
Hi whatsup!
Welcome Back 😽
Lets read my story
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
Enjoy 🙆
🍁
"Kenapa diam huh? Tidak bisa mengelak kalau kau itu rendahan?".
Delila diam, ia hanya menatap lurus gadis bersurai pirang itu dengan manik merahnya yang berkilat-kilat dan tajam. Ia benar-benar malas menghadapi tipikal orang yang seperti ini, tapi ya...
"Dengar Vampir rendahan. Kaum mu itu terkutuk dan tidak pantas hidup di dunia ini, jadi kenapa kau tidak mati saja?". Ucap marah gadis itu menunjuk-nunjuk Delila dengan telunjuknya yang runcing berkuku merah.
Sang Wizard tidak menjawab dan hanya diam memandang gadis itu dengan manik merahnya yang datar. Tanpa berkata apapun dia berjalan tenang melewati gadis-gadis itu dan tak memperdulikan tatapan tajam dan cemooh yang dilayangkan padanya.
"Apa anda tidak pernah diajari sopan santun, Nona Atarin?".
"Aku yakin, His Highness tidak akan senang dengan kejadian ini. Dan bisa ku pastikan, keluarga mu akan terancam sekalipun kalian bangsawan".
Di belakang gadis itu, Noah menatap tajam mengancam sebelum berlari kecil menyusul Delila yang sudah jauh di depannya.
Pria itu menggeram tertahan, menatap lekat gadis dengan surai merah panjang nya yang terurai lembut dalam tiupan angin. Noah tidak mengerti, kenapa Delila bisa sesabar dan sediam itu saat dia dihina habis-habisan?
Dengan diam, pria itu melirik Delila yang tampak datar dan pucat seperti biasa, walah ada satu hal yang sedikit menarik Noah untuk melihat lebih jauh. Manik merah gadis itu... Benar-benar kosong dan tak memiliki cahaya di dalamnya, begitu... Kesepian.
Memaksakan senyumnya Noah berusaha menghibur Delila yang terlihat lesu. "Apa anda ingin jalan-jalan ke tempat lain Nona?".
Gadis itu menggeleng kecil, sama sekali tidak tertarik dan malas untuk bertemu orang-orang lainnya. Kaum Lycan yang begitu membenci nya.
"Kita kembali saja".
💠
Dalam diam dan sepi, Noah menemani Delila yang membisu dalam perjalanan mereka kembali ke istana. Dari tadi gadis itu sama sekali tidak mengucapkan satu patah kata pun, walau biasa nya memang pendiam tapi setidaknya Delila sering berinteraksi dengan Noah. Dan pria itu berjalan di belakangnya, dengan kebingungan dan rasa penasaran terhadap pribadi Delila yang sangat unik menurutnya.
Bergelut dengan pemikirannya, membuat Noah tidak menyadari Delila yang terhenti di depan sebuah pohon besar berdaun merah muda yang sedang gugur dengan indah dalam angin lembut. Gadis itu terlihat mungil dengan gaun putih dan surai kemerahannya yang tergerai bebas. Menatap pohon itu begitu polos dari manik merahnya.
"Ah, kau tertarik dengan pohon itu Nona?". Noah tersenyum, ikut berdiri di samping Delila sambil menatap gugurnya daun-daun merah muda yang menghujani mereka berdua.
Gadis itu mengangguk kecil, mengulurkan sebelah tangan pucatnya untuk menyentuh permukaan pohon yang berhias ukiran alami ciri khas nya.
"Ini... Pohon Ayaki. Pohon istimewa yang hanya bisa tumbuh di tempat khusus. Tidak kusangka bisa tumbuh di tempat ini". Gumam Delila lirih, mengusap pelan kulit pohon Ayaki dengan jari nya.
Tersenyum bangga, Noah mengangkat dagu nya tinggi dengan kesan sombong.
"Tentu saja! Kerajaan ini spesial, sampai pohon legenda seperti Ayaki bisa tumbuh di kerajaan kami". Ucap nya membanggakan diri.
