The Cruel King's Fiance

The Cruel King's Fiance
13. Black Arrow



Hi whatsup samlekom!


Welcome Back 😽


Lets read my story 


Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


Enjoy 🙆


🍁


Noah dan Raaya berjalan tergesa-gesa, mereka menyusuri lorong istana dengan wajah tak terbaca. Raut kedua Easter bersaudara itu sama-sama memucat dengan keringat dingin.


"Perkiraan paling buruk menurut ku, nona Delila— pasti dibawa ke penjara bawah tanah".


Raaya membelalak. "Bagaimana bisa?! Tempat sehina itu... Siapa orang gila yang berani melakukannya?" Umpat gadis itu marah, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Delila dibawa ke tempat yang bahkan kata buruk pun masih lebih baik.


Setahu Raaya, penjara bawah tanah adalah tempat khusus yang diperuntukan bagi penjahat paling keji dan berbahaya yang mengancam negeri, dia sendiri setelah menjabat sebagai Pimpinan Batalion II pun belum pernah sekalipun melihat atau masuk ke dalamnya. Dia hanya sering mendengar kalau tempat itu adalah tempat yang paling mengerikan, sesak dengan cahaya temaram dan aura gelap. Kabarnya salah satu penjahat yang di kurung disana pun memilih mati atau bunuh diri, karena sudah terlalu gila dan tak tahan berada di dalamnya.


Raaya sangat takut, terjadi sesuatu pada Delila. Dia sudah berjanji, sebagai Pimpinan Batalion II, ataupun sebagai putri Keluarga Easter untuk melayani gadis itu. Delila benar-benar memberi jasa yang tak pernah bisa Raaya bayar, gadis itu pernah menyelamatkan nyawa nya hingga sampai sekarang ia masih bisa hidup di dunia ini. Dan Raaya dengan jiwa kesatria nya, tidak akan pernah melanggar kesetiaan.


"Lalu? Apa kita akan kesana?" Tanya Raaya setelah mereka berbelok menuju jalan lain mengikuti Noah.


Pria itu tampak gelisah, manik cokelatnya menatap sembarang seperti orang yang kebingungan.


"Aku tidak tahu, tempat itu sangat berbahaya dan khusus. Hanya orang yang punya kunci atau diberi akses saja, yang bisa memasuki nya".


"Sebaiknya kita jangan bertindak terlalu jauh".


Raaya mengepalkan tangannya. "Kenapa?!"


Noah menggeram, ia mengigit bibir nya marah seakan tak bisa mengatakan hal yang sedari tadi ia pendam.


"Kita harus bersikap natural, jika terlalu terlihat peduli di depan orang lain. Kita bisa disangka mengkhianati raja". Peringat Noah membuat Raaya membisu, itu benar, dan jika mereka disangka berkhianat. Maka itu bisa menjadi... Akhir bagi Keluarga Easter di Negeri Caylon.


Gadis itu tertunduk. "Lalu... Bagaimana cara untuk menyelamatkan nona?"


Sang tangan kanan keenam raja, menoleh dengan sorot tak terbaca. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku nya memutih, Noah berdecak.


"Untuk sekarang, yang terpenting kita tahu dulu dimana keberadaan nona Delila. Untuk lainnya, kita tidak bisa bergerak seenaknya Raaya".


"Di atas kita, ada raja. Dan kita sebagai Lycan, sudah bersumpah untuk setia dan patuh pada keturunan raja".


Benar, selama ribuan tahun berlalu. Hukum itu terus hidup dan berlanjut dari generasi ke generasi, karena raja pertama adalah orang yang paling berjasa besar atas kebebasan Lycan, maka dari itu, hukum kesetiaan kawanan adalah mutlak pada keturunan raja.


Sebagai simbol balas budi yang tak terkira pada raja Lycan pertama.


Baru saja mereka sampai id bangunan istana yang paling ujung, mereka dikejutkan dengan rombongan prajurit yang berlari tergesa-gesa, mereka semua dengan zirah dan senjata yang lengkap, bergerak diatas komando dengan ekspresi gelisah.


Noah dan Raaya tersentak kaget, pria itu berhenti dan membuat para prajurit ikut berhenti untuk membungkuk hormat pada keduanya.


"Ada apa ini?" Tanya nya bingung.


Salah satu dari mereka menjawab. "Kami mendapat laporan untuk berkumpul dan bersiap, terjadi penyerangan di teritory negeri".


Noah dan Raaya sama-sama terkejut keduanya reflek saling bersitatap dengan maksud yang sama. Para prajurit itu membungkuk hormat sesaat sebelum mereka kembali berlari cepat.


"Noah—"


"Jika batalion dua tidak di ikut kan, kau tidak boleh pergi kesana". Ucapnya memotong perkataan Raaya, pria itu tahu betul kalau adik perempuannya ini pasti ingin ikut serta.


"Tapi..."


Pria itu menghela napas, ia menepuk pelan kedua bahu Raaya dengan tatapan teduh dan khawatir dari mail cokelatnya.


"Tetaplah di sini, dan jaga saja nona Delila".


Raaya mengangguk, sebelum pria itu pun ikut berlari pergi menyusul para pasukan yang sudah dipanggil raja.


Noah menghela napas pelan, ia berjalan mendekati rombongan tangan kanan raja.


"Apa yang terjadi?" Tanya nya membuat Zillian melirik.


Pria bersurai hijau gelap itu terdiam sesaat, maniknya berkilat dengan ekspresi tak terbaca.


