
Hi whatsup samlekom!
Welcome Back 😽
Lets read my story
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
ORIGINAL BY iqwaanisa
Dont Copy :)
Enjoy 🙆
🍁
Delila menyerit, gadis itu mengerjap-erjap kan matanya perlahan ketika suara kicauan burung terdengar ringan di sekitarnya. Ia terdiam, suara kicauan burung?
Bukankah dia sekarang berada di penjara bawah tanah? Yang pengap bahkan kedap akan suara sehingga dia sama sekali tak mendengar suara apapun. Ruangan itu sangat gelap, dingin dan mengerikan dengan bau busuk juga anyir darah. Tapi sekarang, ia tidak mencium apapun... Justru, yang ada adalah aroma wangi menenangkan dan suasana tenang yang terasa hangat.
Delila mengerjap, ia membuka matanya pelan dengan sorot lelah dan mengantuk. Gadis itu menatap sekeliling dimana suasana ruangan ini... Benar-benar berbeda dari sel penjara nya, ruangan besar dengan barang-barang dan segala hal yang tampak mewah dan mahal. Dengan jendela besar serta perlengkapan yang amat tersedia, cahaya surya mengintip lewat celah-celah tirai jendela yang masih tertutup.
Gadis itu mengerjap, ini... Bukan penjara bawah tanah lagi. Melainkan sebuah kamar mewah yang setara kamar putri kerajaan, dan apa yang terjadi hingga dia bisa sampai di sini?
Delila tidak ingat, yang ia tahu setelah menyembuhkan sang raja, ia tiba-tiba merasa lelah dan berat. Kekuatan serta tenaganya hampir habis sampai gadis itu tiba-tiba pingsan di dalam penjara, ia hanya ingat itu, tapi tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di kamar ini. Siapa yang membawa nya?
"Astaga, nona sudah sadar". Kaget seseorang yang muncul dari balik pintu, sosok berjubah putih itu tersenyum kecil membawa sebuah nampan berisi makanan.
Aulee, wanita paruh baya itu berjalan pelan dan meletakan nampan itu di nakas. Lalu duduk di kursi dekat ranjang Delila, ia tersenyum.
"Bagaimana kabar anda? Saya khawatir sekali, kata nya anda tidak sadar selama dua hari". Ucap nya pelan setengah berbisik, kedua tangannya meraih satu tangan Delila dan memeriksa keadaan gadis itu dengan sihir.
Delila terdiam, iris merahnya hanya menatap dengan sorot redup.
"Aulee, apa yang terjadi selama aku tidak sadar? Kenapa aku bisa berada di sini?" Tanya nya tanpa basa-basi, membuat sang White Witch tersenyum.
Wanita itu menatapnya lembut. "Anda sudah bekerja keras nona Delila, ini adalah hadiah kecil untuk anda karena telah menyelamatkan raja".
Delila menyerit tak begitu paham, tapi ia hanya diam sebagai jawaban sementara Pimpinan White Witch istana itu masih memeriksa keadaannya.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam dan bersama dalam suasana sunyi yang tenang. Delila juga, ia hanya diam memandang sekelilingnya bingung, sebenarnya ia masih mengantuk dan lelah karena kekuatannya belum kembali secara sempurna setelah menyelamatkan Claude. Ia menghela napas pelan, sedikit sesal karena ia harus menyelamatkan orang yang sekuat raja Lycan. Pasalnya, mengobati seseorang yang kuat juga memiliki tingkatan sendiri. Semakin kuat orang itu, maka seseorang yang mengobatinya harus sama kuatnya untuk membantu penyembuhan seseorang dengan ability istimewa seperti Claude.
"Ngomong-ngomong, nona Delila".
"Apa anda tahu soal mate Lycan?" Tanya Aulee tiba-tiba, membuatnya menoleh cepat.
Delila menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Noah pernah menjelaskannya pada ku, memangnya ada apa?"
Wanita itu tersenyum tipis. "Tidak nona, saya hanya penasaran apakah nona akan menanyakan hal itu. Negeri Lycan sangat tertutup dan ketat, jadi hal seperti ini pun juga termasuk rahasia".
"Bukankah anda punya rasa ingin tahu yang kuat?" Canda nya terkekeh kecil, membuat Delila menyerit seakan Aulee berusaha memancingnya akan sesuatu.
Gadis itu mengerjap kecil, iris merah nya menatap redup. "Aku sudah tahu kalau Lycan sulit menemukan mate nya, aku juga tahu proses apa saja yang harus mereka lakukan untuk mengetahuinya".
"Kau juga tahu kan Aulee? Kaum penyihir seperti kita... Sama sulitnya menemukan mate". Sambung Delila membuat Aulee terdiam.
Memang benar, sejak dahulu kala... Kaum yang paling sulit menemukan mate, atau pasangan takdir dari dewi... Adalah kaum penyihir. Karena mereka tidak bisa merasakan pertanda seperti werewolf dan kaum lain, tidak bisa menandai, dan tidak bisa menyadari jika bukan mereka sendiri yang ditandai lebih dulu. Akibatnya, banyak sekali kaum penyihir yang tidak menemukan mate, bahkan sama sekali tidak menikah dalam kehidupan mereka. Kaum penyihir berumur panjang, karena keistimewaan mereka dalam kemampuan sihir serta mereka yang tidak pernah mempermasalahkan duniawi.
