
Hi whatsup!
Welcome Back 😽
Lets read my story
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
Enjoy 🙆
🍁
"Delila, ada apa?". Gadis bersurai merah itu tersentak, menoleh cepat saat Ve tiba-tiba berbisik pelan mendekatinya.
Gadis itu menggeleng pelan, sedikit menunduk untuk mengusap-usap kedua matanya. Apa ia terlalu memaksakan diri tadi? Matanya terasa sedikit berdenyut sakit.
Sang Raja berdehem kecil, menompang satu kakinya diatas kaki lainnya."Kenapa, kalian bisa memasuki teritory kerajaan ku?".
"Seperti yang terjadi waktu itu, kami dikejar sekawanan Rogue dan Orc yang membawa senjata. Saat itu keadaan kami kurang memungkinkan untuk menghadapi mereka, jadi dengan terpaksa kami memasuki Dark Forest dan tidak tahu kalau jalan keluarnya ada di daerah kerajaan Lycan". Jelas Delila datar dan tegas tanpa basa-basi. Ia benar-benar ingin segera mengakhiri pembicaraan ini dan keluar secepatnya.
Raja itu tersenyum miring, mengetuk-ngetuk gagang emas singgsasana nya. "Dan kalian pikir, aku akan percaya begitu saja kalau kalian bukan musuh ku?".
Delila dan Ve seketika membelalakan mata mereka lebar mendengar penuturan tiba-tiba sang Raja. Apa dia juga menganggap kami ini musuh? Batin sang Wizard meremas gaun putihnya.
"Yang Mulia-"
"Kau harus percaya". Ve yang hendak protes, tiba-tiba kaget karena Delila memotong perkataannya. Padahal biasanya gadis itu paling anti dengan ikut campur masalah, tapi yang kali ini— dia terlihat marah.
Pria itu terkekeh sinis, menyeringai memamerkan gigi taring tajamnya. "Kenapa aku harus mempercayai mu?".
"Karena aku tahu kau dengan baik". Jawab Delila cepat, membuat seringaian di wajah sang Raja berubah menjadi datar dan dingin. Menatap tajam gadis bersurai merah itu dengan manik hitamnya yang berkilat.
Delila tersenyum tipis, manik ruby nya yang berkilau menatap dengan begitu berani.
"Raja Lycan ke tiga ratus sembilan puluh sembilan, Claude Edden De Caylon".
"Menduduki tahta saat umur empat belas tahun dan berhasil memperluas kerajaan menjadi tiga kali lipat. Raja yang sangat dihormati rakyatnya, dan mendapat julukan sebagai Great King Lycan seperti Sang Raja Lycan pertama". Ucap Delila lancar tanpa kesulitan untuk menyebutkan segala hak yang ia ketahui tentang Great Kings Lycan itu.
Entah bagaimana pemikiran sang Raja, yang pasti Delila sudah berusaha untuk meyakinkannya. Tidak mudah untuk berbicara se santai itu disaat semua tatapan tertuju padanya, tatapan rendah, memincing, dan marah menjadi satu menyorot Sang Wizard.
Sang Raja menggeram, ia terlihat akan marah namun tiba-tiba malah menyunggingkan seringaian sinis nya, menatap tajam dan penuh pada Delila yang tampak begitu berani dihadapannya.
"Siapa kau sebenarnya?". Desis Claude dengan nada rendah yang sarat akan aura kekuasaan seorang Raja.
"Bisa kau lihat dari mata ku. Aku ini vampir".
Seketika seluruh ruangan langsung terdiam dengan keterkejutan mereka, menatap semakin sinis dan merendahkan Delila, saling beradu pendapat nya masing-masing tentang gadis itu.
"Dan teman mu?".
"Dia werewolf". Jawab gadis itu sekenanya.
Claude terkekeh sinis, membuat suara tawanya yang misterius menggema ke seluruh ruangan. Semua orang diam, tidak ada yang berani untuk menyahutnya karena mereka tahu— sekejam apa sang Raja Lycan.
Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, menatap tajam dan menusuk Delila melalui manik hitamnya yang berkilat-kilat.
"Kau gadis yang berani. Menyebut jenis mu dihadapan ku, padahal kau mungkin tahu— Lycan dan Vampir memiliki hubungan yang tidak terlalu baik". Sindir nya sengaja, ingin melihat ketakutan dalam manik ruby yang terus berusaha berani padanya.
