
Seorang gadis tengah tertidur tenang dan damai dalam balutan selimut putih tebak yang menyelimutinya dengan kehangatan.
Gadis itu terbaring lemah, matanya yang tertutup sama sekali tidak menampakan tanda-tanda akan terbuka kembali. Tidak ada pergerakan berarti selain deru napas teratur darinya, gadis itu seperti tidur mati saat ini.
"Apa ada perkembangan dari kondisi nya?".
Sejumlah lima orang berbaju serba putih menunduk hormat. "Keadaan nya membaik dengan cepat, luka-luka nya mulai beregenerasi. Hanya luka di bagian punggung yang sepertinya cukup lama pulih".
Pria itu menatap para White Witch dan Healer didepannya tajam, dengan manik hitam legamnya yang berkilat menatap gadis bersurai merah yang tengah terbaring disana.
"Kalian boleh pergi". Titahnya tegas yang langsung diangguki oleh para sosok berjubah itu, mereka dengan hormat menunduk pamit.
Pria itu masih setia duduk disana, dengan gaya angkuh khas seorang penguasa. Menompang kepalanya dengan sebelah tangan sembari menatap gadis itu dengan manik tajamnya.
Untuk beberapa saat, pria itu hanya diam dan duduk dengan pandangan lurus dari manik hitam legamnya.
Membiarkan saja waktu terus berputar cepat dengan ia habiskan untuk berdiam diri disana merenungkan sesuatu. Sesuatu yang cukup membebani pikirannya.
Tok tok tok.
Ceklek.
"Hormat saya kepada Yang Mulia". Seorang pria berpakaian resmi muncul dari balik pintu. Pria bersurai biru gelap itu menunduk hormat.
"Yang Mulia, sekarang akan diadakan rapat khusus pembahasan penyerangan kemarin bersama para tetua dan menteri".
Pria itu menghela napas dalam posisi malasnya duduk di sofa super empuk. Menatap datar bawahannya yang setia berdiri menanti jawabannya.
"Terimakasih, aku akan segera menyusul Drake".
Drake mengangguk patuh. "Baik Yang Mulia".
Setelah kepergian Drake, pria itu masih setia duduk disana dengan menghela napas panjang. Kembali menatap kearah ranjang berkelambu itu dengan manik hitam legamnya yang datar.
Pria bersurai hitam itu beranjak, membiarkan jubah resmi nya menjuntai dan menimbulkan suara gemerisik saat ia berjalan menuju pintu. Dengan pelan membuka pintu putih itu dan menutupnya perlahan.
💠
Delila meringis, keningnya berkerut menahan sakit nyeri di seluruh tubuhnya. Rasanya begitu berat dan menyakitkan saat di gerakan. Perlahan matanya terbuka, gadis itu mengerjap-erjap memperhatikan sekelilingnya.
Apa aku di surga?
Tidak, aku tidak mungkin mati. Batinnya melihat ruangan serba putih dengan barang-barang sederhana dan ranjang super empuk yang berkelambu.
Delila menghela napas panjang, menatap kearah jendela yang masih ditutupi gorden putih, namun tak bisa menyembunyikan suasana siang hari dengan adanya sinar matahari yang mencoba masuk.
Gadis itu perlahan mengangkat tangannya, menggerakannya teratur hingga ia rasa sudah baik-baik saja. Dengan pelan, berusaha bangun walau ia harus menahan ringisnya saat punggungnya yang nyeri dipaksa bergerak setelah tidur berhari-hari.
Dengan susah payah Delila menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, gadis itu menatap keseluruhan tubuhnya. Tangan, kaki, leher dan beberapa bagian lain di perban, termasuk wajahnya yang diberi plester di bagian pipi serta kepalanya yang diperban dengan sihir.
Delil mendengus, ia terlihat seperti mumi sekarang.
Gadis bersurai merah itu menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Manik merahnya menajam menerka-nerka dan hati-hati.
"Puji Dewa, kau sudah sadar nona?". Ada lima orang berjubah putih yang datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Orang-orang itu bergegas mengelilingi Delila seakan mereka penasaran dan ingin mengetahui keadaannya lebih jelas.
Delila mengangguk, menerima segelas air dari salah satu mereka dan menenggaknya sampai tandas. Ia menatap orang-orang itu dengan manik merahnya yang datar.
"White Witch, dan Healer". Ucap Delila bergumam menyebut mereka.
Orang-orang itu mengangguk, mulai memeriksa keadaan Delila dengan mengelilinginya menggunakan sihir.
"Ini... Luar biasa. Syukurlah anda dapat bertahan dan pulih dengan cepat nona. Orang biasa tidak mungkin bisa seperti ini". Puji salah seorang White Witch tersenyum.
Delila terdiam, menatap kedua tangannya yang diperban. Gadi situ menggerakan pelan jari-jarinya.
