
Di malam hari ini, bersama dengan suasana yang terasa berat kami berkumpul di tempat ini. Lana merupakan salah satu pengguna gelang yang sama denganku, oleh karena itu, Ia mengetahui kekuatan dan rahasia di setiap gelang yang ada di dunia ini.
Akhirnya aku mendapatkan kejelasan yang pasti apa yang disembunyikan oleh gelang ini. Aku akan menduga bahwa gelang yang kukenakan inilah yang menjadi penyebab mengapa kami berdua bisa sampai ke dunia ini.
"Kalau begitu, aku akan mengatakan kebenarannya sekarang."
Lana mulai membicarakan semuanya. Gelang ini merupakan salah satu dari gelang mukjizat dengan total 9 gelang yang ada di sini, termasuk yang kami berdua kenakan. Jadi, masih ada 7 lain yang tersisa di luar sana, namun Lana tidak mengetahui di mana semua pengguna lainnya mengingat bukan hanya elf saja yang menggunakan, melainkan ras lain selain kami berdua.
Dengan usia mereka yang pendek, gelang tersebut menjadikan salah satu harta yang diwariskan kepada anak dan cucunya untuk digunakan di masa depan. Dengan kata lain, aku adalah salah satunya yang sudah ditemukan olehnya.
Siapa pengguna dari gelang ini sebelumnya? Itu adalah teman lama Lana, namun Ia tak memiliki nama. Lana selalu memanggilnya dengan nama Lina karena menganggap sebagai adiknya sendiri yang mana sudah menemaninya sejak Lina kecil.
Ternyata Ia adalah perempuan, bukan seorang lelaki. Itu jauh berbeda dari yang aku bayangkan sebelumnya. Lalu, apa hubungannya dengan Nora? Nora diselamatkan oleh Lina ketika keluarganya tengah mengalami musibah yang membuat seluruh makhluk yang ada di sana mati akibat sihir.
Dan di saat itu juga, Lina yang merupakan salah satu pengguna gelang tersebut melihat semua kejadian yang terjadi di kediamannya. Ia melihat Nora yang tengah keracunan langsung mengobatinya dan merawatnya hingga Ia pulih dan dapat bertahan hidup secara mandiri.
Kejadian tersebut terjadi sekitar 13 tahun yang lalu. Dengan kata lain, Nora sekarang berusia 18 tahun dan lebih tua dariku. Akibat miasma yang dihasilkan oleh racun tersebut, orang yang tinggal di dekatnya akan langsung tertular dan mati.
Itulah alasan kenapa Eleonora melarang untuk menyebut nama lengkapnya ketika berada di sekumpulan orang-orang, karena memang orang akan menjadi khawatir jika mereka tertular dengan racun yang Ia bawa. Selama ini aku dibohongi olehnya yang mana akan dibawa oleh utusan raja dan langsung ditarik paksa.
Tapi Nora menyangkalnya karena memang itu yang akan terjadi jika kami memanggil namanya, kecuali namanya yang sakral. Ia adalah satu-satunya orang yang selamat dalam insiden tersebut. Tidak ingin warganya tertular, raja memberi perintah kepada siapapun yang dapat menemukan keberadaan Nora akan diberikan hadiah dan penghargaan.
Tapi kenapa harus ditarik menuju ke kerajaan? Itu karena kerajaan memiliki penyihir yang dapat menetralisir kutukan yang bersemayam di dalam tubuh seseorang. Sepertinya wabah di sini dianggap sebagai kutukan oleh mereka, memang benar apa yang mereka bicarakan.
Dan akhirnya kami mulai membicarakan tentang gelang emas ini. Ia pernah menyebutkan bahwa gelang ini dapat mengubah waktu dan dimensi. Benar, seperti yang ia katakan, aku dapat mengubah waktu seperti yang aku lakukan saat menangkis bayangan dari pria tersebut.
Lalu, untuk yang dimensi Lana mengatakan bahwa kami dapat bepergian kemanapun yang aku mau seolah dapat menuju dimensi lain.
"Akan lebih jelas jika kamu mempraktekkannya sekarang," ucap Lana yang kemudian berdiri menuju ke pintu. "Kemari."
Aku berjalan menuju ke pintu dan menyuruhku untuk memegang gagang pintu sesuai dengan perintahnya.
"Lalu, bayangkan suatu tempat yang ingin kamu tuju, contohnya ke rumah Eleonora."
"Baik."
Aku membayangkan bahwa pintu ini berhubung dengan pintu dapur Nora lalu menyuruhku untuk membukanya. Ketika kubuka, alangkah terkejutnya diriku dapat melihat dapur di rumah Nora.