Delila mematung, tapi ia berusaha untuk tidak takut dengan segala tekanan di ruangan ini yang begitu menyesakkannya.
"Aku memang Vampir, tapi aku ini Hybrid, keturunan campuran dari Vampir dan Wizard. Jadi aku tidak merasa memiliki masalah disini karena aku tidak sepenuhnya Vampir". Tekan Delila menegaskan statusnya yang seolah-olah direndahkan oleh semua orang hanya karena ia satu-satunya Vampir di tempat kerajaan ini. Makhluk yang dipandang rendah oleh kaum Lycan.
Delila menelan saliva nya susah payah, sang Wizard sedang berhati-hati jika saja ia tanpa sengaja menyulut emosi sang Raja, maka kesempatan keluar mereka akan sia-sia."Jadi... Your Highness. Tolong ijinkan kami kembali ke tempat semula kami. Kami akan berusaha, sebisa mungkin untuk tidak menyentuh teritory mu".
Claude lagi-lagi terkekeh, kali ini dia terlihat menyeringai lebar dengan dua taring panjang yang mencuat dari kedua sudut bibirnya. Oke, pria itu terlihat mengerikan sekarang, wajah nya jelas sekali menampilkan hawa membunuh yang kentara.
"Akan ku ijinkan keluar dari sini".
"Dengan syarat— salah satu dari kalian menjadi jaminannya". Seringai Claude mempermainkan Delila dan Ve.
Mereka berdua saling menatap, menunjukan ekspresi melalui tatapan mata. Ve terlihat marah, gadis bar-bar itu sudah pasti ingin naik anak tangga menuju singgasana dan memberi pukulan di wajah tampan sang Raja. Sedangkan Delila terlihat menunduk seakan memikirkan sesuatu, dia ini tidak bodoh, dia merasa tahu maksud lain di balik kesepakatan yang jelas sangat merugikan mereka.
"Del, sebaiknya kau yang pergi—".
"Kau Ve. Lebih baik kau yang pergi dari sini, kau bisa kembali untuk menyelamatkan ku".
Ve menggeleng, gadis bersurai biru keunguan itu menatap sedih Delila dengan manik biru terangnya, memegang erat kedua bahu gadis itu. Sang Beta V Silverwolf Pack tidak ingin temanya kembali berkorban untuknya setelah insiden waktu itu, Ve menyesal membuat Delila dalam keadaan bahaya, membuat nya diambang kematian karena melindungi nya dari serangan Lycan.
"Ve... Aku akan baik-baik saja. Kau tahu kan aku ini kuat?".
Ve menggeleng, menahan ringisan nya. "Tetap saja kau ini kan sedang tidak sehat, maaf membuat mu susah Del". Ucap Ve sedih.
Ve menghela napas panjang, menatap tajam sang Raja dengan manik biru terangnya yang berkilat, dia dari tadi sudah menahan diri untuk tidak mengeluarkan senjata, dan Raja kejam itu mempermainkannya.
"Jadi, siapa yang akan menjadi jaminannya? Kalian harus membuat keputusan yang tepat". Senyum miring tersungging di wajah tampannya, membuat Raja Lycan itu terlihat kejam dengan senyuman misterius.
"Biarkan teman ku pergi, Raja". Ucap Delila cepat membuat keputusan. Meskipun ini sama saja mengorbankan diri, tapi... Setidaknya dia bisa menyelamatkan Ve. Ia tidak yakin jika Ve yang ada disini, entah apa yang terjadi karena gadis itu mudah sekali mengacungkan pedangnya.
Ve menggeleng cepat, menarik tangan Delila. "Tidak Del! Kau saja!".
Gadis itu tersenyum kecil, menggeleng pelan pada Ve jika dia sudah membuat keputusan ini. Ve mengepalkan tangannya khawatir, gadis itu hendak mendekati Delila sebelum sebuah lambang pentagram yang bersinar, muncul di lantai mengelilinginya.
Ve bergerak gelisah, ia tidak bisa melangkah karena sihir ini ternyata diberi mantra pembeku oleh Delila. Gadis itu menatap Delila dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
Namun ia semakin tidak bisa tenang ketika Delila hanya tersenyum tipis. "Pergi lah, Ve". Ucapnya lirih dan simbol pentagram itu semakin bersinar terang dan menyilaukan, menenggelamkan Ve didalamnya hingga meredup menyisakan kekosongan disana.