Seperti Delila yang setengah penyihir dan setengah vampir, mungkin dirinya sama butuh darah seperti vampir. Tapi soal mate, dia mewarisi darah penyihir, sehingga kesulitan untuk menemukan orang yang telah ditakdirkan dengannya. Beda dengan Karren Acnes— senior sekaligus salah satu guru dan Wizard terkenal di negeri nya, dia adalah werewolf murni tapi memiliki kemampuan hebat sebagai Wizard. Sementara Delila, lebih mirip dengan Athala Acnes yang murni seorang Wizard, apalagi mendapat gelar sebagai salah satu Wizard Agung dunia.
Sayang sekali, sama seperti kebanyakan penyihir lainnya. Athala Acnes— petinggi sekaligus salah satu pendiri keluarga Acnes itu juga hidup panjang tanpa menyadari siapa pasangan hidupnya, walau pada akhirnya... Tetap saja, takdir gadis itu datang untuk menemuinya.
"Tapi... Bagaimana menurut nona jika nona mendapat pasangan dari negeri ini?"
Manik merah Delila sepenuhnya menatap Aulee yang bertanya dengan nada lirih, ia menyerit. "Aku tidak tahu, tapi... Itu tidak mungkin kan?"
"Orang-orang di negeri mu takut pada ku, mereka membenci ku. Lalu siapa yang bisa menerima keberadaan ku di sini?" Jawab sang Wizard tenang, iris nya yang redup tampak lelah dan sayu.
Sekali lagi Aulee dibuat diam oleh kebenaran setiap kata yang diucapkan Delila, wanita itu menunduk dengan ekspresi tak terbaca. Ia hanya terfokus memeriksa dan membantu proses penyembuhan Delila. White Witch itu kembali memikirkan ucapan Delila, benar, gadis itu terlalu beresiko tinggal di sini. Terlebih, masih banyak rakyat yang membenci kaum vampir dan tidak setuju dengan kerjasama apapun yang berkaitan dengan kaum penghisap darah itu.
"Raja mu... Sudah sadar kan?"
Lamunan Aulee buyar mendengar pertanyaan Delila, wanita itu tersentak kecil.
"Yang Mulia sudah sadar dan dia dalam kondisi yang baik, itu semua berkat pertolongan anda".
"Kami rakyat Negeri Caylon, benar-benar berhutang budi yang besar pada anda". Aulee tersenyum hormat.
Delila mengangguk singkat, ia mengerja pelan. "Aku kira dia tidak langsung se sehat itu". Gumamnya pelan, jujur ia sedikit heran dan bingung dengan keadaan Claude yang dibilang membaik.
Seharusnya, karena pria itu menerima darahnya yang seorang Acnes, ada penolakan kecil atau penyesuaian tubuh Claude dengan darah nya sehingga pria itu seharusnya sempat pingsan atau down sebelum sembuh total. Tapi ini... Ini kasus yang belum pernah Delila lihat. Ia rasa, ia harus bertemu atau setidaknya melihat Claude secara langsung.
"Karena keadaan anda membaik cepat, kurasa anda hanya butuh makan dan istirahat yang cukup".
"Apa ada hal lain yang anda inginkan?" Tanya Aulee tersenyum menggenggam hangat tangan Delila pelan, sebelum meletakan kembali.
Delila terdiam, ia menatap pelan dengan sorot tak terbaca.
"Tidak perlu, mungkin... Aku tidak ingin diganggu selama beberapa hari. Aku harus tidur untuk memulihkan tenaga ku". Ucapnya yang diangguki Aulee, wanita itu beranjak berdiri dan membungkuk hormat sesaat.
Manik redupnya tampak hangat namun juga memberikan tatapan penuh arti yang sulit ditebak Delila hingga gadis itu menyerit pelan.
"Kalau begitu, selamat beristirahat nona". Pamitnya berjalan keluar dan membuka pintu sebelum menutupnya perlahan agar tidak menganggu Delila yang hendak kembali tidur.
Sang White Witch menghela napas panjang, ekspresi nya terlihat sedih dengan kedua mata yang sendu menatap pintu putih keemasan itu. Perasaannya begitu tak karuan setelah berbincang sesaat dengan Delila, dan jawaban gadis itu yang rasional sangat mengejutkannya.
Aulee berbalik, ia membungkuk hormat sesaat dengan kepala tertunduk. Ekspresi nya tampak jelas khawatir, ia menautkan kedua tangan tanda gelisah.
"Maafkan saya Yang Mulia".
"Saya akan... Berusaha untuk berbicara lagi dengan nona Delila". Sesalnya kembali membungkuk sebelum berjalan undur diri perlahan dan melangkahkan kaki nya pergi dari lantai istana utama.
Sementara itu, di depan pintu itu tepat sudah berdiri sesosok pria dengan pakaian dan penampilan mewah khas seorang raja, lencana emas serta tanda jabatan terlihat dipasang pas di seragam kebesarannya. Jubah merah pria itu tergerai menjuntai menyapu lantai, dalam diam nya, ekspresinya tak terbaca.
Dia hanya diam di sana tanpa mengatakan apapun ataupun pergi. Ya, sang raja sudah berdiri disana sejak Aulee masuk ke ruangan kamar khusus yang memang berada di dekat kamar raja, pria itu juga yang meminta Aulee untuk memeriksa keadaan gadis itu.
Sejak tadi, tak satupun hal yang lolos dari pendengaran tajam nya. Manik raja yang begitu gelap, kini terlihat semakin redup. Ia mengepalkan tangannya sesaat dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Claude ada di sana, saat gadis itu mengucapkan banyak hal pada Aulee. Saat Delila secara tidak langsung merasa tidak percaya soal mate, terlebih kaum Lycan.
Yang berarti, gadis itu menolak pasangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Claude being sad boi 🌚
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
ORIGINAL BY iqwaanisa
To Be Continued