The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 2



Sungguh mengejutkan kalau diriku melihat sesuatu yang begitu menakutkan, yaitu sebuah pisau yang keluar dari tangannya. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat ketakutan waktu itu hingga jantungku berdegup begitu cepat.


"Apa kau tahu apa yang kumaksud, 'kan? Kalau sampai besok kau tidak ada, maka..." Ia menjatuhkan pisau tersebut dan jatuh hingga tertancap ke tanah. "Mungkin bisa lebih kejam daripada yang kau bayangkan." Menyentuh dagu lalu mengangkat kepalanya hingga saling bertatapan.


Itulah yang Ia ucapkan sebelum mencabut pisau kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Apa yang sedang terjadi dengan mereka? Memang benar aku mendengar seluruh ucapan mereka, tapi sayangnya tak ada satupun yang terserap olehku sama sekali.


Mereka membicarakan masalah percintaan, oleh karena itu aku tidak paham dengan permasalahannya. Maaf saja jika diriku ini tidak paham tentang percintaan, karena seumur hidup aku tak pernah merasakannya.


"Apa yang harus kulakukan?" lirihnya sambil menundukkan kepalanya.


Aku tak ingin terlibat dengan masalah mereka, jadi aku berencana untuk meninggalkannya secara diam-diam.


"Tunggu!" Kuhentikan langkahku setelah Ia memanggilku. "Aku tahu kamu berada di sana sedari tadi."


Tunggu, bagaimana dia bisa tahu kalau aku di sini?


Apa dia punya mata batin sehingga bisa melihat sesuatu yang ada di balik tembok? Apa boleh buat, aku keluar menunjukkan diriku di hadapannya. Ia menatap dengan mata yang berkaca-kaca, seolah ingin meminta bantuan dariku.


"Aku tak bisa menolongmu, jadi jangan berharap lebih kepadaku."


"Tidak, aku tidak berharap begitu..." Ia menghentikan ucapannya.


Baiklah, mungkin aku akan sedikit baik kepadanya untuk saat ini. Aku membantunya berdiri dan membersihkan debu yang menempel pada pakaiannya. Ini mungkin sesuatu yang menakutkan baginya karena dibully bahkan hingga diancam seperti tadi.


"Jika itu aku, mungkin aku akan sedikit melawannya," ucapku.


"Kamu tidak tahu masalah apa yang kualami, jadi lebih baik kamu diam saja."


Ternyata orang pendiam sepertinya bisa emosi, ya? Aku merasa bersalah kepadanya.


"Maaf. Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Bukannya mereka bertiga masih berkeliaran di sekitar sini?"


"Aku... tidak tahu..."


Apakah ini adalah jalan buntu baginya? Sekali lagi, aku tidak bisa menolongnya karena aku juga tidak ingin menjadi daging cincang di tangan mereka. Ia terus menutup mulutnya, jadi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.


Mungkin aku akan membawanya ke rumahku terlebih dahulu, jadi di sana dia bisa menenangkan dirinya sejenak.


"Bagaimana kalau saat ini kau mampir ke rumahku?" Aku menarik lengannya.


"Tapi... aku tidak ingin melibatkanmu ke dalam masalahku."


"Lupakan masalahmu, ikut saja denganku."


Aku menarik lengannya dan berjalan menuju ke rumahku. Aku rasa dia sangat ketakutan, aku bisa mengetahuinya setelah memegang tangannya yang bergetar tanpa henti.


Kenapa bisa jadi peduli begini? Apakah aku memang selabil ini? Aku sendiri tidak tahu apa yang aneh dengan pikiranku dan tindakanku.


Ini adalah pertama kalinya aku melakukannya. Sebelumnya, aku selalu menghindari masalah apapun itu yang kemungkinan akan melukai diriku. Apakah mungkin karena aku sudah mulai bertumbuh dewasa?


Namun itu tidak akan mengubah apapun tentang diriku. Maka, aku akan selalu menjadi diriku yang seperti biasanya.


Aku terus menggandeng tangannya hingga tiba di depan toko. Ini sedikit memalukan mengingat kita melakukannya di sepanjang jalan, apalagi di tempat yang ramai.


"Jadi ini tokomu?" tanyanya sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat nama toko kami.


"Apa kau pernah datang ke sini sebelumnya?"


"Pernah waktu aku bersama dengan Ibuku saat aku masih SD."


"Berarti kita pernah bertemu bahkan sebelum SMP, ya?"


"Maaf?" Memiringkan wajahnya.


Dari reaksinya, aku yakin bahwa dia tidak pernah ingat bahwa kita saling mengenal satu sama lain. Memang benar, bahkan kami tidak saling mengenal nama. Entah kenapa suasananya menjadi sangat absurd.


