The Evening Primrose

The Evening Primrose
Bab 11



"Kamu gak bakal bisa keluar dari sini, loh~ Mainlah denganku lebih lama lagi~"


Apa yang sedang dia bicarakan?


Ia membuatku kebingungan dengan sifatnya yang seperti bocah. Disamping itu, pria yang sedari tadi ditahan olehnya mencoba untuk melepaskan pelukannya hingga seisi ruangan hancur. Tidak ada yang bisa kami perbuat selagi mereka bertarung.


"Apa itu Eleonora?" tanya Hartmut.


"Memang benar itu Eleonora, tapi entah kenapa itu tidak seperti dirinya."


Lantas Ia kebingungan dengan apa yang aku ucapkan barusan. Kami bergegas keluar ruangan sebelum atapnya roboh dan mendapati mereka yang tengah bertarung dengan sengit. Sihir yang sungguh luar biasa, aku melihat adanya jalur cahaya yang mirip dengan aurora mengelilinginya bersama dengan bola cahaya berwarna merah muda.


"Paman! Ayo main bareng aku~" ocehnya.


"Aku tak bisa membiarkanmu rencanaku hancur karenamu, dasar bocah!"


Bayangan yang Ia keluarkan menyerang Nora secara bertubi-tubi, namun Ia dapat menangkisnya tanpa meninggalkan kerusakan apapun. Kami tak bisa mengikuti semua pergerakannya meski kami sudah berusaha hingga membuat mata dan otak kami kesakitan.


Selagi mereka bertarung, kami bertiga kabur meninggalkan mereka dan pergi menjauh supaya tidak mengganggu mereka. Mungkin ini pilihan yang bagus, namun di lain sisi, kami juga tidak bisa meninggalkan mereka berdua bertarung hingga mati.


"Benar, larilah sejauh mungkin, Emma," gumamnya. "Sekarang hanya ada kita berdua saja, Theodore. Apa kau mau memberi tahu semua yang terjadi dengan keluargaku?"


Theodore hanya diam dan terus menyerang Nora baik menggunakan bayangannya maupun serangan fisik. Theodore adalah pelayan yang telah melayani keluarga Eleonora sejak dua generasi sebelumnya.


Akibat amarahnya yang tak terbendung karena serangannya ditangkis, sebuah bayangan merah muncul dan menyatu dengan tubuhnya. Mata hitam pekat, tanduk yang muncul di kepalanya, hingga cakar yang panjang tumbuh di tangannya.


"Jadi begitu?"


"Apa anda paham, nona Eleonora? Hamba telah melayani keluarga anda sejak sebelum anda lahir di dunia ini."


"Lalu?"


"Bukankah sudah waktunya anda untuk melayani hamba sebagai gantinya!? Itulah perjanjian yang telah kami sepakati bersama dengan mendiang kakek anda!"


Kakek?


Seketika Ia teringat kembali dengan kenangan semasa kecilnya bersama kakeknya. Hari-hari Ia habiskan untuk membaca buku dan bercerita bersamanya dengan penyakit yang dideritanya. Lalu bayangan api muncul di kepalanya, itu membuat emosi Nora tak terkontrol dan sifatnya menjadi berubah.


"Bukankah itu jahat, paman? Membuat dia mengingat masa lalunya itu bukanlah hal yang disukai oleh para wanita, tau~" Dengan senyuman manisnya.


...****************...


"Kemana kita akan pergi?!" teriak Zahra.


"Aku juga tidak tahu! Yang penting kita harus menjauh dari mereka!!" balas Hartmut.


Apapun itu, kami harus menjauh dari mereka. Itu sangat bahaya sekali, aku baru tahu kalau dia bisa bersikap seperti anak kecil seperti itu. Beberapa kali kami merasakan tanah yang bergetar, itu membuat kami hampir terjatuh beberapa kali karena itu merusak keseimbangan.


"Aku lelah, berhenti!"


Aku sangat menyesal karena tidak suka dengan olahraga. Kakiku merasa sedikit kesakitan dan lelah hingga keluar keringat di sekujur tubuhku. Untuk saat ini kami aman karena sudah jauh dari mereka, akan berbahaya jika serangannya meleset hingga ke sini.


Debu-debu beterbangan di seluruh ruangan hingga menutupi pandangan kami dan membuat kami susah untuk bernafas. Namun, sesuatu datang kepada kami dengan kecepatan yang tak kasat mata. Bayangan pria tersebut datang untuk menyerang kami.


Tapi diriku beruntung karena adanya Hartmut yang melindungiku dari serangan tersebut walaupun tanganku terkena goresannya. Sebenarnya, apa yang diincar olehnya? Apakah itu diriku? Aku hanya ingin melakukan perjalanan dengan tenang, tapi, kenapa harus ada dia di saat seperti ini?


Aku menarik nafas dengan sangat panjang dan kabur meninggalkan mereka berdua.


"Hei! Kenapa kamu meninggalkan kami!" Teriak Zahra yang sedang menyusulku.


Kami terus berlari menghindari bayangan tersebut, dan ternyata memang benar bahwa bayangan tersebut tengah mengincar diriku.


