tidak tahu ada masalah apa dengan ibunya sehingga Ia harus terlibat di dalamnya. Dan Ibu mulai angkat bicara bahwa Ibu berteman baik dengan ibu Zahra. Kami berdua tidak tahu kalau mereka berteman baik, bahkan dulu satu sekolah hingga lulus.
Hanya itu yang Ia bicarakan, tidak ada petunjuk lainnya dari ucapannya. Kami pikir itu akan membantu memecahkan masalahnya, namun ternyata tidak.
"Lebih baik jika kita lupakan dulu dan melepaskan pikiran supaya tidak tambah pusing." Nora memakan sesendok kue dengan perasaan senang.
Yah, memang benar apa yang Ia ucapkan, tidak baik jika terus-menerus memikirkan sesuatu. Di tengah suasana yang menegangkan ini, kami memakan kue dengan gembira hingga selesai. Nora dan Lana nampak penasaran dengan barang-barang elektronik yang ada di sekitar.
Sepertinya aku tidak bisa membiarkan terus seperti ini, pasti suatu hari Lana akan menciptakan barang yang aneh setelah melihat-lihatnya.
"Maaf, ya, Zahra. Mungkin kita akan mencari tahunya setelah ini," ucapku.
"Aku tidak pernah meminta bantuanmu."
Masih seperti biasanya, Ia begitu dingin jika berbicara denganku. Aku harap dapat berteman baik dengannya meski terlihat susah untuk mendapatkan kepercayaannya.
Selain itu, aku terlihat kotor dan bau setelah perjalanan panjang. Secara diam-diam aku pergi meninggalkan mereka untuk mengambil pakaian ganti dan mandi. Luka yang ada di paha terasa sangat menyakitkan ketika aku mengingatnya kembali, apakah tidak ada sihir penyembuhan di dunia mereka?
Lebih baik jika aku menanyakannya nanti saat selesai mandi. Saat hendak memasuki kamar mandi, Lana dan Nora menatap ke arahku dan bertanya kemana aku akan pergi. Tentu saja Ia penasaran dan langsung masuk ke kamar mandi yang terdapat bathtub di dalamnya.
"Hei, ruangan apa ini?"
Entah kenapa aku merasa seperti sedang memandu anak-anak berkeliling kebun binatang. Dengan sabar aku menjelaskan semua barang dan fungsinya satu-persatu. Setelah mengetahui kegunaannya, Lana membuka semua pakaiannya dan menyalakan keran hingga kami bertiga basah kuyup.
"Tunggu dulu! Pintunya belum ketutup!" teriak Nora.
Lana benar-benar keterlaluan, namun aku juga tidak bisa memarahinya karena aku suka dengan karakternya. Mau bagaimana lagi, aku akan membiarkan Lana untuk mandi terlebih dahulu. Saat hendak keluar, aku ditarik olehnya.
"Kenapa kita nggak mandi bareng?"
Ajakannya membuatku merasa merinding, kenapa nenek-nenek seperti dirinya ingin mengajakku untuk mandi bersama?
"Kalian mandi saja berdua, aku gak mau mandi bersama kalian."
"Tapi kami tidak paham cara menggunakannya," sahut Nora.
Bahkan Ia sangat menginginkanku untuk ikut mandi bersama. Di tempat lain, terdapat Zahra yang menatapku dengan perasaan jijik hingga wajahnya terlihat tidak sudi melihatku.
"Mau bagaimana lagi, tapi jangan loncat-loncat di sini, ya."
Lana terlihat senang dan langsung menarik pakaianku. Aku sedikit memberontak untuk lepas darinya, tapi kekuatannya bahkan tidak bisa kulawan sedikitpun. Aku merasa ternodai karena mereka.