Aku mempersilahkan Ia untuk memasuki toko, dan kulihat Ibu masih tetap berada di tempat duduknya dengan sebatang rokok di tangannya.


"Cepet banget pulangnya? Dan siapa di sampingmu itu?"


"Bu, dia temanku." Aku hanya bisa bilang begitu karena bingung mau bicara apa kepada Ibu sambil mengarahkan tanganku ke arahnya.


Jadi namanya Zahra, ya? Namanya sangat berbanding balik dengan situasinya.


"Ajak dia masuk ke dalam sana." Ibu meninggalkan tempatnya untuk pergi menuju ke dapur.


"Jadi namamu Zahra? Kenalin, namaku Emma. Kukira kau lupa kalau kita ini satu sekolah."


"Hah? Kita satu sekolah?"


Entah kenapa aku jadi merasa kesal akhir-akhir ini, semua percakapan yang kulakukan dengan semua orang serasa tidak masuk akal sama sekali. Aku mencubit pipinya dengan perasaan kesal lalu menyeretnya hingga ke ruang tamu.


"Apaan sih?"


"Kenalin, aku Emma. Dan aku benar-benar satu sekolah denganmu. Paham?"


"Ah, maaf. Aku baru tahu kalau kamu satu sekolah denganku."


"Makannya, jangan kebanyakan baca buku di perpustakaan!"


Tiba di ruang tamu, aku membuatnya duduk dan mengambil beberapa roti dan minuman teh yang kubuat sendiri dari dapur. Aku kira Ibu akan mengambilkannya, ternyata dia hanya pindah tempat duduk saja.


"Silahkan."


"Makasih."


Setelah itu aku duduk tepat di depannya. Tidak ada obrolan sama sekali, bahkan kami tidak saling bertatap mata. Ini sangat memalukan kalau sifat kekanak-kanakanku muncul di saat yang tidak tepat. Aku akan berhati-hati lain kali.


"Kenapa kau tidak minum saja tehnya?" ucapku dengan senyuman.


"Apakah boleh? Bukankah ini mahal?"


"Hanya kali ini saja aku biarkan kamu meminum ini secara gratis. Lagian, tehnya tidak semahal itu, kok."


"Tapi, perasaanku sedikit buruk karena tehnya warna ungu." Menatap sinis ke teh tersebut.


"Ini teh herbal, cocok buat menghilangkan rasa cemas yang kau alami sekarang ini."


Ia mengambil cangkir teh tersebut dan meminumnya dengan perlahan.


"Bagaimana? apakah kamu sudah tenang sekarang?"


Kuharap dia bisa tenang sekarang. Teh yang kuseduhkan merupakan teh herbal yang terbuat dari bunga lavender. Itu sangat cocok untuk menghilangkan rasa cemas berlebihan seperti yang Ia alami.


"Maaf membuatmu terseret ke dalam masalahku. Mungkin aku akan pulang sekarang."


"Tunggu, kok cepat sekali? Kenapa kita tidak mengobrol sedikit lama di sini?"


Ia terdiam dan memalingkan wajahnya seolah Ia benar-benar agar membuatku tidak terlibat dalam masalahnya. Sebenarnya, berbahaya jika keluar di malam hari, apalagi kalau rumahnya jauh dari sini. Lebih baik jika aku menawarinya untuk menginap di sini hingga situasinya membaik.


"Kalau mau, kau bisa menginap di sini untuk sementara. Aku tidak tahu apa masalahmu dengan mereka, tapi, aku akan membantumu sebisa mungkin."


"Tidak, aku tidak bisa menerima tawaranmu lebih dari ini. Nyatanya, aku juga tidak tahu apa yang mereka permasalahkan dengan keluargaku."


"Tunggu..." Ia tidak tahu masalah apa di antara mereka? "Untuk apa kau datang besok dengan mereka?"


"Aku tidak tahu! Kalau aku tidak datang besok, Ibuku akan dalam masalah juga!" Dan dia menangis setelah mengatakannya.


Aku mencoba menenangkannya dengan cara memeluknya dari samping. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Sangat jarang sekali bagi seorang pendiam sepertinya mendapatkan masalah serumit ini.


Kalau dia tidak datang, Ibunya juga dapat masalah? Apakah dia terlilit hutang, atau hal yang lain? Lalu, apa hubungannya dengan masalah percintaan yang mereka maksud tadi?


Ibu mendengar semua percakapan kami dari balik pintu. Sebenarnya, Ibu hendak pergi berbicara dengan kami, namun tidak ada kesempatan sama sekali.


Bukankah ibunya itu... Ibu memikirkan sesuatu di dalam benaknya.


Ibu bersandar ke pintu lalu menghisap rokok sambil menatap ke arah langit-langit.


"Jadi masalahnya belum selesai sampai sekarang, ya?" lirihnya.