Dan sekarang, adalah gilirannya.
Claude menyeringai lebar, kini ia duduk menegakan tubuh kekarnya di singgasana, duduk tersenyum miring dengan aura yang penuh kekuatan dan kekuasaan selayaknya seorang Raja.
"Karena kau sudah memilih. Mulai sekarang— kau adalah tahanan ku. Dan tidak ada yang boleh mengatur mu selain aku". Tegas Claude menyeringai, tertawa diatas penderitaan gadis itu dan juga semua orang yang ikut senang dengan keputusan sang Raja.
Pria bersurai hitam legam itu tampak, menjentikkan satu jarinya dan membuat Delila terkejut karena melihat rantai putih yang mengunci kedua tangan dan juga lehernya. Gadis itu mendongak, menatap tajam sang Raja yang tak henti memberi tatapan sinis. Delila diperlakukan seperti tahanan sungguhan sekarang.
Pria itu kembali menompang kepalanya dengan satu tangan, duduk dengan begitu angkuh. "Kemari. Biarkan aku melihat wajah mu dengan jelas". Titah nya tegas, kali ini dengan menyorot tajam dan dingin dengan suara rendah nya.
Delila terdiam sesaat, ia tidak ingin kesana tapi akan bahaya jika ia membuat Raja pemarah itu tersulut. Dengan berat hati, gadis itu melangkah pelan menuju singgasana. Mengabaikan rasa sakit kedua kakinya saat ia mulai menaiki anak tangga. Bunyi gesekan rantai terdengar bergemerincing seiring ia berjalan tertatih.
Gadis itu terus melangkahkan kaki jenjangnya tanpa sekalipun dalam batin untuk berhenti memaki dan merutuki sang Raja, ia benar-benar tidak suka diperlakukan seperti ini tapi keadaanya tidak memungkinkan untuk melawan sekarang.
Hingga akhirnya ia sampai, berdiri dihadapan sang Raja yang duduk angkuh diatas kursi emas. Delila terdiam, ia menatap ke arah lain dan tidak ingin berpapasan dengan manik hitam mengancam.
Claude tampak meneliti keseluruhan penampilan Delila, manik tajamnya terlihat datar, begitu dingin dan berkilat.
Krang.
Delila tersentak jatuh bertekuk lutut saat tiba-tiba saja rantai di lehernya ditarik paksa dengan tiba-tiba, membuat gadis itu sedikit kaget dan membelalakan manik ruby nya. Delila mendongak merasakan rantai lehernya yang ditarik, ia menatap tangan kokoh yang menggenggam rantai putih penghubung rantai yang membelenggunya.
Claude terlihat begitu keras, tajam dan dingin saat ia menunduk menatap Delila. Pria itu benar-benar menunjukan alasan kenapa tidak ada orang yang berani terhadapnya. Because he is the Great King Lycan.
The Cruel King.
Sang Raja sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dan Delila yang begitu dekat. Membuat gadis itu terdiam mematung saat ia merasakan hembusan napas panas di wajah nya.
Pria itu menyeringai. "Right choice".
"To sacrifice your self to me". Bisiknya dalam dan tegas dengan makna tersirat yang akan membuat Delila merinding mengetahui artinya.
🍁
Saat ini, setelah Sang Raja mendeklarasikan Delila sebagai tahanan khusus nya, semua orang tiba-tiba berubah. Mereka menjadi seenaknya, kasar dan mengatai Delila sebagai kaum rendahan.
Namun gadis itu tetap diam dan tidak mau menanggapi gonggongan orang-orang penghuni istana megah ini, bukannya ia tidak bisa melawan. Ia— benar-benar tidak peduli. Baginya, mereka tidak seberharga itu untuk membuang-buang waktunya.
Delila memang pendiam, dia tidak pernah mengeluh maupun menyebutkan kesulitan bahkan kesakitan nya. Karena semua itu tidak ada apa-apa di banding waktu itu.
Namun seakan tahu dengan apa yang akan terjadi, sang Raja memerintahkan tangan kanan kelima nya— Noah sebagai pengawal gadis itu. Delila sama sekali tidak protes maupun menunjukan ekspresi lain bahkan saat Noah berusaha membuatnya tertawa dengan lelucon nya.
