The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 17 - Tuan Putri yang Diculik



Akhirnya kami memutuskan untuk kembali menuju ke rumah dengan melewati pintu yang langsung terhubung ke kamarku. Kenapa tidak menggunakan kekuatan ini dan langsung melompat lewat jendela? Aku tidak tahu cara mereka berpikir, terkadang apa yang mereka lakukan susah untuk ditebak.


Kami bertiga menggotong pria tersebut dan mengikatnya pada kursi yang ada di dapur. Ibu yang tengah merokok dan duduk di toko depan datang dengan sebuah senyumannya lalu disusul oleh Zahra di belakangnya.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Ibu.


"Lihat saja nanti, tante~" balas Lana.


Memanggilnya tante terasa sedikit aneh mengingat usianya yang justru jauh lebih tua daripada Ibu sendiri. Tak lama setelah Nora mengikat tubuh pria tersebut, Lana langsung menyentuh dahi pria tersebut lalu memberikan sebuah sihir kejujuran kepadanya.


Itu sihir yang sangat menakutkan jika digunakan oleh orang yang salah, tapi beruntung jika itu adalah Lana. Setelah sihir tersebut aktif, Ia memaksakan pria tersebut berbicara dalam kondisi yang tengah tertidur. Intinya, yang mengendalikan tubuhnya bukanlah dirinya, melainkan otakknya sendiri.


"Baiklah, siapa namamu?" Lana mulai melontarkan pertanyaan pertamanya.


"Roni Prasetyo." Dengan nada yang datar.


"Berapa usiamu?" Lanjut Lana.


"31 tahun."


Sepertinya itu bekerja dengan sangat baik. Semua perkataannya adalah jujur karena ketika saat aku mengambil kartu tanda pengenalnya dari dompet yang ada di saku belakangnya. Uangnya lumayan banyak dengan beberapa kartu ATMnya, mungkin aku akan mengambil uangnya sedikit dari sini.


Tidak salahnya aku mengambil uang itu, karena memang dia seorang penjahat yang ingin menculik kami hingga Ibu juga ikut-ikutan mengambil uangnya. Lupakan masalah uang, kami akan menginterogasinya tentang apapun yang Ia ketahui.


Pertama, darimana perintah itu berasal adalah dari seseorang yang menjadi nonanya. Sebelum menuju ke pertanyaan selanjutnya, Zahra memberitahu nama dari orang yang membullynya pada waktu itu. Dan memang benar, saat Nora bertanya siapa yang menyuruhnya, namanya cocok dengan orang yang membully Zahra.


Namanya adalah Yulinda Permatasari, dan dia adalah anak dari seorang konglomerat yang memiliki banyak perusahaan di seluruh pulau ini. Aku baru tahu ada seorang anak konglomerat seperti dia sekolah di negeri.


Dan apa yang diperintahkan oleh si Yulinda adalah untuk menculik siapapun yang ada di rumah ini. Tapi sayangnya itu tidak akan pernah berhasil karena di sini ada Nora dan Lana yang merupakan seorang pendekar pedang dan penyihir.


"kalau begitu, biarkan aku masuk ke dalam tubuhnya!" Kemudian Lana melompat ke arah pak Roni.


"Apa yang kamu lakukan saat masuk ke dalam tubuhnya?" tanya Nora.


"Bagaimana kalau kita menyusup ke rumahnya dengan tubuh ini? balasnya dengan tubuh pak Roni.


Di saat Ibu sedang sibuk meraba-raba dan mengecek tubuh pak Roni dan lepas dari ikatannya, Lana melakukan pose seperti anak kecil yang seperti biasa lakukan. Meski ini terlihat sangat menjijikkan, aku sangat menikmatinya di saat dia bersenang-senang seperti ini.


Dengan beberapa informasi yang didapat, rumah yang saat ini ditinggali oleh Yulinda berada jauh dari sini. Akan memakan waktu jika kami melakukan perjalanan kaki dan lebih baik jika mendapatkan kendaraan untuk pergi ke sana. Tapi itu pemikiran yang lama, karena sekarang aku memiliki kekuatan dari gelang ini akan lebih mudah untuk pergi kemanapun yang aku mau.


"Kalau begitu, apakah Emma bisa mengantarkanku ke sana?" Lana langsung menepuk pundakku seolah dirinya ingin mengajakku untuk berduaan.


Meski aku ketakutan dengannya, tetap saja di dalamnya ada Lana yang sedang mengendalikan tubuhnya. Jika memang dia ingin di antar menuju ke rumah Yulinda, maka aku tahu dimana tempat yang cocok untuk melakukan teleportasi.


...****************...


Di ruangan yang terlihat megah, dengan berbagai alat aksesorir yang dipajang di lemari kaca, terdapat seorang gadis yang tengah mengenakan gaun hitamnya di atas kasur, yaitu Yulinda. Dengan perasaan yang sedikit terganggu, Ia terus menerus mengetik sebuah papan tik pada laptopnya.


"Kenapa lama banget, sih?"


