The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 10 - Labirin Misterius



Di sebuah tempat yang entah berantah ini, kami bertiga dijebak oleh seorang pria misterius saat hendak mencari Nora yang telah hilang selama satu hari. Kami berusaha untuk berpikir tenang, namun tak ada yang bisa dilakukan.


Mansion yang sungguh besar dengan beberapa cabang dan ruangan di setiap sudut dan sisi. Zahra yang awalnya sangat tenang kini tengah ketakutan bahkan memegang tanganku hingga erat.


Aku selalu berpikir kenapa Ia ketakutan? Sementara kekuatan fisiknya bahan bisa dibilang lebih kuat jika dibandingkan dengan orang pada umumnya. Apapun itu, kami harus menemukan jalan keluar sebelum semuanya menjadi buruk.


"Sepertinya lingkaran sihir barusan itu gerbang menuju ke tempat ini." Hartmut melihat sekeliling.


"Sepertinya begitu," balasku. "Apa yang harus kita lakukan?"


"Aku pun tidak tahu. Akan lebih baik jika kita mencari tahunya sambil mengelilingi seluruh labirin ini."


Seluruh katamu? Bukankah ini labirin yang gak ada ujungnya?


Entah mengapa perasaanku tidak nyaman mengenai hal ini. Tapi dia memang benar, kita tidak bisa tinggal diam di sini atau mati. Ini menjadi tugas yang sangat berat mengingat kita tidak membawa makanan apapun, jadi waktu adalah kuncinya.


Kami mencoba mengecek ruangan satu per satu dan menemukan banyak sekali jenis barang yang asing bagiku dengan rak buku yang tersusun rapi di rak. Aku memang sempat membacanya sekilas, namun semuanya hanyalah buku cerita yang tidak terlalu menarik perhatianku.


Selain itu, semakin jauh kita menjelajahi labirin ini, akan semakin gelap ruangannya. Awalnya aku dan Zahra ketakutan, tapi beruntung ada Hartmut yang membantu kami untuk membunuhnya.


Hartmut melarang kami untuk membuka apapun itu yang berbentuk menyerupai kotak atau koper, itu mungkin bisa saja sebuah jebakan yang dapat memakan manusia. Itu sangat mengerikan hingga membuat kami berdua menyerah dengan tujuan kami.


Dengan hanya bermodalkan obor, kami melihat adanya keberadaan makhluk misterius yang duduk di tengah lorong. Pandangan kami terbatas saat itu, dan akhirnya kami mendekati sosok tersebut dan mendapati seekor makhluk kerdil berkulit hijau yang tengah makan bangkai makhluk lain.


Sontak Hartmut mengeluarkan pedangnya dan menebas lehernya hingga keluarlah darah dari tubuhnya dan terjatuh.


"Sepertinya bukan hanya kita bertiga yang ada di sini, tapi mereka juga. Aoa kau pernah membunuh monster sebelumnya?" Hartmut menatap kami.


" Maaf, kami belum pernah."


Hartmut menghela nafas karena kecewa. Untuk apa pisau kami? Kenapa kami mengenakan perlengkapan berburu? Itulah yang kupikirkan karena merasa aneh jika semua yang kupunya tidak digunakan dengan cara yang tepat.


Baiklah, aku akan mengeluarkan pisau dari sarungku dan mencoba menatapnya dan melihat adanya pantulan diriku pada pisau tersebut.


"Apa kamu yakin mau membunuh?" Zahra yang sedari tadi bersembunyi di belakangku mulai berbicara.


"Tentu saja. Kalau tidak, bagaimana kita bisa keluar dari sini!" Dengan wajah datarku.


Aku sedikit heran dengannya, antara kegelapan atau monster, mana yang membuatnya takut seperti ini? Lupakan tentangnya, aku harus berusaha bersikap setegas mungkin.


Ternyata sudah waktunya untukku menunjukkan diriku. Mau tidak mau, aku harus mempunya pengalaman membunuh dalam waktu yang dekat. Memang benar aku takut membunuh mereka karena mirip dengan kami para manusia, tapi tetap saja mereka adalah monster yang harus dibasmi.


Hingga pada akhirnya, kami menemukan monster lain yang berkeliaran dan menyuruh kami untuk membunuhnya, namun aku takut. Hartmut hanya bisa menggelengkan kepalanya dan langsung menusuk lengannya lalu menyuruh menyuruh Zahra untuk menusuk lehernya.


Tapi karena tidak ada yang berani, dengan terpaksa Ia membunuhnya sendiri dan berucap, "Gini, ya. Kalau kalian ingin bertahan hidup di luar sana, kalian harus siap akan situasi yang seperti ini."


