
Matahari terbit dan pagi hari pun tiba, aku terbangun dari tidurku yang kemudian meregangkan tubuhku hingga tulang punggung berbunyi beberapa kali.
Aku lelah banget.
Aku merasa seluruh tubuhku dipenuhi dengan rasa lelah sampai-sampai tidak ingin bangun dari tempat tidur. Lagipula, kasur yang kita gunakan juga sedikit lebih keras ketimbang kasur milik Nora di rumah,itu membuat tubuhku kesakitan setelah bangun.
Tunggu...
Saat aku meraba-raba kasur, Nora sudah tidak ada di ruangan ini. Apakah Ia sedang latihan pagi seperti biasanya? Aku pikir begitu karena Ini sudah menjadi kebiasaanya sebelumnya. Wanita yang sangat rajin sekali, aku ingin menjadi seperti dirinya suatu saat nanti.
Aku berdiri dan membuka tirai jendela dan mendapati sepasang burung yang bersiul di atas dahan pohon. Aku menatapnya, hingga Ia terbang menuju ke pohon yang lainnya.
Tunggu dulu, aku tidak akan mengganggu kencan kalian! teriakku dalam hati.
Sepertinya kami memesan kamar yang tepat karena aku dapat melihat taman dari sini dengan pohon besar di tengahnya. Setiap kali aku memandangnya, perasaanku menjadi sangat sejuk. Kapan lagi aku dapat melihat dunia medieval lebih realistis lagi? Sebelumnya aku hanya bisa melihatnya dari layar komputerku.
"Ehmmm..."
Terdengar suara lembut yang berasal dari Zahra di tempat tidur. Ia meregangkan tubuhnya dengan matanya yang sayu, lalu duduk untuk mengumpulkan nyawa terlebih dahulu.
"Pagi," sapaku.
Ia tak menjawabku.
"Dimana Nora?" Melihat sekeliling sambil menggaruk kepalanya.
"Gak tau, mungkin sedang latihan seperti biasanya."
Gawat, kalau tidak ada Nora di sini, suasananya jadi lebih canggung dari biasanya. Kalian tahu? Aku masih belum berbaikan dengannya, itu sebabnya pembicaraan kami hanya ini itu saja.
Itu semua karena Ia berusaha membunuhku dan membawaku ke perempuan aneh dengan suntik yang dibawanya.
Hm? Sepertinya aku melupakan sesuatu.
Dan dari situ aku mulai mempermasalahkan kembali tentang yang sebelumnya. Ya! Suntik! Cairan apa yang dimasukkan ke dalam diriku waktu itu!
Sontak aku berlari menuju ke kasur dan menggoyangkan tubuh Zahra hingga Ia merasa mual. Aku baru ingat kalau perempuan tersebut menyuntikkan sesuatu ke pahaku sebelum datang ke sini.
"Aku baru ingat ini! Yang disuntikkan ke dalam tubuhku itu apa!!" teriakku dengan sangat keras hingga terdengar ke luar.
"Tolong... berhenti... menggoyangkanku...!" ucapnya yang terputus-putus.
"Ah, maaf." Aku menghentikannya dan melepaskan bahunya.
"Jadi, kamu khawatir dengan apa yang disuntikkan kepadamu waktu itu?"
Aku menganggukan kepala dan menatap Zahra dengan sangat serius. Aku takut jika itu racun yang akan membunuhku, atau mungkin bisa membuatku menua lebih cepat.
"Itu hanya bremelanotide, jadi itu tidak akan bisa membunuhmu kalau hanya satu dosis."
"Bre... Brem? Kue Brem?"
"Bukan Brem, bodoh!"
Mau bagaimanapun aku memang tidak paham dengan yang namanya kimia atau semacamnya. Kami terus berteriak dan saling menyalahkan satu sama lain hingga pemilik penginapan mendobrak pintu dan menegur kami berdua. Kami terpaksa minta maaf kepadanya dengan bekas pukulan di kepala kami.
Kalau memang itu benar-benar aman, maka aku tidak perlu khawatir. Itu juga membuatku teringat dengan kue brem yang dibeli ibu bulan lalu dan kubiarkan di dalam kulkas sejak itu. Apakah rasanya akan makin enak? Aku ingin mencobanya.
Ngomong-ngomong, aku ingin mencari Nora di luar. Saat aku bertanya kepada pemilik penginapan, Ia tidak melihat Nora keluar dari kamar sejak subuh tadi, malahan Ia mengira kalau Nora belum keluar sedari tadi.
Lebih baik kalau aku mencarinya. Tapi sebelum itu, kami berdua akan membasuh tubuh kami di sumur yang berada di belakang penginapan. Ini sedikit mendadak karena Nora bilang kalau rakyat jelata tidak memiliki kamar mandi, dan yang harus kita lakukan yaitu menarik air dengan timba dari dalam sumur.
Kenapa dia baru memberitahunya sekarang? Apalagi Ia menyembunyikan fakta kalau dirinya adalah seorang bangsawan. Entah dari bangsawan mana Ia berasal, tetap saja itu selalu membuatku takut jika suatu hari aku bertemu dengan keluarga mereka.
