The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 16



"Bagaimana? Apakah kamu suka di dunia ini?" tanyaku kepada Lana.


"Yah, untuk melakukan observasi demi memajukan dunia kami, ini sangat membantu," balasnya.


Jadi tujuannya untuk itu, ya? Aku pikir Ia akan bersikap seperti anak kecil, namun ternyata tidak. Mau bagaimanapun Ia sudah berusia lebih dari dua ratus tahu, akan aneh jika Ia masih bersikap seperti anak kecil kecuali saat sedang menyamar.


Satu hari telah berlalu semenjak mereka datang ke dunia ini. Ada satu hal yang membuatku kerepotan, yaitu rasa ingin tahu milik Lana sangatlah besar. Aku rasa dengan perasaannya yang seperti itu, mungkin akan masuk akal jika Ia benar-benar seorang yang sangat jenius hingga dapat pekerjaan sebagai pustakawan.


Di pagi yang cerah ini, aku menghabiskan waktuku untuk bermain game di komputer. Mereka sangat penasaran dan ingin sekali bermain 1 lawan 1 denganku. Tapi aku hanya memiliki 1 game yang kubeli, yang lainnya ada pada game konsol portabel yang saat ini sedang menganggur di atas meja.


Tidak ada pilihan lain, aku akan mengajarinya caranya bermain. Aku membuka game yang berjudul Takkun 7 dengan tema fighting game, dan itu adalah game favoritku sejak ayah masih di sini. Ada banyak sekali karakter yang disediakan dan setiap karakter juga memiliki seni bela dirinya masing-masing.


Aku akan membiarkan mereka berdua bermain terlebih dahulu, karena mereka tidak setara denganku yang sudah veteran. Hanya dengan sedikit bimbingan, mereka sudah dapat menguasainya dengan mudah.


"Kalau begini terus, kapan kita majunya?"


Sontak membuatku menghindar dan menjauh, entah dari mana Zahra datang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di belakangku. Bahkan di saat santai seperti ini Ia tidak bisa melupakannya, ya? Itu tergantung dari mereka berdua, aku hanya mengikuti alur yang akan mereka buat ke depannya nanti.


Jika aku yang turun tangan langsung, aku tidak ingin berakhir seperti sebelumnya. Aku masih belum mengerti sampai sekarang apa efek dari suntik tersebut, kalau saja aku mengingat nama yang super sulit tersebut mungkin aku sudah mencarinya lewat internet.


"Lihatlah mereka berdua, sedang asyik bermain game," balasku.


"Lalu?"


Aku kehabisan kata, dia memang salah satu orang yang paling ingin kuhindari sampai sekarang. Jika boleh jujur, Ia sangat terganggu dengan sifatnya yang begitu dingin dan egois. Aku hanya ingin membantunya, bahkan seharusnya Ia beruntung karena aku masih baik terhadap dirinya setelah aoa yang terjadi kepadaku sebelumnya.


Lain cerita jika aku adalah orang yang banyak tingkah, mungkin aku tidak akan pernah memaafkannya hingga saat ini. Tapi, mau bagaimanapun itu juga karena Ia hanyalah seorang penyendiri dan pendiam, wajar jika sifatnya labil.


Hari terus berlanjut, dan permainan belum berakhir hingga saat ini. Nora sangat tertarik untuk belajar seni bela diri dari dunia ini dan ingin mempelajarinya saat kembali di dunia ini. Itu sangat melegakan ketika Ia mengucapkannya, karena tidak mungkin Ia bisa terus berada di bumi selamanya.


Sangat berbanding terbalik dengan Lana yang tak ingin kembali ke dunianya dan berencana untuk menetap di sini. Akan merepotkan jika Ia menghilang dan lepas kendali di luar sana, karena aku tidak ingin merasa bertanggung jawab atas apa yang Ia perbuatan ke depannya.


"Emma, mau pergi keluar?" ajak Nora.


Entah apa yang sedang Ia pikirkan, aku hanya dapat mengiyakannya dan Lana mengikuti kemana Nora akan pergi. Mereka terlihat sudah lelah dan segera mematikan komputer tersebut. Dalam hitungan detik, aku di tarik keluar oleh mereka berdua dan jatuh menuju ke jurang tanpa aba-aba.


Mulutku dibungkam dengan tangan Nora, dan aku tengah sedang melayang setelah mendarat ke permukaan.


"Ada yang sedang memata-matai kita di berbagai tempat sedari tadi, dan sepertinya mereka menunggu kita untuk keluar rumah." Nora melepaskan tangannya dari mulutku.


"Apa? Serius?"


"Zahra akan baik-baik saja, karena Lana sudah memasang pelindung di seluruh rumahnya."


Aku melihat ke arah Lana dan memberikan two peace ke arahku.


Kenapa dia menirukan karakter itu?


