
Hi whatsup samlekom!
Welcome Back š½
Lets read my storyĀ
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ā„ļø
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya š»
ORIGINAL BY iqwaanisa
Dont Copy :)
Enjoy š
š
Kening pria itu menyerit pelan, tubuhnya terasa benar-benar lemah sampai hampir tak bisa digerakkan. Tubuhnya seperti mati rasa dengan napas berat yang menyesakkan, sang raja tak bisa sadar. Dia berada dalam kegelapan selama beberapa hari, tanpa tujuan, tanpa satupun cahaya ataupun jalan keluar. Claude tak bisa melihat apapun dalam kegelapan itu, jiwanya yang kosong terasa sakit dan kesepian, pria itu mengepalkan kedua tangan berusaha untuk tetap sadar dalam kegelapan itu.
Hingga suatu ketika, ia melihat sebuah api kecil yang muncul di hadapannya, api yang sepeti lilin bersama nya dalam gelap gulita ini. Satu tangan Claude terulur menyentuh api itu, seakan terpanggil, api kecil itu tergerak ke atas tangannya. Sang raja terdiam merasakan rasa hangat dari api sekecil itu, ia bingung kenapa api ini tiba-tiba bisa muncul. Ketika raja sibuk memikirkan nya, tiba-tiba saja api itu berubah menjadi besar dan menerangi seluruh kegelapan itu hingga tak tersisa. Berubah menjadi cahaya menyilaukan yang membuatnya sampai harus menutup mata, Claude meringis merasakan energi hangat yang menyelimutinya.
Terasa hidup dan mengalir ke dalam darahnya, pria itu tidak tahu apa yang terjadi sampai tiba-tiba ia mengerjap pelan. Pandangannya yang kabur, perlahan-lahan mulai membaik, ia menangkap sosok beberapa pria di sisi ranjang nya.
Zillian tersentak melihat raja nya sadar, pria itu reflek bertekuk lutut menghadap Claude.
"Yang Mulia, anda bisa dengar suara saya?"
Claude menyerit, jemari nya tergerak perlahan seakan ia berusaha membiasakan tubuh nya yang sempat melemah total.
"Z-zilian".
Pria itu mengangguk, mata nya berbinar haru dengan senyum penuh kelegaan. Ia segera memerintahkan tangan kanan yang lain untuk membawakan kebutuhannya raja. Semua orang tampak bersyukur atas kembali nya raja, mereka semua menyambut semangat sangat ingin bertemu raja mereka.
Sementara Claude yang kini sudah bisa bergerak normal, cukup cepat bagi orang yang sempat kritis. Pria itu duduk bersandar, dengan wajah lelah masih mengenakan pakaian dan jubah tidur. Ia menatap nampan sarapannya yang telah kosong, entah atas alasan apa dia bisa senafsu makan ini. Sang raja melirik telapak tangannya yang sedikit pucat, ia terdiam pelan sebelum mengepalkan nya.
Kekuatan apa ini? Batinnya merasakan kumpulan kekuatan yang mengalir dan terasa hangat.
Pria itu mengetatkan rahangnya sesaat. "Zillian, panggil Aulee. Aku akan berikan hadiah setimpal atas kerja keras nya". Titah raja membuat pria bersurai hijau gelap itu tersentak, ia diam dengan kepala tertunduk.
Zillian membungkuk hormat, surai panjang nya tergerai jatuh.
"Maafkan saya Yang Mulia, tapi yang menyembuhkan anda bukanlah Aulee atau yang lainnya". Jawab nya pelan, membuat Claude menoleh.
Manik gelap nya menajam. " Lalu siapa?"
Zillian menelan saliva nya susah payah, pria itu menghela napas panjang.
"Gadis vampir itu. Nona Delila".
Manik Claude sontak melebar, wajahnya terkejut dengan tubuh yang reflek berubah tegak. Tangannya bergetar, napas pria itu memburu. Taring nya terlihat menajam tamak dari kedua sudut bibir, manik kuning nya menatap kosong dengan keterkejutan.
Claude Edden De Caylon...
Dengan ini aku ijinkanā.
Jadi terimalah...
Atas nama kuā Delilaā.
Kilasan suara pelan itu tiba-tiba menyerang ingatan Claude, ia baru menyadari kalau ia mendengar suara samar-samar itu hampir berbisik di sampingnya. Suara yang terputus-putus, Claude menggeram ketika dada nya terasa sesak saat berusaha mengingatnya. Sang raja meringis, merasakan kepala nya pening luar biasa.
Zilian tersentak, ia segera memanggil para tangan kanan lainnya dan memerintah mereka memanggil White Witch.
Claude menggeram, jantung terasa sesak dan panas dengan hawa membara-bara. Manik pria itu menajam tubuhnya bergetar dengan keringat dingin, degup jantungnya begitu keras seakan ingin meledak dengan semua perasaan menggebu-gebu ini. Satu tangannya terulur menyentuh tenggorokannya yang terasa kering dan panas, Claude haus akan sesuatu yang tiba-tiba membuatnya gelisah dan rakus disaat bersamaan.
Tidak, tidak mungkin dia berubah menjadi Lycan sekarang. Perasaan kuat ini... Sangat berbeda.
Zillian tersentak ketika tiba-tiba raja nya berdiri dan mencengkram kerah lehernya kuat-kuat, manik tuan nya menyala dengan sorot yang tak pernah ia lihat sebelumnya hingga pria yang menjabat sebagai tangan kanan pertama raja ituā bergidik.
"Dimana gadis itu?! Katakan!" Gertak Claude entah kenapa merasa tidak sabaran bertemu gadis itu, hasrat rasa haus dan panas yang yang membara ini bereaksi ketika mendengar nama gadis itu. Membuat dia langsung agresif seakan terpancing.