"Harusnya kalian gak usah ikut! Kan aku yang dikejar!"


"Hah?" Zahra berhenti.


Dan apa yang terjadi? Setelah Hartmut melewatinya, bayangan tersebut tidak menyerang Zahra sama sekali.


Ternyata benar! Batinnya.


Kalau seperti ini, aku hanya perlu berlari sejauh mungkin untuk menghindarinya. Labirin tiada ujung dengan jalan yang berliku-liku, membuat pikiranku terlalu bekerja keras. Aku harus melepaskannya atau aku akan menjadi seorang yang ceroboh.


Berpikirlah! Ayo, berpikirlah!


Aku terlalu sibuk memikirkan sesuatu, hingga tak sadar bahwa bayangan tersebut sudah dekat dan menyerang kakiku hingga terjatuh menggelinding dan berhenti tepat di persimpangan. Mungkin ini sudah waktuku untuk mengucapkan selamat tinggal.


Namun, semua itu tidak terjadi begitu saja. Ada sesuatu yang muncul di dalam diriku, sesuatu yang panas hingga tubuhku dipenuhi oleh sebuah energi. Aku mengira ini adalah demam, tetapi, sepertinya ini bukan.


Aku mencoba untuk berdiri dan mengeluarkan pisau yang kubawa bersamaku. Mencoba untuk bertahan diri adalah hal yang harus kulakukan jika aku ingin tetap hidup di dunia ini.


"Majulah kalau kau berani." Tertawa menyeringai.


Sudah kusiapkan posisi kuda-kuda dengan mengarahkan mata pisah ke bayangan tersebut. Hingga serangan tiba, aku merasakan gerakan yang lambat dan dapat melihat semua gerakan bayangan tersebut.


Dengan segera aku menempatkan pisauku tepat berada di kiri bayangan tersebut lalu menggesernya ke kanan. Dinding kayu di belakangku menjadi hancur dan menembus ke suatu ruangan lain. Akhirnya, aku akhirnya mengerti bagaimana cara menangkis serangannya.


Aku melakukannya beberapa kali dan semuanya berhasil. Lalu, apa yang harus kulakukan selanjutnya? Bayangan ini hanyalah tangan dari pria tua tersebut, jadi tidak mungkin aku bisa membunuhnya dari sini.


Ini terasa sangat menyenangkan dapat menangkisnya, ini seperti aku berada di dalam game itu sendiri. Lalu, apa jadinya jika aku hanya menghindar tanpa mengandalkan pisau? Dan sepertinya tidak berhasil.


Tanpa pisau, bayangan tersebut memberikan luka di pahaku. Itu sungguh menyakitkan, aku tak dapat berteriak karena aku harus tetap fokus untuk mempertahankan diri.


Hingga beberapa saat kemudian, kami semua di teleportasi kembali ke rumah terbengkalai. Aku melihat semua orang dalam keadaan baik-baik saja, dan apa yang membuatku terkejut adalah bahwa Zahra menikam leher dari pria tua tersebut.


Kami semua kebingungan bagaimana Ia bisa membunuhnya dengan sangat mudah? Lalu, apa yang Ia menjawab bahwa Ia hanya perlu pergi ke belakangnya dan menikamnya, hanya begitu saja.


Dan tubuh dari pria tersebut terbakar dan menjadi butiran debu. Inilah akhir dari hidupnya. Entah mengapa cerita kali ini sedikit pendek, kupikir kami akan terjebak di sana lebih lama lagi.


Suasana menjadi sedikit aneh setelahnya.


"Nora?" Aku meliriknya


"Iya?"


Dari sini aku tahu kalau sekarang adalah sifatnya yang asli. Aku memintai keterangan darinya mengenai insiden yang melibatkan kami bertiga, namun Nora hanya hanya dapat diam membuang muka karena masa lalunya lah yang menyebabkan semua kerusuhan ini.


Kalau itu tentang masa lalu, sudah pasti akan sangat panjang ceritanya. Ia sempat dibuat kebingungan dengan pilihannya, yaitu antara menceritakannya atau tidak, tapi kami memutuskan untuk menceritakan semua ini selama perjalanan nanti. Sebentar lagi malam akan tiba, akan berbahaya jika kami terus menetap di tempat seperti ini.


"Tunggu sebentar!" Muncullah suara dari Nora, tapi bukanlah Ia yang berbicara. "Jangan tinggalkan aku di sini!"


Tiba-tiba muncul seorang bocah perempuan imut dengan pakaiannya bercorak merah muda dan rambut pendek berwarna putih dari tubuh Nora. Aku berpikir bagaimana Ia bisa muncul dari dalam tubuhnya? Apakah ini kekuatan dari seorang dunia lain?


Selain itu, Ia menunjukkan sebuah gelang yang Ia kenakan kepadaku. Itu sangat membuatku terkejut, karena apa yang Ia kenakan merupakan gelang yang mirip dengan apa yang kukenakan sekarang ini, hanya saja warna tersebut adalah merah muda.


"Kamu itu juga sama denganku, loh~"


Entah kenapa aku sangat kesal saat Ia menyeringai sambil membuang nafas seolah Ia seorang yang menyombongkan diri.