The Cruel King's Fiance

The Cruel King's Fiance
18. Charming Duke



Hi whatsup samlekom!


Welcome Back 😽


Lets read my story 


Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


ORIGINAL BY iqwaanisa


Dont Copy :)


Enjoy 🙆


🍁


Delila menghela napas, ia duduk dengan kedua tangan dilipat di depan dada dan kepala yang sedikit tertunduk. Memejamkan mata sesaat, ini situasi yang tidak menyenangkan.


"Jadi anda mau menanyakan apa?"


Pria itu tersenyum. "Terlalu kelihatan ya?"


Jaden, pria itu menggaruk kepala nya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk.  Sementara Delila hanya diam, ia membuka mata dan menatap pria itu dengan sorot datar dari kedua manik merah nya.


"Soal bagaimana cara saya menyembuhkan raja, itu adalah rahasia".


"Sekalipun anda adalah Pimpinan Divisi Ilmu istana".


Jaden tersentak sesaat, manik hazel nya terlihat melebar dengan sorot keterkejutan ketika Delila dengan mudahnya menebak tepat. Ia tersenyum kecil.


"Apa ini kemampuan vampir? Kau tahu aku Duke dan Pimpinan Divisi Ilmu istana, padahal aku belum mengatakannya".


Delila terdiam, ia tampak tak begitu tertarik menjawab pertanyaan yang membuang-buang waktunya. Dia jadi sesal, kenapa Noah dan Raaya lama sekali kembali.


"Saya tidak sepenuhnya vampir, saya penyihir".


"Oh, berarti itu kemampuan penyihir? Apa ilmu dan kemampuan mu berbeda dengan penyihir di sini?"


"Iya".


"Aku baru pertama kali bertemu orang seperti mu, dari mana asal mu?"


"Saya tidak bisa memberitahukannya".


"Kenapa?" Tanya Jaden sekali lagi, membuat Delila menghela napas lelah. Pria itu memang tidak seperti Diablo atau yang lain yang akan mengintrogasi nya dengan kasar. Tapi dia banyak bertanya dengan ekspresi polos seakan ingin tahu banyak.


Gadis itu melirik kesal. "Intinya saya tidak bisa memberitahukannya, ini demi keamanan negeri saya".


Jaden terkekeh kecil melihat sikap kesal Delila yang jelas tersorot padanya, pria itu bersandar dan menatap ke arah langit dengan sorot hangat dan tenang. Sang Wizard melirik, ia menatap Jaden yang tampaknya menikmati waktu tenang dan pemandangan langit dengan wajah yang tampak senang. Surai abu-abu pria itu tergerai halus dalam tiupan angin musim panas.


Entah kenapa Delila seakan merasa, sepertinya pria itu adalah pria baik-baik.


"Apa anda tahu? Dunia ini benar-benar luas dan memiliki banyak hal yang perlu di ketahui kebenarannya".


"Saya lahir, tumbuh, dan hidup di Negeri Caylon sangat lama dan jarang sekali pergi keluar karena ketat nya aturan negeri".


"Maaf saya banyak bertanya, karena saya sangat penasaran pada orang yang sudah menghabiskan hidupnya di luar sangkar emas seperti ini". Jaden tampak tersenyum lebar dengan kedua mata yang menyipit seperti bulan sabit, aura nya terasa hangat dan cerah... Membuat Delila sedikit kaget.


Pasalnya, ia jarang menemukan orang seperti ini di negeri yang masih menahan nya ini.


Delila terdiam, ia ikut menatap langit biru yang berhias gumpalan awan putih itu dengan sorot tak terbaca.


Entah dorongan darimana, tiba-tiba dia berceletuk. "Dunia luar itu... Lebih mengerikan dari bayangan anda, kalau bisa pun sebaiknya jangan terlalu berharap".


Jaden tertawa kecil mendengarnya, ia memang tahu kalau dunia luar lebih kejam dari sekedar tampilannya. Tapi ia tidak begitu menyangka kalau Delila akan memberi opini seperti itu padanya.


"Sepertinya nona adalah orang yang peduli, meskipun dari luar anda terlihat dingin dan sulit di dekati". Pria itu berkata sesaat, membuat Delila terdiam dengan beberapa pemikiran dalam kepalanya.


Gadis itu menghela napas. "Apa anda memang punya waktu seluang ini? Bukannya anda punya jadwal rapat jam satu nanti?"


Sekali lagi Jaden tersentak, ia terkekeh kecil dengan ekspresi tak percaya karena lagi-lagi Delila bisa menebak jadwal nya dengan mudah. Jadwal seorang Duke sepertinya.


Pria itu tertawa. "Jadi penyihir benar-benar keren ya". Puji nya membuat sang Wizard menyerit tidak mengerti.


"Oh iya, apa saya bisa tahu nama anda? Saya tidak bisa terus-terusan memanggil anda nona seperti ini kan?" Canda nya dengan senyum cerah, membuat Delila sedikit kesal.


"Delila". Sebutnya datar, singkat dan sesaat.


Jaden bergumam pelan. "Nama anda? Hanya itu?"


"Iya".


"Apa kita bisa bertemu lagi? Saya masih ingin menanyakan banyak hal". Pinta pria itu dengan senyum yang masih belum luntur dari wajah tampannya.