Delila tak banyak menanggapi, ia hanya penasaran menyentuh pohon besar berdaun merah muda itu. Menatap ukiran-ukiran khas yang terbentuk alami di batang pohonnya.
"Di rumah ku, pohon ini ada banyak. Tapi aku tidak sangka bisa tumbuh disini, karena Ayaki itu pohon yang spesial".
Tiba-tiba Delila jadi teringat rumahnya, Silverwolf Pack. Tempat indah seperti surga degan pohon dan tanaman langka yang tumbuh subur disana, dan dia teringat dengan Ve. Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Ini sudah seminggu Delila berada di Kerajaan Lycan.
Gadis itu menghela napasnya panjang mendongak menatap langit biru berawan dan angin ringan yang meniup surai merahnya, membawa guguran daun-daun Ayaki seperti hujan merah muda.
Dengan langkah pelannya, kembali berjalan menyusuri taman dengan jalan lurus menuju istana, dibelakangnya Noah tersenyum ringan melihat Delila yang sepertinya sudah baik-baik saja sekarang.
Gadis itu sedikit terhenti saat ia melihat ada kerumunan orang di dekat camp pelatihan tentara, tiba-tiba dia penasaran dan berjalan cepat mendatangi tempat itu. Menyipit, Delila semakin berlari kecil, dia... Merasakan sesuatu.
Dengan cepat gadis itu berusaha mencapai tempat itu ketika merasakan energi lain yang ada disana.
"Nona, ada apa?". Noah berlari mengejar Delila, takut-takut jika gadis itu melarikan diri karena tiba-tiba berlari.
Sampai disana, camp terlihat sangat ribut dan berantakan. Banyak orang yang berteriak takut dan berlarian kesana kemari seakan menghindari sesuatu. Delila terdiam, menoleh sekelilingnya mencari sumber energi hitam yang ia rasakan. Manik merah nya yang semula datar berubah menjadi bersinar terang seakan menanggapi rasa energi hitam yang ada di camp ini. Di samping Delila, Noah terengah-engah, manik cokelat nya melebar dengan tatapan tak percaya melihat keadaan Camp yang berantakan.
"Apa yang terjadi disini?!". Geramnya marah. Delila hanya diam melirik sekilas.
Kaki jenjang gadis itu melangkah masuk, namun sempat tertahan oleh Noah yang mencekal tangannya.
"Ini berbahaya, sebaiknya Nona tetap disini dan biar aku yang masuk!". Panik Noah, dengan gurat kecemasannya yang kentara.
Sang Wizard lagi-lagi tak menjawab, hanya menatap dengan manik merah nya yang menyala terang membuat Noah tersentak saat pertama kali melihatnya. Manik merah bersinar dengan pancaran kekuatan besar.
Dengan pelan gadis itu menyentak cekalan tangan Noah dan kembali berjalan memasuki Camp yang sudah dirundung kepanikan dan keributan di dalamnya.
"Awas!". Teriak orang-orang berusaha menghindari seekor ular besar yang gencar memamerkan taring panjang nya. Ular berwarna ungu gelap itu terus mendesis dan menyerang siapapun yang ada dihadapannya.
Berulang kali para Warior berusaha mengusir, ular itu tetap keras kepala dan malah melukai beberapa orang dengan bisa beracunnya yang berbahaya. Di sana, Delila berjalan tenang memperhatikan sekitarnya. Mencari sumber energi gelap yang ia cari-cari.
Hingga manik merah menyala nya menangkap bayangan ular besar yang melilit dan menyerang para Warior dengan ganas. Gadis itu langsung berlari cepat menghampiri saat ular itu berdiri tegap dan membuka mulutnya lebar-lebar dihadapan seorang gadis.
Dengan cepat ia melompat, menarik gadis itu kebelakangnya dan menjadikan tangan kirinya sebagai tameng saat ular menyerang. Delila sedikit meringis, saat dua taring tajam ular itu menggigit dalam menebus lengan gaun dan kulit tangannya hingga meneteskan darah. Dengan cepat sang Wizard meraih kepala ular itu, mencengkramnya dan melempar kuat ke pohon.
