
Apa yang membuatku berpikir bahwa menyendiri adalah hal yang lebih baik daripada bergaul dengan orang lain? Alasan yang cukup sederhana, yaitu diriku tak ingin terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk di zaman modern ini.
Banyak orang yang kukenal memiliki sifat yang acuh tak acuh, hingga sering mementingkan egonya sendiri. Itulah sebabnya baik di luar atau dalam lingkungan sekolah, aku lebih memilih untuk diam dan berbicara kepada diriku sendiri.
Namaku adalah Emma Anggraini, seorang siswi SMP yang baru saja lulus setelah 3 tahun menetap di sekolah yang sama. Jika boleh jujur, sebenarnya aku tidak sepenuhnya jujur dengan apa yang kuucapkan barusan.
Meski aku tidak bergaul dengan banyak orang, paling tidak aku masih memiliki teman baik di sekolah maupun media sosial. Selain itu, aku bermain beberapa game konsol dan komputer yang punya banyak sekali friend list meski kebanyakan dari mereka hanyalah pajangan. Itu sama saja aku berbohong kepada diriku.
Di pagi hari ini, aku berjalan keluar dari sekolah dengan tas ranselku. Dan akhirnya, aku telah mendapatkan raporku setelah menunggu beberapa jam lamanya. Semua orang nampak senang setelah mendengar bahwa semuanya lulus, dan berencana merayakannya di sebuah restoran mewah.
Sangat boros, bukankah uang itu bisa digunakan untuk yang lebih berguna lagi? Yah, lagipula itu uang mereka, jadi aku tak punya hak untuk mengatur urusan mereka semua.
Di jalan pinggir jalan raya ini, aku berjalan sembari bermain ponsel genggamku. Ada banyak sekali orang yang berkunjung kemari untuk menikmati suasana sejuknya udara di pegunungan.
Aku baru ingat bahwa besok libur panjang akan dimulai, maka pengunjung yang datang kemari semakin bertambah. Selain itu, Ibuku juga membuka sebuah toko roti, dan akan ada banyak orang yang berdatangan ke toko kami mulai besok.
Sedikit cerita tentang masa lalu, sebelum aku masuk ke sekolah dasar, ayahku meninggalkan Ibu sendirian di rumah dan pergi entah kemana tanpa memberi kabar setelah kepergiannya. Hal yang paling kuingat waktu itu adalah waktu ayah menusuk pergelangan Ibu dengan menggunakan sebuah pisau dapur.
Kling kling!
Suara lonceng nan Indah berbunyi ketika membuka pintu depan toko dengan wangi roti yang tercium langsung oleh hidungku.
"Aku pulang!" ucapku.
"Selamat datang." Aku melihat Ibu yang tengah melayani pelanggan.
"Ibu, aku lulus. Biarkan aku membantumu selama liburan."
"Makasih, cepat ganti pakaianmu."
Sepertinya Ibu tidak peduli dengan hasil raporku. Aku langsung berlari kecil menuju ke kamar yang ada di lantai dua. Kubuka jendela kamar untuk membiarkan udara luar masuk ke dalam ruangan.
Setelah berganti, aku langsung menuju ke tempat Ibu untuk membantunya. Meski begitu, hari ini tidak banyak pembeli yang datang ke toko.
Itu karena letak tokonya sedikit jauh dari tempat wisatanya. Tapi di sini juga banyak warung dan angkringan yang berjejer di pinggir jalan raya, jadi kupikir akan ramai ketika malam hari nanti.
"Terima kasih telah membeli roti buatan toko kami."
Akhirnya pelanggan terakhir hari ini keluar dari toko dengan senyumannya. Hari ini sungguh melelahkan, aku menghabiskan waktuku untuk membantu Ibu hingga pukul 9 malam.
Aku menghela nafas yang begitu panjang saat setelah duduk di bangku sembari memutarkan lenganku karena kelelahan. Ibu yang juga selesai dengan tugasnya langsung mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.
"Ibu, tolong jangan merokok di toko."
"Ini toko milikku, jadi apa urusanmu?"
Seperti biasa, Ia selalu mengatakan sesuatu yang membuatku jengkel. Ini sudah menjadi sifatnya semenjak Ia berpisah dengan ayah. Hingga sekarang, aku masih dapat melihat bekas luka yang ditutupi oleh sebuah gelang berbentuk bunga. Aku sangat kagum dengannya karena tidak menyerah dalam ketekunannya meski telah menerima luka yang begitu dalam.
"Apa?" tanyanya menatap.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
Sebisa mungkin aku tak ingin membicarakan hal tersebut di depannya. Aku langsung berdiri dan berencana untuk segera berganti pakaian. Namun, Ibu menarik lenganku dengan tatapan yang begitu serius.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu sekarang. Jadi, duduklah." Aku menuruti perkataannya.
Entah kenapa suasananya menjadi sangat serius. Ibu melepaskan sebuah gelang yang Ia kenakan lalu mengangkatnya tepat di depan mukaku. Gelang emasnya begitu Indah dan bersinar jika dilihat lebih dekat lagi.
"Apa warna dari gelang ini?" Apa yang ditanyakan kepada Ibu sedikit aneh.
"Kuning keemasan, mungkin?"
Ibu diam sejenak setelah menatap gelang itu beberapa saat. Aku tidak tahu apa yang sedang Ia pikirkan sekarang ini, atau mungkin saja gelang itu membuat Ibu teringat akan suatu kenangan di masa lalunya dengan seseorang.