"Apa... Ini kerajaan Lycan?".
"Ya nona, anda sedang berada di kerajaan Lycan".
Sial, pasti ini akan sulit. Batin Delila kesal. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan salah satu makhluk pemarah ini, Kaum Lycan.
Selain pemarah, kaum Lycan juga terkenal dengan sifat bar-bar mereka yang tak pandang bulu dan juga mudah tersulut emosi hingga membantai. Sungguh mereka itu kaum yang berbahaya, bahkan Valkyrie yang adalah pasukan wanita kuat di Pack nya belum tentu bisa memasuki kawasan ini.
Delila lagi-lagi menghela napas lelah. Sekarang ia harus berusaha keluar dari tempat ini dengan selamat dan melanjutkan hidup.
Tunggu, dimana Ve?
"Dimana... Temanku?".
Salah seorang White Witch mendekatinya, memeriksa wajah dan keadaan kepala sang Wizard.
"Temanmu juga sedang dirawat, tapi dia sadar lebih dulu dari mu. Dia kemarin marah dan berusaha untuk menemui mu tapi dihalangi oleh pasukan istana".
"Begitu..." Delila mengangguk. Ia tidak heran kalau si bar-bar Ve akan marah-marah pada saat kesadaran gadis itu.
Jika saja Ve dalam keadaan sehat dan sembuh, mungkin saja dia sudah memporak-porandakan istana ini sekarang.
"White Witch... Apa kalian juga teman nona Athala?".
Tampak para White Witch itu menegang mendengar penuturan Delila yang tiba-tiba. Mereka saling bertatapan tak percaya.
"Kau... Mengenal nona Athala?".
Sang Wizard mengangguk. "Ya, dia adalah kakak angkat ku".
"Kakak angkat? Jangan-jangan kau— salah satu anggota mereka?!".
Delila meletakan telunjuknya didepan bibir, memberi isyarat agar para White Witch itu tidak mengumbar sembarangan.
"Ya, tapi tolong rahasiakan ini". Pinta Delila.
Para White Witch itu masih setia berdiri mematung dengan tatapan tak percaya mereka pada Delila. Sungguh bertemu dengan salah satu anggota keluarga legenda adalah hal yang sama sekali tidak mereka duga.
Ceklek.
"Ah, nona sudah sadar?".
Tiba-tiba saja datang seorang pria bersurai cokelat terang, tersenyum melambaikan tangannya menyapa.
"Melihatmu yang sudah bisa bangun, sepertinya kau memang sudah membaik". Tanpa permisi pria aneh ini datang dan duduk di sisi ranjang Delila, membuat gadis itu melebarkan manik merah terangnya.
"Perkenalkan, aku Noah. Tangan kanan keenam Raja". Ucap pria itu tersenyum cerah, sampai-sampai aura cerahnya itu seakan bisa menyilaukan pandangan Delila.
Delila bukannya tidak tahu, gadis jenius murid Wizard terkenal itu memiliki kemampuan Seer yang tidak bisa diragukan. Dia bisa menebak maksud kedatangan pria ini.
"Apa urusan Raja mu, mengirim mu kesini?". Tanya nya tanpa basa-basi membuat Nova tersenyum.
Pria itu melipat kedua tangannya didepan dada. "Sepertinya nona ini adalah gadis pintar yang bisa menebak maksud orang lain ya?".
Terserah. Balas Delila dalam hati, malas menanggapi orang sok akrab itu.
Gadis bersurai merah itu terdiam, hanya menatap jendela dengan tatapan kosongnya. "Berapa lama aku tidur?".
"Mmm seminggu mungkin? Ya, itu cukup cepat bagi orang yang terluka parah dan terkena racun Lycan ". Nova terkekeh kecil, memuji gadis cantik di depannya yang terlihat tidak tertarik dengan pembahasan ini.
Noah, pria itu tersentak kaget begitu melihat Delila yang menyibak selimutnya dan hendak menapakkan kakinya diatas karpet merah berbulu.
"Tunggu nona, anda masih belum pulih sepenuhnya. Jangan memaksakan diri". Salah seorang White Witch bersiap membopong Delila, namun gadis bermanik merah itu tetap keukeuh untuk melakukannya sendiri.
Dengan pelan, Delila berdiri. Walau tubuhnya masih sedikit lemas dan ia hampir terhuyung saat berjalan, gadis itu tetap keras kepala untuk keluar dari kamar ini.
"Nona, anda tidak bisa keluar dari sini. Ini perintah". Larang Noah meraih tangan Delila, raut khawatir terlihat jelas di mata cokelat pria itu saat Delila meringis karena cengkramannya.
"Aku hanya ingin menemui temanku".
"Jika kau takut aku kabur atau membahayakan orang lain, kau bisa mengawasi ku".
