The Cruel King's Fiance

The Cruel King's Fiance
19. Quandary



Hi whatsup samlekom!


Welcome Back 😽


Lets read my story 


Dont Forget to VOTE n COMMENT dan LIKE karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


ORIGINAL BY iqwaanisa


Dont Copy :)


Enjoy 🙆


🍁


Di suatu tempat yang cukup jauh, beberapa orang tampak berdiri disana seakan memeriksa sesuatu disana. Tanah gersang yang basah dengan warna coklat gelap dan hitam itu tampak berantakan seperti wilayah tak terurus. Orang-orang itu berkeliling memeriksa, sesekali bertekuk lutut untuk melihat dengan jelas apapun yang bisa mereka temukan disana.


Sementara itu, beberapa ekor serigala raksasa tampak berdiri dengan kepala tertunduk mengendus-endus tanah. Mereka bergerak berpencar, sesekali menggaruk tanah ketika merasa menemukan sesuatu.


Seekor serigala dengan hawa dingin yang mengitari tubuh besarnya, tampak mengendus dengan sorot serius. Manik biru terangnya menyala dengan sorot tajam.


Sementara sosok berjubah di sampingnya, menoleh seakan sadar.


"Kau menemukan nya?"


Serigala itu menggeram rendah, dan mendongak lalu menoleh lurus ke suatu arah dengan sorot berkobar.


"Ya, dia ada di sekitar sini".


"Tapi ada yang aneh".


Sosok berjubah lainnya berjalan mendekat, ia berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


"Apa yang aneh?" Tanya nya menyerit.


Serigala putih yang besar itu menoleh, manik tajam nya tampak nyalang dengan geraman rendah yang terdengar jelas dari mulutnya.


"Ini bau baru yang... Aura nya terasa tidak asing". Ucap serigala itu menjawab, sementara semua yang ada disana mengangguk paham.


"Lalu tunggu apa lagi? Kita tidak langsung kesana saja?"


"Tidak, tidak bisa. Bau ini terasa samar seperti dihalangi sesuatu". Potong serigala itu berjalan pelan, menatap lurus ke tempat yang sudah ia tandai.


Ia menggeram pelan. "Artinya, tempat itu... Di lindungi sesuatu yang tidak bisa seenaknya di tembus orang dari luar".


Sosok berjubah lain yang terlihat bersidekap di depan dada itu, mengangguk singkat. Lencana jabatan dan juga lambang kepemimpinan nya tampak jelas berkilau dengan jubah yang menjuntai dalam tiupan angin.


"Berarti kita tidak bisa masuk sekarang?"


"Benar". Jawab serigala putih itu patuh.


Sosok itu bergumam pelan, sambil menatap kearah tempat yang ditujukan oleh serigala putih— juniornya dalam tim ini.


"Kalau begitu kita harus menunggu untuk sementara sampai dia keluar sendiri dari tempat itu".


"Sepertinya... Setelah ini aku harus menghubungi Petinggi kita". Gumam nya dengan manik biru teduh yang terlihat menyayangkan suatu hal.


🍁


Sudah beberapa hari Delila dengan keadaan yang masih sama di istana besar ini, meski pun luas dan megah namun tetap saja tidak ada hal yang bisa dia lakukan disini selain tidur, makan, dan berjalan-jalan keliling dalam pengawasan. Terlebih, orang-orang di istana ini juga masih belum bisa mengubah pandangan mereka padanya meskipun dia telah menyelamatkan nyawa raja, meski beberapa orang sudah mulai berubah menjadi lebih sopan dan hormat kepadanya, walau manik merah gadis itu bisa menangkap sedikit sorot takut di mata mereka.


Gadis itu menghela napas pelan, berdiri di balkon kamar yang dibuka lebar-lebar dengan ekspresi datar sambil memejamkan mata sesaat ketika angin musim panas meniup surai merahnya lembut. Manik merah Delila menatap pemandangan istana dan kota Negeri Caylon dengan sorot yang sulit dijelaskan, ia hanya diam seperti melamun.


