The Cruel King's Fiance

The Cruel King's Fiance
17. Complicated Secret



Hi whatsup samlekom!


Welcome Back 😽


Lets read my story 


Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


ORIGINAL BY iqwaanisa


Dont Copy :)


Enjoy 🙆


🍁


Sudah dua hari Delila tinggal di kamar yang terlalu mewah baginya itu, dua hari juga gadis itu mendapat perawatan selayaknya tuan putri. Belasan maid berbaris melayani nya, prajurit yang menjaga kamarnya dan juga pengecekan kesehatan oleh Aulee langsung daripada White Witch yang lain.


Sang Wizard menyerit menjalani semua hal itu, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba diperlakukan sebaik ini. Apa karena dia telah menyelamatkan raja sehingga mereka semua pun melayani nya setinggi ini? Tapi, bukankah ini sedikit aneh? Seharusnya, untuk orang sepertinya hanya mendapat perlakuan biasa yang mungkin sedikit lebih baik dari yang dulu. Tapi yang kali ini, dia benar-benar penasaran akan maksud semua ini. Apakah, sebenarnya mereka merencanakan sesuatu dengan melayaninya seperti ini?


"Nona Delila!"


Gadis itu tersentak kecil ketika mendengar suara panggilan yang cukup keras, menggema ke lorong istana tempat kamarnya berada. Kedua orang itu, Noah dan Raaya berlari tergesa-gesa menuju ke arahnya. Ekspresi mereka benar-benar kaget dan juga khawatir, bahkan ketika sampai pun Raaya langsung memeluknya erat dengan mata berkaca-kaca.


Delila tersentak. "Ada apa?"


Raaya terisak. "Kami... Kami khawatir sekali, kami dengar nona ditahan di penjara bawah tanah".


Noah mengangguk. "Tapi nona sekarang baik-baik saja kan? Saya dengar anda tidak sadarkan diri setelah menyelamatkan Raja".


Sang Wizard tersentak, ia menatap keduanya dengan sorot yang sulit diartikan. Delila berdehem kaku.


"Emm, tidak apa-apa. Sebenarnya tidak separah itu juga". Bohongnya tidak ingin membuat kakak adik Easter itu semakin khawatir.


Sementara Noah terdiam pelan, ia menatap suasana salah satu lorong istana utama ini dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sang tangan kanan raja menyerit, ia seakan berusaha berpikir apa yang sebenarnya terjadi disini.


Memang benar Delila menyelamatkan nyawa Raja, tapi menurutnya... Hal ini terlalu berlebihan kalau disebut sebagai hadiah. Pria bersurai cokelat itu seakan menganalisa, ada sesuatu yang terjadi di sini selain alibi bahwa ini adalah penghargaan untuk Delila sebagai tanda terimakasih.


Apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu saat dia tidak ada disana untuk mengawal Delila?


"Nona apa telah terjadi sesuatu kemarin?"


Gadis itu menyerit. "Tidak terjadi apa-apa seingat ku".


Kedua bersaudara Easter itu menghela napas lega, melihat Delila baik-baik saja sudah membuat mereka tenang. Meski berita dipindahnya gadis itu ke istana utama memang tiba-tiba dan mengejutkan, tapi yang terpenting gadis itu sudah bebas dari sebutan tahanan.


"Sudahlah, yang terpenting aku tidak apa-apa. Aku benar-benar sehat, jadi kalian tidak perlu khawatir". Jelas Delila menghela napas, lelah jika harus menjelaskan apa yang terjadi. Dan dia juga tidak ingin mengungkit-ungkit nya.


Raaya dan Noah tersenyum mengangguk, mereka mengajak Delila keliling sebagai acara untuk mengenalkan gadis itu soal bangunan istana utama. Dengan kedua bersaudara Easter yang memang memiliki kedudukan dalam istana, para prajurit yang terkejut dan sempat ingin menghentikan mereka membawa Delila pun juga diam karena Noah dan Raaya yang berkedudukan militer.


Saat ini, istana utama memang ramai seperti biasa dengan petinggi dan anggota istana yang berlalu lalang melakukan pekerjaan mereka. Delila sedikit heran, istana se ramai ini namun dia sama sekali tidak bertemu dengan raja. Meskipun sibuk, seharusnya pria itu berkesempatan lewat di istana utama kan? Padahal Delila ingin melihat keadaannya yang disebutkan sangat sehat oleh Aulee, dia ingin memeriksa dengan mata kepala nya apakah terjadi perubahan pada sang raja.


"Nona, bisakah anda menunggu di sini sebentar? Sepertinya saya dan Raaya ada urusan di bidang militer. Kami dipanggil untuk evaluasi keamanan setelah penyerangan terhadap raja". Jelas Noah dan Raaya mengajak Delila ke sebuah taman yang cukup sepi.


Gadis itu mengangguk pelan, ia menatap datar. "Tenang saja, kalian bisa pergi kalau itu penting". Ucapnya membuat kedua orang itu sempat khawatir, namun tetap terpaksa mematuhi panggilan petinggi istana.