💠
Delila berjalan tenang walau sedikit tertatih. Di samping nya ada sang tangan kanan ketiga raja— Noah yang menatapnya khawatir.
Gadis itu tak peduli jika kaki sedikit lemas dan nyeri di punggungnya terus berdenyut, yang penting ia harus menemui Ve.
Noah menatap takut-takut Delila yang berjalan pelan seakan bisa jatuh kapan saja, gadis itu baru saja bangun setelah koma dan kritis selama seminggu!
"Nona apa perlu aku menggendong mu?".
"Jangan coba-coba". Desis Delila menatap sinis Nova, pria itu tersenyum kikuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dengan susah payah Delila mencoba agar langkahnya tegap dan seimbang ditengah-tengah rasa sakit dikedua kakinya yang diperban.
Sang Wizard tetap keras kepala untuk berjalan walau kakinya sedikit bergetar dan melambat.
Astaga... Rasanya... Kaki ku seperti remuk. Batinnya meringis, mencoba kembali melangkah walau ada rasa nyeri saat tangannya ikut membantu dengan menapak di dinding, menahan tubuhnya.
Langkah Delila terhenti, gadis itu berdiri mematung dengan manik merah ruby nya yang melebar. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa merinding dan terganggu dengan suatu aura yang sangat amat kuat dan mengancam yang datang kearahnya.
Gadis bersurai merah itu tersentak, jantungnya berdetak sangat cepat dan keras seakan-akan ingin keluar dari tempatnya. Delila mengambil napas dalam-dalam, rasanya seperti pasokan udara di sekitarnya menipis begitu ia merasakan aura kuat ini semakin mendekat.
"Nona, ada apa? Apa terjadi sesuatu?". Noah si pria bermanik cokelat itu menatapnya khawatir.
Gadis itu terdiam, ia tidak bisa fokus dan mengabaikan pertanyaan Noah padanya. Dengan pelan dan langkah kaki yang sempoyongan, Delila mencoba untuk berbalik arah, ia benar-benar tidak ingin bertemu siapapun pemilik aura se mengerikan ini.
"Nona, kenapa balik arah?". Di belakang, Noah berjalan tergesa-gesa mengejar Delila yang memaksakan diri untuk berlari kecil dengan kedua kaki yang diperban.
Delila meringis, memegangi dadanya yang terasa sesak. Rasa sakit di punggungnya juga tiba-tiba kumat, apa luka nya kembali terbuka?
"Aargh". Gadis itu jatuh terduduk dengan kepala yang menunduk.
"Nona!". Noah berlari, mendatangi Delila dengan raut takut dan khawatirnya yang kentara. Pria itu menyentuh bahu Delila, mencoba membantu gadis itu untuk berdiri.
Sang Wizard menggeleng, menolak bantuan Noah yang ingin membopongnya. Delila meringis, rasa sakit di punggungnya terasa berdenyut nyeri dan menyakitkan hingga membuat keringat menetes melalui pelipisnya saat berusaha menahan diri.
Delila mendesis berusaha menahan sakitnya, gadis itu hendak berbalik dan beranjak secepatnya dari sana sebelum...
"Your Highness...".
Noah membungkuk, hormat menyebut kalimat sakral dengan begitu patuh dan mengagungkan.
Delila tersentak, mematung seketika saat aura kuat dan pekat itu sepenuhnya berkumpul disekelilingnya. Aura mengerikan nan memberi ancaman yang tidak disadari, dengan hawa kekuasaan dan diktator kejam.
Benar-benar perpaduan yang mengerikan dan menakutkan menurut Delila, namun gadis itu tak ingin gentar.
Ia memilih melawan dan mendongakkan wajahnya apapun yang terjadi.
Akhirnya ia mendongak, menatap sesosok siluet seseorang yang besar dan tinggi dihadapannya. Wajah sosok itu tak begitu terlihat karena membelakangi sinar matahari, namun gadis itu yakin wajahnya tak kalah dingin dengan aura nya.
Delila menelan saliva nya susah payah, menatap pria itu dengan manik bulat ruby nya yang berkilau.
Ya, sesosok pria bertubuh jakung dan pakaian mewah yang khas dengan kekuatan dan kekuasaan besar dan mengancam, berdiri tepat beberapa langkah dihadapannya. Sosok yang bisa ia rasakan hawa dingin dan diktator yang kuat, sosok pemimpin yang cerdik namun berani untuk mengotori tangannya bila ada hal yang tidak sesuai keinginannya.
Raja kaum Lycan.
.
.
.
.
.
.
.
Hola Readers! Welcome to my story
I Hope you all enjoy read my First story on MangaToon ♥️
For Fast Update the Next Part, Click LIKE and COMMENT 😻
And i Will so thankfull if you Give me tip 😻
Jangan Lupa untuk Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
see ya ♥️