
"Wah~ Mandi di duniamu sangat menyenangkan, ya!"
Sialan, aku sudah muak dengan Lana yang terlalu aktif saat di kamar mandi. Ia menghabiskan seluruh sabun cair milik Ibu dan berakhir terkana pukulan maut darinya. Aku menyesal membawanya bersama kami.
Tapi aku tidak mempermasalahkannya karena masih memiliki stok di gudang. Selain itu, sebelum aku membawanya keluar dari rumah, aku harus memastikan mereka untuk memahami tata krama selama mereka ingin tinggal di sini.
Mulai cara menyapa, berjalan, hingga berpakaian. Mereka juga harus tahu teknologi apa saja yang ada dan paling tidak aku ingin mereka bisa cara mengoperasikan ponsel genggam.
"Hei, kotak hitam itu gunanya buat apa?" Lana menunjuk ke arah televisi.
"Itu televisi, gunanya untuk melihat acara siaran secara langsung." Aku menyalakannya dengan menggunakan remote.
Televisi tersebut menayangkan sebuah acara kartun anak-anak, dan sepertinya akan cocok untuknya yang masih kecil. Meskipun begitu, Nora yang sedari tadi duduk diam di sampingnya juga terkesima setelah melihatnya hingga Ia lupa untuk berkedip.
Apapun itu aku tidak mempermasalahkannya, yang penting mereka tidak membuat masalah selama berada di sini. Itu akan menakutkan jika saja mereka tidak ingin pulang ke dunia mereka. Sepertinya aku juga menyesal berpikir bahwa dunia lain menyenangkan tanpa adanya barang elektronik.
Jika boleh jujur, mereka yang merupakan orang barat menggunakan pakaian sini terlihat lebih cantik, apalagi Lana dengan kaos yang terlihat kebesaran.
Maaf, hanya ada orang dewasa di sini.
Kemudian terlihat Zahra yang keluar dari kamar mandi yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Ini membuatku merasa hidup kembali karena dapat menikmati hari-hariku di rumah setelah satu minggu lamanya. Ini masih sore, jadi kami ingin menghabiskan waktu terlebih dahulu daripada memikirkan yang tidak-tidak.
Sepertinya Zahra juga terlihat tenang hari ini dan langsung duduk di sofa bersama mereka. Aku juga ikut duduk namun dari kursi yang ada di belakang. Melihat gelang emas ini, aku menjadi memikirkan sesuatu.
Jalan seperti apakah yang akan aku tempuh selanjutnya? Setelah menyelesaikan permasalah Zahra dan Nora, akan aku apakah gelang ini? Apa yang akan aku lakukan dengan kekuatannya yang sangat tidak masuk akal ini?
Dengan suara samar televisi dan cahaya mentari yang masuk dari celah jendela belakang, aku melamun merenungkan hal tersebut dengan tatapan kosong. Apakah aku akan baik-baik saja dengan ini?
Di saat aku melamunkan sesuatu, Nora memanggil namaku beberapa kali dan berucap, "Ah, maaf. Ada apa?"
"Apakah aku bisa berbicara denganmu sebentar?"
Aku berdiri dan menyuruhnya untuk pergi ke dapur denganku dan hanya berdua. Matanya sangat berbinar-binar setelah melihat televisi dan ingin meminta izin untuk tinggal di sini beberapa hari. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena aku sendiri yang mengizinkan mereka untuk tinggal di sini.
Tapi, aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan dunia lain. Dengan semangat, Nora langsung menyuruhku untuk menghubungkan kembali pintu dapur ini dengan pintu kamar penginapan. Benar, sebelumnya saat tiba di sini dan menutup pintu penghubungnya, itu menjadi hilang setelah Lana membuka pintu kamar.
Aku penasaran jika dapat melakukannya kembali. Aku memegang gagang pintu tersebut dan membayangkan jika pintu ini akan terhubung dengan pintu penginapan. Dan yang benar saja, itu langsung terhubung setelah aku membukanya.
Nora masuk ke dalam dan mengambil sebuah uang koin yang tersimpan di dalam tasnya. Ia menyuruhku langsung menutup pintunya setelah Ia melemparkan koin tersebut.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Ini eksperimen. Bukankah kamu penasaran kalau duniaku akan berhenti ketika kita di sini?"
Benar juga, aku tak terpikirkan tentang itu. Jika dunia lain berhenti, seharusnya koin itu masih melayang saat aku membukanya kembali. Sebelum itu, Ia terlebih dahulu membuka pintunya dan mendapati ruang keluarga dan menutupnya kembali.
Dan saat itu adalah giliranku, semua yang terjadi di dunia lain sama dengan saat terakhir kali aku menutupnya. Koin yang tadi dilemparnya terjatuh hingga menggelinding ke sudut ruangan.
"Benar, waktunya berhenti," ucapku.
"Artinya aku bisa bebas berada di sini selama waktunya berhenti, 'kan?" Tersenyum dengan mata tertutup.