Kami sedikit bingung apakah harus menyesalinya atau tidak, karena kalau belajar membunuh mereka, apa gunanya? Itu karena kami anak rumahan jadi kupikir untuk saat ini itu tidak diperlukan.


Kami melanjutkan perjalanan dengan suasana yang canggung. Kami menemukan sebuah ruangan yang sedikit menarik, yaitu tempat penelitian sihir dengan barisan rak dengan buku yang sedikit berantakan.


"Menarik," Hartmut mengambil salah satu buku yang terdapat pada rak.


"Tapi, kenapa banyak sekali buku cerita di tempat seperti ini?" ucap Zahra.


"Aku juga tidak tahu, tapi mungkin kita akan menemukan petunjuk dari sini."


Memang benar, tapi mana mungkin kami akan membaca semuanya mengingat ada ribuan buku yang tersimpan selama perjalanan. Saat sedang mencari buku, Zahra terkejut dengan adanya lambang bunga yang mirip dengan desan gelangku pada punggung buku yang Ia temukan.


"Kosong?" Aku pun kebingungan.


"Aku pikir kita bisa menemukan petunjuk dari sini." Ia menghela nafas yang begitu panjang.


"Tidak, maksudku... apanya yang kosong?"


"Apa kamu tidak lihat, hah!? Tidak ada tulisan di dalam buku ini!!" Zahra mendekatkan bukunya ke mukaku.


Bukan itu yang aku maksud, namun sesuatu yang tertulis di dalam buku tersebut. Aku mencoba menjelaskan kepada mereka kalau aku bisa melihat apa yang tidak bisa lihat.


Aku merebutnya lalu mencoba untuk memahaminya. Bab 1 berjudulkan 'Karavel' dengan sebuah gambar kapal yang berada tepat di atasnya.


"Apa karena kamu menggunakan gelang itu yang membuatmu bisa melihat yang tertulis di buku?" Hartmu mencoba untuk berdekatan denganku. "Apa pria tua tadi ternyata kawanmu?"


"Tentu saja aku tidak tahu, dan ini baru pertama kali tahu tentang buku ini."


Aku membalikkan halamannya dan membaca seluruh cerita yang ada. Dikisahkan seorang pemuda yang hendak berlayar bersama dengan 8 temannya lainnya menjelajahi dunia demi mencari sebuah harta karun. Ternyata hanya cerita bajak laut yang klasik.


Mereka merupakan seorang pelaut amatir yang tidak tahu-menahu mengenai kapal dan lautan. Dengan percaya diri, mereka berlayar ke entah berantah hingga suatu kejadian menimpanya dan terdampar di suatu pulau yang sangat luas dan tak berpenghuni.


"Dan nama pulau tersebut adalah..."


Saat hendak melanjutkan cerita, pembicaraan terpotong akibat suatu getaran yang terjadi di dalam sini. Itu membuat semua barang berjatuhan dan kami tak bisa menyeimbangkan diri.


"Aku menemukanmu~"


Pria tua tersebut muncul terlalu cepat dengan bayangan yang mengerikan di belakangnya. Dengan kehadirannya itu cukup membuat kami sangat ketakutan saat meliriknya, bahkan tubuh Zahra bergetar saat memegang tanganku.


"Aku akhirnya menemukanmu... AKU MENEMUKANMU!!" Teriakannya merusak gendang telingaku.


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena ini terlalu tiba-tiba. Ia menyerangku dengan angat cepat dan aku menutup mataku karena ketakutan hingga Hartmut berusaha mencoba untuk melindungi kami.


Namun, suatu keajaiban muncul. Sebuah perisai tak kasat mata muncul melindungi kita.


"Halo kalian!"


Suara itu?


Dari belakang pria tersebut, muncullah Nora yang langsung mencekiknya dengan lengan hingga tak dapat bergerak.


"Nora!"


Kami begitu lega ketika melihatnya baik-baik saja. Awalnya kami takut jika Ia mengalami sesuatu yang mengerikan, dan ternyata Ia juga tertarik ke labirin ini dan baik-baik saja. Aku bersyukur karena dapat melihatnya lagi setelah satu hari pergi menghilang.


"Sialan, kenapa kau bisa di sini!"


"Salahmu sendiri masukin aku sini, hehehe~"


Tunggu, kok ada yang aneh dengannya?


"Kalian bertiga baik-baik aja kan?"


"Yah, kami baik-baik saja," balas Hartmut.


Kenapa dia sangat berbeda sekali? Dari dia yang tenang menjadi ceria begini, apa yangs sedang Ia pikirkan?