
Hi whatsup samlekom!
Welcome Back 😽
Lets read my story
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
Enjoy 🙆
🍁
Pagi ini tiba-tiba Delila terbangun, seperti biasa dia akan berdiam diri dulu di ranjang dengan beberapa hal yang ia pikirkan. Ini sudah menjelang bulan kedua ia berada di Negeri Caylon, negeri kaum Lycan. Ia rasa, semua tenaga dan kekuatannya sudah perlahan-lahan pulih berkat ia yang hanya berdiam diri dan tidur sebagai kegiatan pengganti kekuatannya yang sempat terkuras karena Airon. Gadis itu bangun dan bersandar di kepala ranjang sambil menatap keluar jendela yang terbuka, Delila kembali terpikir, bukankah ini adalah kebetulan kalau dia masih hidup dan selamat di negeri ini? Padahal dia sendiri memiliki darah vampir, kaum yang memiliki hubungan buruk dengan Lycan.
Ia pikir, ia akan dikurung di penjara dan di siksa untuk diselidiki. Tapi ternyata tidak juga, Delila cukup lega kalau posisi nya lumayan aman di sini. Sang raja juga terlihat tidak tertarik mengingat ia juga sangat jarang bertemu pria itu, pria dengan aura dan sorot berbahaya yang memang patut untuk ia hindari sementara kekuatannya berangsur pulih. Delila beranjak dan membersihkan dirinya, lalu memakai pakaian yang di sediakan seadanya dan berjalan keluar kamar dengan wajah datar tanpa ekspresi seperti biasa namun ia tiba-tiba terkejut ketika dua orang sudah muncul dihadapannya dengan senyuman lebar.
"Selamat pagi nona Delila, maaf saya tadi tidak berani masuk. Saya kira nona akan tidur seharian lagi." Noah dan Raaya sudah tersenyum, menyapa dengan aura mereka yang berseri-seri.
Raaya berceletuk. "Cuaca di Negeri Caylon sedang cerah saat ini, suasana kota pasti akan sangat menyenangkan untuk di kunjungi nona."
Noah dengan cepat memukul pelan kepala adiknya itu, Raaya mencebik dengan ekspresi kesal. "Jangan sembarangan, kita harus hati-hati karena nona ada dibawah pengawasan raja. Kita tidak bisa membawanya seenaknya." Jelas Noah menasehati gadis bersurai cokelat itu panjang lebar, Raaya cemberut. Gadis itu menggandeng Delila hingga sang Wizard tersentak kaget.
"Tapi aku ingin nona Delila melihat Negeri Caylon, apa kau tidak kasihan kalau dia terus menerus dikurung di sini?" Noah terdiam, pria itu tampak berpikir dengan satu tangan mengetuk-ngetuk dagu.
Pria itu melirik Raaya penuh arti. "Kenapa kau tidak minta saja pada Allen? Dia kan mate mu."
Wajah Raaya langsung memerah, gadis itu meggenggam erat tangan Delila hingga si empunya menoleh. Ia buru-buru menyangkal.
"Kau kan tahu pria itu galak pada ku, kenapa kau malah menyuruhku meminta pada nya?!"
"Justru karena aku tahu dia galak pada mu, aku senang sekali saat melihat mu seperti anak kucing di hadapannya." Kekeh Noah membuat Delila berdehem kecil, gadis itu hampir tertawa.
Raaya menggeram, ia memukul Noah bertubi-tubi. "Jangan meledek ku!" Geramnya terus balas dendam pada sang kakak yang mulai meringis karena pukulan gadis itu.
"Hei, aku serius! Kalau kau bisa membujuk Allen, kita bisa bawa nona Delila keluar. Kau tahu kan, Allen tangan kanan kedua raja." Ucapan Noah seketika membuat Raaya terhenti, gadis itu menunduk kecil dengan helaan napas panjang yang terasa berat. Ia menatap Delila yang terdiam melihat perdebatan mereka sedari tadi.