Sudah beberapa jam Ia menunggu, namun orang yang menjadi suruhannya belum kembali untuk melaporkan rencananya dalam menculik kami semua. Di saat sedang sibuk, Ia terganggu dengan perkataan bawahannya yang gagal saat menangkap kami berdua saat setelah aku disuntikkan sesuatu.


Apa yang terjadi padanya? Dia sedang dikurung dan akan menghabiskan waktunya di ruangan kedap suara. Nona yang begitu keji hingga memperlakukan manusia semaunya. Jika saja Ia ketahuan melakukan kejahatan, ada kemungkinan Ia akan dilaporkan kepada polisi atas tuduhan penyiksaan terhadap seseorang.


Tetapi, itu tak akan membuat hatinya goyah demi tujuannya. Hingga beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu dari luar dengan menyebutkan namanya. Yulinda mengetahui siapa pria tersebut dan langsung mengizinkannya untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Maafkan saya karena baru melaporkan," ucap pria tersebut yang merupakan Lana.


"Maaf, sepertinya kami belum bisa melakukannya karena semakin lama banyak orang yang berlalu-lalang."


Mendengar hal itu, Yulinda langsung menghentikan tangannya dan mendekat ke arah pria tersebut. Kesabarannya telah habis, Ia tak tahan ingin segera menculik kami semua dan memberinya sebuah pelajaran.


"Bukannya sudah kubilang, lakukan secepatnya. Atau kau mau aku siksa seperti dia?"


"Tolong maafkan aku!"


"Baiklah. Jika kau sudah berhasil menangkap mereka, masukkan saja ke ruangan A3 dan aku akan menyusul." Ia berbalik lalu menyibakkan rambutnya.


"Maafkan saya, nona. Apa yang akan anda lakukan setelah menangkapnya? Mungkin kami bisa membantunya nanti."


"Benar juga." Melirik ke arah Lana. "Suntikkan saja obat yang ada di atas meja ruangan itu, lalu aku akan memanggil orang yang akan membeli mereka. Jangan sampai dia jadi cacat karena tindakan kalian."


Matanya sangat datar, Ia terlihat seperti ingin sekali menangkap kami lalu menjualnya. Lana sempat berpikir apa yang membuatnya kami menjadi target mereka, dan ada satu hal yang dapat Ia simpulkan dalam benaknya, yaitu menjadikan kami sebagai budak atau bahkan menjual organ tubuh kami.


Menurutnya itu hal yang sangat lumrah di dunianya karena hukum yang berlaku di sana masih sangat tidak ketat dan kerap terjadi sebuah tindakan ilegal. Sontak Lana langsung mengeluarkan sihirnya dan memegang erat kedua tangannya dari belakang.


"Hei, apa yang kau- Lepaskan!!"


Ia mencoba berteriak meminta tolong, namun itu hal yang sia-sia karena pelindung miliki Lana dapat dibuat menjadi kedap suara.


"Jadi begitu, ya~" Setelah semuanya jelas, Lana keluar dari tubuh pria tersebut dan langsung menunjukkan wujud aslinya.


"Hah!? Kenapa bisa ada anak kecil di sini!!"


"Jahat~ Padahal aku lebih tua darimu, loh! Yah, aku akan meminjam tubuhmu sebentar, ya~" dan langsung memasuki tubuh Yulinda dengan kesadaran yang masih ada.


Tunggu, kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?


Sepertinya Ia belum tahu apa yang terjadi kepadanya, dan langsung bergerak sesuai dengan keinginan Lana.


"Wah, tubuhnya lemah banget~" ejek Lana dengan suara Yulinda.


Dengan begitu, misi penculikan Yulinda telah selesai dan segera mencari apapun yang bisa dijadikan sebagai bukti. Lana berpikir bahwa benda kotak yang digunakannya akan berguna lalu membawanya. Sebelum itu, Ia mengambil jaket yang ada di lemari dan keluar rumah dengan santai sembari menyapa orang-orang dengan sangat sopan.


"Apakah kamu terkejut? Aku ini hantu yang bisa merasuki tubuh manusia, loh~"


H- Hantu? Jadi selama ini si pak tua itu kau rasuki!? Kenapa!! Kemana kau akan membawaku!?


"Tentu saja ke rumah Emma. Sayang sekali, niat ingin menculiknya malah kamu yang diculik, hehe~"


Hingga saat berada di luar pagar, Lana berjalan menuju ke belakang dan terdapat kami yang sedang khawatir dengan Lana jika terjadi sesuatu. Kami semua terkejut karena yang datang adalah Yulinda, namun setelah diamati sifatnya ternyata itu adalah Lana.


Nora memujinya karena menculiknya ternyata lebih mudah jika Lana yang melakukannya. Aku tidak menyangka rencana mereka terkadang di luar pemikiranku, dan sepertinya aku harus belajar darinya juga.


"Baiklah, waktunya untuk interogasi~" ucap Lana dengan two peace miliknya.


...****************...



...(Ilustrasi untuk Yulinda Permatasari)...