Orang-orang berteriak terkejut menatap tak percaya juga was-was, ketakutan dan kekhawatiran mereka masih melekat hingga mereka ragu untuk mendekati tubuh ular itu yang sudah tidak bergerak.
Delila menghela napasnya panjang, menatap gadis dibelakangnya yang sudah jatuh terduduk dengan wajah ketakutan. Delila perlahan berlutut, menatap keadaan gadis bersurai cokelat itu sambil memegangi tangannya yang gemetar.
Gadis itu mendongak, tubuhnya yang gemetar perlahan kembali tenang. "T-terima kasih". Ucapnya terbata-bata.
Tiba-tiba dari jauh, Noah berlari cepat dan langsung mendatangi kedua gadis itu dengan wajah khawatirnya. Delila terkejut saat gadis itu langsung memeluk Noah erat menumpahkan tangisannya.
"Kakak...". Ringisnya takut, memeluk Noah dengan deraian air mata. Sedangkan pria itu juga balas memeluknya tak kalah erat, membuang rasa takut dan khawatir akan keselamatan adiknya yang berada di dalam Camp ksatria.
Delila menghembuskan nafas pelan, menatap kehangatan adik kakak itu dalam diam sebelum ia tergerak untuk beranjak pergi dari sana.
"N-nona!". Noah memanggil Delila kembali, namun gadis itu tetap berjalan seakan ia tak mendengar teriakan pria itu.
Delila melangkah pelan, mengabaikan tangan kirinya yang berdarah-darah dan lengan serta gaun putih yang sudah dinodai darahnya. Gadis itu benar-benar mengabaikan rasa sakit juga racun yang ia rasa mulai menyebar, namun yang ia inginkan sekarang hanya segera pergi dan tidur untuk menghalau rasa sakit itu.
Di sisi lain, rombongan pengawal tinggi bersama sang Raja juga baru saja tiba ditempat kejadian saat mendengar laporan tentang ular besar yang membahayakan Camp pelatihan.
"Wah wah, apa dia melawan ular besar itu? Bernyali juga". Gumam seorang pria bersurai biru gelap dengan senyum simpulnya.
Di samping pria itu, seseorang juga ikut menimpali. "Kau benar, lihat, dia sampai berdarah dan luka parah begitu. Ia benar-benar nekat".
Di depan keempat pria itu, ada seorang pria yang lebih tinggi dan lebih berkuasa dengan aura mengerikannya yang kental. Manik hitam legamnya hanya menatap tajam dan lekat sosok gadis bersurai merah yang berjalan sendirian keluar Camp dengan luka para dan pendarahan ditangannya.
"Bereskan semua ini dan selidiki tentang masalah ini Zilian". Titahnya tegas tak terbantahkan, terucap dengan nada rendah yang memiliki kesan mengancam dan kekuasaan.
Pria bersurai hijau gelap di belakangnya menunduk penuh hormat. "As you wish, Your Highness". Jawabnya patuh.
💠
Sesampainya di istana, Delila berjalan terburu-buru, memegangi lengan kirinya yang terus mengeluarkan darah segar. Selain itu, ia juga mengabaikan segala pandangan cemooh orang-orang yang ia lewati.
"Apa-apa an gadis itu?".
"Lihat luka nya, benar-benar vampir menjijikan".
"Bisa-bisanya dia mengotori lantai istana dengan darah terkutuknya itu".
Delila sudah biasa dan dia menuli dengan hinaan itu, lagipula itu tidak penting untuk ditanggapinya. Ia harus sabar dan mengendalikan diri dengan tenang, atau— bisa-bisa mereka semua akan habis ditangannya.
Sesampainya di kamar, Delila segera menutup pintu dengan keras. Berjalan tergesa-gesa ke ranjang saat kantuk mulai menguasai dirinya. Gadis itu menatap datar bekas gigitan ular itu, dan tangannya jadi membiru menandakan reaksi dari racun yang mulai bereaksi.
Sang Wizard menghela napasnya panjang merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar, lagi-lagi ia mengubah takdir buruk dengan mengorbankan diri. Ya, walaupun kilasan kejadian itu muncul tiba-tiba di matanya, sepertinya semesta sedang berusaha memberitahu kan sesuatu.