Demi Delila, agar gadis itu bisa melihat keindahan Negeri Caylon, agar gadis itu bisa merasakan hembusan angin musim semi di kota. Raaya akan melakukannya.
"Baiklah, tapi janji kalau aku dalam bahaya. Kau harus membantu ku Noah." Hela nya pasrah, kali ini mereka bertiga berjalan menyusuri lorong-lorong istana menuju bagian istana utama dimana seluruh kegiatan kerajaan dilakukan di sana.
Salah satu bangunan yang paling megah karena di tinggali oleh petinggi, kesatria kerajaan dan juga anggota keluarga kerajaan. Istana ini adalah tempat kerja Raja Lycan dan para petinggi lainnya untuk mengurusi berbagai macam urusan Negeri Caylon seperti pembangunan, pengecekan keamanan dan ketentraman serta banyak hal lainnya. Jadi, pergi ke tempat dengan lantai marmer putih dan lantai bertingkat-tingkat ini akan bertemu dengan banyak orang penting.
"Hei Raaya, kemana Allen? Kenapa dari tadi kita tidak bertemu dengannya?"
Raaya menggeram. "Berisik, mana aku tahu dia dimana. Bukankah kau yang merupakan salah satu tangan kanan raja, seharusnya tahu dimana dia?!" Geramnya yang kesal karena terus digoda oleh kakaknya, Noah.
Sementara pria itu tak henti terkekeh melihat tingkah malu-malu adiknya, Delila di samping nya bahkan sampai heran, Noah senang sekali jika Raaya sampai marah-marah begitu. Dan Delila semakin heran, bisa-bisanya ia terjebak bersama dua kakak beradik yang agresif ini.
Raaya menunduk, ia memejamkan mata sesaat berusaha menahan kekesalannya karena Noah. Ia tidak boleh marah-marah di tempat ini, bisa-bisa citra nya sebagai kapten batalion II tercoreng hanya karena omong kosong kakak nya. Sementara berjalan, Raaya sedikit melamun menatap lantai dan sepatu hitamnya, gadis itu jadi merasa aneh jika ia bertemu Allen, terkadang ia berdebar tapi di sisi lain dia juga merasa sedih akan sesuatu. Namun saat ini, ia tidak boleh memasukan perasaan pribadi dalam urusan ini, demi membawa Delila keluar istana, ia bahkan akan berusaha untuk bertemu Allen.
Karena Delila sudah menyelamatkan nyawanya, bahkan hal seperti ini pun tidak bisa dibandingkan dengan jasa sang Wizard.
Noah tiba-tiba melebarkan matanya, ia berusaha memanggil adiknya. "Raaya di depan—"
Bruk.
Raaya baru tersadar ketika ia menabrak sesuatu, matanya menatap bingung dengan ekspresi kaget. Ia menunduk, menatap sepatu hitam yang tampak lebih besar dari sepatu nya, reflek gadis itu mundur namun satu tangannya ditahan.
"Kalau kau melamun saat berjalan, bukankah kau bisa menabrak orang lain?" Suara dengan nada dalam dan ringan dengan aura berbeda ini, membuat gadis itu seketika kembali sadar.
Ia mendongak, manik cokelatnya melebar begitu melihat sosok pria tinggi tegap dengan surai abu-abu yang tersenyum tipis. Manik biru nya terlihat dalam nan misterius, menatap Raaya intens.
Gadis itu reflek menjauh, dan langsung membungkuk hormat. "Maafkan atas kelancangan saya— Tuan Allendis."
Pria itu terdiam, ia melirik Noah dan Delila yang berdiri di belakang gadis itu. Noah melambai dan tersenyum.
"Kebetulan sekali kita bertemu Allen, kata Raaya dia mencari mu."