"Terjadi penyerangan besar di bagian utara teritory, setelah di selidiki, ternyata memang benar itu ulah dari kelompok pemberontak yang dikirim dia". Jelas nya membuat Noah tersentak kecil, manik nya melebar sesaat sebelum kembali menatap para prajurit yang sudah bersiap rapi.


Dan akhirnya, raja mereka pun keluar dengan baju zirah dan jubah nya yang berwarna gelap, pria itu berjalan diikuti panglima dan petinggi pasukan. Tatapan Claude, terlihat sangat tajam menusuk, terasa sekali kalau ia sedang dalam emosi yang kalau terpancing, bisa jadi masalah besar.


Sang raja menaiki kudanya dan memimpin pasukan besar itu menuju teritory utara Negeri Caylon, dalam perjalanan cepat itu mereka memacu kudanya dan berusaha sampai secepat mungkin sebelum orang-orang itu menghancurkan lebih banyak tempat dan mencapai negeri. Claude menggeram, semakin dekat dengan teritory utara pun membuat dia melihat tanah kekuasaannya yang tampak hancur dan rusak dengan bekas bakar serta senjata yang berserakan. Pria itu langsung memacu kudanya saat mendengar jelas suara aduan pedang dan keramaian dengan suara jeritan.


Sang raja dan pasukannya sampai, manik tajam nya melebar dengan sorot terkejut dan menyala saat ia melihat pasukan musuh yang memojokkan pasukannya yang yang tersisa disana. Claude menggeram, ia dan pasukannya kembali bergerak cepat, menerjang tanpa ampun ataupun aba-aba sehingga mereka yang menyerang tanahnya pun langsung tersentak dengan wajah kaget saat mereka ditebas langsung begitu kuda sang raja melewati mereka.


Gigi taring Claude memanjang tajam di kedua sudut bibirnya, pria itu menggeram, mengangkat pedang nya tinggi-tinggi dan menebas apapun yang berusaha menghalangi pria itu untuk membunuh— otak dibalik penyerangan ini. Tangan nya yang menggenggam gagang emas dari pedang itu tampak mengerat, pedang panjang nya tersusun dengan darah yang menetes. Manik sang raja menyala begitu menangkap sosok yang tengah berada di posisi perlindungan di barisan rapat, pria itu menggeram dan memacu kudanya cepat.


Sosok pria di sana, tampak diam sesaat sebelum menampilkan seringaian tipis.


"Ingat, yang harus kau bunuh— adalah dia". Ucapnya menunjuk sosok Claude yang bergerak cepat membelah pasukannya, dan menghabisi mereka dengan mudah. Pasukan raja juga sangat kuat, sebagian menggunakan perubahan wujud menjadi Lycan dan langsung membantai musuh tanpa ampun.


Mereka bergerak tak beraturan seperti hewan liar yang baru saja dilepaskan, menebas, mengigit dan mengoyak pasukan musuh dengan cakar dan taring tajam mereka.


Sementara pasukannya membelah konsentrasi musuh, Claude bergerak cepat memacu kudanya dengan pedang yang mulai terlihat bersinar menyala, pria itu menggunakan kekuatannya dan menyalurkan pada pedang perak itu.


Diangkatnya pedang itu tinggi-tinggi, begitu ia menangkap sosok pria paruh baya yang menyeringai di depannya, sang raja menggeram rendah dan langsung mengayunkan pedangnya cepat, menghabisi pasukan itu beserta pria misterius itu dengan selai tebasan pedangnya yang berupa energi, membesar dan membelah seperti mata pedang.


Semua orang tersentak, menggeram rendah ketika mereka tertebas dan jatuh berdarah-darah. Termasuk pria itu, meski ia ikut ambruk namun seringai licik itu masih belum hilang dari wajahnya. Bersamaan dengan itu, muncul sebuah anak panah hitam yang melesat cepat dan kuat dengan energi serta mantra yang mengisinya, panah itu bergerak lurus mengunci satu target.


Claude menggeram, ia tidak sempat menghindar hingga akhirnya panah itu sukses mengenai dadanya. Menembus zirah tebal pria itu dan menyerang raja dengan sihir gelap yang terkandung di dalamnya.


Pria itu terbatuk, ia jatuh bertekuk lutut dengan tangan yang menahan tubuh dengan pedangnya. Claude tersentak, ia meringis sesaat ketika tangannya berusaha mencabut panah itu. Dan ketika berhasil, ia menggenggamnya kuat-kuat hingga patah dan jatuh ke tanah. Sang raja menghela napas pelan, ia kembali batuk dengan perasaan sesak yang menyakitkan.


Sosok pria yang sekarat itu terkekeh keji, matanya menatap Claude sinis.


"K-kau... Kau akan mati! Kau tidak pantas menjadi ra—". Perkataan pria itu terpotong ketika ia kembali di tusuk menggunakan pedang yang digenggam Claude, sang raja mendesis menarik kembali pedangnya ketika pria itu benar-benar lemah tak bernyawa.


Claude menghela napas pelan, jantungnya terasa menyesakkan dan sakit dengan degup keras yang begitu memaksa. Napasnya memburu, manik sang raja bergerak gelisah ketika perasaan menyakitkan ini semakin dalam hingga sosok nya yang kuat itu meringis. Manik nya menatap tajam anak panah yang telah ia hancurkan itu, anak panah hitam dengan bekas aura gelap yang sedikit menguar.


Panah ini...


Batinnya tidak selesai ketika pandangannya memburam, Claude batuk darah memegangi dadanya yang terluka atas panah hitam itu. Sang raja terjatuh, bersamaan dengan teriakan kaget dari Zillian dan para pasukannya. Manik Claude meredup, pandangannya memburam sebelum sepenuhnya memejam dengan helaan napas panjang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


To Be Continued