The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 12 - Gadis Periang



"Halo! Salam kenal~"


Dengan senyumannya, Ia menepuk pundakku seolah Ia sangat ingin berteman denganku. Aku selalu berpikir apakah Ia yang menjadi salah satu penyebab kenapa sifat Nora berubah. Dan Ia menceritakannya semuanya dan memang benar bahwa itu adalah ulahnya.


"Sebenarnya... Dia adalah orang yang seharusnya kita cari." Sembari merawat lukaku.


Dari sekian banyaknya orang, anak kecil ini lah orang yang kami cari?


Benar, dia adalah orang yang sama denganku. Sebelum itu kami menjelaskan semuanya kepada Hartmut tentang apa yang terjadi sebelumnya mulai dari siapa pria tersebut dan alasan kenapa Ia hanya menyerang diriku dan Nora.


Tidak lain adalah gelangku lah menjadi penyebab dari kekacauan ini. Mungkin saja Ia masih hidup, karena sangat mustahil bagi para iblis untuk mati semudah itu. Oleh karena Itu, gadis tersebut berpikir ikut serta untuk melindungiku dari tangan iblis sepertinya.


Intinya, apa yang kupikirkan sebelumnya memang benar-benar valid. Nora merupakan anak dari seorang bangsawan yang telah lama hancur akibat ulah dari pelayannya. Meski begitu, aku tidak tahu dengan lebih detail lagi seperti dari keluarga mana Ia berasal dan alasan keluarganya bisa menerima iblis sepertinya.


Hartmut melihat ke arah Nora dengan tatapan yang curiga. Kami bukan berencana untuk menyembunyikannya setelah menyeretnya ke dalam masalah kami, hanya saja Nora pasti berpikir bahwa Ia akan mendapatkan masalah jika menyebarkan namanya ke orang lain.


Tapi Hartmut tidak mempermasalahkannya, Ia akan merahasiakan semua kejadian yang terjadi hari ini. Dengan satu syarat, Ia harus dibayar dengan 1 koin emas. Dasar si mata uang. Nora memberinya, dan semua masalah selesai.


"Nah, bocah. Kamu pasti ingin tahu kekuatan yang disembunyikan oleh gelang itu, kan~"


"Bicaranya sambil jalan aja," balasku.


Mau bagaimanapun, hari ini sudah mulai gelap. Meski Nora memiliki sihir api, aku tidak ingin berjalan di tengah hutan apalagi saat gelap. Itu seperti sesuatu yang menakutkan pasti akan muncul di hutan ini.


"Aku ikut kalian, ya!" ucapnya dengan sangat enteng.


Sebenarnya, Ia terseret hingga ke sini karena ulah dari iblis itu. Akan sangat kerepotan jika Ia tidak memiliki tempat untuk istirahat apalagi Ia adalah seorang anak kecil. Hartmut juga sementara akan ikut dengan kami karena perjalanan menuju ke desa sebelah akan memakan waktu satu hari jika dengan berjalan kaki.


Siapa suruh tidak membawa bekal?


Yah, namanya musibah bisa saja terjadi tanpa sepengetahuan kita. Selama perjalanan, mereka menjelaskan satu persatu tentang semua kejadian ini. Nora pergi keluar karena mengira bahwa Ia bisa menemukan petunjuk mengapa keluarganya bisa hancur.


Namun tiba-tiba iblis yang mengajaknya mengirim Nora ke dalam labirin tersebut karena kecerobohannya. Ia melihat sosok yang Ia kenal saat tinggal di kediaman orang tuanya, namun itu hanyalah mayat hidup. Sama seperti yang kita temui sebelum dikirim ke labirin, Yaitu sosok ayahnya.


Nora sudah lama membuang semua perasaannya terhadap keluarganya setelah mereka mati secara abnormal kecuali dirinya dan beberapa orang. Sampai di sini saja Ia dapat bercerita, selebihnya Ia ingin merahasiakannya karena itu akan menyakiti hatinya.


Lalu mengenai anak kecil yang bersama kami, Ia adalah pustakawan yang seharusnya kami temui di kota Nevákoda nanti. Tapi entah mengapa justru tujuan itu datang kepada kami dengan sendirinya.


Namanya adalah Lana, dan yang membuatku sangat terkejut adalah bahwa usianya sudah lebih dari 200 tahun. Ia menyibakkan rambutnya dan terdapat kedua telinganya yang runcing dengan anting emasnya. Ia begitu cantik lebih imut jika rambutnya tetap seperti itu.