Tubuh Raaya menegang seketika, ia langsung melirik Noah dengan tatapan membunuh ketika pria itu dengan tidak berdosa nya tersenyum lebar. Sementara Delila terdiam, ia juga tidak ingin ikut campur antara kedua orang itu.
Allen tersenyum tipis, manik biru nya yang gelap menelisik Raaya. "Benarkah?"
Gadis itu merubah sikapnya lebih serius. "Saya Raaya Easter, Kapten Batalion II ingin meminta ijin pada anda untuk mengijinkan nona Delila keluar istana."
Allend menyerit, pria itu sedikit kaget dengan apa yang dikatakan Raaya. "Keluar istana? Untuk apa?" Selidik pria itu berjalan mendekat.
Meski degup jantungnya menggila, namun Raaya berusaha tenang. "Saya hanya ingin nona Delila melihat Negeri Caylon."
Allen terdiam, pria itu tampak memiliki aura kuat seperti biasanya. Dengan pakaian mewah berkelas dan jubah warna hijau gelap dengan lambang dan lencana emas yang terpasang rapi, dia sosok pria bertubuh tinggi tegap yang memiliki wajah tampan dengan hidung mancung, dan sorot tegas dari kedua manik biru nya. Delila menyerit, ia memperhatikan interaksi diantara Raaya dan Allen yang Noah bilang adalah sepasang mate, sang Wizard terlihat penasaran dan curiga, kenapa tingkah Raaya begitu menjaga jarak dari Allen. Seperti nya, gadis itu menyembunyikan sesuatu yang membuatnya bersikap keras.
"Baiklah."
Ketiga nya mendongak kaget mendengar jawaban sang tangan kanan kedua Raja, Allen berdiri tegap dengan kedua tangan yang bersidekap.
"Aku ijinkan kalian, asal Noah tetap melakukan tugasnya untuk mengawasi mu." Ucap pria itu menatap lurus Delila.
Raaya berusaha menyembunyikan senyum tipis nya, gadis itu buru-buru berjalan cepat mendekati Noah dan Delila. "Kalau begitu terimakasih tuan Allen, kami pamit undur diri." Ucapnya membungkuk hormat sebelum menarik dua orang itu pergi secepatnya.
Sementara Allen, senyum di wajah pria itu perlahan memudar, membuat kesan dingin dan datar terlihat jelas di wajah nya. Ia menghela napas panjang seakan memikirkan sesuatu yang cukup berat, sebelum berbalik dan kembali melangkah menyelesaikan pekerjaannya.
🍁
Untuk perjalan pertama, mereka hanya mengunjungi kota terdekat istana yang memang langsung terlihat karena istana dibangun di ujung dimana ia dikelilingi kota dan desa. Negeri besar ini memiliki luas wilayah yang sangat besar, dengan pertahanan tembok raksasa yang tebal, kuat dan keras mengelilingi negeri. Dalam setiap langkah, manik merah Delila tak henti mengamati fan menelisik Negeri Caylon baik-baik, ia menebak kalau benteng sekuat itu pasti bertahan dan dibangun sangat lama. Terlihat dari arsitekturnya yang kuat dan pasti bisa menahan berbagai ancaman yang bisa memengaruhi negeri.
Selama perjalanan juga sang Wizard masih memperhatikan Raaya dalam diam, meski gadis itu terlihat sangat ceria sekarang tapi ia tidak begitu yakin dengan apa yang di rasakan gadis itu. Diam-diam, Delila mendekati Raaya saat Noah lengah menjaga mereka di depan.
Raaya menoleh ketika tiba-tiba Delila mendekat pada nya. "Ada apa nona?"
Delila terdiam sesaat, ia terlihat seperti menimang-nimang soal apa yang ingin dia katakan.
"Maaf aku menanyakan hal ini, tapi... Apa kau punya masalah dengan pria itu? Noah bilang kalian mate, tapi kenapa kau bersikap seperti itu?" Ucap sang Wizard pada akhirnya mengungkapkan apa yang ingin di tanyakan nya sedari tadi, Raaya tampak sedikit kaget namun gadis itu tersenyum tipis.