Delila mendengus, walau memang bersantai dan tidur adalah hal yang menjadi favoritnya, tapi tanpa di selingi apapun seperti ini membuatnya cukup bosan. Ia yang tadinya hendak menyerah dan memutuskan untuk tidur pun tiba-tiba melebarkan mata ketika menangkap sosok pria tinggi tegap dengan pakaian mewah dan rapi khas kerajaan, tengah berjalan bersama orang-orang penting dibelakangnya melewati jalan istana. Delila tersentak, ia secara reflek langsung berniat untuk menemui pria itu.


Namun kembali memikirkan soal pengawasan nya, gadis itu terdiam.


Apa... Aku gunakan sihir saja?


Tapi itu cukup beresiko disini, kalau mereka tahu soal kekuatan ku. Batinnya berpikir, mencoba mencari jalan keluar namun tetap saja waktu bergulir cepat menunggu keputusannya. Akhirnya, mau tidak mau Delila pun membuat Magic Mark di lantai kamarnya dan merapal sebuah mantra panjang yang menenggelamkan tubuhnya kedalam cahaya terang, keluar dari kamar.


Sang Wizard menghela napas ketika ia teleportasi ke tempat yang cukup tertutup, sehingga tidak ada yang tahu kalau dia menggunakan sihir.


Tiba-tiba telinga nya menangkap suara orang-orang yang terdengar seperti menyampaikan sesuatu, mereka berjalan beriringan melaporkan tentang kejadian dan segala hal di negeri serta pemerintahan Caylon.


"Yang Mulia, apa anda tidak ingin melaksanakan ritual yang di sarankan para tetua?"


"Kami memikirkan tentang posisi ratu yang sudah sangat lama kosong di negeri ini". Tambah petinggi lainnya.


"Kami khawatir jika pihak luar negeri semakin banyak yang mengetahui hal ini maka bisa menjadi celah terhadap anda dan negeri karena anda belum memiliki pewaris—"


Gertakan sang raja langsung membuat para petinggi terhenti ketika pria itu tiba-tiba menghentikan langkah dengan aura tidak bersahabat.


Claude menoleh, sorot mata biru nya tampak tajam menusuk dan langsung membuat semua orang meremang meremang merasakan tekanan aura yang mulai menguar disekitar pria itu.


"Apa kalian tidak bosan terus menerus menekan ku dengan hal itu?"


"Memang nya ada apa dengan ratu? Apa kalian hanya ingin mengajukan putri kalian padaku untuk menjadi ratu?!" Geramnya langsung membuat para petinggi membungkuk hormat begitu sesal.


"Ampun Yang Mulia". Ucap mereka serentak, dengan wajah pucat dan keringat dingin ketika suasana hari raja mulai berubah semakin buruk.


Para petinggi benar-benar menyesal sudah menyinggung raja sehingga dia mengeluarkan emosi sampai seperti ini.


"Padahal posisi ratu itu sudah—". Claude menahan kata-kata nya, rahang pria itu mengetat dengan ekspresi marah yang tercetak jelas. Sorot biru matanya menusuk tajam dan dingin, seakan ia tengah menahan diri untuk tidak— mengungkapkan sesuatu yang terlalu penting dihadapan orang-orang pemerintahan.


Sang raja mengepalkan kedua tangannya kuat dengan sorot tajam dan rahang mengeras, entah ia sedang menahan amarah yang hendak keluar atau berusaha untuk tidak menghajar orang-orang penting di pemerintahan. Dan para pria itu juga sama, tak berani mengangkat kepala ketika emosi dan aura raja tengah membara-bara, mereka benar-benar khawatir dan juga takut dengan tekanan kekuatan nya yang serasa sesak mencekik.


Delila yang bersembunyi, melihat dengan kedua mata merah nya dari kejauhan. Gadis itu terdiam, menyerit karena para petinggi masih belum bangun dari posisi mereka yang membungkuk kepada Raja. Ia menghela napas, apakah ini saat yang tepat untuk menemui raja? Karena sepertinya, suasana tegang yang mencekam itu akan berlangsung cukup lama.


Delila menghela napas ketika satu kaki nya mulai melangkah keluar dari persembunyian, ia berjalan perlahan seakan berusaha tidak menimbulkan suara ketika dari kejauhan pun aura kuat Raja Lycan menguar terasa. Gadis itu diam, menatap punggung tegap raja yang dilindungi jubah menjuntai panjang dengan benang jahit warna emas.