Bermasa bodoh, Delila yang mengantuk memejamkan matanya tenang dan mulai terbawa ke dalam alam mimpi. Tanpa menyadari ada suara pergerakan yang berasal dari jendela kamarnya.
Berselang beberapa hari semenjak tidurnya sang Wizard, banyak hal yang sudah terjadi dan pengamatan mengenai teror ular iblis itu. Dan selama empat hari ini Delila sama sekali tidak terbangun seperti mayat, namun di pagi hari keempat gadis itu baru membuka manik merahnya.
Delila bangun perlahan, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan bingung karena ada makanan yang tergeletak di meja kamar. Seperti ada seseorang yang tidur di kamar ini selain dirinya.
Ceklek.
"Nona Delila?!". Pekik Noah dari balik pintu membuat atensi Delila langsung tertuju pada pria itu.
Noah berjalan tergesa-gesa, memeriksa Delila dari atas ke bawah melihat keadaan gadis itu. Dengan wajah khawatir dan lega, Noah duduk di hadapan Delila sambil tak henti-hentinya mengucap syukur.
"Astaga nona... Aku khawatir sekali kau tidak bangun berhari-hari. Aku pikir... Kau..."
Menghela napas lelah, Delila menatap Noah datar. "Aku memang tidak mati, aku cuma tidur".
Beberapa saat mereka diam dalam keheningan, suara pintu lagi-lagi memecah dan memperlihatkan seseorang yang masuk dari sana.
Seorang gadis bersurai cokelat yang diikat, terlihat muncul dari balik pintu dengan seragam khas warior kerajaan dan sepatu boots serta sebuah pedang di pinggangnya. Gadis itu menunduk malu, melirik Noah dengan tatapan meminta tolong.
"Ah iya, nona Delila. Perkenalkan ini Raaya adikku, di ingin mengucapkan terimakasih atas pertolongan mu kemarin". Ucap Noah tersenyum kikuk sembari mengkode Raaya untuk mendekat. Gadis muda itu terlihat kikuk saat berdiri di hadapan Delila.
Meremas tangannya gugup, Raaya membungkuk an badannya. "T-terimakasih nona, anda telah menyelamatkan ku". Ucapnya terbata-bata.
Delila mengerjakan matanya. "Tidak masalah, itu cuma masalah kecil".
"Tapi, tangan anda terluka karena saya—". Suara Raaya tercekat begitu Delila mengangkat lengan gaunnya dengan bekas darah, disana tangannya sudah baik-baik saja seperti tidak terluka sama sekali.
"Lihat? Aku baik-baik saja".
Raaya dan Noah saling melirik bingung dan penasaran, jelas-jelas kemarin mereka lihat kalau tangan gadis bersurai merah itu terluka hingga berdarah-darah. Tapi... Kenapa sekarang tampak baik-baik saja? Kulit pucat nya juga seperti biasanya tanpa bekas darah seperti yang ada di lengan gaunnya.
Ceklek.
Ketiga nya tersentak menoleh ke arah pintu yang dibuka, seseorang bertubuh tinggi tegap terlihat berdiri dengan tatapan datar dan dingin dari manik hijau gelapnya.
"Zilian?". Noah terlihat kaget, pria itu menatap Zilian dengan pandangan bertanya-tanya. Sebab, pria super dingin itu adalah tangan kanan pertama Raja. Jika dia ada disini, berarti ada urusan penting yang berkaitan dengan sang Raja Lycan.
Pria itu diam, menatap datar dan tajam Delila dengan manik hijau gelap yang meneliti keadaan gadis itu.
"His Highness meminta gadis ini untuk menemuinya". Ucap datar Zilian menyipit melihat tangan kiri Delila yang sama sekali tak terluka.
Noah dan Raaya melirik Delila, gadis bersurai merah itu terlihat tenang namun juga ada sesuatu yang membuat wajah dan aura nya menjadi waspada.
Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik liannya 😻
To Be Continued