Delila terdiam, ia mendongak menatap Jaden dengan sorot tak terbaca. Gadis itu belum mengatakan apapun sampai tiba-tiba datang seseorang dari arah lorong.


"Duke Halbert?"


Kedua nya menoleh, melihat Noah dan Raaya yang baru saja kembali. Kedua kaka beradik itu menatap sang Duke dengan pandangan yang sulit diartikan, terlebih karena ada Delila di samping pria itu.


"Sedang apa anda di sini?"


Jaden tersenyum tipis. "Aku hanya berbincang sebentar dengan nona ini Noah".


"Duke, para anggota divisi sudah berkumpul dan menunggu anda". Ucap Raaya tiba-tiba, membuat Jaden menyerit sesaat.


Seakan paham dengan yang sedang terjadi, ia pun beranjak berdiri namun berbalik sebentar. Tangannya terulur meraih satu tangan Delila, dan pria tinggi itu membungkuk dengan mata terpejam dan mencium punggung tangan gadis itu lembut.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, lady". Ia tersenyum dan membungkuk sesaat, sebelum akhirnya berjalan meninggalkan ketiga nya dan pergi dari sana. Menyisakan suasana tegang serta sunyi, sebelum Noah dan Raaya langsung menghampiri dengan wajah kaget mereka.


"Astaga nona! Bagaimana anda bisa bertemu Duke Jaden?!"


"Itu tadi berbahaya sekali".


Tanya kedua nya khawatir dan memeriksa keadaan Delila, padahal gadis itu tampak bersikap biasa saja.


"Aku tidak melakukan apapun, tiba-tiba saja bertemu dia di sini". Jawabnya jujur, membuat Noah dan Raaya menghela napas panjang.


Bahkan sampai pria itu mengusap pelan wajahnya dengan ekspresi lelah. Kedua saudara Easter itu pun sedikit lega.


"Untung nya, tidak ada orang yang melihat".


"Kalau iya, mungkin bisa bahaya. Bisa-bisa terjadi perseteruan antara raja dengan Keluarga Halbert kalau sampai ada yang tahu". Gumam Noah dengan wajah serius, Delila menyerit tidak mengerti kenapa dua orang ini sampai se khawatir itu.


Sang Wizard mendongak. "Memangnya kenapa?"


Raaya duduk di samping Delila, dengan wajah khawatir dan sorot redup dari manik cokelatnya.


"Ada beberapa keluarga berpengaruh di istana ini, seperti keluarga Egal, Arkwright, Halbert, Easter dan yang lainnya. Mereka lah yang menjadi salah satu kekuatan pemerintahan istana".


"Seluruh kaum Lycan sudah bersumpah setia pada raja dan keturunannya, tapi tidak bisa dipungkiri kalau mungkin terjadi perseteruan". Jelas Raaya membuat Delila mulai mengerti, memang itu hal yang cukup wajar di dunia istana. Tapi bukankah cukup aman karena mereka semua sudah bersumpah setia pada raja?


Noah berdecak. "Bagaimana ya cara menjelaskannya, intinya anda jangan dekat-dekat dengan orang seperti itu. Kedudukan mereka bisa membuat anda terancam".


Raaya mengangguk setuju. "Kalau dengan kami tentu tidak apa-apa, karena raja mempercayakan Noah menjadi pengawas anda". Ia tersenyum kecil, namun Delila masih terdiam dengan wajah tak terbaca.


"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, nanti saya dan Raaya akan berusaha untuk terus di samping anda. Kami akan berusaha agar anda tidak bertemu dengan Duke Halbert". Putus Noah pada akhirnya, sejujurnya ia cukup khawatir karena tidak biasanya Duke seperti Jaden Halbert melewati jalan istana ini. Apa dia sudah merencanakannya dari awal?


Yang pasti, ini tidak boleh berlanjut lebih jauh. Kalau terjadi kesalahpahaman dengan raja, maka keluarga Halbert bisa-bisa menjadi sorotan kelompok yang di curigai raja atas pengkhianatan. Dan tatanan pemerintahan bisa rusak karena Keluarga Halbert terkenal membesarkan orang-orang cerdas dan kuat.


Sementara ketiga orang itu kembali membicarakan banyak hal yang harus Delila waspadai dan hindari di istana ini, suasana taman yang tenang itu seakan tak lepas dari penjaga dan pengawasan. Seseorang terlihat berdiri diam di lantai tiga, dimana ia bisa dengan bebas melihat jelas segala hal yang terjadi disana tanpa diketahui siapapun. Pria itu terdiam, satu tangannya yang menyentuh sisi pinggir pembatas, tampak terkepal kuat. Manik gelapnya menajam, ia menggeram rendah dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Yang Mulia".


"Para petinggi sudah menunggu kehadiran anda". Zillian berucap pelan dengan tubuh sedikit membungkuk, ia menatap sang raja yang tak memberikan reaksi apapun.


Sebelum pria itu tiba-tiba berbalik dan beranjak pergi, Zillian pun mengikutinya dengan helaan napas lirih melihat perubahan sikap raja yang sulit ditebak.


.


.


.


.


.


.


.


.


gaskeun yaa 🌚


JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


ORIGINAL BY iqwaanisa


To Be Continued