Raaya mengangguk kecil. "Nona jangan kemana-mana, kami akan segera kembali". Ucap nya menggengam tangan sang Wizard sesaat, sebelum mengikuti Noah yang dipanggil oleh salah satu prajurit.


Sepeninggal keduanya, Delila hanya duduk diam di taman itu dengan manik merah yang menatap sekeliling taman. Sorot redup gadis itu tak bisa ditebak, tidak ada yang tahu apa yang ia rasakan sekarang dengan wajah tanpa ekspresi itu. Delila mengerjapkan matanya pelan, gadis itu seperti nya mulai mengantuk karena suasana hangat dan tiupan angin musim panas yang lembut menyentuh surai merahnya. Ia menghela napas pelan, mendongak dan menatap langit dengan pandangan datar.


Setelah mengalami banyak hal yang sulit dijelaskan, pada akhirnya ia melakukan hal benar yang malah membawa nya pada nasib baik. Delila tidak pernah mengira keputusannya untuk menyelamatkan pria itu, membuat dia kini memiliki status yang cukup aman. Jika dulu, dia mudah dicurigai dan di siksa, maka sekarang mungkin dia lumayan terselamatkan juga karena keadaan ini. Sang Wizard kembali menghela napas pelan, ia menatap langit biru di Negeri Caylon dengan sorot yang sulit diartikan.


Ada banyak hal yang belum ia temukan kebenarannya, selain soal negeri ini yang sangat tertutup, sang raja yang merupakan satu-satunya keturunan raja asli yang tersisa dan sosok nya yang sekuat itu. Delila juga heran dengan ability Raja Lycan yang mudah sekali menerima darahnya yang merupakan anggota keluarga agung Acnes. Sebagai anggota dari keluarga agung yaitu Keluarga Acnes yang mewarisi berkat dewi, segala hal pemberian dari nya tidak bisa semudah itu diterima apalagi dia memberikan sedikit dari darahnya untuk menyembuhkan pria itu.


Entah untuk memanfaatkan atau mencoba menggunakannya, Delila tidak bisa dengan mudahnya percaya pada mereka.


Gadis itu memejamkan mata sesaat, ia berdiri dan hendak beranjak berkeliling sebentar sambil menunggu kembali nya Noah dan Raaya. Ia berjalan pelan, ketika beberapa orang tampak berjalan lalu lalang dengan tergesa-gesa seakan mereka tengah dikejar waktu. Ia berjalan minggir, berusaha menghindar agar tidak menghalangi mereka sebelum tiba-tiba ia menabrak seseorang.


Gadis itu tersentak, ia reflek mundur dengan manik yang sedikit melebar ketika ia baru saja menabrak seseorang dengan pakaian yang tampak mewah dan mahal dengan lencana emas di jas nya. Delila membungkuk sesaat.


"Maafkan saya". Ucapnya pelan, sebelum mundur perlahan untuk pergi dari sana.


"Tunggu!"


Sang Wizard tersentak ketika tangannya ditahan pelan, ia langsung menoleh dengan sorot tak mengerti ketika pria itu menatapnya diam.


Sorot teduh dari manik hazel nya tampak hangat, surai abu-abu nya tergerai pelan dalam tiupan angin lembut. Ia terdiam menatap Delila dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa... Apa kau adalah orang itu? Orang yang telah menyelamatkan raja?" Tanya nya lirih membuat sang Wizard terdiam sesaat, sebelum mendongak dan menatapnya datar.


"Benar". Jawabnya datar, menatap sosok tinggi itu dengan sorot redup.


"Tapi... Bisakah anda melepaskan saya? Orang-orang melihat kita". Pintanya membuat pria itu tersentak dan reflek melepas tangan Delila.


Manik merah Delila menelisik penampilan pria itu yang sangat rapi meski ia yakin pakaiannya sangat mahal, apalagi kedudukannya di istana. Terlihat dari lencana emas yang terpasang di jas biru gelapnya, dan buku tebal di tangan pria itu. Manik merah gadis itu berkilat sesaat dengan lambang pentagram di dalamnya, membaca informasi mengenai pria itu dalam diam.


Pria ini... Adalah tuan muda dari salah satu keluarga berpengaruh di istana, dia adalah... Duke yang sekarang menjabat sebagai kepala keluarga Halbert, menggantikan ayah nya yang merupakan Duke terdahulu.


"Ah maafkan aku karena sudah bertindak tidak sopan". Sesal nya tersenyum canggung.


Pria bersurai abu-abu itu tersenyum kecil, sorot mata hazel nya yang begitu teduh tampak hangat dan indah berkilau.


"Perkenalkan, saya Jaden Halbert". Ia tersenyum tipis.


"Saya sudah lama ingin bertemu dengan anda, tapi protokol istana terlalu ketat kepada anda. Jadi saya terpaksa menahan diri untuk melihat orang yang telah menyelamatkan Yang Mulia".


Pria itu berjalan mendekat, dengan senyum tipis dan kedua mata sedikit menyipit. "Akhirnya... Kita bisa bertemu nona".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


uda sadboi, masi aja ada calon penikung :")


JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


ORIGINAL BY iqwaanisa


To Be Continued