The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 18 - Interogasi



"Di mana Yuli! Kenapa dia tidak ada di mana-mana!"


Seorang paruh baya yang tengah memukul keras meja kerjanya karena mendengar kabar bahwa Yulinda menghilang.


"Maafkan saya, saya sangat menyesal karena telah lalai dengan pekerjaan saya," balas dari seorang pria lain.


Akibat hilangnya Yulinda, seluruh orang yang ada di rumah panik dan berusaha mencari keberadaannya melalui komputer yang diduga juga ikut dibawa olehnya, namun hasilnya nihil.


Malam hari yang begitu sangat menegangkan, pria paruh baya yang sangat khawatir itu memutuskan untuk duduk diam dengan menutup matanya dan memikirkan cara lain untuk menemukan keberadaannya. Ini sangat tidak wajar baginya keluar hingga malam hari sendirian, karena biasanya Ia akan meminta supir untuk menemaninya.


"Tetap cari mau bagaimanapun caranya."


Dengan begitu, orang-orang yang awalnya hendak menculik kami semua akhirnya pergi dan memprioritaskan pencarian Yulinda. Semuanya nampak sepi, dengan cahaya rembulan yang menyinari pria tersebut dari jendela yang berada di belakangnya.


Jika saja Ia tidak menemukan Yulinda dalam waktu yang lama, maka Ia akan merasa bersalah karena tak dapat melindunginya dengan tangannya sendiri. Tangannya sangat bergetar, berharap suatu keberuntungan berpihak kepada dirinya dan Yulinda.


Di lain sisi, kami yang selamat hingga ke rumah dengan membawa oleh-oleh senang karena orang suruhan Yulinda pergi dengan tergesa-gesa.


"Akhirnya mereka pergi," ucap Nora yang mengintip melalui jendela depan.


Benar, sepertinya orang dari kediamannya mulai sadar dengan menghilangnya Yulinda. Padahal saat ini Ia sedang diikat di kursi dengan lakban di mulutnya.


"Nora, kenapa harus selalu diikat di kursi?" tanyaku keheranan.


"Itu wajar jika tidak ingin tawananmu kabur, 'kan?"


Aku merasa curiga jika Ia memiliki fetish tersembunyi darinya. Padahal jika dipikir secar logika kami tidak harus menggunakan kursi sebagai alat tambahan. Aku memasang wajah yang sedikit ketakutan saat menatapnya, itu karena terlihat sekali bahwa Ia sangat menikmatinya.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam, dan sudah saatnya kami memutuskan apa yang harus kami lakukan terhadap Yulinda. Aku tak ingin memperpanjang masalahnya dan memaksanya untuk mengatakan apa maksud dari semua ini. Tapi Ia hanya diam dan tak memberi jawaban apapun. Ia sempat marah-marah kepada Lana tentang bagaimana Ia bisa merasuki tubuhnya.


Lalu Lana menjelaskan tentang hal lain mengenakan kami akan dijual sebagai budak, dan itu membuatku berpikir bahwa Ia menganggap kami sebagai barang yang mana dapat dibeli dan dijual dengan sesuka hatinya. Bukan hanya jahat, namun Ia juga tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap sesama manusia.


Lana seperti ingin menggodanya dengan iming-iming akan memberinya manisan jika Ia memberi tahu semua niat jahatnya itu. Mau bagaimanapun, itu memang sifat Lana sekali yang membuat suasana yang awalnya tegang menjadi tenang.


"Bukannya itu kejam? Padahal dia juga sama seperti kita." Itu membuat kami terlihat seperti orang jahatnya di sini.


"Kenapa harus kasian? Padahal kamu ingin dijual olehnya, loh~"


Tidak, aku tidak bisa membiarkan dia tersiksa seperti ini mengingat sekarang bukanlah dunia lain. Aku bertanya kepada Lana, kenapa Ia tidak menggunakan sihir kejujurannya kepada Yulinda. Sayangnya itu hanya bisa digunakan sekali dan memiliki waktu jeda selama dua hari.


Jika kami ingin menggunakannya lagi kami harus menunggunya, tapi tidak untuk sekarang yang waktu kian menipis. Walaupun Ia membawa sebuah laptop hanya ada video drama dan lagu yang ada di dalamnya.


Kami sedikit melakukan perbincangan kecil dengannya dan sempat membuatnya tertawa, tapi Ia selalu saja dingin sama seperti yang biasa dilakukan Zahra. Aku tahu ini memang sedikit susah untuk membuatnya jujur, tapi kami harus mendapatkannya mau bagaimanapun caranya.


Waktu terus berjalan, detikan jam yang menempel di dinding terdengar hingga ke seluruh ruangan ini. Semua tampak tenang hingga Ibu datang dari pintu depan dengan cemilan hangat yang Ia bawa dari luar.