Melihat toko roti membuatku penasaran dengan isinya. Aku mengajak Zahra masuk tapi Ia tak mau karena Ia sedang benci denganku.
Banyak alasan.
Tidak seperti biasanya, toko roti ini tidak memilik pengharum hingga rotinya yang sedikit keras semua. Entah bagaimana Ia bisa menjalankan bisnisnya dengan roti yang sama semua, hanya bentuk dan rasanya saja yang membuatnya berbeda.
Aku bertanya kepada kasir apakah aku dapat membawa dua buah roti berbentuk bulat ini, dan Ia memintaku untuk memberikan dua koin perunggu. Setelah keluar dari toko, aku memberikan satu kepada Zahra.
Rotinya sedikit keras di semua bagian, apalagi rasanya juga hambar seperti roti tawar dengan banyak olesan tepung di permukaannya.
"Uwek, apa yang kamu beli ini?" Menjulurkan lidahnya keluar.
"Mungkin obat untuk pereda emosi mungkin."
"Jujur saja, roti buatan tokomu lebih enak dibandingkan dengan yang ini."
Entah apa yang sedang Ia pikirkan saat ini, perkataannya membuatku sedikit senang. Baru kali ini Ia bisa sejujur ini, karena sebelumnya Ia hanya bisa bersikap dingin dan suka mengejek. Aku tersenyum setelah itu, dan mungkin akan membuatkannya roti ketika ada bahan nanti.
Kami telah mengelilingi seluruh desa dan bertemu dengan banyak orang di sini, namun aku tidak menemukan Nora dimanapun. Kami juga sempat kembali ke penginapan hingga pemilik penginapan bilang kalau Nora belum kembali hingga sekarang.
Itu membuatku menjadi khawatir hari hari sudah mulai gelap. Apa yang harus kami lakukan kalau Nora diculik? Kalau Nora diculik, apa kabar dengan kami yang tidak bisa bertarung sama sekali?
Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti mencarinya dan kembali ke penginapan, aku pikir mungkin karena Ia sedang melakukan tugasnya di luar sana. Namun seseorang menghentikanku saat hendak kembali ke penginapan, yaitu seorang ibu-ibu dengan celemeknya yang berlari menuju kemari.
"Nak, aku tahu dimana lokasi temanmu sekarang!"
Benar, kami bertanya ke semua orang tentang Nora, salah satunya ke ibu tersebut. Ia mendapatkan informasi dari seorang kusir yang waktu itu sedang menuju ke desa ini. Menurut informasi, Ia melihat seorang wanita berambut putih dengan seorang pria tua di depannya menuju ke arah timur. dengan berjalan kaki.
Pria tua? Siapakah pria tua yang dimaksud? Apakah Ia seorang kenalannya? Aku baru tahu Ia memiliki kenalan selain kami berdua saat ini. Aku berniat untuk menyusulnya, namun Ibu tersebut melarangku karena malam hari akan sangat berbahaya jika berada di luar desa.
Ia juga akan memperkenalkan seseorang yang akan pergi searah denganku besok. Itu sangat membantu kami, aku berterima kasih kepadanya dan langsung menuju ke penginapan untuk istirahat.
"Selamat datang, nak." sapa pemilik penginapan.
"Kami kembali," balas Zahra.
"Apa kamu menemukan temanmu itu?"
"Ya, kami akan menyusulnya besok. Apakah nyonya bisa membangunkan kami besok pagi kalau kami ketiduran?" balasku dengan senyuman.
"Baiklah, kembalilah ke kamarmu."
Kami berdua pun kembali ke kamar bersama. Lagi-lagi Nora merahasiakan sesuatu dari kami, aku harap Ia dapat lebih terbuka lagi dengan kami. Kami melepaskan baju dan berganti dengan pakaian tidur kami. Entah berapa kali aku menatap Zahra, aku selalu iri karena kulitnya yang begitu putih dan cantik.
"Apa lihat-lihat? Jangan bilang kalau kamu itu belok?" Tatapnya dengan sinis.
"Aku gak separah itu, tahu."
Hanya kami berdua di sini yang mana suasana sedikit menjadi lebih sepi jika tidak ada Nora. Menurutku Nora sudah seperti Ibu yang mana Ia selalu membuat topik acak agar semuanya saling berbicara.
Meski hanya sehari aku rindu dengannya, apakah aku mulai suka dengannya? Tapi aku pikir ini perasaan suka hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu.
Masih ada waktu luang sebelum malam, karena itu aku mencoba untuk membaca buku sama dengan yang biasa Zahra lakukan. Mengenai buku di dunia ini, entah mengapa aku bisa membacanya seolah ini adalah bahasaku sendiri.
Hurufnya lebih sedikit dan memiliki bentuk serta polanya sendiri. Tapi aku tidak paham sekali, isi semua bukunya hanya ada tentang sihir dan sejarah.
Kok Zahra bisa tahan baca cerita ini, ya?
Seorang kutu buku sangat mengerikan, itulah yang dapat aku simpulkan tentangnya.