"Astaga nona... Kenapa kau selalu saja diam seperti boneka? Tersenyumlah! Aku berusaha keras untuk membuat mu tertawa tahu". Entah sejak kapan, pria mulai akrab dengan Delila, ia terus mengoceh sepanjang perjalanan dengan semangat sekalipun gadis itu tidak memperhatikannya. Noah tetap berusaha untuk lebih mengenal sang Wizard seperti teman.
Delila berdehem tak tertarik. "Aku tidak sedang dalam mood baik untuk tertawa".
"Memangnya kau harus punya mood baik untuk tertawa?". Pria tinggi bersurai cokelat itu menaikkan alisnya penasaran, menyusul Delila yang seolah-olah mempercepat langkah menjauhinya.
Gadis itu berdecak sebal ketika Nova tak ada hentinya untuk berucap panjang lebar padanya, pria itu seperti tidak ada lelahnya. Delila melirik Noah melalui ekor matanya.
Dilihat dari sikap pria itu yang kekanakan, terlalu ceria, mudah bergaul dan bersikap manis. Delila yakin, pria ini pasti masih remaja.
"Kau—".
"Ya, Nona?". Jawab Noah cepat dengan manik cokelatnya yang berbinar-binar. Ia benar-benar senang nona boneka ini mau berbicara padanya setelah sekian lamanya.
Delila memalingkan wajah, kembali menatap lurus dengan langkah pelannya.
"Kenapa kau bisa menjadi tangan kanan Raja? Usia mu baru sembilan belas tahun kan?".
Pria itu menutup mulutnya terkejut, melihat Delila dengan tatapan tak percaya dan speechless. Noah kaget, darimana gadis itu tahu kalau usianya sembilan belas tahun?
"Nona... Bagaimana kau bisa tahu? Kita kan baru bertemu hari ini". Noah termangu, mengerutkan dahinya berpikir keras.
Delila terdiam, melirik pria itu lewat manik ruby nya yang berkilau. "Kau lupa? Aku ini Witch". Jawab gadis itu datar, dan sedikit berbohong soal tingkatan ilmu nya sebagai witch biasa.
Noah menganga, pria itu lupa kalau yang ia hadapi saat ini adalah seorang penyihir. Dengan berbinar penuh kekaguman, Noah tak henti-hentinya tersenyum menanyai Delila tentang berbagai hal hingga gadis itu merasa jengah sendiri.
"Itu keren! Apa kau tahu lainnya tentang ku?". Tanya Noah dengan semangat. Membuat Delila menyerit kesal, antara tidak ingin menjawab dan tidak tega.
Menghela napas, gadis itu benar-benar lelah terus-menerus didekat Noah. "Noah Easter, putra pertama dari Albert Easter dan Annie Easter. Di angkat menjadi tangan kanan Raja karena keahliannya bertarung, menjadi tangan kanan termuda".
"Warna favorit hijau, makanan favorit sup iga, sangat senang bekerja menjadi tangan kanan Raja. Tinggi badan 179 cm, memiliki seorang adik perempuan bernama Aleah Easter dan takut pada—".
"Oke oke cukup nona, jangan di teruskan". Kekeh Noah tak ingin Delila membeberkan aib nya yang satu itu.
Mereka berdua kembali berjalan menyusuri lorong-lorong istana. Harusnya Delila tidak jalan-jalan seperti ini, tapi Noah keras kepala ingin mengajaknya melihat Kerajaan Lycan.
Beberapa kali mereka melewati orang-orang yang berlalu lalang, Noah menggeram tajam dengan tatapan tidak sukanya yang kentara saat ada maid yang membicarakan Delila dan beberapa putri bangsawan yang jelas-jelas memberi tatapan merendahkan. Sebagai pengawal Delila, sudah menjadi tugas Noah untuk mengawasi setiap pergerakan maupun yang terjadi pada sang penyihir. Namun pria itu heran dan ia tidak mengerti kenapa Delila hanya diam dan acuh saat orang-orang begitu merendahkannya.
"Ah, lihat ini!". Seru salah seorang gadis bersurai pirang dengan gaun megahnya, mengajak teman-teman nya untuk mendekat.
Gadis itu tersenyum sinis, menatap rendah dan sengaja menghalangi jalan Delila.
"Kenapa tahanan rendah Raja ada disini?". Sindirnya menyeringai lebar, memperhatikan wajah datar Delila yang sama sekali tak menunjukan ekspresi apapun.
Gadis itu berniat untuk mempermalukan Delila didepan orang-orang yang ada di taman istana ini.
Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik liannya 😻
To Be Continued