Claude menggeram, jiwa nya yang terasa kosong itu membara seperti api. Mengharapkan sumber yang menjadi alasan jantungnya berdegup keras, mencari alasan kenapa dia bisa kembali bernapas di dunia ini. Perasaan kuat macam apa ini?
Tanpa mengatakan apapun, Claude berjalan cepat setengah berlari keluar dari kamarnya. Zillian berteriak memanggil, namun sama sekali tak digubris oleh pria itu. Claude tidak tahu darimana aroma ini berasal, tapi insting nya hanya membuat dia bergerak untuk mengikuti jejak-jejak aroma ini. Jejak nya yang tersisa sangat jauh membawa nya dari istana utama, menuju istana terpencil. Sang raja tersentak, ia tahu jalan dan lorong ini, ia tahu persis kemana ia diarahkan.
Dan ketika pria itu sampai di sebuah pitu cokelat raksasa, ia terhenti sesaat. Ia mendongak, menatap pintu penjara bawah tanah itu dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum tanpa aba-aba, menyentuh kasar pintu itu hingga terbuka dan menimbulkan bunyi keras.
Claude menghela napas pelan, aroma manis itu semakin kuat. Ia langsung berlari masuk, dan menuruni tangga yang membawa nya lebih dalam masuk ke sisi gelap penjara bawah tanah. Cahaya temaram dari obor disisi tembok hanya menjadi satu-satunya penerang di tempat menyesakkan ini, bau tak sedap serta bercak darah kering pun menghiasi sisi yang selalu di sebut sebagai kurungan iblis.
Sang raja melompat turun, melewati beberapa anak tangga yang hanya memperlambatnya. Napas Claude tertahan sesaat, aroma memabukkan ini tercium kuat bahkan mengalahkan bau anyir darah yang sedari tadi menganggu, sang raja berdiri tegap dan melangkah pelan ketika ia melihat sebuah sel yang dijaga dua orang prajurit.
Langkah tenang nya yang nyaris tak bersuara, membuat kedua penjaga itu tersentak dan langsung bertekuk lutut melihat sosok sang raja.
"Hormat kami kepada Yang Mulia, matahari negeri Caylon!"
Claude terdiam, ia tidak begitu menggubris kedua pria itu dan hanya terus berjalan mendekat sampai pada akhirnya ia benar-benar berdiri di depan sel penjara itu. Manik pria itu melebar dan berkilat, wajahnya terkejut dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Claude menyentuh jantungnya yang langsung berdegup keras dan cepat, napas pria itu memburu karena telahā menemukan siapa sebenarnya pemilik aroma yang sanggup membuat nya terlena dan memacu degup jantungnya untuk menggila.
"Buka penjara ini".
"A-apa Yang Mulia?"
Manik tajam nya melirik lewat ekor mata. "Ku bilang buka penjara ini!" Gertak nya keras, menggema ke seluruh ruang penjara bawah tanah sampai kedua penjaga itu bergidik.
Mereka langsung membuka cepat penjara itu, dan menyingkir jauh dari sang raja yang tengah marah.
Napas Claude kembali tertahan sesaat, melihat betapa buruknya penjara ini. Dengan sel yang sedikit kecil, pengap dan kotor dengan bekas bercak darah mengering. Di sana, ia melihat sosok gadis yang sedang yang berbaring menyamping, surai merahnya terlihat kontras tergerai diatas kain putih yang menjadi satu-satunya alas diatas tempat kotor itu.
"Sudah berapa lama dia begini?" Tanya nya tajam, membuat kedua penjaga itu tersentak.
"N-nona ini... Sudah dua hari tidur seperti itu, dia sama sekali tidak bangun walau kami sudah berusaha dengan segala cara".
Sang raja menghela napas panjang, matanya meredup menatap gadis ituā Delila yang terbaring tidak sadarkan diri. Perlahan, entah atas dorongan apa hingga dirinya melangkahkan kaki untuk masuk ke penjara itu.
"Y-yang Mulia, tempat itu terlalu kotorā" peringat penjaga yang lirih, terpotong begitu mereka melihatā sang raja menyentuh gadis vampir itu.
Merengkuhnya dan membawa gadis itu ke dalam gendongannya, Claude berbalik berjalan membawa Delila keluar. Kedua pria itu tersentak diam, mereka menunduk takut karena tak berani menanyakan sikap tiba-tiba raja mereka. Yang kedua pria itu lakukan, hanyalah memandang Claude yang menggendong Delila perlahan, berjalan pelan keluar dari penjara bawah tanah dan membawa gadis itu keluar.
Dalam perjalanannya, Claude beberapa kali menatap Delila yang tak sadarkan diri. Dalam gendongannya, tubuh gadis itu terasa ringan dan mungil, membuat sang raja merasakan perasaan aneh yang menyesakkan hati nya. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang ia tahu hanyalah iaā ingin berdekatan dengan gadis itu, ingin sekali menyentuhnya.
Wajah gadis itu terlihat damai namun sedikit pucat, surai merahnya yang panjang, tergerai hingga jatuh melewati lengan kekar raja. Claude tidak tahu, kenapa... Hati nya terasa hangat begitu melihat wajah gadis vampir itu. Delila, nama yang dengan mudahnya bisa memancing sang raja untuk bertindak diluar pemikiran rasionalnya.
"Kenapa... Kenapa aku melakukan ini?"
"Apa yang sudah kau lakukan padakuā Delila?"
Napas Claude tertahan, merasakan desiran aneh di hati nya dengan degup jantung yang berubah cepat ketika untuk pertama kali nya... Sang raja memanggil nama gadis itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN ā„ļø
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya š»
ORIGINAL BY iqwaanisa
To Be Continued