Sepertinya ini sangat menyenangkan ketika melakukan eksperimen. Mungkin lain kali jika ada yang membuatku penasaran, aku akan melakukannya sendiri.
"Tadi Eleonora kok kayak teleportasi?"
"WAH!" Kami berdua terkejut setelah Ibu berbicara dan datang entah dari mana.
"Padahal dari tadi ibu duduk di belakang kalian, kenapa bisa tidak sadar begitu?"
"Aku tidak tahu itu." Akhirnya kami menjelaskan cara kerja kekuatan dari gelang ini.
Malam pun tiba, semua kendaraan yang berlalu lalang mulai sedikit dan kami menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan televisi. Aku ingin sekali keluar, tapi aku khawatir jika mereka juga ingin ikut dan malah membuat onar saat di luar.
Apalagi Lana yang memiliki telinga panjang itu akan menjadi masalah tersendiri jika orang-orang melihatnya. Aku bertanya kepadanya apakah Ia tidak bisa mengubahnya ke bentuk telinga manusia. Dan Ia dengan segera merubah telinga tersebut menjadi telinga manusia.
Semuanya kagum dengan sihirnya hingga Ibu mendekat dan mengelus telinganya. Kalau begitu, kenapa tidak sedari tadi Ia melakukannya? Dengan begitu, kami semua bisa keluar meski hanya di depan toko.
Kalau begitu, aku memiliki rencana setelah ini. aku akan mengajak mereka melihat pemandangan malam di gunung. Mereka berdua nampak semangat mendengar hal itu dan langsung menyuruhku untuk mengajaknya.
Tapi sebelum itu, aku ingin mereka mengenakan pakaian tebal untuk melindungi mereka dari angin dingin di luar sana. Ini sedikit bermasalah dengan Lana mengingat tubuhnya masih anak-anak. Terpaksa kami harus mengikat kaos tersebut dan menggunakan rok pendek yang sebelumnya Ia kenakan.
Jika dilihat tidak buruk juga, setidaknya tidak ada masalah dengan caranya berpakaian. Sekarang giliran kami yang akan berganti pakaian. Aku menyuruh semuanya untuk masuk ke kamar dan memulihkannya pakaian tebal.
Nampaknya semua cocok jika digunakan oleh mereka, dengan begini kami bisa pergi keluar tanpa masalah. Kami keluar kamar dan langsung menuju ke pintu depan toko untuk menyiapkan sepatu untuk mereka.
"Ibu, kami keluar!"
"Ya."
Dan inilah saatnya mereka untuk melihat dunia luar bumi ini. Udara dingin bersama dengan aroma gorengan membuatku merasa bersemangat kembali. Mereka cukup ketakutan ketika melihat adanya kendaraan yang lewat.
"Bagaimana bisa benda itu bekerja?" ucap Lana menggunakan bahasa dunia lain.
"Aku yang berasal dari sini juga tidak tahu cara membuatnya."
"Emma bodoh~"
Semakin lama Lana menjadi sangat nakal setelah mengenalnya lebih dekat, tapi aku harus menahannya agar tidak membuatnya marah. Sebelum keluar tadi juga aku telah menyuruhnya untuk tidak mengeluarkan sihir karena di dunia ini tidak ada orang yang dapat menggunakannya.
Untung saja mereka dapat dengan cepat memahaminya. Aku mengajaknya untuk pergi ke taman karena ada banyak sekali toko dan warung yang berjejeran di sekitar sana. Ini tidak buruk juga dapat pergi keluar bersama dengan teman.
Selama kami berjalan, banyak sekali orang yang melirik ke arah Nora dan Lana dan menganggap mereka sebagai seorang ibu dan anak mengingat warna rambut mereka sama-sama putih. Di sini jarang sekali ada turis yang berkunjung meskipun adalah tempat wisata, oleh karena itu ini adalah pemandangan yang langka bagi mereka.
"Benar juga, bagaimana kalai kita beli jajanan sekitar sini?" ajakku.
"Benarkah!? Beliin!"
Tidak, dia terlalu imut bagiku hingga aku menutup mulutku karena menahan teriak. Kami menikmati waktu kami yang berharga ini. Meski kami baru saling mengenal, entah mengapa aku merasa bahwa kami sudah seperti layaknya sahabat.
...****************...
"Sepertinya kamu bebas di luar sana, ya?"
Di dalam mobil hitam gelap, seorang perempuan tengah mengintai kami dengan kacamata hitam yang Ia kenakan. Itu tidak lain adalah perempuan yang mengancamku untuk ikut menuju ke kediamannya terakhir kali.
"Apakah ini adalah keputusan yang tepat, nona?" ucap si sopir tersebut.
"Apapun itu, lakukan sesuai dengan perintahku."
"Baik."
Setelah percakapannya selesai, mobil tersebut putar balik dan pergi entah kemana dengan lampu yang menyoroti jalanan yang sepi. Aku benar-benar tidak sadar bahwa saat ini kehidupanku tidak akan damai sebentar lagi.