"Apa yang Ibu maksud?"
Sekali lagi Ibu menarik lenganku lalu memberikan gelang tersebut kepadaku dan berucap, "Kenakan gelang ini, ini adalah gelang yang diberikan kakekmu kepadaku waktu sekolah dulu."
Kakek? Ayah dari Ibuku, 'kan? Bukan ayah dari ayahku yang sudah meninggalkan Ibu? Mungkin kalau kukenakan di lingkungan sekolah, guru pasti akan menyita gelang ini karena terbuat dari emas.
"Bu?"
"Mungkin mendiang kakek akan senang kalau cucunya mengenakannya."
Jadi Ayah dari Ibu, ya? Aku mengambil gelang yang Ibu berikan kepadaku lalu mengenakannya. Gelang ini memang sangat indah, bahkan susah bagiku untuk mengalihkan pandanganku dari gelang tersebut.
"Makasih, Bu. Aku akan merawatnya."
"Bagus, sekarang cepat ganti pakaianmu dan istirahatlah. Besok kita libur karena Ibu ada urusan di rumah teman Ibu. Jadi tolong jaga rumah selagi Ibu tidak ada."
"Baik, Bu."
Setelah percakapan yang begitu serius, aku langsung menuju ke kamar untuk mengganti pakaian. Aku lupa untuk menutup jendela kamarku. Untung saja jendelaku menghadap ke arah belakang yang mana hanya ada pepohonan dan jurang yang cura di sana.
Saat diriku hendak menutup jendela, aku seolah melihat siluet seseorang yang berlarian dari satu pohon ke pohon lain.
Kemudian aku meneriakinya dan bertanya, "Hei, siapa di sana!?"
Namun, tak ada respon darinya. Mungkin aku hanya sedikit kelelahan akibat pekerjaanku tadi yang membuat imajinasiku liar. Lupakan tentang hal itu, jika memang dia adalah orang asli, maka tidak mungkin baginya untuk naik ke atas sini karena tangga yang menghubungkan dengan tempat tersebut sangatlah jauh.
Kututup jendela kamar lalu menguncinya. Kubuka ponselku dan waktu menunjukkan pukul 9:10. Ini waktu yang tepat bagiku keluar untuk menghirup udara segar di malam hari.
Sebelum keluar, aku pamit ke Ibu yang saat ini sedang merokok di toko. Ini rasanya seperti aku sedang berinteraksi dengan NPC yang mama hanya iya-iya saja jika diajak mengobrol.
Akhirnya lega, udara malam begitu sejuk sekali. Aku menarik lenganku ke atas untuk meregangkan tubuh dengan mata tertutup. Malam hari adalah waktu yang tepat bagiku untuk menghilangkan penat setelah bekerja.
Orang-orang yang datang berlibur begitu tidak sabar untuk melihat pemandangan langit dari gunung di malam hari. Semua orang dapat melihat bintang-bintang bersinar dengan sangat jelas, oleh karena itu aku sangat suka keluar malam.
Untuk saat ini, aku akan pergi ke taman. Baik anak kecil maupun orang dewasa, mereka begitu menikmati liburan mereka bersama dengan keluarga mereka.
Apa yang kupunya? Itu hanyalah Ibu dan kenangan masa lalu kita bersama ayah. Andai saja ayah tidak berpisah dengan Ibu waktu itu, mungkin aku tidak akan pernah serapuh ini.
Lupakan lagi tentang masa lalu, aku memasuki taman dengan lengan yang kumasukkan ke dalam saku hoodie, dan apa yang terjadi setelah itu?
Aku melihat ada sekumpulan perempuan yang berjalan menuju ke belakang salah satu toko kosong. Aku tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kepada mereka jika dibiarkan. Apakah mereka hendak meminum minuman keras? Atau hanya sekedar perkumpulan sekte sesat?
Karena penasaran, aku datang menghampiri mereka secara diam-diam. Meski sedikit jauh, aku dapat sedikit mendengar obrolan mereka dan siapa mereka semua.
Empat perempuan, satu di antaranya adalah perempuan berkacamata dengan rambut hitamnya yang sebahu. Jika bisa disimpulkan, ini hanyalah pembullyan yang biasa terjadi di semua tempat.
Sementara tiga lainnya aku tidak mengetahui siapa mereka karena jika dilihat dari pakaiannya, mereka semua adalah orang kaya. Tetapi yang jelas, perempuan berkacamata itu adalah satu angkatan denganku meski berbeda kelas.
Aku tidak pernah tahu siapa namanya, tapi aku sering melihat dirinya menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah, seolah dirinyalah penjaga dari tempat tersebut. Aku merasa iba dengannya, tapi aku tak dapat melakukan apapun terhadap mereka.
Waktu terus berlalu, percakapan mereka mulai mengarah ke permasalahan yang serius. Maaf jika diriku ini menguping pembicaraan kalian, ini hanya untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dan memang benar, setelah si kutu buku itu berteriak membantah pernyataan dari perempuan kaya tersebut, mereka mendorongnya ke tembok dengan sangat keras hingga terjatuh. Salah satu dari mereka kemudian mengeluarkan sebuah pisau dan berencana untuk menikam si kutu buku.
...****************...
...(Ilustrasi untuk Emma Anggraini)...