Aku berhutang kepada mereka berdua karena telah melindungi rumahku. Nora berencana untuk menculik salah satu dari mereka yang tersebar di berbagai tempat dan mengintrogasinya dengan mengikatnya pada kursi sama seperti yang Ia lakukan kepada Zahra sebelumnya.


Jurang ini terlihat sangat dalam dan tak mungkin akan naik dengan terbang, kan? Memang benar, Lana hanya bisa memperlambat kami saat terjatuh, tidak untuk terbang seperti yang ada di film fantasi. Jadi, mau tidak mau kami harus naik melewati tangga yang lumayan jauh dari sini.


"Kenapa juga harus jatuh ke sini?" tanyaku.


Yah, masuk akal apa yang Ia bicarakan. Orang yang memata-matai kami mungkin berpikir tidak mungkin keluar lewat jalan belakang karena hanya ada jurang tinggi di sini. Karena sekarang ada mereka berdua, semuanya tidaklah mustahil untuk kami lakukan.


Nora menyuruhku menggunakan ponsel ini untuk menghubungi Zahra melalui telepon rumah dan bilang kepadanya untuk tetap di rumah dan jangan keluar. Dan Zahra menuruti perkataanku karena Ia langsung memahami kondisi yang terjadi saat ini.


Kami menghabiskan waktu beberapa menit hingga tiba menuju tangga dan naik tanpa lelah sedikitpun. Entah mengapa akhir-akhir ini aku tidak mudah lelah setelah melakukan perjalanan panjang di dunia lain. Kami menaiki tangga tersebut dan diam-diam mengintip keluar dari balik tembok.


"Lihat, pria dengan baju merah itu, pakai kacamata, lalu dengan kemeja kotak, terus yang duduk dengan sesuatu yang menutupi telinganya itu..."


Tunggu, bukannya itu terlalu banyak? Ia menunjuk ke sekitar 6 orang yang dicurigai sebagai mata-mata dan yang belum berada di dekat rumah. Aku kagum dengan mereka berdua karena dapat mendeteksi kehadirannya hingga sejauh ini.


"Jadi, kau benar-benar akan menculik salah satu dari mereka?"


"Tentu saja, itulah alasan kenapa kami membawamu bersama kami untuk berpura-pura menjadi penerjemah."


"Aku?"


Entah kenapa perasaanku tidak enak tentang ini. Saat ada seseorang lewat, aku meminta tolong ke seseorang yang lewat untuk memanggil pria dengan jaket kulit hitam di sana untuk kemari karena panggilan nona.


Dan saat orang itu berbicara dengan pria tersebut, Ia benar-benar datang kemari dengan wajah yang mengerikannya itu.


"Nona, maafkan aku..."


Kami menariknya dan membungkam mulutnya agar tidak dapat berteriak. Kenapa mereka selalu memiliki cara termudah untuk mengatasi suatu masalah, ya? Aku sangat tidak menduga bahwa ini akan berhasil menculik salah satu dari mereka.


Mereka berdua terlalu kuat hingga pria tersebut tidak dapat bergerak bebas, apalagi pukulannya terlihat tidak menyakitkan bagi kami. Kami segera membawanya turun tangga, mengikatnya di pohon, lalu menciptakan sebuah pelindung yang tak dapat didengar oleh siapapun dari luar. Aku bertanya-tanya, darimana Nora mendapatkan tali rafia hitam itu?


"Ternyata tali ini hampir sekuat tali tambang, ya!" Ia terlihat sangat senang dengan posisi tangannya yang menyilang.


"Sialan, kenapa kalian bisa keluar dari sana! Lepaskan aku! Maling!"


Sepertinya Ia tidak tahu tentang pelindung yang dibuat oleh Lana. Memang benar, suaranya tidak terdengar dari luar dan tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya. Ia terus berteriak hingga Ia lelah dan memutuskan untuk berhenti.


"Apakah kau sudah puas berteriak?"


Nafasnya terengah-engah, dengan keringat yang bercucuran Ia menatap ke arahku dengan perasaan amarah.


"Kenapa? Kenapa tidak ada seorang pun yang mendengar teriakanku?"


"Benarkah? Bukankah itu berarti tidak ada orang yang peduli denganmu?" dengan nada ejekku sambil jongkok menatapnya.


Ia terus berusaha melepaskan diri sembari melontarkan pertanyaan kepada pria tersebut beberapa kali namun tidak ada jawaban pasti darinya. Ia hanya bergumam melanturkan sesuatu yang tidak jelas seperti kami akan diculik oleh tuan mereka.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanyaku.


Lana nampak tengah memikirkan sesuatu, dan akhirnya Ia membuat pria tersebut tertidur dengan sihirnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Nora memutar-mutar kepala pria tersebut.


"Lihat saja nanti~"