Entah apa yangs sedang aku pikirkan, aku berencana melepaskan tali yang mengikatnya meski Nora sempat menghentikanku. Mau bagaimanapun juga dia masih seusia kita yang seharusnya tidak diperlakukan seperti itu. Ia terlihat lemas karena udara kian dingin dengan pakaian tipis yang Ia kenakan.


Ia sempat kabur untuk menyelamatkan diri, namun sebuah dinding tak terlihat muncul untuk mengurung durinya. Sangat beruntung Lana dapat berpihak kepada kami, atau mungkin Yulinda sudah pergi begitu saja. Ia sangat ketakutan karena ada sesuatu yang mengelilinginya, dan aku menyuruhnya untuk menyerah karena mau sekuat apapun usahanya Ia tak akan bisa kabur.


Kondisi kini menjadi terbalik. Aku mencoba untuk membujuknya agar menurut dengan perkataanmu. Dengan rasa ketakutan, Ia menuruti apa yang ingin aku katakan.


Aku menggandeng tangannya dan mengajak Ia menuju ke kamar hanya berdua dengan kue yang kuambil dari dalam kulkas, sementara mereka akan menunggu di sini hingga aku selesai berbicara dengannya.


Aku tidak menyangka dengan sifatnya yang keji itu ternyata masih tersimpan perasaan takut di dalam hatinya. Entah kenapa aku merasa seperti seorang kakak yang tengah menenangkan adiknya saat sedang menangis.


Kami akhirnya tiba di kamarku. Sebenarnya aku belum pernah menenangkan seseorang seperti dirinya, lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya? Aku hanya bisa menyuapi kue ke dalan mulutnya, dan ternyata dia menurut dan memakan kuenya.


"Apa kamu sudah tenang?" Ia menganggukkan kepalanya.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, untuk saat ini, aku akan mencoba yang terbaik untuk membuatnya berbicara. Jika saja Ia merupakan suruhan dari orang lain, mungkin tidak akan perlakuan jahat kepadanya.


Aku mencoba untuk berbicara baik-baik dengannya, menceritakan tentang kisah hidupku hingga berujung mendapatkan musibah yang dibuatnya. Ia tahu bahwa semua yang Ia perbuat merupakan kesalahan fatal yang mungkin bisa mempengaruhi citra milik ayahnya.


Untuk lebih lanjut, Ia tidak ingin menceritakannya karena mungkin aku akan terlibat dalam masalah ini. Oleh karena itu, Ia akan mencari perempuan lain untuk Ia jual kepada orang yang di tuju. Aku sangat terkejut, meskipun Ia mengakui kesalahannya tetapi masih ingin melanjutkan tindakannya itu.


Aku memarahinya dan menegurnya agar tidak melakukannya tapi Ia tetap membantah dan melakukannya mau bagaimanapun caranya. Entah apa yang biasa dipikirkan oleh orang kaya tersebut, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sembari menghela nafas yang begitu panjang. Dia masih seumuran denganku, dan tak sepantasnya Ia melakukan tindakan kriminal.


Tapi, ada satu hal yang dapat aku simpulkan mengenai permasalahan ini, yaitu Ia benar-benar dipaksa oleh orang lain untuk melakukannya. Jika memang benar, maka itu sangat keterlaluan mengeksploitasi seorang anak di bawah umur semaunya.


Aku akan langsung akan menyingkatnya saja, jika Ia jujur bahwa Ia dipaksa melakukannya, kami semua akan membebaskannya. Ia begitu ketakutan hingga tangannya bergetar hingga membuatnya tak ingin mengatakannya.


Ia sangat mudah sekali untuk ditebak, sangat disayangkan dengan tindakan orang tersebut. Menggunakannya sebagai bidak untuk keuntungannya sendiri, seolah dirinya bukanlah pelaku sebenarnya.


Apa yang harus kulakukan? Masih ada masalah Nora yang harus diselesaikan juga. Aku tak ingin membantu Yulinda mau bagaimanapun caranya, karena memang ini tidak ada kaitannya denganku.


Selain itu, Ia juga tak ingin mengotori tangannya sendiri, oleh karena itu Ia Memaksa Zahra untuk melakukannya. Permasalahan ini semakin rumit, belum lagi masalah percintaan yang dimaksud saat Ia membully Zahra.


Aku akan mencatat semua permasalahan yang terjadi di dalam otakku sendiri. Ketika semua bukti telah dikumpulkan, maka aku akan menyatukannya dan menelaah semua yang ada.


Ternyata asyik juga jika aku bermain sebagai detektif.


Masih banyak hal yang harus kulakukan untuk saat ini. Pertama, mencari tahu siapa yang menjadi orang suruhannya dan tujuannya. Kemudian yang kedua dan terakhir, aku akan mencari tahu siapa yang terlibat dalam permasalahan ini.


Dengan begitu, langkah menuju puncak akan terlihat oleh kedua mata ini.