Ia adalah seorang elf, atau orang sini menyebutnya mereka sebagai peri hutan. Tidak banyak dari mereka yang hidup di antara manusia, karena mereka selalu mengecap manusia sebagai seorang yang suka memperbudak ras lain.


Meski begitu, Ia merupakan pustakawan yang telah menjaga tempatnya bekerja selama sekitar seratus tahun. Itu juga yang menjadi alasan mengapa Ia adalah satu-satunya orang yang memiliki wawasan luas di antara mereka.


Tapi entah mengapa sifatnya seperti anak-anak meski usianya yang sudah begitu panjang. Lagipula, apa elf memang tidak masalah jika memberitahu umur mereka ke manusia seperti kami? Apalagi dia adalah perempuan.


Dan apa kabar dengan milikku? Sayangnya tidak ada kaitannya dengan tipe serangan, tapi di lain sisi merupakan gelang yang cukup spesial. Meski tidak dapat menggunakan sihir atau memperkuat tubuh, gelang ini akan membantuku untuk memperlambat waktu di saat waktu tertentu saja.


Oleh sebab itu gelang ini sering disebut sebagai gelang yang dapat mengubah waktu dan dimensi. Ini sedikit menarik karena banyak hal yang terpikirkan olehku setelah Ia menjelaskannya.


Kami terlalu sibuk membicarakan hal tersebut, hingga kami tak sadar kami sudah berjalan hingga keluar dari hutan. Meski hanya sebentar, rasanya sudah lama aku tidak melihat kembali desa tersebut. Pemandangan desa di sore hari terlihat begitu indah dengan awan yang tersinari oleh cahaya matahari di baliknya.


Aku meminta maaf kepada Hartmut karena telah menyeretnya ke dalam masalah kami. Dengan begitu, semua masalah sudah selesai dan kami kembali menuju ke desa bersama.


"Apa kalian tidak melupakan sesuatu?"


Benar juga,aku berbohong kepada Zahra bahwa kami akan pulang ke bumi setelah bertemu dengan orang yang kita maksud.


"Maaf, aku sebenarnya bohong biar kamu mau ikut dengan kami~"


Aku hanya bisa tersenyum dan bersikap ramah kepadanya. Dengan perasaan yang kesal, Zahra mulai menarik pisaunya secara perlahan dari kantong. Aku dapat melihat matanya yang kosong dan itu sungguh membuatku ketakutan hingga menggigil.


"Tenanglah, kalian berdua. Kita akan membicarakan ini di penginapan nanti." Nora menahan tangan Zahra. "Lagipula, Lana akan membantu kita untuk masalah ini, bukan?"


"Benar! Jangan terburu-buru begitu! Aku menyesal karena membohongimu. Jadi, yang tenang, ya..."


Ia menghela nafas yang begitu panjang. Pasrah dengan keadaan, Ia menyarungkan kembali pisaunya dan memilih untuk diam untuk sementara. Aku beruntung tidak membuatnya marah hanya karena hal sepele.


Kupikir ini bukan hal yang sepel, deh.


Akhirnya kami tiba di taman kota. Hartmut mengucapkan salam perpisahan dan pergi entah kemana, sementara kami kembali ke penginapan. Sebelum tiba di kota, Lana sudah menutup telinganya dengan rambut.


Pemilik penginapan yang sedari tadi menunggu di tempat resepsionis senang setelah melihat kami, namun sedikit terkejut saat Ia melihat aku sendiri yang terluka di sini. Kami hanya bilang bahwa Nora pergi ke rumah temannya yang dekat dari desa ini dan membawanya keluar karena selalu mengunci dirinya di kamar.


Lana jengkel dengan ejekan Nora dan memukulnya seperti anak kecil. Tidak, dia sungguh imut! Akan aku memeluknya saat dia lengah. Di lain sisi juga Zahra merasa dirinya sedang dihina oleh Nora karena kebiasaannya menyendiri dan membaca buku.


Aku hanya tertawa menyeringai ke arahnya dan Ia memukul perutku dengan sangat keras. Itu sungguh menyakitkan.


"Baiklah, waktunya kita diskusi antara wanita, kakak~" ajak Lana yang kemudian menyuruh Nora untuk menunjukkan ruangannya.


Kami akhirnya kembali ke sini dan langsung membaringkan tubuhku di atas kasur. Ternyata kasur sekeras ini terasanya nyaman ketika sedang kelelahan.


Nora mengambil bangku dan menyuruh Lana untuk duduk tepat dihadapan kami. Dan di sinilah kami mulai serius membicarakan tentang gelang emas yang kukenakan ini.


...****************...



...(Ilustrasi untuk Lana)...