Sambil berjalan, Raaya mendongak menatap langit dengan kedua tangan yang menaut di belakang tubuh.
"Benar nona, saya dan Allen adalah mate atau apa yang semua orang sebut sebagai pasangan takdir."
"Hanya saja... Sepertinya saya tidak pantas dan tidak bisa menjadi mate nya." Gumam gadis itu terdengar sedih, sekalipun senyum kecil terbit di wajah cantik nya yang berusaha menyembunyikan raut kesedihan.
Delila terdiam sesaat. "Kenapa begitu?"
Raaya tersenyum getir. "Allendis Egal adalah putra dari Duke Egal yang terkenal sangat kuat dan jenius, dia sudah terpilih menjadi tangan kanan ketiga sang Raja ketika berusia muda. Selain berbakat, dia juga dikenal tampan dan bersikap ramah pada siapapun."
Gadis itu tertunduk, menatap jalanan yang ia pijak. "Karena itu juga, dia dikabarkan dekat dengan banyak gadis. Saya sudah mendengar kalau dia memang populer, dan banyak putri bangsawan yang dekat dengannya."
"Lalu kenapa? Bukan kah kau juga pantas untuk bersama nya? Kau juga cantik Raaya." Jujur Delila membuat Raaya tersentak, gadis bersurai cokelat itu tersenyum haru sebagai terimakasih.
Raaya menggeleng kecil. "Saya tidak tahu apakah saya pantas atau tidak, saya... Memang selalu merasakan matebond saat berdekatan dengannya, tapi saya sendiri juga tidak bisa percaya pada nya ataupun hati saya."
"Seperti yang saya bilang, dia ramah dan tersenyum pada semua orang. Dia mudah dekat dengan gadis lain karena sifat ramah dan paras nya tentu saja, beberapa kali sebelum saya tahu saya adalah mate nya. Saya... Sering menangkap dia pergi bersama gadis lain."
Delila tertegun, ia tidak menyangka kalau Raaya akan memiliki kisah yang serumit ini. Sang Wizard sedikit menyesalkan tentang kesulitan yang Aleeah hadapi atas ikatan mate nya yang terjalin dengan Allen.
"Karena itu kau menghindari nya?"
Sekali lagi Raaya mengangguk, Kapten Batalion II itu tersenyum tipis.
"Saya tidak tahu harus bagaimana dengan ikatan ini, di sisi lain saya juga tidak ingin menjadi mainan ataupun pelampiasan." Gumam nya merasa bersalah, namun sejurus kemudian Raaya tersentak ketika tiba-tiba Delila menepuk pelan bahunya.
Gadis bersurai merah itu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa Raaya, kau hanya berusaha menjaga hati mu. Itu tidak salah."
Raaya terdiam, ia menatap Delila dengan sorot tak percaya dan haru.
Namun tiba-tiba manik sang Wizard melebar, ia reflek mendongak dengan sorot tak terbaca dan membuat Raaya mengikuti arah pandang gadis itu.
"Rogue." Gumam nya lirih, hidung mungil Delila berkedut seakan ia sudah mencium aroma kedatangan mahluk itu dari jauh.
"Raaya dimana Noah?!" Tanya nya tidak sabaran, Raaya tersentak dan langsung melirik kesana kemari. Ia terkejut baru menyadari kalau Noah terpisah dari mereka.
Delila berdecak, ia kembali menatap ke kota dimana aroma itu tercium semakin dekat.
"Cepat beritahu Noah kalau ada Rogue yang datang ke sini."
"Tidak, bukan hanya Rogue. Tapi ribuan Rogue." Geram sang Wizard.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik liannya 😻
Kamus
Mate : pasangan takdir yang mutlak diberi dewi Bulan
Rogue : werewolf buas yang telah kehilangan sisi manusia nya
To Be Continued