Entah kenapa, baru saja jarak nya dan Claude masih cukup jauh, manik merah Delila melihat tubuh pria itu tersentak sesaat seakan menyadari dan terkejut dengan kedatangan nya. Gadis itu berhenti, tepat ketika raja menoleh sepenuhnya hanya untuk melihatnya. Delila membungkuk hormat, surai merahnya jatuh melewati bahu gadis itu.


"Yang Mulia Raja". Hormatnya dengan sedikit lirih, dalam posisi itu Delila tidak bisa menebak bagaimana ekspresi Claude. Namun ia terkejut, pria itu tak memberi reaksi apapun.


Biasanya sang raja akan semakin marah dan mengeluarkan aura gelap mencekam yang sanggup membuat sesak, ia akan mengancam dengan sorot tajam dan tekanan kekuatan yang seakan disengaja untuk membuat takut. Biasanya... Raja akan membenci nya, tapi kenapa... Sekarang tidak begitu?


Setelah beberapa saat membungkuk hormat, Delila bangun dan menatap Claude lurus dengan kedua manik merahnya ketika pria itu reflek memalingkan wajah dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Pria itu berbalik, dan berjalan pelan meninggalkan nya bersama para petinggi.


"Raja ingin kau mengikuti nya". Jelas salah satu petinggi setelah mereka semua bangun dari posisi membungkuk, pria paruh baya itu tampak memberitahu nya pelan seakan ingin mengucapkan rasa terimakasih karena telah menyelamatkan mereka dari situasi sulit tadi.


Delila tidak menjawab, di hanya mengangguk singkat sebelum mengikuti sosok tinggi tegap yang begitu memancarkan aura raja tengah berjalan pelan ke sebuah taman yang sedikit sepi. Di belakang nya, sang Wizard kembali berpikir sambil menatap punggung Claude yang kokoh.


Raja tampak baik-baik saja, apa pemikiran ku salah?


Namun lamunan itu langsung pecah ketika tiba-tiba Raja Lycan berhenti di tempatnya dan membuat Delila sedikit kaget karena sikap tiba-tiba pria itu. Tidak ada percakapan diantara mereka selama beberapa saat sampai akhirnya Delila berucap.


"Yang Mulia, apa anda... Baik-baik saja?"


Entah matanya benar-benar menangkap hal itu atau hanya imajinasi nya saja ketika tubuh sang raja tersentak kaget dengan manik biru gelap yang melebar meliriknya, wajah pria itu benar-benar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Claude— kini sepenuhnya berbalik untuk melihat Delila lebih jelas, masih dengan sorot keterkejutan dalam manik gelap itu, ia terdiam memandang gadis bertubuh mungil didepannya yang benar-benar sederhana. Dia hanya mengenakan gaun putih berbahan tebal, dan surai merah nya yang panjang dibiarkan begitu saja untuk tergerai lembut dalam tiupan angin musim panas.


Raja menghela napas pelan. "Ya..." Jawabnya sedikit lirih, namun masih bisa di dengar jelas oleh gadis itu.


Delila mengerjap pelan, sang Wizard menelisik keadaan Claude dengan kekuatan matanya dan benar saja. Pria itu sepenuhnya baik, ability dan kekuatannya justru bertambah lebih besar. Ini... Hal yang sangat jarang terjadi, apalagi tidak ada hubungan apapun diantara mereka saat Delila memberikan darahnya.


Gadis itu tersentak saat raja masih menatapnya dengan sorot yang tak bisa ia mengerti, sebagai tanda agar tidak mencurigakan, gadis itu... Tersenyum amat tipis.


"Syukurlah kalau begitu".


Manik biru Claude kembali melebar dengan sorot kaget, wajahnya tampak tak percaya dengan ucapan Delila. Tubuh pria itu tersentak, dengan sikap yang tiba-tiba saja aneh.


Manik biru raja yang terbiasa menajam dengan sorot dingin dan menusuk, terlihat tiba-tiba saja berubah teduh dan tenang hingga Delila kaget dan melebarkan mata merahnya yang tampak berkilau.


"Kau... Sebenarnya, apa yang kau lakukan pada ku saat itu?"


.


.


.


.


.


.


.


.


heheheheh kenapa Claude?? 🌚


JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


ORIGINAL BY iqwaanisa


To Be Continued