The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 4



Di mana ini? Aku tak dapat melihat apapun di sini. Sejauh mata memandang, hanya ada kegelapan yang menyelimuti diriku.


Ah, aku baru ingat. Kejadian sebelumnya lah yang membuatku berada di sini saat ini. Aku dapat merasakan sakit yang sangat luar biasa di sekujur tubuhku, namun aku tak dapat mengeluarkan suara untuk berteriak.


Ini adalah cara kematianku yang sangat tidak aku sukai. Andai saja aku dapat hidup kembali untuk yang kedua kalinya, aku berharap dapat hidup dengan damai dan jauh dari masalah.


Namun, suatu hal terjadi setelah itu. Saat rasa sakit ini berhenti, seorang gadis muncul tepat di depanku. Aku merasa familiar dengan sosoknya, yaitu sosok saat Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah gubuk waktu itu.


Aku mendengar suara kecilnya, namun aku tak dapat mengerti apa yang Ia ucapkan. Bahasa apa yang Ia gunakan? Sebelum aku meraihnya, tiba-tiba cahaya datang dari belakangnya dan aku terbangun dari tidurku.


Atap yang terasa sangat asing, bersama dengan wangi bunga yang tercium di kamar yang aku tempati.


"Dimana... ini?"


Tubuhku sangat panas dan merasakan pusing yang luar biasa, sehingga susah bagi diriku untuk bangun saat ini. Tetapi, aku berusaha memaksakan diriku untuk berdiri dan keluar dari sini. Itu membuat nafasku menjadi berat hingga mataku berkunang-kunang.


Tempat ini tidak seperti punya orang kaya, atau mungkin ini tempat rahasia miliknya. Aku dapat melihat diriku mengenakan sebuah gaun putih tanpa lengan. Dengan usahaku, aku membuka pintu ruangan dan keluar dari sini.


Alangkah indahnya rumah yang ada di sini, semuanya terbuat dari kayu dan memiliki dua lantai. Saat ini, aku berada di lantai kedua. Aku akan menarik ucapanku sebelumnya, ini memang benar-benar tempat milik orang kaya.


Di kedua sisi juga memiliki tangga, aku berusaha untuk menuruninya sambil berpegangan pada pagar secara perlahan. Sayangnya aku tak dapat menahan rasa sakitku yang membuatku terjatuh hingga ke bawah. Suaranya sangat keras, hingga beberapa saat kemudian setelah diriku terjatuh, seseorang datang dari luar rumah.


Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena mataku kabur. Yang dapat kurasakan saat ini yaitu bahwa Ia berusaha memapahku menuju ke kamar kembali. Sudah kuduga, aku tak dapat keluar dari sini.


Sepertinya aku akan menyerah dengan hidupku. Apakah aku akan diperkosa olehnya? Atau mungkin akan dijadikan sebuah budak lalu dijual kepada orang lain? Malangnya nasibku tak dapat menghindari semua itu.


"Hei..." Seseorang nampak sedang memanggilku.


Suaranya sangat cantik meski hanya sekilas. Jadi yang memapahku tadi bukan seorang laki-laki, melainkan perempuan, ya?


"Hei... apa kamu..." Sekali lagi aku mendengarkan suaranya. "Dengarkan aku!"


Dalam sekejap, rasa sakit yang kualami menghilang seolah tidak terjadi apa-apa. Sekarang aku dapat melihatnya dengan sangat jelas. Seorang wanita cantik dengan rambut putihnya yang terikat hingga ke punggung tengah duduk sembari memegang tangan kananku.


Siapa dia? Apakah dia kawanan dari wanita itu?


Namun, pakaian yang Ia kenakan sangatlah berbeda dengan apa yang biasa dipakai oleh orang-orang. Ia mengenakan sebuah baju lengan panjang dengan pelindung kulit dan sabuk yang menyilang di perutnya.


"Siapa kamu?" tanyaku.


"Syukurlah kamu masih hidup!" ucapnya dengan senyuman.


Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya, karena memang aku tidak mengenalinya. Mau bagaimanapun caranya, aku harus pergi dari sini.


"Di mana ini?" tanyaku.


"Kamu sekarang berada di rumahku. Seharusnya kamu aman jika tinggal sementara waktu di sini."


Aman katanya? Bukannya aku adalah korbannya di sini sekarang?


"Sebenarnya, aku ada pertanyaan untukmu." Mengangkat lenganku dan mengelus sebuah gelang pemberian dari Ibu. "Aku sudah lama tidak melihat gelang ini, apa kamu memiliki hubungan dengan orang itu?"


Gelang ini? Dari tadi apa yang dia ucapkan, sih?