Zahra dan Nora terlihat kebingungan karena aku hanya diam mematung tanpa mengatakan sepatah katapun. Lana bilang karena hanya kami para pengguna gelang saja yang dapat melihatnya secara langsung. Namun, orang lain juga dapat melihatnya ketika aku mengizinkannya untuk melihat apa yang kami lihat.
Lana menyuruh Zahra dan Nora untuk bersama memegang tanganku, dan akhirnya mereka juga dapat melihat apa yang kami lihat. Meski hanya tiga hari, rasanya sangat nostalgia dapat kembali ke rumah Nora.
Tunggu, bukankah itu artinya...
Tidak salah lagi, ini adalah kamarku yang berada di bumi. Aku mencoba untuk memasuki dan aku terhuyung ke depan dan terjatuh di atas kasur yang empuk. Aku menangis tersedu-sedu karena dapat kembali lagi ke duniaku kembali.
"Jadi ini ruangannya Emma?" Nora ikut memasuki ruangan dan disusul oleh Lana.
Zahra nampak kebingungan apakah Ia akan masuk atau tidak. Ia merasa bersalah dengan apa yang Ia lakukan kepadaku sebelumnya dan ragu jika aku tidak akan pernah memaafkannya. Namun aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Malah sebaliknya, jika tidak ada Zahra mungkin aku akan kesepian selama perjalanan sebelumnya. Mendengar apa yang kuucapkan, Ia melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan.
Nora dan Lana sempat kegirangan karena dapat berjalan kesana kemari melihat seisi ruangan ini. Dan ada satu hal yang membuatku menarik perhatianku, yaitu merasa bahwa tubuhku terasa lebih ringan setelah melewati pintu. Itu yang menjadi alasan kenapa aku terhuyung-huyung saat masuk ke sini.
"Jadi gelang ini juga bisa menyambungkan pintu menuju ke dunia lain, ya?" Lana mulai memikirkan sesuatu.
"Emma, benda apa ini?" tanya Nora sambil menunjuk ke arah komputer.
"Itu alat permainan dari dunia ini," balasku.
Semuanya terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Lana sedang memikirkan sambil membaca buku komik yang Ia ambil, Nora sibuk mengotak-atik papan tik komputer, sementara Zahra hanya diam berdiri di depan pintu.
Aku sangat bersyukur kami dapat kembali lagi ke sini. Tapi, ini terlihat tidak ada yang berbeda dari saat terakhir kali aku di sini. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur dan melihat bahwa hari ini masih di hari yang sama seperti sebelumnya.
Hari Minggu, pukul 2 siang. Waktu tidak ada yang berubah sama sekali, yang artinya bumi berhenti berjalan selama aku berada di dunia lain. Mustahil.
Aku sempat khawatir jika ini akan menyebabkan kiamat, tapi sepertinya di luar rumah sedang baik-baik saja.
"Baiklah, aku sudah kembali ke rumah. Yang artinya sudah bebas dari dunia yang kejam itu." Sembari mengusap air mataku.
"Benar juga, aku tertarik dengan buku gambar ini. Apakah ada yang lainnya?" Mata Lana berbinar-binar.
"Tentu saja ada, aku akan memberikan semua serinya ke kamu sebagai rasa terima kasihku."
Aku mencarikan semua buku untuknya. Hingga tak kama setelah itu, Zahra bertanya kepada Nora apakah dirinya masih dapat menggunakan sihir di dunia ini. Aku juga penasaran dengan itu dan langsung memintanya untuk mengeluarkan sihirnya.
Itu bisa, hanya saja sihir api yang Ia gunakan sedikit lebih kecil dibandingkan dengan yang sebelumnya. Nora terlihat kesal karena sihirnya menolak keberadaannya hingga Lana juga mencobanya dan terlihat baik-baik saja dan tidak ada yang kurang dari sihirnya.
Lalu Nora berpikir apakah Ia bisa menggunakan sihir lain selain sihir api, dan semuanya normal kecuali sihir petirnya yang sedikit lebih besar dari biasanya. Jadi intinya ada kekurangan dan kelebihan jika menggunakan sihir di bumi.
"Kalau begitu, apakah kalian ingin membantuku?"
Dengan wajah sedihnya, Ia meminta bantuan kepada mereka berdua. Apa yang ingin Ia lakukan? Apa itu untuk menolong Ibunya yang saat ini mungkin sedang disandera oleh perempuan kaya tersebut?
Aku tidak tahu, tapi yang jelas, tatapannya itu membuat tekadnya terlihat semakin besar.