Aku menjadi bingung karena semua yang Ia ucapkan tidak ada yang dapat kupahami. Apa jangan-jangan, Ia berencana mencuri dan menjualnya? Tapi kalau memang begitu, seharusnya Ia bisa melakukannya saat aku tak sadarkan diri tadi.


"Aku... tidak tahu apa yang kamu maksud dari tadi."


"Maaf, akan kuperkenalkan diriku. Namaku adalah Eleonora. Saat ini, kamu berada di bagian hutan terdalam wilayah yang tak terjajah."


"Maksudmu, di mana itu?"


"Tidak, harusnya aku bertanya terlebih dahulu. Siapa kamu? Dan bagaimana kamu bisa masuk ke dalam rumahku?"


"Aku tidak tahu maksudmu."


"Dengar, mungkin akan lebih baik jika akan kujelaskan sekarang. Jika dilihat dari wajahmu, kamu bukan orang-orang dari wilayah sini. Apa kamu paham?"


"Tidak sama sekali."


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah Ia menyerah untuk menjelaskan semuanya kepadaku.


"Lalu, siapa perempuan yang bersamamu tadi?"


Tunggu, perempuan bersamaku? Itu berarti Zahra!


"Dimana dia sekarang!?"


Saat mendengar namanya, aku langsung loncat. dan aku pikir Ia kenal dengan dia karena satu kelompok.


"Tenanglah, aku akan mengantarkanmu ke sana."


Aku harus tenang dalam situasi seperti ini. Akan lebih baik kalau aku berhati-hati terhadap wanita yang mencurigakan ini. Sekarang, aku mengikutinya tepat di belakangnya.


Rumah ini begitu luas, aku tak menyangka akan ada rumah sebesar ini di tengah hutan yang bahkan hampir tidak ada orang yang melewatinya. Kami berjalan menuruni tangga dan kemudian masuk di sebuah ruangan yang berada tepat di bawahnya.


Saat Ia membukakan pintu tersebut, aku dapat melihat Zahra yang tengah diikat menggunakan tali di sebuah kursi kayu dengan kain yang menutup mulutnya. Ia yang sadar aku masuk ke dalam ruangan tersebut, Ia berusaha untuk melepaskan diri hingga terjatuh ke lantai.


Ruangan ini begitu sangat gelap, aku yang awalnya marah dengannya menjadi sedikit kasihan dengannya.


"Lihat? Dia adalah orang yang berusaha untuk membunuhmu sebelumnya."


Ia menjentikkan jarinya kemudian menyalalah api di beberapa obor yang menempel di berbagai sudut dinding. Aku sangat terkejut melihatnya, bagaimana bisa Ia melakukannya? Dan Ia hanya menjawab bahwa ini semua adalah sihir api biasa.


Wanita tersebut mengembalikan posisi Zahra ke semula, kemudian Ia menyuruhku untuk bertanya tentang apa yang terjadi kepada kami berdua.


Benar juga, meski aku masih ada pertanyaan yang kutanyakan kepada wanita tersebut, urusanku dengan Zahra belumlah selesai. Aku mendekat ke arahnya dengan perasaan emosi, bisa-bisanya aku tertipu dengannya.


"Apa maksudnya ini? Kenapa kamu berusaha untuk membunuhku?" lalu wanita itu melepaskan kain yang mengikat mulutnya.


"Kenapa aku harus menjawab?" jawabnya.


"Tentu saja harus, karena aku sangat menyesal menolongmu."


Ia hanya memalingkan wajahnya dan tidak menjawab pertanyaanku. Ini membuat diriku menjadi sangat benci kepadanya, akan lebih baik kalau aku menenggelamkannya ke dasar laut.


Wanita tersebut kemudian menutup kembali mulutnya dan mematikan lampu ruangan, meninggalkannya di ruangan yang gelap gulita adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


"Apa kamu paham sekarang? Aku melontarkan pertanyaan yang sama sepanjang hari kepadanya, namun dia memilih untuk diam sama seperti tadi."


Masalah ini akan menjadi sangat rumit jika aku sendiri yang mengatasinya. Aku perlu bantuan dari orang lain, tidak untuknya saat ini.


Memang benar hal yang berkaitan sihir tadi sangat berada di luar nalar, namun aku harus menerima fakta bahwa saat ini aku berada di dunia lain. Ya, dunia lain yang sering muncul di beberapa komik dan game yang sering aku lihat.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana aku bisa sampai di sini? Dan apakah aku bisa kembali ke rumah?


...****************...



...(Ilustrasi untuk Zahra)...



...(Ilustrasi untuk Eleonora)...